
Alfarizi mengerucutkan bibirnya setelah di ancam tidak boleh bergoyang selama satu tahun, "Mami mau membunuh Papi secara perlahan, lebih baik Papi langsung di tusuk tepat di jantung saja dari pada di hukum seperti itu."
Neng hanya tersenyum menyeringai mendengar ucapan suaminya. Semakin hari semakin mengetahui karakter dan sifat dari suaminya. Apalagi jika diancam tentang larangan kegiataan panas dan rasa candunya tentang bercinta.
"Sana berusaha lagi tanya dokter, Mami mau pulang sekarang kalau tidak ingin di hukum di larang bergoyang selama satu tahun." Neng masih mengulang lagi ucapannya.
"Papi berlari ke sini bukan karena gagal meminta izin kepada dokter tetapi mengkhawatirkan Mami yang menangis terus, mengapa malah mau menghukum Papi seberat itu?"
Beda lagi dengan Alfian yang tidak mengetahui devinisi bergoyang yang di makksud papinya. Dia langsung mendekati ke dua orang tuanya sambil bergoyang menirukan Abi Ali saat goyang dangdut koplo, "Papi lebay, kalau Mami tidak mau di ajak bergoyang ayo goyang saja sama Al, tariiiik Maaang!"
Ibu Ani tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Alfian yang nyeleneh. Setelah drama menangis karena keteledoran mereka kini suasana menjadi cair kembali. Di ikuti Neng yang juga ikut tertawa sambil melirik suaminya sedangkan yang di lirik hanya nyengir kuda.
Abi Ali yang baru datang saat melihat Alfian langsung ikut bergoyang dan berucap, "Semongko...!"
Umi Anna dan dokter jaga yang ada di belakang Abi Ali ikut tertawa lepas bersama Ibu Ani, Neng dan Alfaizi.
Di balik musibah ada kebahabiaan yang haqiqi gumam Alfaraizi dalam hati. Memandang wajah istrinya yang tertawa seperti mendapatkan lotre dadakan. Semua akan baik-baik saja setelah melihat keceriaan keluarga seperti semula.
"Bagaimana Dok, istriku di perbolehkan pulang sekarang?" tanya Alfarizi setelah Alfian dan Abi Ali duduk di sofa panjang.
"Boleh pulang, dengan catatan sampai di Jakarta harus isttirahat total minimal satu minggu, ayahnya hanya boleh memberikan nafkah lahir saja harus libur memberi nafkah batin selama satu minggu juga."
"Waduh mati beneran Nich," bisik Alfarizi di telinga Neng.
Dokter yang mengetahui pasien tegang dan kram karena putra mereka menghilang. Dia mendekati Alfian yang sedang duduk di samping Abi Ali. Duduk berjongkok mensejajarkan tubuhnya di hadapan Alfian.
"Hai Ganteng, apakah Om Dokter boleh berpesan sesuatu tentang Mami dan Adik bayi?"
"Tentu Om Dokter, apa itu?"
"Jaga Mami dan Adik bayi, tidak boleh capek, tidak boleh bersedih, harus banyak beristirahat, Mami harus banyak makan yang bergizi, Abang Ganteng tidak boleh nakal, ok!"
"Ok Om Dokter."
Neng tersenyum puas mendengar keterangan dokter dan tidak menjawab ucapan Alfarizi. Bukan dia yang memberikan hukuman tetapi dokter langsung walaupun cuma satu minggu akan membuatnya lebih hati-hati. Rasanya sangat lega bisa keluar dari klinik, suatu hal yang tidak di sukai oleh Neng adalah bau rumah sakit.
Malam itu juga mereka bertolak dari villa yang ada di Kuta Bali ke Jakarta. Neng harus duduk di kursi roda dan di larang untuk berjalan sendiri dari klinik ke bandara, bahkan setelah sampai rumahpun Neng di larang turun dari kursi roda. Tidak hanya Alfarizi yang melarangnya Alfian juga mulai protektif setelah mendapatkan pesan dan nasehat dari dokter yang ada di klinik.
Dari lantai bawah rumahnya Alfarizi menggendong bridal Neng sampai kamarnya. Semua keluarga langsung beristirahat masuk kamaranya masing-masing karena waktu sudah pukul dua malam, "Mami mau mandi dulu atau langsung tidur?" tanya Alfarizi saat sudah ada di kamarnya.
