
Bara menelpon Iwan, untuk menjemputnya sejam lagi. Karena Bara harus visit dulu pasien-pasien dokter Eka.
"Apa sebaiknya ku menghubungi pak Bambang?" gumam Bara.
"Ada apa kak, kok telpon pak direktur? Ada masalah?" tanya Maya.
"Nggak, mau minta tolong untuk nambah tenaga anesthesiologist. Dokter Eka kan masih masa pemulihan abis operasi tadi" jelas Bara.
"Loh, kok dioperasi?" imbuh Maya.
"Belum dengar? Dokter Eka kecelakaan pagi tadi. Karena aku minta tolong buat gantiin sementara" jelas Bara.
"Iya kah? Di mana?" sahut Maya kaget.
"Di perempatan sebelah, ada mobil nerobos lampu merah. Tabrak lari sepertinya" lanjut Bara.
"Tinggal lihat rekaman cctv yang ada di TKP kan bisa lihat plat nomor mobilnya kak. Apalagi di lampu merah situ kan sudah terpasang cctv dari berbagai sisi" seloroh Maya.
"He...he...benar juga ya" sahut Bara.
Bara menghubungi pak Bambang sang direktur. Manyampaikan usulan untuk menambah ketenagaan dokter anesthesi di rumah sakit Suryo Husada. Karena sekarang hanya tinggal dirinya dengan dokter Eka. Sementara dokter Eka harus istirahat sementara. Bara lah yang harus menghandel semua.
"Oke pak Bambang, selekasnya aja ya rekrutment. Kalau nggak gitu bisa tepar aku, kalau semua saya sendiri yang pegang" ulas Bara tertawa.
Dirgantara bisa terbengkelai. Batin Bara.
Sebuah notif pesan masuk ke ponsel Bara. Setelah Bara buka ternyata dari Iwan.
"Tuan, salah satu mobil yang mendatangi tempat penculikan nyonya semalam terindikasi terlibat dalam tabrak lari tadi pagi dengan korban dokter Eka itu" ketik Iwan.
"Apa sudah ditemukan titik lokasi terakhirnya? Nopol nya gimana?" balas Bara dengan voice note.
Iwan calling dan Bara langsung menyambungkan panggilan itu.
"Iya, gimana hasilnya?" tanya Bara.
"Begini tuan, mobil yang menabrak dokter Eka diduga adalah salah satu aset milik bos Star Media. Tapi nomor polisi sepertinya berbeda dengan nomor semalam" jelas Iwan.
"Kok bisa tau?" Bara masih belum yakin.
"Karena jenis mobil yang menabrak dokter Eka, termasuk jenis limited edition. Hanya tiga orang yang punya di kota ini. Dan kebetulan warna mobil waktu kejadian tadi pagi itu sama dengan yang dipunyai oleh pemilik Star Media" kata Iwan.
Bara mulai paham apa yang dilaporkan Iwan.
"Oke Iwan, informasimu sangat membantu kali ini" imbuh Bara.
.
"May, aku duluan ya. Mau visite di ICU" pamit Bara yang masih melihat Maya sibuk menulis.
"Oke kak, bentar lagi papa nya Raja juga mau datang kok" jawab Maya.
"Oke" Bara keluar dari ruang bedah sentral dan menuju ruang ICU yang tak jauh letaknya dari ruang kamar operasi.
Setelah menyelesaikan tugasnya, tak lupa Bara mampir di ruang paviliun untuk menjenguk sejawatnya.
"Siang pak Eka" sapa Bara saat masuk ruangan. Di sana kebetulan sudah ada dokter Andre, dokter Bagus dan dokter Alex yang sama-sama menjenguk dokter Eka.
"Dokter Bara, siap-siap aja direpotin sama kita" celetuk dokter Andre.
"Kalau perlu nikahnya ditunda dulu" tandas Alex.
Bara memang belum mempublikasikan pernikahannya. Dalam hati nya memang berniat mengadakan pesta setelah masalah sang istri selesai dulu.
"Sama siapa?" seloroh dokter Bagus.
Sementara Alex menepuk bahu kakaknya, "Tuh gadis dengan luka tusuk yang kau tangani" imbuh Alex.
"Nona Elis Melati?" tanya dokter Bagus pura-pura tak tahu.
"Lagak bloon loe kak" ledek dokter Andre menimpali dokter Bagus.
"Ha...ha..." semua yang di sana membuli Bara. Bara sih cuek aja. Karena Elis sudah jadi istrinya.
"Dok, anda itu sudah jadi trending loh seantero rumah sakit" dokter Andre menimpali. Sementara dokter Eka ikutan ketawa dengan menahan rasa sakit di kaki kanannya.
"Biarkan saja...he...he..." tukas Bara dan duduk di samping dokter Eka.
Sungguh para dokter itu, kalau sudah ngumpul ada saja bahan-bahan candaannya.
Tawa langsung terhenti saat terdengar pintu diketuk. Semua menatap Alex. Sebagai seorang yunior Alex menyadari arti tatapan itu, "Iya...iya... Aku yang bukain pintu" Alex beranjak ke arah pintu kamar rawat inap itu.
