Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Berharap dibela


Kenan tetap menggenggam tangan Hanin dan tidak dilepaskan, walau sesungguhnya ia pun terkejut dengan penuturan wanita paruh baya yang mengenakan jaket putih itu. Kenan tetap mengulas senyum. Namun, senyum itu sedikit menipis.


Hanin melirik lagi ke arah sang suami yang arah matanya tetap terfokus pada layar monitor dan mendengarkan setiap perkataan dokter.


“Ini tangan ya, Dok?” tanya Kenan, menunjuk layar monitor yang mencetak sketsa organ tubuh bayi yang ada dalam perut Hanin. “Dan, ini kaki?”


Dokter itu pun mengangguk. “Benar Pak.” Ia tersenyum melihat antusias Kenan sebagai calon ayah.


Namun, Hanin tetap melihat sedikit celah kekecewaan di wajah itu, walau Kenan berusaha tidak menampilkannya sama sekali.


“Sayang, bayi kita sehat,” ucap Kenan, menoleh ke arah Hanin dengan senyum.


Hanin menarik sudut bibirnya. “Alhamdulillah.”


Ia tak tahu, apa Kenan benar-benar bahagia atau hanya menampilkan kebahagiaan dihadapannya saja. Entahlah, tapi yang pasti Hanin sangat bahagia mendengar bahwa anak yang ia kandung dalam keadaan sehat.


Setelah hampir satu jam berada di ruangan itu, akhirnya Kenan dan Hanin pamit pada dokter itu.


“Terima kasih, Dok. Maaf jika saya banyak bertanya,” ucap Kenan seraya mengulurkan tangannya untuk berjabat.


Dokter itu pun menyambut uluran tangan Kenan. “Tidak apa, Pak. Justru saya senang, jika si ayah banyak bertanya keadaan anaknya seperti ini. Itu berarti si ayah bukan hanya berperan dalam proses pembuatannya saja.”


Kenan pun tertawa, diiringi tawa Hanin dan suster yang juga menyela ikut tertawa.


"Dokter bisa aja," ucap suster yang mendampingi dokter itu untuk merapihkan alat yang digunakan Hanin tadi.


Dokter itu pun tertawa, lalu bergantian mengulurkan tangannya pada Hanin. “Jaga kesehatan ya, Bu. Jaga asupan gizi makanan dan yang paling utama, jangan stres! Oke.”


Kenan langsung menoleh ke arah Hanin dan menatapnya. “Kamu stres?”


Dokter itu pun menatap Hanin. Mereka sudah dalam posisi berdiri dan hendak pergi.


Hanin menggeleng kepalanya ragu. “Tidak.”


Dokter itu melihat kegelisahan dalam raut wajah Hanin.


“Ya, saya hanya mengingatkan saja,” kata dokter itu lagi. “Di jaga istrinya ya, Pak. Biasanya ibu hamil itu sensitif.”


Kenan melihat lagi wajah Hanin yang tengah menunduk.


Kenan mengangguk. “Baik, Dok. Sekali lagi, terima kasih.”


Kemudian, Mereka berlalu dari hadapan dokter itu. Kenan meraih pinggang Hanin untuk lebih dulu berjalan di depannya. Saat akan keluar. Kenan menahan pintu yang tertutup otomatis itu, agar Hanin dapat keluar lebih dulu dengan leluasa. Perhatian-perhatian kecil seperti ini, yang Hanin suka dari Kenan.


Kenan pun tetap menggenggam tangan Hanin, saat mereka berjalan beriringan. Ia tidak protes saat Hanin berjalan pelan. Malah ia ikut berjalan pelan dan menyesuaikan istrinya, walau sebenarnya Kenan paling tidak suka berjalan lambat.


“Kita ke bagian farmasi dulu, untuk mengambil obatmu.”


Hanin mengangguk. “Iya.”


Kenan pun membawa sang istri menuju ruang farmasi dengan tetap menggenggam tangannya. Hanin menatap genggaman tangan itu. Ia lega melihat ekspresi Kenan yang biasa saja, walau dokter menyatakan bahwa jenis kelamin bayi yanga da di dalam perutnya itu tidak seperti yang ia inginkan.


