
Alice dan Alyssa memperhatikan ku dengan ekspresi wajah serius. Dengan kapur putih di tangan ku, aku menggambar sebuah lingkaran sihir untuk melakukan kontrak spirit.
“Kurang lebih seperti ini..” ucap ku kepada Alice dan Alyssa.
“Un!” Alice dan Alyssa mengangguk secara bersamaan.
“Selanjutnya, kita membutuhkan katalis sihir dan menaruhnya di bagian tengah lingkaran sihir untuk memanggil spirit.”
“Katalis sihir?” Alice dan Alyssa memiringkan kepala mereka.
“Um, katalis sihir adalah sebuah benda atau sisa tubuh mahkluk hidup yang menampung sihir dalam jumlah besar seperti tulang naga, sisik wyvern, tulang monster kobold, atau tanaman sihir. Karena kita tidak memiliki katalis sihir, kita akan mencoba memanggil spirit kecil tanpa menggunakan katalis sihir.”
“Un.. Un..!!” Alice dan Alyssa mengangguk, sepertinya mereka telah memahami perkataan ku.
Entah kenapa, waktu luang kami di isi dengan pelajaran singkat mengenai kontrak spirit. Setelah melihat kemunculan Nimi yang datang tiba-tiba, Alice dan Alyssa menjadi penasaran dengan cara kerja pemanggilan kontrak spirit.
Lingkaran sihir yang terukir di lantai kamar ku merupakan kontrak sihir sederhana yang mampu memanggil spirit kecil tanpa katalis sihir.
“Onee-sama.. setelah memanggil spirit. Apakah kita harus memberi mereka makanan?” tanya Alice sembari mengangkat salah satu tangannya.
“Pertanyaan yang bagus, Alice. Berdasarkan catatan buku sihir yang membahas kontrak spirit, mereka memiliki energi sihir tersendiri dan tidak membutuhkan makan atau minum” balas ku.
“Lily-nee, apakah semua spirit memiliki wujud manusia?” mengikuti gerakan saudarinya, Alyssa mengangkat salah satu tangannya untuk mengajukan pertanyaan.
“Hmm.. pertanyaan yang cukup sulit untuk dijawab, Alyssa. Untuk spirit tingkat tinggi, mereka memiliki bentuk tubuh yang mampu menyesuaikan dunia kita. Contohnya seperti Nimi, bentuk tubuhnya mendekati manusia namun masih belum sempurna karena aura sihirnya masih mengalir keluar dari tubuhnya” ucap ku sembari melirik Nimi dan Mio yang duduk di atas kasur ku.
“Hmm.. ada apa, Lily-sama?” menyadari lirikan mata ku yang tertuju kepadanya, Mio memiringkan kepalanya.
“Tidak ada apa-apa, Mio” balas ku.
“Lily-nee.. mari kita lakukan! Tunjukkan kepada kami, tata cara untuk memanggil spirit!” Alyssa terlihat bersemangat dan menatap mata ku dengan tatapan bersinar.
“B-Baiklah, perhatikan ini baik-baik. Alice.. Alyssa.. untuk melakukan kontrak spirit. Kalian harus menggambar lingkaran sihir yang membentuk kontrak spirit dan berdiri di atasnya” aku bergerak memasuki lingkaran sihir yang telah ku buat.
“Saat di dalam lingkaran sihir, kalian berdiri dengan tenang dan mengucapkan kalimat ini” aku meregangkan tangan ku depan.
“Atas nama Lily Schwartz De Rommel, aku memanggil mahkluk yang bersembunyi dari pandangan ku, datanglah ke dunia ini dan jawab panggilan ini. Hadir dan jawablah panggilan mulia mu ini, aku.. Lily Schwartz De Rommel memerintahkan kalian untuk datang menghadap ku, sekarang..” lingkaran sihir yang ku buat perlahan bersinar terang. Garis putih dari kapur putih yang menggores lantai kamar ku memancarkan cahaya berwarna merah. Sebuah energi sihir yang membentuk titik-titik kecil berwarna merah terlihat terbang memutari tubuh ku.
“Umm.. spirit yang memiliki sihir api. Terima kasih telah menjawab panggilan ku” ucap ku sembari membungkukkan badan ku sebagai tanda perkenalan.
