
Damar diam-diam mencari tahu informasi mengenai para rentenir yang menyita barang-barang di rumah Diantha. Dan dari hasil pencariannya, ia dapat mengetahui kalau hutang-hutang Diantha sangatlah besar. Damar yakin butuh waktu seumur hidup untuk melunasinya.
Lelaki itu sampai sehari semalam memikirkan kalkulasi supaya beban hutang Diantha dapat lebih ringan. Tetapi bagaimana pun, berhutang dengan para rentenir akan selalu merepotkan.
Ia pada akhirnya tak bisa memikirkan cara apapun selain mengambil langkah yang sekiranya dapat mendayungi dua pulau. Dengan kata lain, mendekati Diantha.
Lelaki itu entah bagaimana sudah berada di tepat depan pintu rumah Diantha ketika gadis itu membukanya dan hendak berangkat untuk bekerja. Itu bukan percobaan pertama. Sudah beberapa kali Damar modus meminta tolong pada gadis itu. Tetapi sayangnya Diantha seolah kembali ke setelan pabrik; tidak mau berurusan dengan lelaki bernama Damar. Namun, kali ini Damar bersumpah akan membuat gadis itu tak bisa menolak.
"Diantha, please …," Damar memelas. "Lo tahu, kan? Gue habis diusir dari rumah. Gue nggak bisa hidup tanpa uang dari orang tua gue. Tapi gue harus nyari duit sendiri biar mereka nggak makin marah."
Diantha menghela napas berat. "Kalau kamu benar-benar serius, saya bakal bawa kamu ke bos saya. Tapi ingat, jangan main-main. Saya udah pernah bilang, kan? Bos saya nggak menerima karyawan baru."
Damar mengulas senyum lebar. "Siap!"
Ia akhirnya mengikuti Diantha menuju tempatnya bekerja di akhir pekan. Mereka menyusuri jalanan di dalam bis umum yang kebetulan tidak terlalu ramai sebab ini masih pukul enam pagi. Damar duduk di samping jendela, membiarkan pemandangan kota di pagi hari membasuh matanya.
Entah sudah berapa lama ia tak melihat pemandangan pagi yang begitu indah.
Lama-kelamaan jalanan yang mereka lalui tampak semakin familiar di matanya. Sebuah truk tronton lalu melintas di samping bus yang sedang dinaikinya. Ia seketika teringat akan kecelakaan waktu itu. Kecelakaan yang terjadi tepat setelah ia mengunjungi makam Diantha.
Sampai kemudian, bus berhenti di depan sebuah halte. Diantha berdiri dan mengisyaratkan Damar untuk ikut berdiri karena mereka sudah sampai di tempat tujuan.
Mereka berjalan menuju sebuah toko. Dan Damar semakin yakin ia mengenal tempat itu. Toko bunga. Toko bunga itu. Toko bunga yang memberikan benih bunga padanya waktu itu.
Diantha membawa Damar pada bagian belakang toko itu, yang ternyata menyembunyikan kebun bunga yang cukup luas. “Ayo masuk,” ajak Diantha. “Biasanya Bu Karin udah ngecekin bunga pagi-pagi.”
"Eh, Diantha udah sampe!" sapa Karin sambil tersenyum cerah. Senyuman itu seketika berubah ketika ia melihat seseorang lelaki di belakangnya. Karin mengangkat alisnya, memberi isyarat pada Diantha untuk menjelaskan.
"Ah, ini. Kemarin kan saya pernah bilang kalau ada teman saya yang butuh kerjaan. Maaf ya, Bu. Padahal di sini nggak menerima karyawan lagi. Kalau Ibu keberatan nggak apa-apa, kok." Diantha menjelaskan dengan ragu. Ia lantas mendongak untuk melihat ekspresi Karin. Tetapi ia seketika heran melihat wanita itu tersenyum lebar dengan mata berbinar.
"Siapa yang bilang saya nggak nerima karyawan lagi?" ucapnya mempertahankan.
Diantha seketika menggaruk tengkuknya bingung. Jelas-jelas Karin selalu bilang padanya kalau ia tak menerima karyawan lain selain dirinya.
"Diantha, jaga toko baik-baik dan ajari dia, ya! Saya mau pergi nganter anak daya sekolah dulu." Wanita itu lantas pergi meninggalkan mereka berdua.
"Baik, Bu!" sahut Diantha cepat. Ia kemudian menyirami bunga-bunga yang sudah mulai kering dan belum sempat Karin siram.
Sementara itu, Damar mematung. Bukan hanya kebetulan-kebetulan tadi yang membuatnya bingung. Tapi kali ini ia ingat betul. Karin adalah wanita yang memberikannya benih bunga itu.
Damar tak bisa menghentikan bayangan-bayangan itu mengganggu pikirannya. Ia kemudian bergegas mengejar Karin yang sudah beranjak lebih dulu ke ruangan utama toko. Damar mengembuskan napas lega kala melihat wanita itu masih membereskan barang-barang yang ada di tasnya. Lalu wanita itu menghentikan aktivitasnya ketika menyadari Damar sedang menatapnya.
"Ada apa?" tanya Karin heran.
"Bu Karin, saya mau tanya sesuatu," ucap Damar tanpa berpikir dua kali. Menyadari pertanyaannya pasti akan terdengar bodoh, ia kemudian mengurungkan niatnya. "Ah, nggak. Saya mau bilang makasih. Itu aja," ralatnya kikuk.
Karin tersenyum lembut. "Kenapa kamu ragu? Kalau mau nanya sesuatu silahkan tanya aja."
Damar menggeleng pelan. "Nggak, kok, Bu. Maaf ganggu, padahal lagi buru-buru."
Wanita itu terkekeh. "Padahal kamu penasaran banget. Tapi lagi-lagi nggak berani nanya."
Damar mengernyitkan alisnya, merasa salah dengar. "Lagi-lagi nggak berani nanya?" gumamnya bingung. Kata 'lagi-lagi', bukankah khusus ditujukan untuk sesuatu yang berulang? Tetapi Damar yakin Karin baru bertemu dengannya sekali di masa ini.
Wanita itu berdeham kecil. "Kamu kelihatan orang yang kayak gitu, lho."
Damar masih berusaha mencerna maksud perkataan Karin. Tetapi sayangnya ia tak mengerti.
"Saya berangkat dulu, ya!" Wanita itu beranjak menuju pintu keluar. Sedangkan Damar hanya bisa menyaksikannya pergi.
Tetapi kemudian, Karin berbalik. "Damar, ingat lakukan tindakan yang benar selagi kamu diberi kesempatan."
Pupil lelaki itu seketika melebar. Entah mengapa, kalimat yang diucapkan Karin seolah bukan hanya ditujukan untuk kedatangannya di tokonya, tetapi juga kedatangannya di masa masa lalu ini.