Apa Salahku Tuan?

Apa Salahku Tuan?
Kebanyakan Garam


Dokter Atha masuk ke apartemen sambil menggelengkan kepala dan tersenyum devil. Dugaan dia akan mundur setelah diberikan memo ternyata salah. Dia justru menempatkan sebagai jodoh dari langit.


"Lebih baik memikirkan anak panti asuhan yang membutuhkan bantuan daripada memikirkan Sun Go Kong yang hobinya merayu wanita." Dokter Atha bermonolog sambil membuka pintu aparteman.


Tekat Dokter Atha semakin bulat setelah membaca memo kecil balasan Zain. Sudah menyimpulkan dia mencoba merayu seperti merayu wanita diluaran sana. Membersihkan diri, berganti baju dan beristirahat di kamarnya yang nyaman.


Tidur terlelap sambil menyunggingkan senyuman saat teringat jodoh dari langit. Dia jadi teringat film lama Sun Go Kong yang datang dari langit. Kera tampan yang slengean tetapi sakti dan memiliki banyak akal.


Di rumah Alfian, Rania terjaga dari tidurnya. Setiap malam perutnya sering merasa lapar dan ingin makan. Membangunkan Alfian yang sedang terlelap di sampingnya.


"Bang ... Rani pingin makan!" Rani duduk di samping Alfian dan mentowel kurma jumbo.


"Makan apa Sayang?" Alfian menjawab tetapi matanya masih terpejam.


Mata Alfian tidak bisa diajak terbuka. Dia kembali bernapas dengan teratur tanda kembali terlelap. Membuat Rania kesal dan kembali berteriak, "Abang ...!" kembali Rania menowel kurma yang sedang anteng terlelap.


"Apa sih, Sayang. Kalau pingin makan kurma jumbo ya buka aja sendiri, Abang ngantuk," jawab Alfian matanya makan terpejam.


"Bukan makan Abang, perut Rani lapar, Rani pingin makan nasi goreng petai."


Alfian membuka mata teringat makanan kesukaan Almarhum Kakek Asep. Nasi goreng itu sering dimasak Rania saat sarapan pagi, "Rani sering masak nasi goreng petai, sana masak sendiri!"


"Iiiiih Abang tega. Rani pinginnya tinggal makan lagi mager ini," jawab Rania dengan suara manja.


"Terus maunya bagaimana, Sayang."


"Abang yang buat ya!"


"Abang tidak bisa masak, istri Abang yang cantik."


"Nanti Rani ajari, ayolah!"


"Baiklah jam berapa sih ini, Abang masih ngantuk?"


"Baru jam satu, Bang."


Terpaksa Alfian bangun dan berkutat di dapur. Rania hanya mengomando dari kursi meja makan. Alfian yang sibuk menyiapkan semua.


Dari bawang merah, bawang putih, cabai dan petai sudah dipersiapkan semua. Dihaluskan bumbu menggunakan cobek kecuali petai. Mata yang memerah karena bawang tidak diperdulikan olehnya.


Sekarang Alfian mulai mengaduk nasi goreng. Ditambah petai dan telur kembali nasi diaduk merata. yang terakhir ditambahkan kecap manis, kecap asin dan saos tomat.


Baru pertama kali memasak tetapi aroma nasi goreng tercium sangat lezat. Rania sampai tidak sabar ingin segera menikmati hasil jerih payah suaminya. Warnanya juga terlihat sangat menggugah selera.


Alfian langsung mengambilkan satu piring nasi goreng untuk Rania. Di letakkan di meja makan yang ada di depannya, "Ini silahkan dinikmati!"


"Waaaah terima kasih, Bang." Tangan Rania langsung mengambil sendok dan memasukkan satu sendok nasi goreng yang masih panas.


"Aaaf ... panas, Bang!" teriak Rania sambil mengibaskan tangannya di depan mulut yang masih terbuka.


"Namanya baru matang ya panas dong, sabar ...!"


"Rani sudah lapar banget."


"Sini Abang tiup dulu biar dingin!"


Alfian meniup nasi goreng yang ada di sendok Rania. Setelah dingin langsung di lahap olehnya dengan cepat, "Kurang apa, Sayang?"


"Kebanyakkan garam, Bang. Tapi enak banget, Rani suka."


Dengan lahap Rania memakan nasi goreng buatan suaminya. sesuap demi sesuap nasi goreng petai berpindah dari piring ke perut. Sudah ludes satu piring tanpa sisa dalam sekejap.


"Mau lagi, Sayang."


"Tunggu istirahat dulu, mana minumnya, Bang."


Alfian menuang satu gelas air putih untuk Rania. Rania meminumnya bersih tanpa sisa. Diletakkan gelas kosong diatas meja.


"Jadi mau nambah lagi?"


Karena Rania menghabiskan satu piring nasi goreng buatannya. Alfian penasaran ingin merasaakan sendiri nasi buatannya. Baru satu suap menikmatinya, Alfian langsung memuntahkan nasi goreng di mulutnya.


