Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kenan, Vicky, dan Gunawan lagi


“Ken, gimana acara perayaan aniversary lu. Semua oke?” tanya Gunawan tentang renxana Kenan yang mengajak para karyawan dan keluarganya keliling Asia dengan menggunakan kapal pesiar.


“Semua udah oke! Lusa kita berangkat,” jawab Kenan.


“Gue bantu apa nih?” tanya Gunawan basa basi sembari tersenyum.


“Halah, apaan sih lu. Itu semua udah ada yang atur. Kita mah santai aja, tinggal menikmati,” ujar Kenan santai.


Malam ini Rasti tampak senang. Wajahnya berbinar dan senyumnya tak kunjung pudar tatkala melihat anak, cucu, dan menantu berkumpul di rumah besar ini. Apalagi melihat semuanya akur dan tampak kompak.


Di taman belakang, Kiara dan Hanin berdiri di depan panggangan daging yang sedang dibakar. Kiara bagian membakar daging itu sementara Hanin yang memberi bumbunya. Di seberang mereka pra hot Daddy tengah menggendong bayi mereka masing-masing sembari bercengkrama.


“Han, aku penasaran sama istrinya Vicky,” ucap Kiara.


“Aku juga belum terlalu dekat sih, soalnya Vicky nikahnya dadakan banget,” jawab Hanin.


“Maklum udah lama ngga dikeluarin,” celetuk Kiara.


Hanin tertawa, begitu pun Kiara. Kedua mamah muda ini terlihat begitu seru dengan obrolan yang tak jauh dari urusan ranjang dan dua puluh satu plus.


“Aku ngga kebayang jadi Rea. Anak abege ketemu Vicky yang pengalaman.” Kiara kembali tertawa.


Rara pun demikian. “Ya ... Ya .... I know, kita satu pemikiran.”


Keduanya kembali cekikikan.


“Masalahnya, dulu aku aja, yang katanya kakakmu belum pernah begituan sama cewek, bisa buat aku ngga bisa jalan seharian. Apalagi Vicky coba. OMG!” kata Hanin.


“Apa? Pasti lagi pada ngomongin aku ya?” tiba-tiba seorang menyelewa keseruan Hanin dan Kiara.


Kiara dan Hanin pun langsung menoleh ke arah suara itu.


“Akhirnya, yang diomongin datang juga.”


“Kan bener, lagi pada ngomongi aku. Dasar emak-emak!” ujar Vicky sembari tertawa pada Hanin dan Kiara.


Di seberang sana, Kenan dan Gunawan yang duduk di sofa pun bangkit dan mendekati Vicky yang berada di hadapan istri-istri mereka.


“Woi, Bro. Telat lu,’ kata Gunawan menyapa Vicky.


“Hai, sorry.” Vicky menyalami Gunawan dan Kenan bergantian.


“Mana Rea?” tanya Hanin.


“Itu, dihadang Mami.” Vicky menunjuk ke dalam rumah dan terlihat Rasti tengah berbincang dengan Rea.


“Dari kemarin Mami emang pengen banget kenal istri lu,” sahut Kenan.


“Wah, aku belum kenal nih,” rengek Kiara.


“Iya, sorry Vick. Pas kalian nikah, kami tidak hadir,” ucap Gunawan.


“It’s oke. Ngga apa-apa yang penting doa sama amplopnya aja.”


Kelima orang ini pun tertawa.


“Dasar cowok matre,” sungut Kenan sembari tertawa.


Dan, kelima orang yang berdiri di depan panggangan daging itu pun kembali tertawa.


Kenan dan Gunawan melihat wajah Vicky yang berseri.


“Penganten baru mah beda ya. Wajahnya gimana gitu,” kata Hanin.


“Kenapa, Han? Makin ganteng ya?” tanya Vicky.


“Maklum abis tersalurkan, setelah sepuluh dekade bermain solo,” ledek Kenan.


“Gila! Lama banget sepuluh dekade, sekalian aja sepuluh abad, Ken. Di kira gue lahir zaman Romawi,” ujar Vicky.


Mereka kembali tertawa.


“Seru banget sih,” kata Rasti yang sudah berjalan mendekat ke arah lima orang itu.


“Hai, Rea,” sapa Kenan dengan mengulurkan tangannya dan langsung diterima oleh Rea.


“Ternyata, ini wanita yang membuat Vicky klepek-klepek sampe minta nikah buru-buru,” kata Gunawan yang juga mengulurkan tangannya ke arah Rea untuk bersalaman setelah Kenan.


Rea tersenyum dan membalas uluran tangan itu. Ia tampak malu dan hanya bisa tersenyum atau sesekali menunduk.


