Yurification System

Yurification System
Chapter 28 - Pemurnian Saintess


Aku tidak menyangka jika hutan yang berada di dekat rumah ku memiliki atmosfir yang mencekam.


Pepohonan kering.


Batang pohon yang terlihat rapuh.


Akar pohon yang mengeluarkan cairan berwarna hitam.


Daun kering yang berguguran.


Serta tanah yang berwarna hitam dengan cairan hitam lengket di atasnya.


“Ugh~ bau mengerikan apa ini?” aku mencoba menahan bau busuk yang menusuk hidung ku.


“Selamat datang di tugas pertama mu sebagai Saintess, Lily-chan~” ucap Ciel dengan riang gembira.


Ciel tampaknya telah terbiasa dengan bau busuk yang menyengat ini.


“I-Inikah tugas seorang Saintess?” tanya ku dengan nada sinis.


“Tepat sekali! Menjelajahi dan memurnikan wilayah yang tercemar seperti ini adalah kewajiban utama kita sebagai Saintess pilihan Dewi!” balas Ciel dengan wajah penuh kegembiraan.


Ugh, bagaimana cara ku memurnikan wilayah seperti ini?


Terlebih.. apa yang harus ku lakukan dengan kondisi seperti ini?


“HUUUUAAAA!!” di belakang ku tampak Sia yang mencoba berhenti setelah berlari cepat dan Mio yang berteriak di punggung belakangnya.


“Puuuwaaa.. puuuuwaa~” Mio mencoba menenangkan isi kepalanya yang berputar.


“Ara~ ini terlihat sangat buruk, Ciel” ucap Sia sembari mengamati kondisi hutan.


“Niin~ hutan ini masih di tahap yang bisa diperbaiki jika sumber masalah utamanya berhasil diperbaiki” balas Ciel sembari mengambil dedaunan yang telah gugur di atas tanah.


Daun berwarna coklat kehitaman yang disentuh Ciel sangat rapuh dan hancur saat ujung jarinya memegang helai daun.


“Umu! Kejadian ini masih belum lama terjadi” ucap Ciel sembari mengangkat sebuah daun berwana kuning kecoklatan yang tertutupi oleh tumpukan dedaunan.


“Ini masih bisa diperbaiki dengan cepat. Tolong bantu aku memurnikan tempat ini, Sia. Melihat ukurannya yang luas akan membutuhkan waktu yang lama untuk memurnikan seisi hutan” ucap Ciel sembari menatap Sia.


“Eh? Tapi memurnikan hutan bukanlah tugas ku” balas Sia.


“Niiin~ tolong bantu aku kali ini saja~” pinta Ciel sembari menggerakkan telinga dan ekor rubah nya.


“Uh! Sangat curang jika meminta ku menggunakan pose itu. B-Baiklah! H-Hanya kali ini saja!” balas Sia.


“Untuk Lily-chan.. tolong hibur tamu kecil kita yang akan datang!” setelah Ciel mengatakan kalimat itu, Ciel menggenggam kedua telapak tangannya dan menaruh kedua tangannya di depan dadanya sembari tertunduk. Sebuah cahaya berwarna emas meluap dari dalam tubuhnya dan lingkaran sihir berwarna emas terlihat di bawah kakinya.


“Haaah~ apa boleh buat. Aku akan membantu mu untuk saat ini. Ini pertama kalinya ada dua Saintess dari dua Dewi berbeda saling bekerja-“ Sia menghentikan kata-katanya.


“Fufu~ Ini menarik! Bagaimana jika ada sebuah kabar tentang tiga Saintess yang berbeda Dewi saling bekerjasama? Hmm.. aku penasaran dengan reaksi Saintess yang lain?” lanjut ucapan Sia sembari menatap ku.


“Mari kita lakukan tugas mulia ini! Lily-chan!” Sia kini mengikuti gerakan yang dilakukan Ciel. Seluruh tubuhnya dipenuhi dengan sihir berwarna emas dan lingkaran sihir yang muncul dibawah kakinya berbaur dengan lingkaran sihir Ciel.


Eh?


Ini hanya perasaan ku saja atau tatapan Sia menandakan sesuatu yang berhubungan dengan ku.


“Lily-chan, tolong lindungi kami berdua ya~” Sia melambaikan tangannya ke arah ku dan melanjutkan ritual pemurnian bersama Ciel.


“Aku tidak terbiasa melakukan pemurnian di daratan. Tapi, aku akan membantu memurnikan udara kotor yang ada di hutan ini” ucap Sia sembari berdiri di samping Ciel.


“Um! Itu sudah sangat membantu ku, Sia. Ini pertama kalinya kita melakukan pemurnian bersama-sama” Ciel mendekatkan tubuhnya ke Sia.


“Ciel~”


“Sia~”


Ciel dan Sia kini saling menggenggam tangan satu sama lain dan mengeluarkan sihir emas dari tubuh mereka.


Kedua sihir emas mereka perlahan menyatu dan menyebar dari tubuh mereka hingga mengubah dedaunan kering yang telah gugur menjadi hijau kembali. Tanah yang berwarna hitam dan cairan hitam lengket di atasnya berubah menjadi tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau dan kristal embun yang menempel di atas rumput.


Ah!


