
Angkot belum sempat berhenti dengan sempurna, Alfian turun dari motor dan berlari mendekati orang yang sedang berkerumun, "Permisi ...!"
Alfian melihat ada satu pasang remaja yang duduk berdampingan sambil meringis menahan sakit. Lutut luka berdarah, muka lecet dan celana robek karena terkena aspal. motor tergeletak di pinggir jalan samping angkot bagian dalam.
Alfian memandangi satu persatu wajah orang yang ada di sekitar angkot. Mencari pemilik angkot atau sopir yang yang terparkir. Ada kekhawatiran yang tersirat di hati setelah mengetahui profesi dari pujaan hati.
Julio berlari mendekati Alfian setelah bertanya kepada masyarakat yang menyaksikan kejadian itu, "Bang, ayo kita jalan lagi!"
"Apakah kecelakaan ini tidak ada hubungannya dengan Rania?"
"Tidak Bang, lihatlah ... itu sopirnya yang duduk di trotoar sana!" Julio menunjuk seorang laki-laki paruh baya yang duduk termenung.
"Apa yang terjadi?"
"Gue baru saja bertanya, katanya sepasang remaja itu nyonong menabrak angkot yang baru akan berjalan. Sopirnya syok karena kaget."
"Ayo kita jalan lagi!"
"Tunggu Bang ...."
"Ada apa, Julio?"
"Sepertinya gue mengenali nomor polisi angkot ini, sebentar gue lihat catatan yang ada di ponsel."
Julio mengambil dan membuka catatan di ponselnya. Kemarin dia sempat mencatat nomor polisi angkot milik laki-laki tua yang tinggal bersama Rania. Ada lima angkot yang tercatat di catatan Julio, satu diantaranya angkot yang ada di depannya.
"Bagaimana Julio?"
"Ini salah satu dari lima angkot yang di kelola oleh Nona Rania, Bang. Berarti angkot ini milik Abah atau kakek dari gadis itu."
Alfian hanya tersenyum tipis mendengar keberhasilan kakeknya. Dulu saat masih SMA mengetahui kakeknya sudah bisa membeli rumah dari hasil keringatnya sendiri. Sekarang ini memiliki lima angkot berarti semakin berhasil usahanya walaupun kini sudah tidak menjalankan angkotnya sendiri.
"Apakah berarti angkot ini milik Kakek Anda, Bang?"
"Iya ... sudahlah, kita cari gadis Abang saja dulu!
Julio tertawa lepas mendengar bos sekaligus sahabatnya menyebutkan gadisnya, "Jangan PD dulu Bang, tunggu bertemu dia terlebih dahulu."
Kembali Julio melajukan motornya menuju pangkalan angkot dengan kecepatan tinggi. Ada rasa syukur dan lega setelah melihat kecelakaan yang terjadi barusan bukan yang di cari. Hanya bisa berharap semoga cepat menemukan dia dan menyatukan mami dengan ayahnya.
Sampai di pangkalan angkot, Julio melambatkan laju motornya, "Julio, parkir di kedai bakso sana saja!" perintah Alfian sambil menepuk pundaknya.
"Ya Bang!"
"Abang makan di sini tidak apa-apa?" tanya Julio setelah mereka berdua duduk di kursi dekat jendela.
"Dulu Abang sering ke sini dari SMP sampai SMA."
"Bersama keluarga Bang, ke sininya?"
"Iya, seringnya sama Mami kalau ke sini."
Hampir satu jam Julio dan Alfian makan dan nongkrong di kedai bakso. Mengawasi angkot yang keluar masuk pangkalan. Terutama mengawasi para sopir yang sedang duduk di kemudi.
Yang di tunggu tak kunjung datang, membuat Alfian semakin gelisah. Matanya menatap arah jalan raya tetapi pikirannya menerawang membayangkan saat pertemuan pertama kali di kamar villa.
"Jun, mengapa sudah satu jam lebih, dia belum datang?"
"Gue juga tidak tahu Bang, apakah kita mencari ke rumahnya saja?"
"Jangan dulu, Abang ingin bertemu dia dulu."
