
Spirit.
Itu adalah legenda yang tercipta sebelum umat manusia mampu menggunakan sihir. Eksistensi spirit di ketahui setelah Demon Emperor memperkenalkan spirit ke ruang publik. Berdasarkan catatan sejarah kerajaan, seorang kontraktor spirit dari umat manusia pernah ditemukan namun catatan mengenai ritual pemanggilan dan jenis spirit yang terpanggil tidak tercatat.
Beruntungnya, aku menemukan sebuah buku sihir yang berisi ritual pemanggilan spirit. Buku sihir itu bertuliskan bahwa spirit hidup di alam lain dan untuk memanggil spirit diperlukan katalis yang cukup kuat untuk membuka gerbang alam mereka. Ritual pemanggilan spirit tidak terlalu berbahaya karena kontrak spirit akan melindungi kontraktor dan mengatur tingkat kekuatan spirit yang terpanggil.
Selembar kertas yang diberikan Mio sudah cukup membuat satu kontrak spirit yang cocok untuk Ibu Mio. Pertarungan kecil kami memberi ku gambaran jelas tentang spirit apa yang cocok untuk Ibu Mio. Spirit yang bisa di andalkan untuk mendukung serangan Ibu Mio dan membantu pekerjaan sehari-hari Ibu Mio.
Kontrak spirit yang ku gambar tidak terlalu rumit, entah kenapa otak ku seperti memahami setiap garis dan lekukan kontrak spirit.
“Em! Kurasa ini sudah cukup kompleks” ucap ku.
Satu kontrak spirit siap pakai telah berhasil ku buat!
Selanjutnya adalah katalis yang diperlukan untuk memanggil spirit.
*Kreeek!
Aku dikejutkan dengan suara pintu kamar Mio yang terbuka. Dari balik pintu, Mio berjalan masuk ke arah ku. Karena kontrak spirit ini adalah hadiah kejutan untuk Ibu Mio, aku meminjam kamar Mio demi menjaga privasi kecil ini.
“Mio, tolong bantu aku untuk memberikan hadiah kecil ini” ucap ku sembari menyerahkan kertas yang berisi kontrak spirit.
“Lily-sama, apa ini?” Mio melihat kontrak spirit yang ku buat dan ekspresi rumit tergambar di wajahnya.
“Kontrak spirit” balas ku.
“Kontrak spirit?” Mio terlihat kebingungan dengan jawaban ku.
“Em! Saat Ibu Mio menemani ku berbelanja buku sihir di area perdagangan Guild Adventurer. Aku menemukan buku sihir menarik mengenai pemanggilan spirit dan kontrak spirit. Jika buku sihir ini benar maka kita hanya memerlukan katalis untuk mengaktifkan kontrak spirit. Masalahnya, katalis ini terbagi menjadi dua bagian yaitu katalis yang menggunakan material fisik dari monster dan katalis benda mati yang memiliki ingatan seseorang. Karena spirit tidak memiliki wujud fisik di dunia ini, ia memerlukan katalis sebagai penyesuaian bentuk tubuh. Jadi, dengan katalis yang tepat maka spirit yang terpanggil bisa menyesuaikan bentuk tubuh yang umum di dunia ini.”
Mendengar penjelasan ku, wajah Mio menjadi pucat ketika mendengar topik sihir.
Ah! Mio memang membenci sihir kan? Ku harap Mio tidak membenci ku karena menceritakan isi buku sihir yang membahas spirit.
“K-Kurang lebih seperti itu..” ucap ku yang tergesa-gesa mengakhiri topik ini.
“Lily-sama.. M-Maaf.. A-Aku tidak mengerti ucapan dari Lily-sama dan tolong jangan bahas ini” balas Mio yang memasang ekspresi sedih.