Begitu rupanya!


Inilah yang dinamakan ritual pemurnian milik Saintess!


Aku pernah mendengar tentang ritual ini sebelumnya. Di dalam buku anak-anak yang pernah ku baca, seorang Saintess pilihan Dewi mampu mengubah tanah tandus menjadi tanah subur yang dipenuhi tumbuhan melalui ritual pemurnian.


Ritual pemurnian ini membuat ku sedikit bertanya-tanya tentang satu hal.


Kenapa Saintess manusia tidak pernah melakukan ritual ini sebelumnya?


Maksud ku, ada beberapa wilayah kerajaan tempat tinggal ku yang sangat tandus dan membuat penghuni di sekitarnya sangat kesulitan untuk menanam tumbuhan.


Kenapa mereka tidak memurnikan tempat itu hingga menjadi tanah subur yang bisa ditumbuhi bahan makanan?


[Oh! Pertanyaan itu sangat mudah di jawab, Lily-chan.]


Eh? Dewi?


[Umu.. aku kembali, Lily-chan! Oh! Apa Lily-chan penasaran dengan jawaban dari pertanyaan kecil itu?]


Um! Aku sangat penasaran!


[Jawaban dari pertanyaan Lily-chan ada di dalam sifat alami manusia itu sendiri. Selain umur manusia yang sangat singkat, mereka juga dipenuhi dengan hal lain yang dikenal sebagai tujuh dosa besar manusia. Itulah yang menjadikan kami sangat jarang memilih umat manusia sebagai Saintess. Ah! kecuali Lily-chan! Lily-chan sangat berbeda dengan manusia lainnya. Berbicara tentang Saintess umat manusia, mereka hanyalah imitasi yang dibuat oleh kerajaan umat manusia untuk mengatur ruang publik.]


A-Apakah aku pengecualian?


[Tentu saja! Bisa dibilang ini adalah bukti cinta ku kepada Lily-chan!]


E-Eh?


Terkadang Dewi memberikan jawaban yang tidak ku mengerti.


[Hikss.. apa aku baru saja ditolak oleh Lily-chan?]


Eh? B-Bukan begitu Dewi..


Hanya saja, aku..


[Ehehehe.. Lily-chan sangat imut ketika kebingungan seperti itu. Reaksi yang bagus, Lily-chan! Um! Kembali ke topik pembicaraan kita, jika meneruskan jawaban dari pertanyaan Lily-chan mungkin kita akan melompati ratusan tahun ke era Saintess pertama umat manusia yang dikorbankan demi harta dan tahta.]


Saintess pertama umat manusia dikorbankan demi harta dan tahta?


[Um! Secara kebetulan Dewi yang menjadikan umat manusia sebagai Saintess adalah Adik kelas ku.]


H-Huh? Adik kelas?


[Ekhem! Lupakan ucapan ku yang satu itu. Lily-chan, ku beri satu pertanyaan besar kepada mu. Apakah Lily-chan percaya jika ada salah satu seorang Dewi yang dikenal saat ini adalah manusia yang terlahir kembali sebagai Dewi?]


Mendengar pertanyaan dari sang Dewi, kepala ku berputar kencang untuk memahami pertanyaan dari sang Dewi.


[Ehehe.. Lily-chan tidak perlu menjawabnya. Karena Saintess pertama yang dikorbankan oleh umat manusia kini menjadi Dewi yang kebetulan dihormati oleh Dewi lain. Pengorbanan dari kebodohan umat manusia melahirkan Dewi baru dan pelarangan untuk mengangkat umat manusia sebagai Saintess. Tapi! Ada satu Dewi yang tidak peduli dengan aturan tersebut dan Dewi itu adalah..]


[Aku!! Teehe~]


[Mereka tidak ingin tragedi Saintess pertama umat manusia terulang kembali. Jadi, gunakan kekuatan Yurification System dengan bijak! Ekhem! Bijak dalam hal ini adalah membunu- maksud ku memberi peringatan keras kepada umat manusia untuk tidak memandang rendah Lily-chan! Um! Ya! Seperti itu!]


Saat mendengar bagian akhir dari ucapan sang Dewi, aku kembali teringat dengan Ratu Kerajaan ku yang menyebalkan.


Mungkinkah..


Itu yang di alami oleh Saintess pertama umat manusia?


Pengorbanan yang terjadi karena paksaan politik dan kekuasaan yang menyeret Saintess pertama umat manusia sebagai korban dosa besar manusia?


Em, Dewi.. boleh aku bertanya satu hal?


[Apa itu, Lily-chan?]


Apakah seorang Saintess diperbolehkan membunuh seseorang yang bersalah?


[Oh, itu? Um.. jika tidak salah. Saat ini, Saintess memiliki hak istimewa untuk melakukan eksekusi terbuka kepada seseorang yang terbukti bersalah. Tapi, pastikan Lily-chan memiliki bukti yang cukup untuk melakukan eksekusi terbuka!]


Um! Aku akan ingat itu.


*Ping!


Tubuh ku tiba-tiba merasakan adanya serangan yang bergerak mendekat.


Em, Dewi..


[Ya, sudah waktunya untuk melindungi sesama Saintess.]


[Selamat berjuang, Lily-chan!]