Wild And Flower

Wild And Flower
Pergi dan Pulang


“Jawab, Damar! Sejak kapan kamu ikut-ikutan geng balapan liar?”


Damar hanya melirik kecil, mendengus malas. “Kenapa tumben banget Ayah ngurusin urusan Damar? Katanya udah nggak peduli lagi Damar mau ngapain aja?” ucapnya menyindir.


Wisnu Saskara, nama pria paruh baya itu. Sifat kerasnya akan selalu bertentangan dengan Damar. Apa pun yang dikatakannya, Damar akan selalu mendengar dan mengingat kata per katanya. Dan sayangnya, kata-kata yang keluar dari mulut pria itu selalu kata-kata yang Damar benci.


Kini wajah pria itu sudah memerah padam. “Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Apa Ayah pernah mengajari kamu jadi anak pembangkang seperti ini, Damar? Kamu nggak bisa sekali aja jadi anak yang nurut sama ucapan orang tua? Lihat tuh saudara kamu, Janu! Dia sibuk mengumpulkan prestasi sementara kamu malah main balap-balapan kayak anak kecil!”


“Yah? Udah berapa kali Damar bilang, Janu bukan saudara Damar!” pekik Damar marah. “Terus aja Ayah banding-bandingin Damar sama anak orang lain!”


“Dia sudah jadi bagian dari keluarga kita, Damar!” balas Wisnu naik pitam.


“Sejak kapan? Cuma Ayah yang nganggep begitu! Ayah malah ngehancurin keluarga kita! Kalau Ayah bersikeras, silahkan! Silahkan anggap Janu sebagai anak Ayah! Tapi Damar akan pergi dari keluarga ini!” Damar menggertakkan gerahamnya. Amarah yang ia tahan selama bertahun-tahun itu seolah pecah seketika.


Selama lima tahun di dalam penjara, Damar masih ingat bahwa pria itu tak pernah sekali pun datang menjenguknya. Ia menyimpan rasa kecewanya yang semakin hari semakin menumpuk hingga terlalu lama. Setidaknya, untuk kali ini saja, Damar berharap pria itu akan mencegahnya pergi. Agar ia tahu masih ada secuil harapan baginya kalau ayahnya masih ingin mempertahankan keluarga kecilnya.


“Damar! Udah lah! Ayah sebenernya khawatir sama lo!”


Damar melirik ke arah suara itu berasal. Janu. Lelaki yang sangat ia benci. Lelaki yang tiba-tiba saja datang tepat setelah kematian ibunya, dan langsung mencuri seluruh perhatian Wisnu hingga tak tersisa untuknya.


“Anak-anak, Mas Wisnu. Udah, yuk. Mending kita makan dulu. Jangan berantem lagi, ya.”


Kini suara seorang wanita menyusul. Tentu saja ibunya Janu.


Damar mendengus muak. “Tante Ratih, makasih. Tapi saya bakal pergi malam ini.” Damar berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Tetapi beberapa detik kemudian Janu menahan tangannya, membuatnya berbalik dengan emosi yang seketika meluap.


“Lo bisa nggak sih jangan egois!” ucap Janu lantang.


Damar berdecih. “Lo ngomongin egois? Sama gue? Ngaca, anjing! Lo tuh yang egois, caper, nggak tau diri!”


“Jaga omongan lo!” Janu berteriak. Tangannya kini spontan mencengkeram kerah Damar.


Damar kini membalas cengkeramannya. “Lo mau apa lagi dari gue?! Lo mau pergi ya gue bakal pergi dari sini! Itu kan maksud lo!”


“Janu! Damar!” Ratih berteriak khawatir. “Tolong! Ibu mohon … jangan berantem.”


Janu perlahan melepas cengkeraman tangannya melihat wajah Ratih yang khawatir. “Gue nggak pengen apa-apa ya dari lo. Gue cuma pengen lo jaga sikap, dewasa dikit, mau sampai kapan lo nyari ribut terus? Lo selalu aja bikin suasana keluarga kita keruh.”


Lelaki itu perlahan berjalan ke kamarnya, tanpa lama-lama langsung mengemasi barang-barangnya. Ia kemudian melirik buku-buku kuliah di raknya. Ia hampir lupa tujuannya pulang adalah untuk mengambil buku-buku itu, untuk membantu Diantha. Damar dengan segera memasukkan buku-buku itu ke dalam tasnya. Lelaki itu mendengus, kembali menatap sekeliling dengan berat. Pada akhirnya, ia akan meninggalkan kamar itu. Kamar yang menyimpan kenangannya bersama ibunya.


