
Cukup lama mereka Arya menunggu di kursi tunggu, jemari yang terus meremas dan pikiran bagai benang juga lidah terasa keluh. Dia sangat cemas juga khawatir, tapi apa dayanya sekarang yang hanya bisa mengintip di sebalik dinding kaca.
"Kenapa dokter sangat lama sekali," gerutunya sambil beranjak dari duduknya, kegelisahan semakin menghantui pikiran juga benaknya saat ini.
Penampilan Arya sedikit berantakan tanpa memperdulikannya, fokusnya hanya pada sang wanita yang masih di tangani oleh dokter dan membuatnya lupa untuk memberitahu keluarga mengenai kondisi sang istri yang terbaring lemah. Dia sangat berharap jika kondisi Naura baik-baik saja, jika terjadi sesuatu hal dia tak sanggup untuk hidup.
"Ya Tuhan, tolong selamatkan istriku." Lirihnya pelan seraya menyeka air mata, sudah cukup dia kehilangan cinta pertamanya.
Selang beberapa lama kemudian, pintu terbuka terlihat seorang dokter yang baru saja menyelesaikan tugasnya. Dengan cepat Arya menghampiri dengan raut wajah khawatir langsung mengerubungi nya dan bertanya. "Bagaimana kondisinya, Dok?"
Dokter menghela nafas. "Bersyukur pasien sudah melewati masa kritisnya dengan cepat, tapi sangat di sayangkan jika kondisi pasien akan lumpuh sementara."
"Lumpuh Dokter?" Arya selangkah mundur kebelakang, bagaimana dia menjelaskan pada Naura.
"Benar, kecelakaan itu cukup parah dan bersyukur Tuhan masih memberikan keselamatan. Jangan khawatir mengenai semua itu bisa di sembuhkan, permisi!" jelas sang dokter seraya berlalu pergi setelah berpamitan.
Akhirnya Naura bernafas lega, setidaknya Tuhan memberikan kesempatan kepadanya untuk tetap bersama dengan wanita yang dia cintai. Bergegas dia masuk ke dalam ruangan dan berjalan perlahan, wajahnya menunjukkan kesedihan dan menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berada saat terjadinya tabrakan.
Wajah pusat di atas brankar rumah sakit, menyusuri pandangan dari atas hingga bawah dan terpaku pada kedua kaki dan tak terasa air matanya menetes membayangkan betapa sedihnya Naura mengetahui jika kondisinya lumpuh sementara. Di genggamnya jemari lentik yang tampak pucat, mengecupnya dengan sangat lembut seakan memberikan kekuatan pada wanitanya.
"Aku akan tetap di sampingmu apapun yang terjadi, aku sangat mencintaimu dan tidak tahu kapan cinta itu datang. Aku selalu bersamamu dalam situasi apapun, tidak peduli bagaimana orang lain ingin memisahkan mu dariku." Arya bersungguh-sungguh mengenai cintanya, ancaman dari Anton si pemimpin mafia juga tidak akan bisa memisahkan mereka.
Lamunannya terpecah saat baru mengingat untuk menghubungi keluarga yang pasti cemas, merogoh kantong celana dan melihat begitu banyak panggilan masuk terpampang jelas di layar ponselnya. "Astaga, aku lupa mengabari mereka."
Semua orang berkumpul dan memperlihatkan raut wajah mereka yang sedih melihat kondisi Naura yang terbaring lemah di rumah sakit, bukan hanya Beno Atmajaya dan Ririn saja melainkan Rian dan Diana juga hadir disana membuat suasana panas serta sesak.
"Kau ibu yang tidak berguna, kalau tak pandai merawatnya biarkan aku dan suamiku yang mengambil tanggung jawab." Celetuk Diana yang kesal setelah mengetahui jika Naura lumpuh sementara.
Ririn menautkan kedua alisnya tak mengerti dengan tuduhan yang baru saja di lontarkan oleh Diana padanya. "Bagaimana kau bisa bicara seperti itu padaku? Andai aku bisa menghentikan kecelakaan itu." Balasnya tak terima.