“M-Mio tidak suka dengan topik seperti ini kan? A-Aku mengerti itu jadi tolong maaf kan aku dan tolong jangan benci diri ku atau meninggalkan ku-”
“Tidak! Mana mungkin aku membenci Lily-sama hanya karena ini! Terlebih meninggalkan Lily-sama? Aku tidak mungkin melakukannya!” ucap Mio yang memotong perkataan ku.
“Miiiiooo~” aku mendekat ke arah Mio dan memeluk tubuhnya.
“Terima kasih karena selalu mengerti keinginan ku, Mio” bisik kecil ku.
“Lily-sama..” Mio mengusap kepala ku dan mengendong tubuh ku ke dalam pelukannya.
“Bukan kah Mio yang sekarang sudah menjadi milik Lily-sama? Tentu saja aku akan bekerja keras demi kebahagiaan Lily-sama karena.. Lily-sama adalah tujuan dan alasan ku untuk hidup sekarang” Mio mengatakan kalimat ini dengan senyuman manis di wajahnya.
“Ah! apa perlu Lily-sama menggunakan kontrak budak untuk-”
“Tidak perlu!” aku segera memotong ide gila yang akan diucapkan Mio. Hanya dari sepatah kata itu saja sudah menggambarkan ide gila yang ada di kepala Mio.
Hubungan antara Master dan Budak di kerajaan ini sangat kejam. Budak yang mendapat kontrak budak sama seperti manusia hidup yang menjalani kehidupan semu untuk melayani setiap perintah Masternya.
Aku tidak ingin menjalin hubungan yang seperti itu!
“Jika aku melakukan itu maka Mio bukanlah Mio yang ku kenal.”
“Lily-sama! Lily-sama! Lily-sama!” Mio tiba-tiba membenamkan wajahnya di badan ku sembari mengeluarkan isak tangis kebahagiaan.
“C-Cukup Mio..” aku sedikit menahan rasa malu dari sikap kekanakan Mio.
Mio melepas pelukannya dan mengajak ku ke ruang makan untuk menikmati makan malam yang telah di sediakan.
Saat kami memasuki ruang makan, Ibu Mio dan Ayah Mio dalam posisi berpelukan dan dipenuhi suasana harmonis.
“Ara? Tamu spesial kita telah tiba. Jadi, tolong tahan diri mu dan kita akan melanjutkannya nanti.. Fufu..” ucap Ibu Mio yang melepas pelukan Ayah Mio.
“Ekhem! Lily-sama. Maaf tentang apa yang baru saja terjadi” ucap Ayah Mio sembari menahan rasa malunya.
“Mama, lihat ini..” Mio memberikan selembar kertas yang berisi kontrak spirit kepada Ibunya.
“Mio.. I-Ini?” sama seperti Mio, Ibu Mio tampak kebingungan setelah melihat kontrak spirit yang ku buat.
“Ini adalah hadiah yang dibuat oleh Lily-sama. Sebuah kontrak.. spirit?” Mio sepertinya ingin menjelaskan isi hadiah ku namun ia juga kebingungan untuk menjelaskannya.
“Em! Itu adalah kontrak spirit yang telah ku pelajari dari buku sihir dan untuk mengaktifkan kontrak spirit diperlukan katalis. Ah! di balik kertas itu ada petunjuk penggunaan.” ucap ku.
“Katalis? Berarti aku harus berburu monster lagi untuk mencari katalis yang tepat?” tanya Ibu Mio.
Aku menggelengkan kepala ku.
Sekali lagi, aku menjelaskan dua perbedaan katalis yang bisa digunakan untuk mengaktifkan kontrak spirit kepada Ibu Mio. Berbeda dengan Mio, tampaknya Ibu Mio memahami perkataan ku.
“Jadi begitu, apa kita bisa menggunakan pakaian itu?” gumam kecil Ibu Mio.
“Lily-sama, apa boleh aku menggunakan hadiah ini sekarang?” tanya Ibu Mio.
