Agenda Dokter Bara

Agenda Dokter Bara
Bab 73


Sampai di Instalasi Bedah Sentral belum juga masuk ruang ganti terdengar celetukan dari seseorang, "Wah, Du-ren nya sudah belah duren belum?" sambil tertawa cekikikan.


Bara membalikkan badan, sudah tau siapa yang meledeknya.


"Kau pasti sengaja kan? Dasar!!!!" umpat dokter spesialis anesthesi itu.


Di apartemen sudah dibuat bete oleh uler keket, eh ini malah diajak cito operasi oleh kakak iparnya.


"Kau mengumpat pada siapa?" sela Mayong.


"Wah...suami istri kurang kerjaan nih" celetuk Bara.


"Apa kamu bilang?" Mayong ikutan bicara.


Bara hanya bersungut.


Sungguh suami istri itu apa tidak paham juga...Bara memijat kening karena ulah pasutri di depannya itu.


"Ngapain ikutan masuk? Biasanya juga di parkiran?" kata Bara mulai naik oktafnya.


"Terserah gue dong, yang kuantar kan istriku bukan istrimu" elak Mayong.


"Orang umum dilarang masuk ruang kamar operasi" imbuh Bara.


"Siapa yang orang umum?" tanya Mayong.


"Kamu lah" tandas Bara tak mau kalah.


"Sudah...sudah...jadi operasi nggak?" Maya beringsut masuk ruang ganti.


Bara pun begitu, meninggalkan Mayong begitu saja.


Daripada bete, Mayong keluar dari ruang operasi. Niatnya jalan-jalan untuk melihat lingkungan rumah sakit yang telah lama dialihkan ke Bara sang adik.


Sampai saat ini, dengan dipegang Bara. Rumah sakit Suryo Husada lebih berkembang. Fasilitas-fasilitas juga banyak diperbaiki. Mayong kagum dengan passion adiknya itu. Yang sangat berbakat di dunia medis dan pengembangannya.


Perusahaan Gayatri, kepunyaan Maya yang dikelola oleh Mayong juga banyak kecipratan rejeki dari Suryo Husada. Karena semua pengadaan alat medis semua berasal dari PT. Gayatri.


Mayong mengamati gerak-gerik mencurigakan dari seseorang dan mengikutinya.


"Apa dia termasuk penunggu? Tapi melihat cara masuknya ke masing-masing ruang perawatan membuat Mayong curiga.


Sampai akhirnya ada yang teriak dari kamar sebelumnya telah kehilangan uang dan ponsel.


Mayong mendekat ke arah orang yang mencurigakan itu.


"Selamat sore pak? Sepertinya anda mencari sesuatu?" tanya Mayong dengan tatap mengintimidasi pada pria yang usianya empat puluhan itu.


"Oh...iya tuan. Saya sedang mencari bangsal anak saya dirawat" ujarnya celingak celinguk seperti maling ketahuan.


"Bukannya anda baru keluar dari ruangan anak-anak? Tuh tulisannya" tunjuk Mayong.


Bapak itu semakin gelisah.


"Tanya aja ke perawat yang jaga di sana?" saran Mayong.


"Makasih tuan, tapi nanti saja saya nanyanya" tukas orang itu.


Melihat gelagat yang semakin aneh, Mayong mencekal lengan orang itu.


"Apa yang kau lakukan tuan?" dia mulai ketakutan di depan Mayong.


"Keluarkan isi tasmu!" perintah Mayong.


Beberapa security jaga merapat ke ruang anak karena ada laporan kehilangan dari keluarga pasien.


Melihat Mayong yang di sana, salah satu security menghampirinya.


"Tuan Mayong" sapa security yang sudah senior itu.


"Geledah orang ini pak, aku yakin dia lah pelakunya" ucap Mayong menyerahkan tersangka pencurian itu.


"Baik tuan" security itu melakukan apa yang diminta Mayong, dan ditemukan beberapa ponsel dalam tas dan juga uang dalam jumlah lumayan banyak.


Mayong meninggalkan tempat kejadian. "Sepertinya Bara melupakan sesuatu. Keamanan rumah sakit. Bagaimana masih bisa kecolongan?" gumam Mayong.


"Sebelumnya di mall Dirgantara, sekarang rumah sakit. Bisa jadi mereka adalah sindikat, dengan target tempat-tempat yang ramai seperti ini" pikir Mayong dan berjalan ke arah kantin.


"Sepertinya ke kantin dan minum kopi enak nih sambil nunggu istriku"


Mayong mengirim pesan ke Maya, kalau dia menunggu istrinya di kantin rumah sakit.


.


Sementara itu di dalam kamar operasi, Maya masih dengan serius memandangi lapangan operasi di depannya.


"May, sudah sejauh mana?" tanya Bara, karena obat bius sepertinya mulai kehilangan efek.


"Sepertinya masih lama kak, perlengketannya luar biasa. Apalagi kapan kena tangan, jaringan mudah berdarah. Jadi aku harus hati-hati" terang Maya tanpa beralih dari pandangan di depannya.


