Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Oleng


Hanin dan Kenan masih bergelut di atas ketinggian tiga ribu dua ratus kaki. Mereka sudah melewati perjalanan hampir dua jam.


“Ah, Ken.” Hanin memeluk erat tubuh Kenan yang sedang berada di atas tubuhnya.


Seketika Kenan menghentikan aktifitas panas itu. Ia pun memeluk erat sang istri untuk mengurangi rasa takut Hanin, karena pesawat yang mereka tumpangi sedikit oleng disebabkan tubrukan awan. Kenan menahan gerakannya di saat ia ingin melakukan pelepasan. Ia pun sedikit kesal, karena gangguan itu datang di saat yang tidak tepat.


Hanin tertawa, melihat raut kekesalan yang termpak jelas pada wajah sang suami.


Kenan menatap wajah cantik Hanin yang sedang tertawa. Lalu, tangannya terangkat untuk mengusap keringat di dahi itu dan merapihkan anak rambut yang menutupi wajah cantiknya.


Kenan tersenyum. “Kamu cantik.”


Hanin memelankan tawanya, tapi tetap masih menyungging senyum. “Gombal.”


Hanin kembali tertawa dan Kenan pun ikut tertawa. Kemudian, Kenan melanjutkan aksinya. Ia kembali menggerakkan miliknya yang masih menyatu itu dan terus bergerak hingga menemukan titik akhir dari kenikmatan aktifitas panas di atas awan.


Nafas keduanya masih terengah-engah, walau aktifitas itu sudah selesai. Tangan kanan Kenan sengaja dibentangkan, agar kepala Hanin tertidur di tangan kekarnya itu dan ia dapat memeluk tubuh polos itu dengan erat.


Jari Hanin berputar di dada sang suami. “Ken.”


“Hmm ....”


“Aku masih teringat perkataan Mami semalam tentang Vanesa.”


“Kenapa? Kamu masih tanya perasaanku padanya?” tanya Kenan.


Hanin menggeleng. “Bukan. Bukan itu.”


Pada saat bercengkrama di ruang keluarga, setelah menikmati makan malam semalam, Kiara menanyakan kabar Vanesa pada Rasti. Salah satu anggota arisan yang diikuti Rasti dan Alin, sempat menggosipkan Vanesa yang tidak lagi tinggal di Jakarta dan menetap di Amerika beberapa hari lalu. Beberapa teman Rasti yang mengikuti arisan itu, sempat menyalahkan Kenan atas kepergian Vanesa, mereka mengira Vanesa pergi karena masih sakit hati dengan Kenan yang menikahi wanita lain. Dan, hal itu cukup membuat Hanin merasa bersalah.


“Apa?” tanya Kenan lagi dengan menggeser tubuhnya dan menatap wajah sang istri. namun, Hanin masih menunduk.


“Aku pelakor ga sih?” Hanin balik bertanya.


“Maksudnya?” Kenan mengeryitkan dahi.


“Aku ngambil kamu dari dia ngga sih?” tanya Hanin lagi dengan membalas tatapan suaminya.


Namun, Kenan malah tertawa. Lagi-lagi ia gemas dengan kepolosan sang istri.


“Aku yang ngambil kamu dari Gunawan. Seharusnya aku yang merasa bersalah padanga. Bukan kamu yang merasa bersalah pada Vanesa.”


Kenan berganti posisi. Ia menyangga tubuhnya dengan siku dan menatap dekat wajah Hanin yang sedang berbaring. Terkadang tangan kiri Kenan masih bergerilya mengelus bahu dan dada istrinya yang polos, yang hanya di tutupi oleh selimut tebal berwarna putih.


“Tapi kata Mami semalam, dia pergi ke Amerika karena kamu.”


“Itu kan menurut teman-teman Mami. Vanesa pergi ke negara kelahiran ayahnya bukan karena aku, tapi karena Riza.”


“Riza? Pak Riza manager HRD di perusahaan kamu?” tanya Hanin.


