
Encang Ginanjar memerintahkan Alfarizi untuk mengajak paksa ayah mertuanya. Dia tidak berani melakukan itu takut di bilang menantu durhaka. Apalagi ini adalah pertemuan pertamanya setelah sekian lama menjadi suami dari putrinya.
"Mari Yah, ikut kami. Kami ingin memperkenalkan ke dua cucu Ayah, itu yang kecil ada di dalam mobil." Alfarizi merayu Ayah Asep sambil menunjuk ke dalam mobil.
"Ayah, apakah Ayah tidak ingin bertemu putra dan putri Neng?" tanya Neng dengan suara lirih.
Yang awalnya Ayah Asep ragu, bingung dan gugup, akhirnya pasrah dan tidak bisa menolak, "Baiklah, ayo!"
Sampai di dalam mobil baby Elfa sedang tertidur pulas dalam gendongan Bibi Siti. Sehingga Neng hanya memperkenalkan putrinya sambil berbicara pelan agar tidak mengganggu tidur baby Elfa. Ayah Asep juga hanya mencium pipi cucu perempuannya perlahan agar tidak mengganggu tidurnya.
Satu jam lebih perjalanan ke villa mereka hanya diam dan melamun dalam pikirannya masing-masing. Neng hanya sesekali melirik ayahnya yang selalu menarik napas pangjang. Neng hanya terdiam dalam pelukan Alfarizi, terkadang Alfarizi mengusap lemput pundak dan pipinya.
Saperti masih ada beban berat yang ada di pikiran Ayah Asep saat ini. Masih ada yang di sembunyikan di dalam hatinya terlihat saat melihat pandangan mata Ayah Asep terlihat kosong. Neng hanya mencuri pangan kearah wajah Ayah Asep saat dia menarik napas panjang.
Sampai di halaman villa, Alfarizi mempersilahkan Ayah Asep dan Encang Ginanjar untuk berbicara empat mata di ruang tamu. Meminta pegawai villa untuk membuatkan makanan kecil dan kopi untuk teman mereka berbicara serius, "Katakan sebenarnya apa yang masih kamu sembunyikan, mengapa seolah kamu enggan bertemu dengan Mitha?" tanya Encang Ginanjar setelah mereka duduk di sofa.
"Akang tidak perlu tahu, yang penting mereka bahagia itu cukup bagiku, aku harus jauh dari Mitha."
"Bagaimana kalau mereka tanya, Akang harus menjawab apa?"
"Terserah Akang saja, apapun aku terima. Kalau perlu jujur saja, hari ini adalah pertemuan pertama dan terakhir denganku."
"Dasar laki-laki gemblung kamu memang keras kepala!"
Encang Asep sampai memukul sofa yang ada di sebelahnya. Tangannya gatal ingin meninju adik ipar yang tidak pernah berubah. Sikap yanag selalu di benci dari sebelum dia menikahi adik kandungnya yaitu ibu dari Neng.
"Aku curiga ini rencana Akang ya, Neng Mitha mau berkunjung ke sini?"
"Ya, terus terang memang ini rencana Akang tetapi di setujui oleh Alfarizi."
"Aaargh Akang ini!" teriak Ayah Asep langsung berdiri meninggalkan ruang tamu dan keluar pintu villa, "Lain kali jangan turut campur urusan ini lagi!"
"Coba saja kamu keluar dari villa ini, kamu pasti akan pulang tanpa kaki!" ancam Encang Ginanjar dengan kesal.
"Tenang saja Kang. Aku hanya mau cari angin, aku akan pulang setelah bertemu dengan putranya Mitha." Ayah Asep melenggang keluar villa lebih memilih berbincang dengan security villa.
Setelah Neng memberikan ASI kepada baby Elfa dia beristirahat di kamarnya, Neng duduk di sofa kamar sambil memainkan remote televisi. Tangannya selalu menekan tombol remote untuk memindahkan cenel televisi, tetapi pikiranya entah ke mana. Pikiranya masih memikirkan tentang Ayah Asep yang masih terlihat gelisah dan memikirkan sesuatu.
Saat Alfarizi masuk kamar, Neng masih dalam posisi yang sama tagannya masih terus menekan tombol remote. Alfarizi langsung mengambil remote di letakkan di meja dan menarik tubuh Neng dalam pangkuan mengehadap kearahnya.
