
"Bentar pak, saya siap-siap dulu" jawab Elis. Dan sedetik kemudian Elis masuk kembali ke dalam rumah.
"Mah, sudah belum? Sudah ada yang menjemputku di depan" kata Elis.
Mama Mawar sibuk membungkus makanan yang baru saja matang itu.
"Cie...cie...kemajuan nih kak. Sudah ada yang menjemput segala" goda Chyntia.
"Ish...anak kecil tau apa. Belajar sana" tukas Elis. Dan Chyntia pun tertawa menanggapi.
"Mah, Elis berangkat dulu ya" pamitnya sekaligus menjinjing makanan yang baru matang itu.
"Iya. Hati-hati di jalan. Elis, ingat ya nak posisi kita seperti apa. Kamu dengan tuan Bara itu bagai bumi dan Langit" nasehat mama.
"Aku tahu diri Mah. Jadi nggak mungkin aku akan macam-macam dengan tuan Bara" jelas Elis dan berjalan keluar ke arah mobil.
"Mama percaya kok sama kamu" Mama Mawar tersenyum dan mengantarkan anak pertamanya yang telah naik mobil sampai mobil itu hilang dari pandangan mata mama Mawar.
.
Elis telah sampai sekolah Agni, dan bertemulah dirinya dengan Maya yang juga barusan keluar dari mobilnya.
"Hai Elis" panggil sang dokter kandungan cantik itu.
"Hai kak" jawab Elis menghampiri Maya.
"Tadi kak Bara nelpon, kalau kalian mau ke mansion. Agni rewel ya?" tanya Maya.
"Kemarin kak rewelnya, inginnya datang ke rumah kakak" jelas Elis.
"Sabar ya sama Agni. Namanya juga anak-anak" hibur Maya. Dan Elis hanya mengangguk menanggapi ucapan Maya.
Kedua mobil berjalan beriringan menuju mansion Mayong selepas anak-anak yang telah pulang dan masuk mobil masing-masing.
"Elis, masuklah. Inilah kediamanku" Maya mempersilahkan Elis masuk ke rumah.
"Wow, ini rumah apa istana sih kak?" tanya Elis jujur. Bahkan apartemen Bara yang semuanya mewah, masih kalah mewah dengan mansion kakaknya.
Maya yang melihat Elis memandang kagum ruang tamunya, segera menghampiri Elis.
"Kalau kau mau yang seperti ini, nikahlah sama adik iparku" bisik Maya sambil terkekeh.
Emang tuan Bara mau denganku? Nggak mungkin. Batin Elis.
"Sudah jangan terlalu dipikirin ucapanku yang tadi" tukas Maya.
"Anak-anak tadi ke mana kak?" Elis menoleh ke kanan ke kiri, tapi tak melihat keberadaan Agni.
"Sudah biarin aja, ada mba-mba pengasuh nanti yang akan membantu. Agni sudah biasa akan hal itu kalau sedang di sini" jelas Maya.
"Aku juga pengasuh Agni lho kak" seloroh Elis.
"Mana ada pengasuh dipanggil mama, diijinin lagi sama bapaknya" sindir Maya membuat semburat merah di pipi Elis semakin merona.
"Oh ya Elis, kemungkinan nanti kak Bara akan menjemput telat. Dia super sibuk hari ini di rumah sakit, gara-gara ada kecelakaan beruntun dekat rumah sakit. Aku tau pas visite tadi" cerita Maya.
"Oooo...begitu kak. Kalau begitu tuan Bara tidak ke Dirgantara dong?" tanya Elis.
"Sepertinya begitu" imbuh Maya.
"Kak Maya, kok manggil tuan Bara nya kakak sih? Bukannya tuan Bara itu adiknya tuan Mayong?" Elis hanya ingin tau.
"Ceritanya panjang...he...he... Kak Bara itu dulu kakak senior ku di kampus. Bahkan aku kenal duluan sama kak Bara daripada dengan suamiku" Maya terkekeh.
"Aku dulu juga punya cerita tragis kok Elis. Alhamdulillah sekarang suamiku baik dan menyayangi keluarganya" lanjut Maya.
Elis terdiam, bertanya nanti dikira kepo. Tapi kalau nggak nanya juga bikin penasaran diri Elis.