Kenan mengangguk. “Pria yang pernah mendekatimu itu adalah mantan pacar Vanesa saat SMA.”


Lalu, Kenan menceritakan hubungan Vanesa dan Riza dulu dan saat insiden di Bandung, pada Hanin.


"Awas aja kalau sampai tergoda. Kamu itu sudah berstatus istri aku saat ketemu Riza," sungut Kenan.


Namun Hanin malah tertawa nyengir. Ia sengaja menyulutkan emosi sang suami. Padahal waktu itu, walau Riza berusaha memberi perhatian padanya, Hanin sama sekali tidak tergoda.


“Menurut info dari Vicky, Vanesa di buang ayahnya untuk menutup malu karena dia tidak ingin menggugurkan kandungannya," kata Kenan lagi.


“Anak itu anak Pak Riza?’ tanya Hanin.


“Mungkin, karena memang satu bulan sebelumnya mereka bersama di apartemen itu.”


“Terus, Pak Riza sudah tahu hal ini? Bukankah dia masih bekerja padamu?” tanya Hanin lagi.


Kenan menggeleng. “Itu urusan mereka, bukan urusanku.”


“Tapi setidaknya, kita bantu mereka bersatu. Pasti Pak Riza senang, jika dia tahu bahwa ada seseorang yang telah mengandung anaknya, apalagi dari orang itu adalah wanita yang dia cintai.”


“Kamu keypo banget sih.” Kenan mengusap wajah Hanin. “Biarlah, itu urusan mereka.”


“Iih, bukan gitu. Tapi ga ada salahnya kan menolong mereka? hitung-hitung penebus dosa kamu yang udah buat mba Nesa sakit hati,” ucap Hanin.


Kenan pun tersenyum, menatap wajah sang istri. Hanin memang benar-benar berhati mulia, padahal dia pun pernah diperlakukan kasar oleh Vanesa.


Hanin terbangun dan menurunkan kakinya dari tempat tidur itu. Ia mengambil sekumpulan berkas di meja yang Kenan taruh asal. Berkas yang semalam diberikan oleh Vicky. Ia melilitkan selimut tebal itu untuk menutupi tubuhnya yang masih polos.


“Nanti, kamu bertemu Mr. Anderson? Yang barangnya sempat tertunda karena kesalahanku?” tanya hanin membuka berkas itu.


Kenan mengangguk. Ia pun bangun dan duduk di atas tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding itu.


“Maaf ya, karena kesalahan aku waktu itu, perusahaanmu jadi mengalami kerugian.” Hanin membuka lembaran berkas itu.


Kenan tersenyum. “Hmm ... ya walaupun aku mengalami kerugian tapi itu semua tidak sebanding, karena kasus itu akhirnya aku menemukanmu.”


Hanin menoleh ke arah Kenan dan tersenyum. “Benar juga. akhirnya aku ketangkep. Itu semua karena Mr. Anderson.”


Hanin tertawa dan Kenan pun ikut tertawa.


Hanin menjatuhkan satu buku kecil, saat ia akan menutup berkas itu. Ia pun memungutnya. Ternyata itu sebuah Visa. Lalu, Hanin membuka buku visa itu dan ternyata itu adalah Visa atas nama dirinya.


“Kapan kamu buat ini?” tanya Hanin.


“Satu minggu yang lalu. Dan, semalam Vicky memberikan berkas itu sekalian Visa mu yang sudah jadi.”


“Jadi, walau pun aku tidak menawarkan diri untuk ikut. Kamu memang sudah niat akan membawaku ikut?”


Kenan mengangguk dan tersenyum. "Kalau aku tidak mengajakmu. Tidak ada teman bergulat seperti ini." Ia menaik turunkan alisnya dengan senyum yang menyebalkan.


“Licik,” ucap Hanin ikut menyungging senyum.


“Tapi nyatanya, kamu juga yang tidak ingin jauh dariku,” ledek Kenan.


“Ih, narsis. Pe-De abis.” Hanin menjulurkan lidahnya pada sang suami, hingga Kenan pun tertawa.