"Mami masih memikirkan tentang Ayah Asep?"
Neng hanya mengangguk dengan tatapan wajah yang sendu. Alfarizi mencium bibir Neng sekilas kemudian memeluknya dengan erat.
"Papi tahu sepertinya masih ada yang di sembunyikan oleh Ayah Asep. Mami tenang saja, Papi sudah menyuruh orang untuk mengantar angkot milik Ayah Asep ke kontrakannya. Papi juga akan menyelidiki tentang beliau."
Neng langsung memandangi wajah Alfarizi setelah dia melepaskan pelukaknnya, "Papi tahu dari mana Ayah masih ada hal yang di sembunyikan?"
"Tadi Encang Ginanjar cerita kepada Papi, Ayah Asep tidak mau mengaku, yang jelas Ayah Asep bahagia melihat kita bahagia. Encang Ginanjar bilang Ayah Asep harus jauh dari kita agar keluarga kita bahagia."
"Mengapa begitu Papi, Mami ingin berbakti juga pada Ayah, Pi?"
"Jadi Mami harus bagaimana, Papi?"
"Gampang, semua serahkan pada Papi, Papi akan menyewa orang umntuk menyelidiki tentang Ayah, Mami cukup menemani Papi bergoyang semua beres."
"Aaaa Papi mulai lagi modusnya!" teriak Neng tetapi hanya sesaat, dia langsung membungkap mulut Neng dengan mencium bibirnya dengan penuh gairah.
Alfarizi tidak pernah melihat waktu dan tempat saat sedang on dan ingin bergoyang. Dia langsung bisa membawa Neng terbang ke awan saat itu juga. Hanya dengan bergoyang saat ini Neng bisa mengalihkan perhatian sejenak agar tidak terlalu khawatir tentang ayahnya.
Hanya satu ronde saja kali ini Alfarizi mengajak istrinya terbang ke atas awan. Sesaat setelah ke duanya terpuaskan dia langsung mengajak Neng mandi bersama tanpa ada tambahan ronde ke dua. Setelah rapi dan selesai mandi Neng bergegas memberi ASI kepada putrinya.
Sore ini Neng, Alfarizi, Encang Ginanjar dan Ayah Asep berbincang di ruang tamu villa. Ayah Asep menunggu dengan gelisah cucu laki-lakinya datang. Berkali-kali Ayah Asep melihat jam tangan yangg melingkar di tangan kirinya dan melihat pintu keluar.
Hampir menjelang senja rombongan Alfian datang dari wisata. Dengan wajah yang ceria berlari mendekati Neng, Alfian langsung merentangkan tangannya, Mami ...!"
Neng menyambut putranya dengan tersenyum dan ikut merentangkan tangan, "Apakah Abang puas main di sana?"
"Iya Mami seru banget, abang Al suka, terima kasih."
"Oya Bang, salim dulu dengan kakek Asep, lihatlah beliau ayah kandung Mami?"
"Ya Mami ...."
Alfian mendekati Ayah Asep perlahan sambil mengulurkan tangannya. Dia langsung mencium punggung tangan Ayah Asep seperti perintah maminya, "Kakek Asep ... namaku Abang Alfian Alfairzi Zulkarnain."
"Cucu kakek gagah sekali, boleh Kakek memeluk Abang Alfian?"
"Tentu Kakek."
Ayah Asep memeluk Alfian dengan erat dan mengusap rambutnya. Air matanya mengalir tanpa bisa di cegah, rasa rindu dan ingin bertemu sebenarnya sudah di pendam dalam hati sejak dulu. Ayah Asep hanya mengambil napas panjang dan bergegas menghapus air mata agar tidak ketahuan Alfian jika dia menangis.
Alfian yang masih polos dan lugu teringat bertemu papinya setelah dia berumur delapan tahun. Sekarang ini bertemu dengan kakeknya tiga tahun kemudian. Dia jadi teringat lagu Bang Toyib lagu kesukaan Opa Ali.
"Kakek Asep, apakah Abang Al boleh bertanya?"
"Tentu Abang, apa yang akan di tanyakan?"
"Papi dulu pernah Abang namakan Bang Toyib karena delapan lebaran tidak pulang, berarti apakah kakek adalah ayahnya Bang toyib?"
"Ha ha ha ha ...!"
BERSAMBUNG
*******
Ayo mampir shobat di novel author, baru keluar nich