Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Harus siap


“Mas, besok Kayla imunisasi, sekalian kamu kontrol juga kan?” tanya Kiara pada suaminya.


Kiara dan Gunawan berada di dalam kamar mereka. Gunawan yang baru saja pulang kerja, segera mencuci tangan untuk menggendong sang putri. Tak lupa ia juga membuka kemejanya dan hanya menggendong Kayla dengan menggunakan kaos singlet serta boxer saja.


“Iya, sayang. Aku tidak lupa," jawab Gunawan diiringi senyum di bibirnya sembari memandang sang istri.


Kiara pun tersenyum. Lalu membereskan pakaian kerja Gunawan yang sudah hampir seharian dipakai itu ke kamar mandi.


Di sana, Gunawan mendudukkan diri sembari bermain dengan sang putri. Ia mengajak Kayla tertawa dan Kayla pun tertawa, menampilkan gusinya yang merah dan belum terisi gigi sama sekali. Kini, Kayla sudah berusia dua bulan.


Kiara keluar dari kamar mandi dan melihat keseruan suaminya dengan sang putri. Gunawan tampak bahagia. Kiara pun mengulas senyum, karena ia ikut bahagia melihatnya.


Setelah kedatangan Gunawan di kamar ini tadi, kamar itu langsung berantakan karena Gunawan melepaskan pakaian dan menaruhnya asal, sehingga Kiara harus merapihkan. Setelah terlihat rapih kembali, ia pun menghampiri sang suami dengan sang putri yang duduk di sofa.


“Sini, biar Kayla sama aku. Kamu kan mau mandi.”


Gunawan menoleh ke arah sang istri dan tersenyum. “Mandiin.”


Kiara tertawa. “Apaan sih, Mas. Manja banget. Malu sama Kayla.” Kiara menatap wajah putrinya. “Ya, Papa manja banget ya.”


Kiara mengajak Kayla tertawa sehingga sang putri pun ikut tersenyum lebar.


“Sudah dua bulan, Sayang. Ayolah! Aku sudah rindu,” rengek Gunawan.


“Aku takut, Mas.”


“Aku akan melakukannya dengan lembut.” Gunawan menaikturunkan alisnya.


Kiara tertawa melihat ekspresi sang suami. Gunawan terlihat menggemaskan saat ini. Kiara menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


“Muka kamu tuh, bikin orang ga bisa nolak tahu ngga,” ucap Kiara.


Gunawan tertawa. “Sengaja. Aku tahu kamu tidak akan pernah bisa menolakku.”


Gunawan memajukan tubuhnya untuk mencium Kiara yang duduk persis di sampingnya. Namun, Kiara menahan dada itu dan melirik Kayla.


“Malu ih sama anaknya.”


Gunawan melirik ke arah Kayla yang memang sedang melihat kedua orang tuanya.


“Oh, iya.”


Mereka pun tertawa. Lalu, Gunawan bangkit.


“Mau kemana, Mas?” tanya Kiara yang masih duduk di sofa itu.


“Titip Kayla sama si Bibi.” Gunawan menyeringai senyum penuh arti dan Kiara tahu arti itu.


Kiara pun ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Dasar, kalau udah maunya ga bisa ngga.”


“Iya dong,” sahut Gunawan yang langsung membuka pintu dan hendak keluar dari kamar itu untuk mencari si Bibi.


Kebetulan Kayla memang baru saja diberi ASI dan selesai tepat saat Gunawan masuk kamar ini. putri Gunawan yang cantik itu pun sudah cantik ddan wangi karena sebelum diberi ASI, ia sudah dimandikan terlebih dahulu oleh sang ibu.


“Main sama Bibi ya, Sayang. Main yang lamaan, karena Mama ngurusin Papa dulu, Oke.”


Kiara berdiri dan mengikuti langkah suaminya hingga pintu itu pun mendengar apa yang Gunawan ucapkan tadi. Ia hanya menggelengkan lagi kepalanya. Memang seharusnya Gunawan sudah buka puasa sejak beberapa hari lalu, tetapi Kiara masih takut untuk melakukan itu, ia takut jahitan di area sensitifnya robek kembali, karena ia melahirkan normal, padahal saat melahirkan Kiara hanya mendapatkan jahitan sedikit sekali.


Kiara mondar mandir di dalam kamar mandi sembari menunggu air di bathup itu penuh. Ia menyiapkan air hangat untuk sang suami.


Ceklek


Gunawan membuka pintu kamar mandi itu perlahan dan melihat Kiara yang berjalan mondar mandir.


“Kamu kenapa?” tanya Gun.


Kiara menoleh ke sumber suara itu. lalu, memasang wajah memelas. “Aku takut, Mas.”


Gunawan tertawa. Ia lucu melihat wajah sang istri. Kiara seperti dilema antara takut tetapi tidak ingin membuat sang suami kesal dengan menolaknya.


Gunawan berjalan mendekati Kiara dan menangkup wajahnya. “Kalau kamu masih belum siap, tidak apa. Aku akan menunggu.”


“Eum ... tapi kamu ingin.”


“Iya, sangat ingin.” Gun mengelus wajah cantik Kiara.


Gunawan tertawa. “Masih meragukanku?” tanyanya.


Gun menatap lembut wajah sang istri dan Kiara pun membalas tatapan itu. Kiara menggeleng pelan.


“Aku dulu memang bodoh, telat menyadari tubuhmu yang nikmat ini,” ucap Gun dengan meremas kedua gunung kembar Kiara.


“Ih, Mas,” rengek manja Kiara bercampur malu.