Kemudian, Hanin melirik ke arah Kenan dari samping. Kenan tak membalas tatapannya. Padahal, biasanya di saat berjalan beriringan seperti ini, Kenan akan merasakan jika Hanin sedang menoleh ke arahnya dan Kenan akan akan segera membalas tatapan itu dengan senyum lebar. Tapi saat ini, wajah Kenan terlihat datar dengan tatapan lurus ke depan.


Kecewa? Iya. Kenan merasa kecewa ketika dokter menyatakan bahwa jenis kelamin bayi yang diperut istriya dalah perempuan. Ia memang sangat mendamba anak pertamanya adalah seorang anak laki-laki. Bukan karena ia tak ingin memiliki anak perempuan, ia pun ingin memiliki anak perempuan, tetapi untuk anak kedua, sedangkan yang pertama ia ingin anak laki-laki sepertinya, yang akan ia didik sebagai penerus keluarga Aditama karena Kenan sudah menyiapkan banyak hal untuk itu.


Kenan memang pria perfecsionis. Dalam hidup, ia selalu memiliki rancangan dan terget. Ia elalu membuat rencana jangka pendek dan jangka panjang, sehingga terkesan kaku. Kekakuan sosok Kenan yang seperti inilah yang akhirnya tidak memiliki banyak teman. Hanya Vicky yang mengerti dirinya. Ia pun melakukan segala sesuatu sesuai dengan rencana yang ia rancang. Namun, hanya satu yang ia lakukan tanpa rencana, yaitu menikahi Hanin.


Dan beruntungnya, Tuhan selalu mengabulkan rencana hidup Kenan, sehingga ia merasa selalu mendapatkan apa yang ia inginkan. Ia lupa bahwa ada tangan sang pencipta yang menentukan takdirnya dan kini Kenan sudah mendahulukan takdirnya itu.


Ia pun menelan kekecewaan itu dan berusaha untuk menerima kenyataan bahwa tidak selamanya apa yang diinginkan akan selalu didapatkan. Ia tak ingin membuat Hanin sedih ataupun stres, seperti apa yang dikatakan dokter tadi. Ia sangat menyayangi Hanin dan akan tetap menyayangi Hanin juga anak yang ada di dalam perut sang istri, karena anak itu adalah darah dagingnya. Ia hanya kecewa karena tidak sesuai dengan apa yang sudah ia rencanakan sebelunnya.


“Sayang, duduklah dulu. Aku akan akan mengambil obatmu di sana.” Kenan menyuruh Hanin untuk duduk di kursi tunggu yang tak jauh dari tempat ia mengambil obat.


Hanin tersenyum dan mengangguk.


Tak lama kemudian, Kenan kembali melangkahkan kakinya ke arah Kenan dengan satu kantung obat di tangan kanannya.


“Ayo, Sayang. kita sudah selesai.” Kenan memasang lengannya, agar Hanin dapat berdiri dengan lengan kokonya sebagai penyangga tubuhnya berdiri dari kursi itu.


Hanin kembali tersenyum.


“Setelah ini, kita mau kemana?’ tanya Hanin saat mereka berjalan beriringan untuk meninggalkan gedung rumah sakit ini.


“Ke butik.”


Semula Kenan memang sudah memberitahu sang istri untuk agenda hari ini. Mereka juga sudah janji akan mencoba gaun seragam yang akan mereka pakai untuk acara akikah Kayla yang akan diadakan lusa, pada desainer langganan Rasti. Rasti, Kiara, Gunawan, dan Kayla sudah mencoba gaun itu dan hanya Kenan beserta istri yang belum mencobanya, mengingat jadwal Kenan yang padat sebelumnya.


“Nanti malam, kita jadi ke rumah Mami?” tanya Hanin.


Sesampainya di parkiran VIP, Kenan membuka pintu untuk sang istri dan menuntunnya untuk duduk. Kenan berlari memutari mobil dan duduk di kursi kemudi.


“Kamu tidak ingin makan malam di rumah Mami?’ Kenan balik bertanya.


“Aku mau.” Hanin langsung menjawab.


“Kalau begitu, setelah dari butik, kita ke rumah Mami. Tapi sebelumnya, kita mampir ke restoran untuk makan siang. Kasihan dia belum makan siang.”


Kenan mengelus perut buncit Hanin dan Hanin pun langsung tersenyum.


****


“Akhirnya, kalian datang,” ucap Rasti, saat mellihat Kenan dan Hanin tiba di kediamannya.


“Mami.” Kenan langsung menghampiri ibunya dan mengecup pipinya.