"Tentu saja itu salahmu yang tidak becus." Sindir Diana seraya menatap suaminya seksama. "Aku ingin kau mengambil hak asuh Naura, biarkan dia tinggal bersama kita."
"Kau wanita yang sangat menjijikkan, setelah puas merampas suami dan anak pertamaku kau juga ingin merebut Naura. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan itu karena kalian tak punya hak apapun pada putriku." Ungkapnya dengan kemarahan yang menggebu-gebu.
"Kau lihat itu, dia sangat sombong sekali." Adu Diana pada suaminya.
"Seharusnya kalian sadar diri, setelah Bella tiada dan tanpa tahu malu ingin merebut putriku yang lain. Aku tidak akan membiarkan niatmu itu." Tegas Ririn yang sudah kehabisan kesabaran.
"Diana benar, aku akan menuntutmu dan mengambil hak asuh sepenuhnya." Tutur Rian tanpa tahu malu.
Ririn tersenyum mengejek. "Kalian tidak akan bisa melakukan itu bagaimana pun usahanya, Naura adalah putriku dan kalian tidak memiliki hak apapun."
"Sudah cukup!" Arya menengahi perdebatan tanpa berujung itu. "Ini rumah sakit."
Arya menyentuh pundak ibu mertuanya dengan mata sendu. "Ibu mertua tidak perlu khawatir, kelumpuhan hanya bersikap sementara dan bisa di pulihkan. Aku akan terus menemaninya."
Ririn memegang tangan Arya penuh harap. "Aku mempercayaimu."
Satu persatu dari mereka keluar dari ruangan dan berlalu pergi, tinggallah Arya yang menjaga istrinya dan tak ingin pergi walau sedetik saja.
"Cepat sembuh, aku merindukan suaramu yang ketus." Lirih Arya sembari menghibur diri.
Arya segera mengangkat telepon yang beberapa kali berdering, tentu saja dia ingin tahu siapa pelaku yang berusaha untuk membunuh wanitanya dan tidak akan melepaskan orang itu dengan mudah.
"Halo tuan."
"Hem, katakan!"
"Saya menemukan pelaku setelah melacaknya tuan."
"Bagus, kirimkan aku lokasinya."
"Baik tuan."
Setelah sambungan telepon terputus, Arya melakukan penjagaan ketat di ruangan tempat sang istri di rawat dan berlalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan terpaksa.
"Aku tidak akan melepaskan siapapun orang yang mencelakai istriku." Tekadnya bulat dengan penuh kemarahan.
*
*
Begitu banyak yang terjadi pada Ririn semenjak menikah hingga sekarang, begitu banyak cobaan yang tak bisa di bagi pada siapapun. Dia menangis memikirkan kondisi Naura yang belum sadarkan diri, berdoa kepada Tuhan untuk melindungi anak semata wayangnya.
Beberapa orang berbaju hitam duduk di hadapan membuatnya sangat terkejut dan tak mengerti apapun, dia menatap mereka secara bergantian. "Siapa kalian? Aku rasa tidak mengenal kalian sama sekali." Serentetan pertanyaan yang di ajukan untuk menyelesaikan rasa penasaran di hati.
"Siapapun kami itu tidak penting, pemimpin kami ingin bertemu dengan anda."
"Pemimpin?" Ririn mengerutkan dahi.
"Ikutlah bersama kami," ucap salah satu pria berbadan kekar yang menyeret tangan Ririn, membuat wanita itu ketakutan.
"Lepas, aku tak mengenal kalian atau pemimpin kalian. Kalian salah orang," pekiknya yang berusaha untuk melepaskan diri dari orang-orang yang tidak di kenalinya. "Siapa mereka dan siapa pemimpinnya? Apa mereka orang-orang suruhan Rian dan Diana?" pikirnya di dalam hati.
Ririn di masukkan ke dalam mobil mewah secara paksa, tidak ada gunanya dia meronta untuk di lepaskan karena kalah jumlah dan kekuatan. Mulutnya yang di lakban, tangan dan kaki juga di ikat dengan tali semakin membuatnya tak bisa berkutik selain pasrah.