Alfian mengambil napas panjang, menghembuskan perlahan karena harus lebih bersabar lagi menunggu. Wajahnya mulai kusut dan di tekuk, pekerjaan menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan. Berkali-kali matanya melihat arah jalan raya atau sopir yang sedang berkonsentrasi di kemudi berarap dia segera datang.
"Julio kamu hafal nomor polisi angkot yang dipakai dia?"
"Gue hafal Bang, tunggulah sebentar lagi!"
"Ya baiklah ...."
Datang dua sopir angkot yang umurnya masih muda masuk ke kedai bakso sambil berbincang. Tanpa sengaja perbincangan mereka terdengar jelas oleh Alfian dan Julio. Mereka sedang membicarakan seorang gadis yang di sukai oleh salah satu sopir.
"Elo sudah pernah nembak dia?"
"Sudah ... dua kali bahkan."
"Apakah di terima?"
"Kagak, dia bilang sudah punya suami."
"Ha ha ha elo percaya kalau dia sudah punya suami, di kibulin aja elo mau ... dasar dodol."
"Emang elo tahu kalau dia belum menikah?"
"Tahu dong, dia itu baru satu tahun ikut Abah, coba elo pikir seandainya dia sudah punya suami pasti dia akan di rumah saja, suaminya yang seharusnya menjadi sopir."
"betul juga kata elo, tapi kemarin saat gue bilang kalau gue suka sama dia, dia bilang sudah memiliki suami dan tidak ingin menghianati suaminya, katanya dia sangat mencintai suaminya itu."
"Lain kali coba elo minta bukti foto suaminya atau bukti yang lain gitu, bagaimana kalu kita berkunjung saja ke rumah Abah dan bertanya langsung sama Abah saja?"
Pemuda yang suka dengan gadis yang di ceritakan itu termenung sejenak. Sambil menggelengkan kepalanya dia berkaa lagi, "Tidak aaah Bro, gue tidak mau di tolak lagi. Gue jadi teringat putra Babe yang kemarin juga suka dia di tolak mentah-mentah sama Abah."
"Kalau si Abang Grondrong itu otaknya tidak penuh, mana mungkin Abah rela sama cucunya yang cantik di persunting Abang Gondrong."
"Gue akan mendekati dia pelan-pelan sajalah, siapa tahu lama-lama dia mau sama gue, toh setiap hari gue sering bertemu dengan dia, sama-sama sopir angkot."
Alfian dan Julio mendengarkan dua sopir berbincang saling pandang. Lama-lama mulai menduga siapa gadis yang di bicarakan oleh mereka. Kemungkinan gadis itu adalah gadis yang sama yaang di cari oleh Alfian.
Julio berbisik di telinga Alfian, "Bang, apa mungkin gadis yang di bicarakan oleh mereka adalah gadis yang sama dengan gadis yang Abang cari?"
"Kemungkinan iya, sebaiknya kita dengarkan lagi pembicaraan mereka." Alfian juga berbisik saat menjawab pertanyaan Julio.
Alfian memasang telinga lebar-lebar mendengar percakapan dua sopir. Bibirnya tertenyum saat mendengar jika gadis itu mengaku sudah memiliki suami. Menduga dan mengambil kesimpulan sendiri jika yang di maksud suaminya adalah dirinya sendiri.
"Apa mungkin yang di maksud suaminya itu elo, Bang?" tanya Julio lagi sambil berbisik."
Alfian hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Julio. Seperti mendapatkan tenaga cadangan yang sangat besar dalam hatinya. Tanpa sadar semangarnya kini membara kembali setelah mendengar dan mengetahui kesetiaan gadis itu.
Alfian dan Julio kembali terdiam saat mendengar ke dua sopir itu berbincang tentang gadis yang sama. Ada rasa bangga dan bahagia tersendiri di hati Alfian mengetahui dia bisa menjaga diri dengan baik. Kini hati Alfian semakin yakin jika harapan dan ucapan gadis itu sebelum keluar dari villa akan menjadi kenyataan.
"Bro ... ayo kita ke rumah Abah saja, gue ingin tahu dan ingin bertanya langsung pada Abah saja dari pada gue mati penasaran!" kata salah satu sopir yang naksir seorang gadis.
"Eeee ...?"
BERSAMBUNG
Sambil menunggu AST up yok mampir dulu di novel teman yang rekomen banget. Terima kasih.