Rasti pun membalas pelukan dari sang putra. Kemudian, bergantian dengan Hanin.


“Mami sehat?” tanya Hanin setelah memeluk ibu mertuanya.


“Sehat. Kamu sendiri bagaimana?”


Hanin mengangguk. “Sehat, Mam. Alhamdulillah.”


Di sana terlihat Gunawan yang sedang duduk menggending Kayla bersama Kiara di sampingnya yang sedang menikmati aneka gorengan yang dibuat si Bibi.


“Maka mulu.” Kenan menggoda adiknya.


“Maklum, busui. Jadi bawaannya laper terus.”


“Alasan.” Kenan meledek sang adik, hingga mereka yang berada di sana pun tergelak.


Kenan menarik kursi untuk istrinya. Hanin pun duduk di sana.


“Terima kasih.”


Kenan tersenyum, lalu duduk di samping Hanin.


“Bagaimana cucu Mami? Sehat kan?’ tanya Rasti yang juga ikut duduk di kursi meja makan itu.


“Alhamdulillah sehat, Mam,” jawab Hanin tersenyum ke arah Rasti.


Gunawan duduk berhadapan dengan Kenan, begitupun Kiara yang duduk berhadapan dengan Hanin. lalu, si Bibi datang dan mengambil Kayla dari pangkuan Gunawan.


Rasti duduk di tengah-tengah kedua putra putri dan pasangannya.


“Kalian sudah ke butik?” tanya Rasti basa basi dengan mata terarah pada Kenan.


“Sudah.”


“Gaunnya bagus ga, Han?” tanya Kiara dengan arah mata tertuju pada Hanin.


“Bagus, bagus banget. Siapa yang pilih?”


“Aku dong,” Jawab Kiara tersenyum.


Mereka berbicang sembari menikmati makan malam.


“Oh iya, bagaimana hasil USG tadi? Apa jenis kelamin bayi kalian?” tanya Rasti, membuat Kenan dan Hanin berhenti menyuapkan makanan ke dalam mulut mereka.


Hanin terdiam. Ia tak bersuara, karena memang ini porsi Kenan untuk menjawab.


“Perempuan, Mam,” jawab Kenan santai.


“Yah. Mami kira laki-laki. Kamu ngga ngikutin saran Mami untuk makan yang mengandung kalium ya Han?”


Arah mata Rasti menuju ke arah Hanin. Hanin pun menoleh, tetapi ia bingung untuk menjawab.


“Mami, sudahlah. Mau laki-laki atau perempuan ga masalah, yang penting bayinya sehat dan ibunya sehat,” sahut Kiara yang sedikit kesal dengan sang ibu.


Pasalnya Kiara pun pernah berada di posisi Hanin yang tertekan ketika hamil. Ia merasakan betul, ibu hamil itu sangat sensitif.


Kenan pun terdiam. Ia tetap menyuapkan makanan itu ke mulutnya pelan. Padahal, Hanin berharap kata-kata yang dilontarkan Kiara itu keluar dari mulut suaminya sebagai wujud pembelaan Kenan padanya dihadapan Rasti.


“Tidak bisa begitu Kiara. Putra pertama Kenan harus laki-laki, karena kelak dia nanti yang akan meneruskan semua asset keluarga Aditama, seperti Kenan sekarang,” jawab Rasti.


“Tapi kan bisa anak kedua atau anak ketiga kakak, Mam. Siapa tahu anak kedua atau anak ketiga kakak laki-laki. Yang penting laki-laki kan?’ Kiara masih terus membela Hanin.


Ibu dan anak perempuan itu terus berdebat. Sedangkan orang yang didebatkan hanya diam, padahal mereka ada di sana.


Gunawan yang merasa orang lain, tidak dapat berkata apapun atau membela Hanin. Ia pun hanya bisa diam. Ia melirik ke arah Hanin untuk melihat keadaan wanita itu sembari tetap menyuapkan makanan itu ke mulutnya. Sesekali, Hanin pun membalas tatapan Gunawan. Gunawan hanya tersenyum ke arah Hanin untuk memberi semangat dan jangan sedih.


Sementara, Kenan masih terdiam dan hanya fokus pada makanannya. Ia sekali pun tak melirik ke arah Hanin untuk memberikan semangat, seperti Gun. Sontak, hal itu membuat hati Hanin sedih.