“Eh? Bukankah ini sudah menjadi hak milik Helena-san?” balas ku sembari membalikkan pertanyaan Ibu Mio.
“Fufu.. Lily-sama benar-benar bijaksana. Kalau begitu, aku akan pergi mengambil dua katalis.”
Ibu Mio beranjak dari kursinya dan meninggalkan ruang makan.
Keheningan terjadi di ruang makan.
“Kita punya katalis?” tanya Mio kepada Ayahnya untuk memecah keheningan.
“Apa kau lupa jika Ayah dan Ibu mu mantan petualang? Memiliki satu atau dua katalis bukanlah masalah untuk seorang petualang” balas Ayah Mio.
“Benar juga, aku hampir lupa.”
“Mio! Walau pun Ayah saat ini menjadi Blacksmith tapi dahulu Ayah adalah petualang terhebat yang mampu menaklukkan hati Ibu mu!” ucap Ayah Mio sembari menepuk dadanya.
“...”
“...”
Aku dan Mio tidak menanggapinya.
“H-Hey.. tidak ada komentar untuk yang satu ini?” tanya Ayah Mio sembari menarik perhatian kami.
Ibu Mio kembali sembari membawa tongkat kecil dan kotak kecil.
“M-Mama?” Mio mengamati barang bawaan Ibunya dan ekspresi sedih muncul di wajahnya.
“Lily-sama.. boleh aku menggunakan kontrak spirit itu sekarang?” pinta Ibu Mio,
Aku hanya mengangguk. Lagipula, itu sudah menjadi hak milik Ibu Mio.
“Mio, bantu Ibu mu..” Ayah Mio tiba-tiba menyuruh Mio untuk membantu Ibunya.
“E-Em!” dengan ekspresi sedih di wajahnya, Mio memenuhi perintah Ayahnya.
Saat Mio dan Ibu Mio meninggalkan ruang makan, Ayah Mio mengungkapkan apa yang ada di pikiran Ibu Mio setelah mendengar penjelasan mengenai kontrak spirit dan katalis nya.
“Lily-sama, sebenarnya Mio memiliki adik kecil yang ahli menggunakan sihir namun sebuah tragedi terjadi di rumah kami yang membuat adik kecilnya lebih cepat meninggalkan keluarga kecil ini..”
“Karena kejadian itu, Mio sampai saat ini membenci sihir dan segala sesuatu yang berhubungan dengan sihir. Baginya, sihir adalah penderitaan yang menyakitkan dan membuatnya teringat tentang adik kecilnya.”
Mendengar perkataan Ayah Mio, satu misteri besar tentang Mio telah terjawab. Sebuah alasan kenapa Yurification System mengetahui kebencian Mio dan kenyataan pahit yang tercampur di dalamnya.
“Terima kasih telah memberitahukan hal ini kepada ku” ucap ku.
“Tidak apa-apa, anggap saja ini adalah persetujuan ku terhadap hubungan kalian. Um! Jika bisa.. tolong buat Mio bahagia.”
“Tentu saja, serahkan hal itu kepada ku.”
Mendengar jawaban ku, Ayah Mio tersenyum kepada ku.
“Aku ingin melihat Mio kembali tersenyum bebas setelah terlepas dari kutukan yang selalu mengikatnya” ucap Ayah Mio.
Setelah ucapan itu, sebuah tangisan kecil dari Ibu Mio dan Mio terdengar.
Dari balik pintu ruang makan, cahaya yang menembus dari sela-sela pintu memberi jawaban mengenai kontrak spirit yang telah aktif.
Ya, ritual kontrak spirit itu berhasil dan tampaknya.. aku sedikit mengerti apa yang dirasakan Ibu Mio.
Kerinduan dari sosok Ibu terhadap anaknya dan perasaan bersalah yang menghantui sang kakak.
Walau pun spirit itu menggunakan penampilan dari seseorang yang telah lama mati tapi itu cukup untuk mengobati luka hati yang telah rusak.