“Alice.. Alyssa.. ingat ini baik-baik. Setelah memanggil spirit, ucapkan salam seperti yang diajarkan oleh guru etika tata krama kalian.”
“Tentu saja, Onee-sama” jawab Alice.
“Uwaaaaaa...” mata Alyssa tertuju pada spirit kecil yang berhasil terpanggil oleh ku.
Um.. sepertinya ucapan terakhir ku di hiraukan oleh Alyssa.
“...” Alice terdiam sembari menatap ku. Tatapan matanya tertuju ke arah ku daripada spirit merah yang berhasil terpanggil.
“Alice, ada apa?” tanya ku.
“Hyaaa!! T-Tidak ada apa-apa, Onee-sama..” Alice terkejut setelah ku panggil.
“Alice?” tingkah laku Alice terlihat mencurigakan, terutama dengan wajahnya yang dipenuhi rona merah setelah melihat ku memanggil spirit.
“T-Tidak apa-apa, Onee-sama. Hanya saja.. Onee-sama tampak keren saat memanggil spirit. I-Itu sajaaa!!” balas Alice dengan nada cepat dan bersemangat.
“O-Ohh.. begitu kah?” balas ku.
“U-Unn..” balas Alice sembari mengangguk.
“Lily-nee.. Alyssa ingin mencoba memanggil spirit!” Alyssa menarik lengan ku dengan tatapan bersinar.
Ugh.. tatapan yang menyilaukan itu sangat menusuk mata ku.
“B-Baiklah..” untuk menghindari tatapan mata Alyssa yang dipenuhi cahaya bersinar itu, aku memenuhi permintaannya dan meminjamkan kapur putih yang berada di tangan ku.
“Ini.. buatlah lingkaran sihir yang semirip mungkin. Jangan ada garis yang salah atau mereka tidak akan menjawab panggilan Alyssa.” ucap ku sembari memperingatkan Alyssa.
“Un.. dimengerti!” Alyssa menerima kapur putih dari tangan ku dan menggambar lingkaran sihir sesuai dengan lingkaran sihir ku.
“Kuuuuhh..” Alice menggerutu di samping ku.
“Alyssa.. sisakan sedikit kapur itu untuk ku” ucap Alice.
“Un!!” jawab Alyssa.
K-Kenapa ini?
T-Tatapan Alice terlihat menakutkan dan menatap tajam ke arah Alyssa.
Apa yang telah terjadi di antara mereka?
[Lily-chan, itulah yang dinamakan dengan persaingan cinta.]
P-Persaingan cinta?
Mendengar ucapan dari Dewi, aku memiringkan kepala ku untuk memahami isi kalimat itu.
Apa maksudnya?
[Begini, Lily-chan. Kita bisa menggunakan pengandaian yang sesuai dengan kondisi ini. Contohnya seperti Mio yang memiliki kekasih simpanan. Sebagai Maid pribadi dan kekasih simpanan, Mio menghabiskan waktunya bersama kekasihnya daripada melayani Lily-chan. Jika itu terjadi, apa yang akan Lily-chan lakukan?]
Mio tidak mungkin melakukan itu.
[Hanya sebagai contoh saja, Lily-chan.]
Jika itu terjadi, mungkin aku akan membunuh kekasih simpanan Mio dan mendisiplinkan Mio atas pengkhianatan nya.
[K-Kenapa aku tiba-tiba merasakan aura dingin yang menusuk tubuh?]
[Are? Sejak kapan aku punya tubuh fisik?]
[B-Bukan itu maksudnya, Lily-chan. Ugh.. bagaimana cara menjelaskannya dengan tepat?]
[Apa yang di alami oleh Alice adalah rasa cemburu terhadap Alyssa yang selalu mendapatkan perhatian Lily-chan.]
[Lily-chan, cobalah memahami perasaan Alice yang merasa tertinggal oleh Alyssa.]
[Sangat mudah.]
[Buatlah sebuah lingkaran sihir bersama Alice.]
[Ah! pastikan untuk menggambar secara bersama-sama. Pegang tangan Alice untuk menggambar lingkaran sihir yang sempurna.]
Begitu saja?
[Ya, sangat mudah kan?]