Gun tertawa. “Candu itu mulai terasa saat kamu hamil. Rasanya aku ingin memakanmu terus dan saat itu aku baru sadar kalau ternyata aku mencintaimu.”


“Hmm ...” seketika hati Kiara meleleh mendengar ungkapan itu.


Lalu, Gunawan memeluk erat Kiara dan Kiara pun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Gun. Mereka berdiri berpelukan tepat di depan cermin wastafel. Gun mulai mendekatkan bibirnya pada bibir ranum sang istri.


Kemudian ********** dan Kiara membalas pangutan itu. Pangutan yang semula lembut, kini semakin liar. Kiara yang juga mahir berciuman pun mampu mengimbangi permainan sang suami. Mereka tidak terlepas dalam durasi yang cukup lama. Kiara mampu mengambil oksigen sedikit demi sedikit walaupun lidah mereka saling membelit. Gunawan semakin panas dan bergairah.


Tangan Gun tak tinggal diam. Ia meraba resleting yang ada di punggung belakang Kiara dan menurunkan resleting itu perlahan, hingga dres yang Kiara kenakan jatuh ke lantai. Lalu bibir Gun turun ke leher, menggigit-gigit kecil ke kanan dan kiri. Kiara menengadahkan kepalanya agar Gun lebih leluasa melakukan apa yang ia inginkan.


Tangan Gun kembali menelusuri bagian belakang tubuh Kiara dan membuka pengait bra berwarna merah itu. Lalu, kedua tangannya mengangkat b*k*ng Kiara dan menggendongnya.


“Muah.”


Suara lepasnya penyatuan dua bibir itu dengan posisi yang masih sama. Kiara digendong Gun seperti koala.


Gun menempelkan keningnya pada kening sang istri. “Aku mencintaimu, Ra. Sangat mencintaimu.”


Kiara tersenyum. “Aku juga, Mas. Dulu dan sekarang, rasa itu tidak pernah berubah.”


Bibir Gunawan tersenyum lebar. Lalu, membawa tubuh Kiara dan mendudukkannya di atas marmer wastafel berwarna krem. Gun mengungkung tubuh mungil itu, kemudian kembali melakukan aksinya. Bibirnya kembali menerjang bibir ranum sang istri dengan rakus. Lalu, menelusuri leher jenjang itu lagi hingga turun ke dada.


“Maaf ya Kay. Kali ini giliran Papa menikmati punyamu. Kita berbagi, oke,” ucap Gunawan yang tertuju pada Kayla, padahal di sana tidak ada keberadaan sang putri, hanya saja saat ini Gunawan tengah berada di depan bagian yang selalu di nikmati putrinya untuk asupan makanan sebelum mendapatkan asupan makanan padat yang sesungguhnya.


Gun meremas dada Kiara sebelum ia nikmati. “Semakin kenyal, Sayang.”


“Apa sih, Mas?” tanya Kiara pura-pura tak mengerti apa yang diucapkan Gunawan.


Wajah Kiara memerah sembari memukul pelan bahu kanan suaminya. Gun tersenyum sembari menghisap dan menggigit dua gunung kembar itu bergantian. Ia seperti orang kehausan. Memang dahaga ini telah lama ia nanti.


“Eum ... Mas,” lenguh Kiara, menikmati sensasi yang luar biasa itu.


Kedua tangan Gunawan kembali menelusuri bagian sensitif sang istri yang berada di bawah sana. Ia merobek benda halus yang menutupi bagian itu. Benda halus yang berwarna senada dengan bra yang sudah teronggok di lantai. Lalu, jari Gun mulai bermain di sana, hingga Kiara kembali melenguh.


“Mas,” ucap Kiara dengan mata sayu.


Kiara membusungkan dada seraya melebarkan kedua kakinya agar Gunawan dengan leluasa memainkan jari yang dilanjut dengan lidahnya.


“Mas, Eum ... a ..ku ... Ah.” Kiara tak tahan untuk menahan gejolak itu, hingga akhirnya ia meledakkan sesuatu di sana.


Gun yang semula menunduk, Kini sedikit berdiri dan kembali menikmati dua gunung kembar itu bergantian. Tubuh Kiara melengking merasakan nikmatnya ledakan di bawah sana. Ia meremas kepala Gun sambil menengadahkan kepalanya. Rasanya sudah lama Kiara tak merasakan ini, karena sebelum ia melahirkan, sang suami tengah koma dalam waktu yang juga cukup lama.


“Siap, Sayang?" tanya Gun dengan lembut.


Kiara menganggukkan kepala. Mau tidak mau, ia harus siap melayani kebutuhan biologis suaminya lagi. Kasihan Gunawan yang sudah berpuasa cukup lama.


“Siap memberi adik untuk Kayla?” tanya Gunawan lagi, di sela aktifitasnya yang hendak menyatukan miliknya pada milik sang istri.


Mata Kiara langsung membulat dan mengelengkan kepala. “Ngga.”


Gun tertawa. Ia pun tidak akan setega itu pada sang istri dan pada putrinya yang masih sangat membutuhkan perhatian dari kedua orang tua.


“Ah, sakit.” Kiara meringis saat penyatuan itu berhasil dilakukan oleh sang suami.


“Kamu benar-benar nikmat, Sayang.”


Keduanya hanyut dalam kenikmatan tiada tara.


“Jangan di dalam!” kata Kiara memperingatkan.


"Tidak janji, Sayang.” Gun tersenyum. Ia senang sekali menggoda Kiara dan membuatnya khawatir.


“Maasss,” teriak Kiara, membuat Gunawan tertawa lepas.