Ayo Menikah

Ayo Menikah
Bab 43


Seseorang terus saja mengikuti kemana arah mobil yang di tumpangi oleh dua orang paling di bencinya, telah menjebloskan nya ke rumah sakit jiwa setelah tahu siapa dalang di balik nasibnya. Lili tertawa jahat dengan niat yang licik, memastikan targetnya berada di bawah kendalinya saat ini.


"Kalian tidak akan lolos dariku." Lili sangat bersemangat menambah kecepatan mobil, tak peduli tentang keselamatan dirinya. "Nyawa kalian sudah di ujung tanduk dan tidak akan terlepas dari rencanaku kali ini, persetan dengan semuanya." Geramnya yang menahan gejolak amarah. 


Di dalam mobil, Naura terdiam dan sesekali melirik suaminya, tidak tahu kemana pria itu akan membawanya. Tak sengaja sepasang matanya merasa ada hal mengganjal, menyadari ada mobil yang mengikuti. "Mobil itu tampak mencurigakan." Lirihnya yang terdengar samar di telinga Arya. "Ada yang tidak beres disini!" 


"Ada apa?" 


"Apa kau lihat mobil hitam di belakang mobil kita?" ucap Naura yang menoleh ke belakang. 


Arya langsung melihat kaca spion dan melihat sebuah mobil yang mengikuti mereka. "Ya, mobil itu sepertinya mengikuti kita." 


"Pasti niatnya sangat buruk, apa kau punya ide?" tanya Naura yang menoleh ke lawan bicaranya. 


"Tentu saja, Arya Atmajaya tak pernah kehabisan ide cemerlang." Ucapnya dengan sombong sambil menepuk bahunya. "Ini saatnya menunjukkan kebolehan dan juga bakat terpendamku." Sambungnya lagi. 


"Ck, termasuk kau berniat mendekatiku dengan lengan yang terkilir." Cibir Naura mengingat pola pikir Arya yang kekanak-kanakan hanya untuk menjebak dirinya di Mansion. 


"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu dan jangan mengungkitnya lagi." Arya manyun mendengar fakta mengenai dirinya, tak ingin menandang langsung wajah sang istri. 


"Wajah manyun mu tidak bisa membantu kita, keluarkan ide mu sekarang!" cetus Naura yang sudah jengah, bagaimana dirinya bisa terjebak dengan pria itu dan menganggapnya sebuah kesalahan. 


Arya tersenyum tipis dan masih terlihat santai. "Apa ada hadiahnya?" 


"Ini bukan masalah hidupku saja dan kau malah meminta hadiah, sangat perhitungan sekali." Naura meninggikan suara, situasi yang sulit memintanya untuk tetap bersantai. 


"Mau bagaimana lagi? Aku harus melakukan itu demi kelangsungan hidup. Kau harus membayar jasaku jika ingin selamat, kita tidak tahu berapa jumlah orang di dalam mobil itu dan apakah mereka bersenjata atau tidak." 


Dengan terpaksa Naura melepas sepatu hak tinggi dan memukulnya pada bahu Arya yang tetap ingin kompensasi, tidak tahu seberapa panik dirinya saat ini. 


"Hentikan! Sudah cukup memukulku." Seloroh Arya, Naura menghentikan aksinya dan mencopot kedua sepatu hak tinggi yang begitu menyakitkan tumitnya. 


"Kau pria pelit yang aku temui. Bisakah kita bicarakan itu nanti, maksudku setelah menghindari mobil hitam yang terus mengikuti kita." 


"Kau tenang saja, akan aku tunjukkan keahlianku dalam mengemudi." Arya menambah kecepatan setelah memastikan Naura memasang sabuk pengaman dengan benar dan berpegangan erat. Pandangan lurus ke depan tak peduli dengan jalanan yang di ambilnya, menerobos apa saja yang di laluinya. 


"Heh, aku sudah lihat bagaimana kau menyetir. Kau tidak bisa di andalkan, PINDAH POSISI!" tekan Naura dengan raut wajah geram, ingin sekali dia menjitak kepala suaminya itu menggunakan palu.


"Aku bisa, kau tenang saja." Jawab Arya yang terus fokus mengemudi, padahal dirinya tidak yakin apakah mereka akan selamat atau tidak yang paling penting adalah menghindar. 