"Mami mau minum susu dulu sebelum tidur."
"Baiklah Papi buatkan, mau rasa apa?"
"Vanilla aja."
Alfarizi keluar kamar menuju dapur untuk membuat susu hamil untuk istrinya. Selama hamil Alfarizi memang sering ke dapur membuat susu sendiri. Hanya sepuluh menit dia sudah kembali sampai kamar dan menyerahkan satu gelas susu untuknya.
"Nich susunya, Honey." Alfarizi memberikan susu dengan wajah yang datar dan tidak semangat.
"Kok wajah Papi begitu, tidak ikhlas ya membuatkan susu untuk Adik Cantik?"
"Ikhlas Honey, Papi hanya sedang iri aja sama Adik Cantik."
"Apa yang membuat Papi iri dengan putri sendiri?"
"Itu Honey, Adik Cantik bisa minum susu setiap waktu, sedangkan Papi di larang minum susu selama satu minggu,"
Alfarizi hanya berdiri di samping tempat tidur menunggu Neng menghabiskan susunya. Hatinya menghangat mendengar tawa renyah istrinya walaupun dengan perasaan yang tak menentu. Harus masih belajar bersabar dan membuatnya lebih bahagia setelah peristiwa menghilangnya Alfian.
"Ayo tidur Papi, Mami sudah ngantuk!"
"Lo Honey, biasanya sikat gigi dulu setelah minum susu, jangan kayak Papi setelah minum susu bukannya sikat gigi tetapi ...!"
"Stop Papi, kalau Papi bahas susu lagi susu lagi, nanti berbahaya lo!"
"Ini sudah berbahaya dari tadi Mami, onta arab tidak mau tidur, dia sudah terbangun dari tadi,"
"Sono kamar mandi, Papi maaah bolehnya bergoyang sendirian!"
Alfarizi cemberut sambil mengerucutkan bibirnya dan melangkah ke kamar mandi. Seharusnya memang mulai membatasi diri untuk kesehatan bayi dan ibunya. Hanya saja terkadang keinginannya untuk bercinta datang tanpa di komando dan menegang dengan sendirinya.
Belum samapi di depan pintu kamar mandi Alfarizi mendengar Neng memanggil, "Papi, tolong bawakan peralatas sikat gigi ya!"
"Ya, Honey ...."
Pagi harinya belum ada pukul enam Alfian sudah rapi memakai seragam sekolah, padahal tidur hanya tiga jam saja dia tetap semangat berangkat ke sekolah, dia mengetuk pintu kamar ke dua orang tuanya, "Tok ... tok ...tok!"
Neng terbangun setelah mendengar ketukan pintu, "Ya Nak sebentar Mami bukakan pintu!"
Alfarizi yang masih memeluk Neng dari belakang ikut terbangun, "Jangan turun Mami, Papi saja yang membuka pintu!"
"Papi, apakah Mami sudah bangun, ini Al bawakan susu, roti bakar dan buah untuk Mami dan Adik Cantik?"
"Sudah Nak, ayo masuk!"
"Jam berapa sih Al, kok sudah rapi saja, Papi masih ngantuk?"
"Jam enam Papi, mau Al buat Papi tidak ngantuk?"
"Eeee ... tidak, Papi tidak mau di kelitikin nanti geli, sudah tidak ngantuk sekarang, Papi mau mandi saja,"
Alfarizi berlari ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Neng dan Alfian tertawa melihat Alfarizi berlari ke kamar mandi padahal matanya masih ngantuk, "Ini sarapan untuk Mami dan Adik Cantik."
"Terima kasih Nak, siapa yang buat sarapannya?"
"Nenek dan Bibi, Oma dan Opa masih sembahyang."
"Ayo kita sarapan berdua, banyak ini roti bakarnya."
"Iya Mami."
Hampi setengah jam Neng dan Alfian sarapan sambil berbincang dan bercerita. Menu sarapan dan susu sudah habis di santapnya. Yang di kamar mandi belum juga menampakkan batang hidungnya, membuat Alfian heran, "Mami kok Papi lama banget sih mandinya?"
BERSAMBUNG
*******
jangan lupa mampir ya promo novel teman