
Diantha tak bisa berhenti menangis setelah apa yang terjadi padanya. Melihat banyak barang-barang dari rumahnya yang disita, ia merasa telah gagal menjaga rumahnya. Gadis itu terus menangis di depan bilik rumahnya tanpa memedulikan sekitar. Ia tak peduli meski lorong apartemen itu ada orang berlalu-lalang. Ia hanya bisa menangis.
Kekecewaannya pada ayahnya tak bisa dipungkiri. Padahal ia sudah begitu banyak berharap dan percaya padanya. Tetapi lagi-lagi pria itu menghancurkan kepercayaan keluarga kecil mereka. Diantha tak tahu lagi kepada siapa ia bisa bergantung dan berkeluh kesah.
Tangisan gadis itu tiba-tiba terhenti karena suara bedebum yang berasal dari hadapannya. Sebuah kardus berisi tumpukan barang-barang acak jatuh di hadapannya, membuat gadis itu sontak menoleh.
Seseorang yang membawa kardus itu kini menatapnya heran. Tatapan mereka bertemu, lantas sama-sama mengerutkan kening. "Lo tinggal di sini juga?" tanya lelaki itu spontan.
Diantha mengangguk kecil. Otaknya masih memproses peralihan emosinya menjadi kebingungan. Ia bingung mengapa Damar lagi-lagi hadir di hadapannya dengan cara yang tak terduga.
Lelaki itu kini berjongkok di hadapannya. "Kenapa nangis?"
Mata Diantha kini menggerling, kembali berkaca-kaca. Tingkah Diantha membuat lelaki itu panik. "Eh-eh? Jangan nangis lagi! Nanti dikira gue yang ngapa-ngapain lo!"
Diantha langsung mengusap air matanya. "Maaf," ucapnya.
Damar kembali panik. "Jangan minta maaf, dong!"
Diantha kini menunduk lesu. Ia bingung bagaimana harus menanggapi pria di hadapannya itu.
Damar hanya menatap Diantha dalam diam, mencoba memahami apa yang telah terjadi. Sampai kemudian ia melirik ke dalam pintu rumahnya yang terbuka lebar, menampilkan pemandangan yang berantakan dan beberapa sudut yang tampak kosong. Ia kemudian teringat dua lelaki yang tadi sempat berpapasan dengannya membawa mobil pick up. Mereka tampak tengah mengambil barang-barang dari suatu tempat.
Damar kini kembali menatap Diantha. Tatapan kosong wanita itu kini terasa familiar. Damar yakin itu adalah ekspresi yang sama yang ditunjukkannya ketika Diantha berada di rumah sakit. Tatapan kosong yang sama sebelum ia memutuskan bunuh diri.
Lelaki itu mendadak linlung. Ia tiba-tiba takut kejadian itu akan terulang lagi di hadapannya. Dan itu artinya, ia harus mencegahnya.
"Do you need a hug?" tanya Damar retoris.
Diantha mendongak ragu, tampak bertanya-tanya mendengar pertanyaan Damar.
"Kamu pasti lagi sedih banget. Katanya pelukan seseorang bisa mengurangi sedikit beban yang kamu tahan." Damar seketika mengatupkan mulutnya ketika menyadari apa yang baru saja ia katakan. Hatinya mendadak terasa nyeri ketika mengingat kejadian saat itu.
Damar tak ingat persis apa yang ia katakan pada Diantha sewaktu gadis itu dirawat di rumah sakit. Namun Damar ingst betul ia pasti mengatakan sesuatu yang menyakitkan. Sesuatu yang begitu menyakiti gadis ini hingga ia tak bisa mengatakan apa pun selain terima kasih padanya di surat itu.
Ia lantas menatap Diantha yang hanya menunduk, tak memberi reaksi apapun. Lelaki itu kini memberanikan diri. Ia perlahan menarik tubuh itu dalam pelukan hangatnya, membiarkan Diantha membenamkan wajahnya di bahunya. Lalu Damar dapat merasakan tangisannya yang kian menderas. Kini, tanpa suara.
"Nggak apa-apa, kamu boleh nangis sepuasnya." Lelaki itu bergumam pelan, dan kemudian Diantha tak bisa lagi menahan suara isak tangisnya.
......................
Damar melirik ke dalam unit rumah Diantha. Ia berkacak pinggang. Sedangkan Diantha sedari tadi berusaha mendorong Damar keluar, tetapi selalu gagal. Gadis itu pada akhirnya menyerah dan membiarkan Damar masuk.
"Berantakan," celetuknya.
Diantha menghela napas. "Saya tahu."
"Mereka yang ngambil barang-barang lo?" tanya Damar langsung. Ekspresi Diantha kini tak bisa berbohong, terlihat jelas bahwa jawabannya adalah iya, meski gadis itu tak menjawabnya.
Lelaki itu kini justru tersenyum lebar. "Hidup kita ternyata menangang, ya."
"Kehidupan memang oenuh tantangan," jawab Diantha asal.
"Gue baru aja diusir dari rumah. Makanya gue pindah." Damar menunjuk kardus berisi barang-barangnya yang tergeletak di pintu.
Diantha menatap Damar tak percaya. "Kok bisa kamu tetap santai walau udah diusir seperti itu?" tanyanya heran. "Bukannya menyakitkan diusir keluarga sendiri?" ia bertanya ragu.
Damar tersenyum kecil. "Gue justru ngerasa lebih seneng. Kayak burung yang lepas dari sangkar."
Diantha mengalihkan pandangannya. Bagaimana pun, rasanya ia tak bisa mengerti.
Damar melirik Diantha yang terlihat bingung. Ia menyadari bahwa pandangan mereka berbeda.
"Kadang ada beberapa tempat, yang meski seharusnya jadi tempat yang nyaman, justru jadi tempat yang sebaliknya. Nyokap gue selalu percaya sama keluarga mereka, dia selalu ngajarin gue nilai-nilai yang benar tentang keluarga. Tapi kadang keadaan berubah. Ada banyak hal yang terjadi sampai gue nggak bisa ngikutin pandangan nyokap gue lagi. Dan gue ngerasa gue pantes buat marah. Gue pantes buat marah kalau tempat yang nyaman itu dirusak."
Diantha kini menatap Damar, menyadari keseriusannya ketika mengucapkan kalimat-kalimat itu. Dan meski enggan mengakuinya, ia merasa ucapannya terdengar benar.