Damar keluar dari kamarnya bersama barang-barang yang sudah dikemasnya. Lelaki itu melangkah cepat, menghindari tatapan mereka yang terasa menyiksanya. Tatapan Janu yang masih menyalakan amarah padanya, tatapan dingin Wisnu yang tak bisa ia mengerti, serta tatapan Ratih yang membuatnya benci. Wanita itu masih berusaha mencegahnya.


“Damar … jangan begini, Nak. Ayo kita bicara baik-baik lagi.” Wanita itu memelas.


Damar mendengus kesal. Ia muak mendengar suaranya. Ia masih ingat betul bagaimana wanita itu menggoda ayahnya bahkan ketika ibunya baru saja dimakamkan. Dan yang lebih membuatnya jijik, Ratih adalah sahabat ibunya sendiri. Mereka sudah dekat jauh sebelum ibunya meninggal. Di mata Damar, wanita itu tak pernah berubah.


“Damar! Tunggu, Nak!” Wanita itu berteriak. Hendak mengejarnya, tetapi Wisnu menghalanginya.


“Ratih! Cukup!” cegahnya. “Anak itu nggak akan mau mendengarkan siapa pun!”


Dan Damar menutup pintu rumahnya dengan keras, membiarkan emosinya ikut mengalir di sana. Kini ia sudah mengetahui, bahwa Wisnu tak ingin mencegahnya pergi.


......................


Diantha hampir tak ingat sejak kapan ia mulai menjadi pekerja keras. Sejak kecil, ia adalah anak yang selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya karena ia adalah anak satu-satunya. Orang tuanya selalu berusaha yang terbaik untuk membuatnya bahagia. Dulu, ayahnya adalah seorang pengusaha yang bisa dibilang cukup berhasil meski usaha yang dibangunnya merupakan usaha rintisan kecil-kecilan. Diantha tahu betul bahwa ayahnya sangat menyukai pekerjaannya.


Lambat laun, ayahnya ingin mengembangkan perusahaannya menjadi lebih besar. Diantha masih ingat pembicaraan ayahnya dengan ibunya saat itu ketika ia menginjak kelas 10 SMA. Sejak saat itu, ayahnya mulai jarang pulang. Ibunya selalu dengan sabar menunggunya pulang. Namun, suatu hari, ayahnya benar-benar pergi dan mereka tidak pernah menyaksikannya kembali lagi ke rumah.


Sampai suatu ketika mereka akhirnya tahu bahwa ayahnya sedang melarikan diri dari kejaran hutang yang sangat besar. Bisnisnya bangkrut. Dan ibunya terpaksa harus membantunya melunasi hutang-hutang itu.


Diantha hingga saat ini tak bisa mengetahui apa yang seharusnya ia katakan pada ayahnya ketika ia bertemu nanti. Ia selalu menahan diri untuk tak membencinya yang melarikan diri, sebab ibunya selalu mengajarkan cinta dan kasih sayang pada keluarga mereka. Di sisi lain, ia juga merasa bersalah pada ayahnya karena ia tak bisa menjaga ibunya, yang meninggal tahun lalu.


Kini Diantha memikul semuanya sendirian. Hutang-hutang itu, juga menjaga rumah mereka.


Di sore hari setelah pulang kuliah, ia harus mengajar les privat. Di malam hari, di hari tertentu ia harus kerja sambilan selama 3 jam menjaga toko bunga. Pulangnya, ia juga harus mengerjakan berbagai tugas kuliah dan proyek-proyek dari kampus. Rasanya, ia sudah lupa bagaimana caranya beristirahat.


Toko bunga malam ini sepi. Diantha mengambil kesempatan untuk duduk di meja kasir sembari membuka-buka tugas kuliah di ponselnya. Ia lantas tiba-tiba teringat Damar tentang keputusannya yang akan membantunya dalam perlombaan itu. “Apa orang itu benar-benar mau membantu?” gumamnya kepikiran.


Diantha menghela napas berat. Entah mengapa akhir-akhir ini begitu banyak kejutan yang menimpanya. Lalu ia menatap lurus ke depan, melihat bunga-bunga di toko itu. Gadis itu tersenyum tipis. “Cantik. Andai aku bisa jadi bunga seperti itu.”


Lonceng di pintu masuk tiba-tiba berdenting. Diantha seketika berdiri dan menyambut siapa yang datang. “Selamat malam! Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya dengan senyum lebar nan ramah.


Tetapi menyadari siapa yang datang, senyumnya perlahan memudar.