"Kau tidak mengerti cara menyetir, jadi pindah posisi!" Tukas Naura tegas dan lantang. 


"Baiklah, tapi bukan berarti aku sangat bodoh menyetir." Arya yang pasrah hanya bisa tersenyum pura-pura agar wanita di sebelah tidak merendahkannya. 


Naura sangat kesal sampi dia harus menarik tangan Arya agar menyingkir dari kemudi, karena saatnya dia mengambil alih demi melawan kecepatan mobil hitam di belakang. "Dia tidak tahu berurusan dengan siapa." Gumamnya yang tak ingin berlari menghindar melainkan melawan. Dengan sengaja dia memutar arah membuat mobil itu tampak luar biasa dan sangat tepat, persis seperti pembalap internasional. 


"Astaga…apa benar dia Naura?" batin Arya yang bertanya-tanya, bahkan dirinya tidak bisa mengemudikan mobil seperti itu, berputar dengan tumpuan ban depan sementara ban belakang bergeser hampir seratus delapan puluh derajat mendekati sempurna.


Naura menyipitkan kedua matanya menatap mobil hitam yang ada di depannya, posisi yang sudah siap tapi tidak bagi Arya yang sangat terkejut bagaimana istrinya lebih jago membawa mobil sport itu ketimbang dirinya hanya untuk pamer juga gaya-gayaan saja. 


"Wow tunggu dulu, apa yang ingin kau lakukan? Kau ingin kita mati konyol dengan menghadapi musuh itu?" celetuk Arya menyembunyikan ketakutannya, bahkan kedua tungkai nya sudah bergetar menyaksikan dua mobil yang berhadapan dan siap-siap untuk mati konyol. "Ini ide yang sangat buruk, sebaiknya kita menghindar saja." 


"Dasar lemah, begitu saja kau sudah ketakutan. Mereka tidak membawa senjata, percayalah." 


"Memangnya kau dukun? Apa kau ingin menghadapi mereka? Bagaimana kalau kita kalah jumlah." Cetus Arya yang masih cerewet, terus merapalkan mantra agar selalu terlindungi dari marabahaya. "Dan bagaimana kau bisa seyakin itu?" 


"Entahlah, firasatku yang mengatakannya. Berpeganglah!" ujar Naura yang langsung menghampiri mobil hitam dengan kecepatan tinggi, tentu saja ingin menggertak dan melakukan aksi yang sangat keren. Dia mengelilingi mobil yang mengikutinya bermaksud untuk menggertaknya, tidak peduli berapa orang dan senjata apa yang ada di tangan musuh. 


Kedua mata Arya terbelalak kaget dan hampir keluar dari tempatnya, segera dia menutupi wajahnya menggunakan kedua tangan. "Ya Tuhan, tolong lindungi aku dan juga wajahku yang sangat tampan ini karena aku belum merasakan malam pertama," monolognya terus berdoa tentang keselamatannya sendiri. 


Naura menyunggingkan senyuman tipis, dia melihat siapa pelaku yang mengikutinya dari tadi dan mulai menggertaknya. "Oho, ternyata si lalat pengganggu. Lihat ini! Kau bahkan tidak akan sanggup membayangkannya." 


"Aku tidak ingin mati muda." Pekik Arya melengking, membuat konsentrasi Naura pecah. Demi situasi yang sulit, dengan terpaksa dia melempatkan sepatu hak tinggi di kening pria itu agar berhenti berteriak, siapa sangka semangatnya malah membuat suaminya pingsan. "Ups, maaf. Lebih baik kau pingsan daripada berteriak merusak gendang telingaku." Racaunya yang kembali berkonsentrasi melawan Lili. 


Lili tak tinggal diam, keringat di dahi membanjiri wajahnya. Dia tak menyangka jika Naura juga bisa menyetir mobil layaknya seorang pembalap profesional, dia sangat sial karena tak mengenal mantan sahabatnya sendiri. 


"Matilah aku, sekarang aku terjebak. Bagaimana wanita jal*ng itu mengemudi bagai pembalap?" Lili sangat panik, dirinya yang memulai malah terjebak dalam permainannya sendiri. 


Dua mobil yang beradu, Naura masih memegang kendali dan membuat mobil musuhnya bergerak mundur tanpa mengetahui ada sungai di belakang.