"Oke, kutambah aja dengan general anesthesi" imbuh Bara dan tak ada sahutan dari Maya.


Sebagai seorang operator, yang penting dia nyaman melakukan tindakan. Untuk urusan pembiusan dia pasrahkan sepenuhnya ke Bara sebagai anesthesiologist.


Operasi telah berlangsung dua jam, tapi belum menunjukkan tanda-tanda selesai.


"May, gimana?" Bara berdiri di belakang Maya untuk melihat jalannya operasi.


"Tinggal dikit kak" ucap Maya.


Maya bernafas lega karena telah berhasil mengeluarkan tumor yang super besar. "Bakso super jumbo aja kalah tuh dok" celetuk Anung.


"Alhamdulillah tinggal jahit lapis demi lapisnya" Maya meregangkan otot tangan dengan tangan yang masih memakai sarung tangan bedah.


"Kak, ada yang nyariin nggak? Sori ya..lama" Maya menoleh ke Bara.


"Nggak ada" seloroh Bara.


Bara teringat kegiatan panas nya sebelum pergi ke rumah sakit.


"Apa dia masih tidur ya? Kok nggak ada kabar?" batin Bara.


Karena tinggal menjahit dan keadaan umum pasien stabil, Bara mencoba mengirimi pesan ke sang istri.


Lama tak ada balasan. Bara menaruh kembali ponselnya.


.


Sementara Elis kaget karena suasana di sekelilingnya telah gelap. "Apa sudah malam?" gumamnya.


"Di mana suamiku?" Elis meraba sisi ranjang, tapi tak didapati keberadaan suami.


"Sayang..." Elis bangkit dari tempat tidur. Dia tak sadar kalau masih dalam kondisi polos.


"Ah, perih sekali" keluh Elis.


Elis mencari saklar untuk menyalakan lampu kamar, alangkah kagetnya dia karena melihat tubuhnya yang masih polos.


Sekilas Elis melihat sebuah note di atas nakas. Dihampirinya, yang ternyata pesan dari sang suami.


"Idih, sempat-sempatnya operasi. Padahal tadi pagi barusan ijab kabul" geleng kepala Elis.


Elis masuk ke kamar mandi untuk berendam air hangat. Elis tentu saja sudah hafal kamar Bara, karena selama dua bulan sebelumnya dia lah yang mendominasi kamar itu bersama Agni.


BarΓ  yang barusan datang, mencari keberadaan sang istri. Karena ruangan lain masih gelap, hanya kamar utama yang menyala.


"Di mana dia?" telisik Bara.


"Oooooo..." senyum Bara tersungging kala mendengar lantunan Elis bernyanyi.


Bara membuka kamar mandi perlahan. Didapatinya sang istri yang sedang memejamkan mata. Dan sedang memakai headset untuk mendengarkan lagu dari ponsel.


Bara pun melucuti pakaian yang menempel dan menyusul Elis ke bath up.


Elis terjingkat karena ada seseorang yang menyentuh asetnya. Belum juga sadar penuh, bibirnya telah dilahap habis oleh Bara.


Elis terengah karena serangan mendadak kali ini.


"Sayang, bibirmu membuat candu" ujar Bara.


"Emang obat-obat terlarang? Bisa membuat candu?" sungut Elis karena masih saja kaget karena serangan Bara barusan.


Bara menatap nakal ke arah Elis.


"Mesum ah" Elis hendak beranjak tapi ditahan Bara.


"Mau ke mana? Nggak boleh" pegangan tangan Bara bertambah erat.


Tangan Bara pun sekarang semakin nakal menjelajah.


Akhirnya suara indah Elis lolos begitu saja dari bibir mungilnya. Sungguh sentuhan Du-ren yang tidak jadi duren lagi itu melenakan seorang Elis.


"Enak ya sayang?" bisik Bara membuat Elis malu tak karuan. Semburat merah di pipi sangat jelas terlihat oleh Bara.


Bara melancarkan aksinya kembali, sehingga kamar mandi itu pun menjadi saksi kehangatan mereka berdua.


Tak cukup di bath up, mereka mengulangi lagi di bawah guyuran shower.


"Sayang badanku sudah lunglai ini" keluh Elis.


Bara mengangkat tubuh sang istri yang barusan selesai mandi.


Bunyi perut Elis saat berada di gendongan Bara, mengingatkan mereka kalau sedari siang selesai akad mereka belum makan.


"Aku masak dulu aja ya" kata Elis.


"Nggak usah, kita pesen aja. Aku yakin kamu nggak sanggup jalan" ledek Bara.


Elis pun mencebik, "Karena ulahmu yank".


Bara terbahak.


.


Saat makan malam berdua, Bara menerima pesan dari Mayong.


Dahi Bara berkerut saat membaca pesan dari kakaknya itu.


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


To be continued, happy reading


Like, komen, vote...kopi pun boleh


Semua boleh di klik loh, biar lapak ini rame 😊


πŸ’


.