“Alice, apa kau ingin menggambar lingkaran sihir dengan ku?” mengikuti saran Dewi, aku mengajak Alice untuk menggambar lingkaran sihir bersama-sama.
“Eh? A-Apa tidak apa-apa, Onee-sama?” sahut Alice dengan nada gembira.
“Um! Kemarilah..” aku mengeluarkan kapur putih yang tersisa dan menarik lengan Alice untuk mendekat.
“Hawawa...” Alice terlihat panik saat mendekati ku.
Tangan ku bersentuhan dengan Alice dan menggambar lingkaran sihir dengan sempurna. Selama tangan kami bersentuhan, wajah Alice dipenuhi dengan rona warna merah yang semakin terlihat jelas dan aliran nafas berat yang membuatnya terengah-engah.
“Alice, kau tidak apa-apa?” melihat nafas Alice yang terengah-engah dan rona merah di wajahnya, aku mendekatkan dahi ku untuk mengukur suhu tubuhnya.
H-Hangat..
Respon suhu tubuh Alice sama seperti demam ringan.
Mungkinkah.. Alice sedang demam ringan?
“Alice..!” aku menggenggam tangan Alice dan menariknya.
“A-Aku tidak apa-apa, Onee-sama..” ucap Alice dengan panik.
“B-Bau tubuh Onee-sama terlalu kuat untuk ku..” bisik Alice.
“Huh?” mendengar bisikan kecil dari mulut Alice, aku lalu menjauhi Alice dan mencium aroma tubuh ku.
*Sniff.. Sniff..
Umm.. tidak ada bau yang aneh kurasa.
[Ekhem.. Lily-chan..]
[Mencium aroma tubuh sendiri itu sangat sulit untuk dilakukan.]
B-Begitu kah? Apakah aroma tubuh ku terlalu kuat untuk Alice?
[Hmm.. kurasa.. aroma Lily-chan terlalu menggoda untuk Alice.]
A-Apa maksudnya itu?
[Um.. Lily-chan..]
[Jika tidak salah, Lily-chan membutuhkan katalis sihir untuk memanggil spirit kan?]
Y-Ya, itu benar. Tapi, mereka terlalu mahal untuk keuangan kami.
[Jika ada sebuah cara untuk membuat katalis sihir, apakah Lily-chan ingin mencobanya?]
Eh? Ada sebuah cara untuk membuat katalis sihir?
[Y-Ya.. hanya saja..]
Mendengar nada keraguan Dewi, aku bisa merasakan firasat buruk mengenai diri ku.
[Sebenarnya, bagian keringat Lily-chan memiliki kandungan sihir yang besar. I-Itu terjadi karena Ritual Linked yang kita lakukan sebelumnya.]
[Kyaaa!! Aku jadi teringat dengan ciuman pertama kita..]
[Ekhem! Mari kita lanjutkan pembahasan kita sebelumnya.]
[Aroma keringat yang menyimpan kandungan sihir sedikit memabukkan bagi orang di sekitarnya. Itulah yang di alami Alice. Saat ini, Alice sedang mabuk karena mencium aroma keringat Lily-chan.]
Umm.. apakah keringat ku ini ada hubungannya dengan katalis sihir?
[Tentu saja, dengarkan baik-baik Lily-chan.]
[Keringat yang terkumpul dan menembus pantsu Lily-chan akan membuat pantsu Lily-chan menjadi katalis sihir.]
[Dengan kata lain, pantsu yang Lily-chan kenakan saat ini mampu menjadi katalis sihir.]
[Daripada membeli katalis sihir yang tidak pasti, kenapa tidak menggunakan pantsu yang sedang Lily-chan pakai?]
“...”
Mendengar penjelasan dari Dewi, aku bisa merasakan lekuk pantsu ku yang dipenuhi keringat.
Mungkinkah..
Aku harus menggunakan pantsu ku sebagai katalis sihir untuk memanggil spirit?
I-Itu sangat memalukan!
Tapi, demi adik-adik ku.
Kuuuuhhhh...
A-Aku akan menahan harga diri dan rasa malu ku.
B-Bukan berarti aku melakukan semua ini untuk mengabulkan permintaan adik tiri ku!
Ini hanyalah kewajiban sebagai kakak mereka.
Um! Benar!
Sebagai kakak, sudah tugas ku untuk mengabulkan keinginan mereka.