"Selamat siang, apa benar ini kamar perawatan tuan Eka Prasodjo?" sapa orang itu.
Alex menengok ke belakang dan mengucap pelan, "Aparat" tidak ada suara, hanya mulutnya saja yang bergerak.
Dokter Eka mengangguk menyetujui.
"Silahkan masuk tuan" ujar Alex mempersilahkan.
"Maaf menganggu waktunya sebentar tuan Eka" sapa aparat yang barusan masuk itu.
Sementara yang lain terdiam.
Ternyata kedatangan aparat itu untuk meminta keterangan dari dokter Eka tentang kecelakaan tadi pagi.
"Satu hal tuan, mobil itu lah yang melanggar rambu lalin dengan tetap melaju saat lampu sudah berganti merah" dokter Eka mengakhiri keterangannya.
"Baik tuan Eka. Terima kasih atas kerjasamanya" aparat itu hendak pamitan.
"Apa sudah diketahui mobil siapa pak?" sela Bara.
"Belum tuan. Karena minimnya saksi" jawab aparat itu.
"Betulkah, bukannya di perempatan itu ada beberapa titik cctv yang terpasang" tandas Bara.
"Kebetulan rusak tuan" kata aparat itu.
"Kenapa nggak dibetulin?" Bara terus mengejar pertanyaan kepada aparat yang datang itu.
"Maaf tuan, itu bukan wewenang kami" imbuhnya.
Aneh, padahal jelas-jelas Iwan telah melaporkan padanya bagaimana kronologis kejadiannya.
Apa ada yang bermain di belakang semua ini? Meski melihat cerita Iwan tadi, kecelakaan itu bisa saja hal yang tak disengaja. Tapi kenapa seperti ditutupi? Simpul Bara.
"Proses selanjutnya bagaimana pak? Apa mungkin semua kamera mati bersamaan?" tanya Bara.
"Saya hanya ditugaskan untuk meminta keterangan tuan Eka, sementara yang lain itu bukanlah wewenang kami. Maaf kami pamit, terima kasih atas kerjasamanya" aparat itu pergi setelah pamit untuk kedua kalinya.
Meninggalkan tanda tanya besar dalam benak Bara.
"Dokter Bara, seperti ada yang dipikirkan?" tanya pak Eka yang masih terbaring di ranjang pasien.
"Benar pak Eka" ucap Bara serius. Membuat semua dokter spesialis yang disana menatap ke arah Bara.
"Hanya aneh saja sih, tadi para aparat bilang kalau kamera pengawas di sana mati. Padahal anak buahku mendapatkan rekaman itu dengan jelas. Bahkan jenis mobil apa yang menabrak dokter Eka pun telah dilaporkan padaku" Bara masih dengan nada serius.
Semua dokter itu masih mendengarkan Bara. Karena selain sebagai dokter. Bara adalah pengusaha dengan insting yang tajam.
"Melihat kata dokter Bara barusan, sepertinya ada yang berusaha menutup kasus ini dok?" seloroh dokter Bagus.
"Aku juga berpikir begitu sih" sahut Bara.
Semua terdiam sampai ponsel Bara berdering kembali.
"Maaf, aku pamit dulu. Semoga lekas sembuh dan segera gabung kembali dok" ucap Bara.
"Baru juga operasi tadi pagi dok, sudah suruh kerja aja" canda dokter Eka. Dan semua yang disana terbahak mendengarnya.
Bara keluar ruangan setelah pamitan.
Dan menggeser tombol hijau pada panggilan ponselnya.
"Halo sayang" jawab Bara.
"Iya langsung ke mansion papa saja. Aku juga sudah selesai visite kok, abis ini aku nyusul. Masih nungguin Iwan datang. Hati-hati. Bye" lanjut Bara.
Bara kembali menekan nomor Iwan, "Iwan sudah sampai mana? Aku sudah selesai visite nih" kata Bara.
"Siap tuan, otewe. Lima menit" tukas Iwan.
.
Dalam perjalanan pun Bara kembali membahas kecelakaan yang terjadi pada dokter Eka.
"Tuan, apa sudah tau kalau pengemudinya seorang wanita?" ucap Iwan.
"Ya jelas belum Wan" tutur Bara menjawab.
"Sepertinya kasus ini mau ditutup-tutupi" telaah Iwan.
"Akupun merasa begitu" imbuh Bara.
.
Bara menscrol layar ponselnya, saat Iwan fokus menyetir. Hal yang jarang Bara lakukan.
Muncul sebuah notif berita di sana. Bara membuka. Ternyata membahas kecelakaan itu juga.
"Kecelakaan itu sudah viral sedari pagi tuan, bahkan rame di aplikasi tok-tok" cerita Iwan.
"Bahkan pengemudi tabrak lari yang belum diketahui itu banyak yang menghujat" lanjut Iwan.
"Terus kelanjutannya???" tanya Bara.
"Sekarang sudah hilang tuh berita...he...he..." sahut Iwan.
Bara sangat kepo dengan urusan kecelakaan itu, karena menurut Iwan mobil itu ada di TKP istrinya diculik.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊ
To be continued, happy reading
Batuk melanda, demam pun mengikuti #Makasih atas dukungannya, terhadap karya ini.
π