
Sampai menjelang sore Bara masih berada di kantor Star Media bersama Iwan.
Masih mendengarkan bagaimana Markus berceloteh.
"Maaf tuan Markus. Sedikit bertanya" sela Iwan.
"Silahkan...silahkan tuan Iwan" Markus menimpali.
"Kalau memang bisnis media sangat menguntungkan, dan Star Media benar-benar sedang berada di atas. Kenapa anda mencari penanam modal lagi?" tanya Iwan.
"He...he...kau bisa saja tuan Iwan" Markus malah terkekeh.
"Tentu aku ingin Star Media lebih dan lebih lagi" tukas Markus.
Orang serakah tetap saja serakah. Batin Bara.
"Jadi bagaimana tuan Bara, apa anda masih berminat?" tanya Markus.
Bara mengangguk pasti. Karena hanya dengan ini Bara bisa mengembalikan hak sang istri.
"Oke, pertemuan selanjutnya akan kita bahas dengan tim keuangan, tim legal dan semuanya. Mungkin kita akan datang lagi dengan membawa rombongan" ucap Bara.
"Siap tuan Bara, kami akan selalu menyambut tim anda dengan tangan terbuka" tukas Markus.
.
Tim Dirgantara telah beberapa kali datang ke Star Media, untuk memenuhi permintaan sang bos menginvasi pelan perusahaan itu.
Dan hari ini adalah kali terakhir mereka datang untuk penandatanganan kerjasama dengan perusahaan milik Markus itu.
"Semoga dengan penandatanganan berkas ini, kerjasama kita bisa berjalan lancar" ucap Markus berjabat tangan dengan Bara.
Dengan berinvestasi di sana, sama saja Bara telah membeli saham sebesar dua puluh lima persen. Bahkan saham Markus hanya lebih dua persen dari saham milik Bara.
Tapi karena koneksi yang kuat, Markus berhasil terpilih menjadi direktur utama di sana.
"Sepertinya dia tak mau ada orang yang memiliki saham lebih besar daripada dirinya tuan" bisik Iwan.
"Heemmm" tukas Bara bergumam.
Bara menghampiri Markus yang sedang duduk dengan dewan direksi yang lain.
Bara menyalami direksi yang lain. Dan tetap dengan tatapan datar dan dingin.
"Oh iya, bahkan sampai lupa mengenalkan. Tuan Bara ini juga CEO dari perusahaan Dirgantara loh" Markus menimpali dan mengenalkan ke direksi yang lain.
Begitu Markus menyebut nama Dirgantara, direksi yang semula cuek berubah ramah di hadapan Bara.
Dasar penjilat. Umpat Bara dalam batin.
Pasti mereka masih satu grub dengan Markus.
"Oh ya tuan Markus. Saya harus bergegas untuk ke rumah sakit. Mohon ijin undur diri dulu" basa basi Bara.
"Baik, tuan Bara" tukas Markus.
Dan Iwan yang berada di belakang Bara menyampaikan sebuah undangan pernikahan untuk tuan Markus dan juga direksi yang lain di Star Media.
Bara sengaja mengundang mereka yang baru mengenalnya saat ini.
"Undangan dari siapa tuan Iwan?" tanya Markus.
"Buka saja Tuan. Maaf saya harus undur diri duluan, Tuan Bara sudah menunggu saya" kata Iwan karena melihat Bara sudah berada dekat pintu keluar ruang rapat.
.
" Apa yang akan kau lakukan tuan?" tanya Iwan dengan tetap fokus mengemudikan mobil.
"Antar aku ke rumah sakit Iwan. Sepertinya Maya tak sabar mengajakku operasi...he...he..." kata Bara belum menjawab pertanyaan Iwan.
"Bukannya sudah digantikan dokter Mirza?" celetuk Iwan.
"Iya, operasi orthopedi yang tadi. Ini Maya mau main, lagi nungguin sekarang" ulas Bara.
"Oke tuan" jawab Iwan mengarahkan laju mobil ke arah rumah sakit Suryo Husada.
"Tuan, belum jawab pertanyaanku yang tadi?" seloroh Iwan.
"Yang mana?"
"Apa yang akan kau lakukan terhadap laki-laki tua tadi?" celetuk Iwan.
"Oooooo...itu? Tunggu saja saat nanti resepsi pesta pernikahanku. Aku akan memberi kejutan padanya" tukas Bara.
"Mulai sekarang selidiki semua bisnis-bisnisnya! Dan aku harap kau memperkuat anak buah kita untuk menghadapi mereka jika suatu saat aku memerlukan" beritahu Bara.
"Oh iya Iwan, bagaimana dengan juragan Darto dan antek-anteknya?" tanya Bara.