"Aku dulu terpisah dari bayi dengan ayah kandungku. Mama meninggal sewaktu melahirkan aku. Anehnya aku sering dengan ketemu ayah kandungku sewaktu kuliah, karena ayah seorang guru besar di sana. Ketahuannya malah aku sudah menjadi dokter kandungan...he...he... Dunia itu memang unik Elis, tinggal aja bagaimana kita menjalani" nasehat Maya.
Elis mengangguk mendengarkan apa yang dikatakan Maya yang telah terbuka tentang kehidupan pribadinya.
Elis menghela nafas panjang, ternyata kehidupan menyedihkan tidak hanya dialami olehnya. "Semoga kelak aku juga bahagia seperti kakak" ucap Elis berharap.
Ponsel Elis berdering, nomor tak dikenal lagi.
Aneh ya, ini kan nomor baru. Sudah dua kali ini ada nomor tak dikenal masuk ke ponselku. Batin Elis.
"Kenapa nggak diangkat?" tanya Maya.
"Nomor nyasar kali kak, nomor tak dikenal" jawab Elis beralasan.
"Barangkali penting?"
Elis hanya mengangkat kedua bahu karena panggilan telah dimatikan.
Sebuah notif pesan masuk, "Non Elis tolong diangkat. Aku Iwan" bunyi pasan itu.
"He...he...iya kak" Elis terkekeh.
"Halo tuan Iwan" sapa Elis menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Non, apa kau bersama tuan Bara...? Hari ini tuan Bara susah sekali dihubungi" tanya Iwan.
"Aku tidak bersama tuan Bara. Tapi menurut cerita kak Maya, tuan Bara sedang sibuk di rumah sakit karena ada banyak korban kecelakaan datang" jawab Elis menerangkan.
"Oke, kalau begitu saya tunggu aja tuan Bara selesai. Makasih Elis" Iwan menutup panggilan ke Elis.
"Iwan?" tanya Maya kepo.
"Iya kak, nanyain tuan Bara" terang Elis.
"Ooòooo...." Maya ber 'o' ria.
"Kak, bentar ya. Aku mau ambil sesuatu" Elis beranjak dari tempat duduk.
Elis kembali dengan membawa sebuah box makanan.
"Apaan?" selidik Maya.
"Boleh kusiapin. Meja makannya di mana kak?" tanya Elis.
"Ayo kutunjukin!!" Maya beringsut dari duduknya semula.
Elis menyiapkan makanan yang dibawa dari rumah mamanya.
"Wowww, ayam bakar" kata Maya antusias.
"Kamu yang masak semuanya?" tanya Maya penasaran.
"He...he...kira-kira kakak percaya nggak?" canda Elis.
"Enggak" Maya terbahak.
"Mama kak yang masakin" imbuh Elis.
"Nyonya Mawar?" lanjut Maya.
"Kakak masih ingat aja dengan nama mamaku" ucap Elis.
"Oh iya Elis, nyonya Mawar sepertinya tinggal dua seri lagi buat nyelesaikan program kemo. Mamah mu tetap semangat kok menjalani terapi" jelas Maya.
"Makasih ya kak, atas bantuannya selama ini" tandas Elis.
"Sama-sama...he...he... Ayo siapin makan malam aja" ajak Maya.
"Siap kak"
.
Di rumah sakit, Bara sampai tidak sempat membuka ponsel sama sekali.
Maghrib menjelang, baru selesai semua tindakan. Bara menyelonjorkan kaki nya di ruang dokter.
Sementara dokter Bagus melengkapi semua berkas rekam medik.
"Nggak kerasa matahari sudah menghilang lagi dokter Bara" ucap dokter Bagus.
"He...he...iya. Sampai lupa rasanya makan minum" canda Bara.
"Iya, bahkan kencing aja sampai terlupa...ha...ha..." jawab dokter Bagus terbahak.
Tindakan mereka hari ini sungguh di luar nalar. Ada lima belas pasien dengan kasus bedah hari ini, pasien pasca kecelakaan beruntun itu.
Itu pun masih meninggalkan beberapa pasien yang masih bisa ditunda operasinya. Di elektifkan keesokan hari.
Beberapa snack dan nasi kotak sudah terhidang di meja.
"Makan dulu dokter" ajak dokter Bagus.
Bara hanya mengambil makanan ringan aja. Dia teringat makanan yang dipesan tadi pagi ke Elis.
Sambil mengunyah kue, Bara membuka ponsel yang sedari pagi tidak sempat dibuka.
🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻
To be continued, happy reading
🤗🤗🤗
💝