“Ngga nyangka ya, Vicky doyannya daun muda,” sahut Kiara yang memajukan langkahnya untuk mendekati Rea dan bersalaman pada istri Vicky.


“Sayang, ini Kiara dan ini suaminya Gunawan,” kata Vicky pada Rea.


Rea menerima uluran tangan Kiara dan melirik ke arah Gunawan. Ia melihat Kiara yang tampak cantik dengan balutan dres berwarna merah muda tanpa lengan dengan bentuk V pada bagian lehernya.


“Ternyata ini, wanita yang pernah suamiku sukai dulu,” gumam Rea ketika melihat Kiara. Pantas saja Vicky menyukai wanita ini, karena Kiara memang cantik, secantik istri Kenan.


Hanin pun terlihat santai dengan balutan jumpsuit rok selutut berbahan levis dipadu dengan dalaman kaos putih berlengan pendek. Hanin terlihat seperti anak abege, tak kalah muda dengan Rea.


“Giliran aku nih yang belum salaman, bentar ya Re.” Hanin mencuci tangannya terlebih dahulu, karena kedua tangannya yang baru saja terkena bumbu daging bakar itu.


Setelah Hanin mencuci tangannya, ia pun langsung menghampiri Rea dan bersalaman sembari memeluk gadis itu. “Kamu cantik sekali, Re.”


Rea tersenyum. “Mbak Hanin juga cantik. Malah sepertinya lebih muda dari aku.”


Hanin tertawa. Ia melihat pakaian yang membalut tubuhnya. “Iya nih, lagi mau santai.”


“Eh iya, aku juga baru mau ngomong. Han. Kamu udah kaya anak kuliahan. Awas loh, Ken. lu harus ekstra jaga Hanin, dia ngga keliatan udah punya buntut.”


Hanin tertawa dan mellirik suaminya. “Ah, masa sih.”


“Untung lu yang muji istri gue. Kalo orang lain udah ilang tuh idung," sahut Kenan membuat Vicky dan Kiara tertawa.


“Sadis banget kamu, Ken,” sahut Rasti sambil menepuk bahu putranya.


“Namanya juga Kenan, Mam. Ada yang macem-macem sama kepunyaannya, ngga bakal idup dah,” sahut Vicky membuat semua orang di sana tertawa.


Suasana begitu riuh. Belum lagi tangis Kayla dan Kevin yang membuat keriuhan itu semakin ramai. Hanin dan Kenan duduk bersebelahan dengan Kevin yang berada dalam pangkuan Hanin. Sementara Kayla berada di pangkuan Rasti yang duduk bersebelahan dengan Gunawan dan Rea di sofa seberang Hanin dan Kenan.


Mereka berkumpul di taman belakang yang luas itu. Lalu, Kiara di temani Vikcy melanjutkan memanggang daging itu. kini Vicky bagian memanggang dan Kiara memberi bumbu.


“Ra, ini udah mateng belum?” tanya Vicky yang berdiri di samping Kiara.


Rara mendekati Vicky untuk melihat hasil panggangan pria itu. “Belum. sedikit lagi.”


“Yang ini udah, Ra. Coba deh!” Vicky mengambil secuil daging itu dan meniupnya, lalu, menyuapinya ke mulut Kiara.


Namun, Vicky yang jahil pun meledek Kiara yang sudah membuka mulutnya. Ia sengaja memindahkan garpu yang berisi daging panggang itu ke kanan dan kiri, membuat Kiara tertawa dan memukul pelan dada Vicky.


“Jahil banget sih kamu,” rengek Kiara.


Dan, Vicky pun tertawa. Ia lupa kalau dirinya tak lagi sendiri. Kebiasaanya menjahili Kiara pun tak hilang, sama seperti dirinya yang suka menjahili Vely, adik perempuannya, karena memang seperti itulah Vicky.


Alhasil, keseruan Kiara dan Vicky sontak membuat Rea cemburu. Rea dapat melihat chemistry antara suaminya dan wanita yang dulu pernah suaminya cintai. Kebetulan posisi duduk Rea berada lurus di tempat Vicky dan Kiara berdiri. Entah mengapa hati Rea sakit melihat kebersamaan itu. walau Kiara sudah memiliki anak dan suami.


Rea melirik ke arah Gunawan yang seolah biasa saja, tidak seperti dirinya yang sakit hati dan cemburu. Ya, karena antara Vicky, Kiara, dan Gunawan sudah saling mengenal satu sama lain. Sudah sama-sama tahu, kelakuan dan ketulusan hati masing-masing. Hanya Rea yang masih belum mengerti kegilaan tiga sahabat itu.


Walau Kenan, Gunawan, dan Vicky terlihat gila dengan kelakuannya masing-masing, tapi mereka adalah pria-pria penyayang keluarga.