"Jaringan mereka sangat luas tuan. Akan sangat sulit menghancurkan mereka. Nama Juragan Darto sepertinya hanya dijadikan tameng. Ada orang yang lebih kuat pengaruhnya di belakang mereka" jelas Iwan.
Sampailah mereka di basement rumah sakit Suryo Husada.
"Kau tunggu sini aja. Tunggu aku selesai!" celetuk Bara.
"Ngopi-ngopi sana!" suruh Bara.
"He...he....siap tuan" tukas Iwan sambil membenarkan posisi mobilnya sebelum sang tuan turun.
"Aku masuk dulu" kata Bara membuka pintu mobil.
.
Iwan berjalan ke arah kantin rumah sakit, dia ingin menyonjorkan kaki di sana sambil menikmati secangkir kopi panas.
Sementara Bara berjalan ke instalasi bedah sentral karena semua tim yang lain telah lengkap menunggunya di kamar operasi.
"Sori, ku telat" kata Bara masuk kamar operasi setelah mengganti jas kantor nya dengan baju operasi.
"Sudah biasa kak" tukas Maya terkekeh. Maya yang berangkat dari mansion papa Suryo tentu saja lebih dulu datang, karena jarak yang ditempuh relatif lebih dekat daripada jarak yang ditempuh oleh Bara bersama Iwan.
"Pasien dengan apa ini?" tanya Bara hanya untuk memastikan.
"Tumor indung telur" celetuk Maya. Harusnya pakai bahasa medis sih karena sesama dokter...he...he...
"Harusnya kukerjakan besok, tapi karena kesakitan makanya kumajukan jadwalnya" imbuh Maya.
"Baiklah" tukas Bara.
"SAB aja ya?" celetuk Bara.
"Siap" Maya menimpali.
"Anung, kamu siapin!" kata Bara sambil memeriksa kondisi umum pasiennya dan berusaha menenangkan pasien yang nampak cemas itu.
Setelah dirasa pasien sudah tenang, Bara memasukkan obat bius lewat tulang belakang pasien.
Anung kembali memasang monitor dan alat pengukur kadar oksigen. Bara melihat monitor pasien, dan semuanya nampak baik. "May, bisa kau mulai" kata Bara.
Maya yang sudah bersiap sedari tadi mulai mendekat ke samping pasien.
Operasi dimulai setelah Maya selesai memimpin doa.
Dengan cekatan Maya membuka lapangan operasi dan mencari lokasi tumor berdasarkan hasil pemeriksaan sebelumnya.
"Hah, ketemu akhirnya" celetuk Maya.
"Lengket kah?" tanya Bara.
"Sepertinya sih enggak" jawab Maya.
Maya meneruskan gerak tangannya untuk mengambil tumor yang ternyata lokasinya berada di sebelah kiri perut pasien.
Operasi selesai setelah berjalan satu jam lebih. Maya menarik nafas panjang, setelah menyelesaikan jahitan terakhirnya.
"Mba, tolong siapin blangko untuk pengantar pemeriksaan laborat. Aku ingin jaringan tumor itu dikirim" suruh Maya ke asistennya.
.
"Kak, kau nggak ambil cuti lagi? Bukannya akhir minggu ini pesta pernikahanmu?" tanya Maya.
"Nggak, kan semua Iwan yang nyiapin" tukas Bara enteng.
"Enaknya jadi bos" ledek Maya.
"Ya iyalah. Emang suamimu nggak seperti itu" kata Bara.
"Nggak tuh" Maya terbahak. Dia sangat tahu karakter suami dan adiknya itu. Hanya beti...alias beda-tipis he...he....
"Kak, boleh bareng nggak? Suamiku sama anak-anak ada di mansion papa" tanya Maya.
"Lapor dulu sama suami posesifmu itu" tukas Bara.
"Malah suamiku yang nyuruh, karena tau aku operasi sama kamu" celetuk Maya.
"Oke lah, aku telpon Iwan dulu biar bersiap" Bara menimpali.
.
Elis telah menunggu kedatangan suami di mansion papa Suryo.
"Loh, kok sama kak Maya. Katanya rapat di Star Media?" tanya Elis menyambut kedatangan sang suami.
"Iya, habis rapat langsung otewe rumah sakit" jawab Bara mengecup kening sang istri.
Elis pun ikut masuk mengiringi sang suami kemanapun Bara melangkah.
"Ada apa sih sayang?" tanya Bara.
"Nggak, aku penasaran saja. Kenapa kamu ingin kerjasama dengan Star Media?" Elis sangat tahu kalau Star Media adalah Starco.ind milik papa nya dulu.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
π