"Kenapa di muntahkan lagi sih, Bang?"


"Abang gigit petai, Abang tidak suka."


"Petainya nanti Rani yang makan."


"Baiklah."


Alfian ikut menikmati sajian menu nasi joreng asin buatannya. Untung nasi itu masih bisa dinikmati walaupun kebanyakan garam.


Pagi hari ini Zain datang ke kantor lebih pagi dari biasanya. Bukan untuk mengerjakan pekerjaan hariannya. Dia datang karena mengetahui Dokter Atha sedang melakukan operasi caesar pukul lima pagi.


Seharian kemarin saat dia tidak ke Kantor. Zain berusaha mencari informasi tentang dokter Atha. Tentang kebiasaan yang dilakukan setiap hari.


Dari bangun pagi siang hari sampai mau tidur lagi. makanan favorit, hal yang tidak di sukai dan masih banyak lagi tentang Dokter Atha. Data di kumpulkan dari media sosial bertanya kepada teman sesama dokter, suster dan pegawai rumah sakit.


Zain bertanya juga kepada Bibi Prapti dan Bang Dul sebagai referensi yang paling banyak di dapatnya. Banyak sekali Bibi Prapti memberikan informasi tentang Dokter Atha. Tentang traumanya yang dialami sejak kecil juga dengan komplit informasinya.


Orang yang tauma tidak akan sembuh dalam satu waktu. Semua akan berlangsung lama dan perlahan. Harus membuatnya nyaman dan aman terlebih dahulu.


Sekarang ini Zain mulai tahu bagaimana cara mendekati Dokter Atha. Datang pukul Enam pagi di rumah sakit dengan membawa Jus Alpukat dan Suop krim ayam sebagai sarapan kesukaannya. Semua di siapkan di atas meja kerja Dokter Atha.


Saat masuk kantornya sendiri, Dokter Atha kaget ada Dokte Zain yang duduk di kursi kebesarannya sambil membaca koran, "Dokter Zain, mengapa Anda di sini?"


"Sudah selesai operasi, aku ingin membalas kebaikan Dokter Atha yang kemarin memberikan nasi goreng yang sangat enak dan kopi. Ayo duduklah!"


Zain berdiri dan mengajak Dokter Atha duduk. Zain mempersiapkan jus Alpukat dan soup krim ayam. Zain tidak memaksa, tidak merayu dan bersikap biasa saja melayani untuk sarapan pagi.


"Ayo duduk, ini ada soup krim ayam hangat dan jus alpukat!"


Dokter Atha duduk tanpa kata. Dia lebih tertarik dengan soup krim ayam hangat yang ada di depannya. Mulai menikmati sesuap demi sesuap soup yang membuat perutnya hangat.


Zain memandangi wajah Dokter Atha yang makan dengan peruh semangat. Berhasil usaha Zain kali ini. Walaupun hanya memberikan soup sederhana.


Memasak dengan rasa cinta pasti akan membuat hasilnya berbeda. Nyatanya sekarang ini Dokter Atha sangat menikmati soup buatannya. Apalagi di tambah dengan segelas jus alpukat menjadi hati tenang dan rileks.


"Terima kasih." Dokter Atha menyerahkan kotak yang dipakai untuk sarapan.


"Sama-sama. Sekarang mau tidur dulu atau langsung pulang?" tanya Zain.


"Aku tidak mengantuk, permisi aku mau bekerja lagi!"


Dokter Atha langsung meninggnggalkan Zain yang masih berdiri dan memegagi kotak soup. Sikapnya tetap saja masih sama seperti kemarin. Cuek, dingin dan terlihat tegas dan tidak banyak bicara.


"Dok ... ngapain masih bengong di situ, silahkan Anda keluar sekarang!"


"Eeee ...!


BERSAMBUNG


yok mampir Shobat jangan lupa


ini rekomen banget lo sambil menunggu AST up



Blurb


Safara Maulida tidak pernah menyangka bahwa dia akan dilamar secara tiba-tiba oleh atasannya di kantin kantor tempatnya bekerja. Tentu saja Fara nama panggilan gadis itu merasa sangat bahagia, apalagi atasannya itu adalah cinta pertamanya di masa putih abu-abu.


Keill Abraham, tidak main-main dengan lamaran itu, dan sebulan kemudian mereka melangsungkan pernikahan. Tapi di dalam kehidupan mereka ada kejanggalan yang Fara rasakan, yaitu sikap Keill yang dingin saat di rumah. Tapi akan berubah hangat jika di kantor. Fara jelas saja tidak terima dengan sikap suaminya itu.


"Gue tahu kalau dia gak cinta sama gue, tapi apa alasannya dia ngajak gue nikah jika matanya hanya menatap ke arah wanita itu dengan tatapan sendu!" Batin Fara dengan dada sesak.


Sanggupkah Fara menjalani pernikahan yang seperti itu? apa alasan Keill menikahinya kalau hanya dianggap bayang-bay