
“Tidak bisa!” sambar Ethan dengan intonasi tinggi, tubuhnya berjalan maju. Ekspresi wajahnya itu menyiratkan ketidaksukaan. “Kenapa kamu begitu kukuh ingin sekali bergabung dengan kami? Kehadiranmu itu tidak diinginkan, sejak awal kami tidak pernah meminta bantuanmu!”
Melvin masih diam, sepertinya enggan memberi tanggapan. Sementara Lyman ikut maju untuk menenangkan Ethan yang mulai tersulut emosi.
“Aku tahu kita semua curiga dan tidak nyaman dengan keberadaannya. Tapi tanpa bantuan Melvin, kita tidak bisa melakukan ritual ini. Sementara jika kita tetap kukuh berdebat dan tidak menemukan jalan keluar dari masalah ini, maka waktu kita akan terbuang percuma,” jelas Lyman memberi penjelasan.
Aku setuju dengan Lyman. Terlepas entah apa maksud dan tujuan Melvin ingin sekali bergabung dengan kami, dalam kondisi ini kami perlu bantuannya. Toh setelah ritual berhasil dilakukan, kami akan berpencar dengan tujuan masing-masing.
Karena aku rasa Melvin punya tujuan lain, dia tidak mungkin memiliki kepercayaan soal sihir dan dunia fantasi. Tapi entahlah, yang bisa aku pikirkan saat ini adalah ingin segera bertemu dengan pria berjubah agar dapat melampaui dunia lain.
“Tahu begini aku bisa ajak orang lain. Kenapa pula harus dengan si bodoh itu? Aku benar-benar tidak sudi!” umpat Ethan, tubuhnya berbalik membelakangi, kakinya menendang-nendang angin untuk menyalurkan kekesalannya.
Magani berdecak. “Jangan egois, Ethan. Aku tahu kamu sangat membencinya. Dia telah banyak melakukan kegaduhan dan berulang kali secara sadar melukaimu. Tapi untuk sekarang ini kita semua tidak punya pilihan lain. Percayalah, kami semua bisa menjamin bahwa Melvin tidak akan macam-macam dan melukaimu lagi.”
Aku berjalan mendekat pada Ethan, ingin membujuknya tanpa berusaha menyudutkan. “Ayolah, Ethan.” Bahunya aku tepuk pelan. “Hanya untuk kali ini saja, oke? Kami sebisa mungkin akan membuat jarak agar kamu tidak didekati lagi olehnya.”
Ethan menghentakkan nafas kasar, rambut cokelat yang menutupi alisnya ia acak-acak sekilas. “Ah, ya sudahlah. Mau bagaimana lagi? Tapi jika sampai ritual ini berhasil, aku tidak mau dia terus membuntuti kita. Intinya dia hanya diperbolehkan membantu untuk melengkapi acara ritual saja.”
Setelah membuat kesepakatan bersama, akhirnya Melvin diizinkan untuk bergabung. Dia sudah mendekat dan berbaur dengan kami semua, Lyman mulai membuat titik-titik dan juga memasangkan benang di tanah yang membentuk formasi bintang.
Sebelumnya, Lyman yang tahu mengenai langkah-langkah apa saja yang harus dilakukan selain membentuk formasi bintang, Lyman menyuruh kami mencari batu kerikil warna-warni yang tertimbun ataupun tersembunyi di sekitar lapangan sebagai bentuk persyaratan yang mesti dipenuhi.
Di taman belakang sekolah yang luas, yang hanya ada hamparan rumput mati dan dipenuhi oleh dedaunan kering dari pepohonan tua yang diperkirakan umurnya sudah ratusan tahun, suasananya amat mencekam. Kami seperti ada di lokasi syuting film horor.
Lebih dari 10 menit kami semua mencari kerikil warna-warni yang diminta Lyman. Cukup sulit mencarinya karena diibaratkan seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami, karena rumput mati yang tertumpuk dedaunan kering membuat kami kesulitan.
“Apakah kita harus merapalkan sebuah mantra?” Aku bertanya pada Lyman yang masih sibuk menaruh batu-batu kerikil warna-warni yang sebelumnya sudah kami cari-cari, ia menaruhnya di tengah-tengah kami semua.
“Menurut arahan di buku, kita harus mengucapkan mantra berantai. Jadi masing-masing orang harus mengucapkan sepatah dua kata mantra, lalu langsung disambung dengan yang lain,” jelas Lyman, dia sudah masuk ke dalam formasi.
Dimulai dari Lyman, Ethan, Magani, aku dan yang terakhir Melvin. Satu sama lain terhubung dengan garis dari benang yang menyambung, tubuh kami disesuaikan dengan formasi agar bisa membentuk bintang melalui bantuan benang yang terhubung.
Kami semua berdiri di masing-masing titik yang sudah Lyman siapkan, jarak antar tubuh kami lumayan jauh. Dan angin sepoi-sepoi membuat kekosongan dalam jarak yang membentang membuat kami sesekali bergidik.
Lyman mulai memberitahu kata apa yang harus kami ucapkan. Setelah di-briefing dan semuanya sudah paham, akhirnya ritual pemanggilan pria berjubah akan segera dimulai.
Suasana mendadak menjadi lebih tegang setelah semuanya mulai memejamkan mata, Lyman lebih dulu menggumamkan mantra-mantra panjang. Aku hanya menyimak, sampai nanti berbicara ketika sudah berada di bagianku.
“Di bawah naungan alam semesta, kami datang. Dalam ruang bebas yang menjadi perantara, kami meminta. Padamu mahluk berjiwa abadi dengan raga yang tak kasat mata, izinkan kami melihat. Kami mengundangmu, jikalau engkau setuju maka tolong datangi kami,” ujar Lyman dengan suara yang terlampau pelan, tapi masih terdengar di antara derik angin yang mulai memekik.
“Ti siamo, omo in tunika.” Aku ingat, ketika Lyman sudah mengucapkan kalimat ini maka mantra berantai sudah siap dimulai.
“Dento pino di koragio ti siamo.” Ethan melanjutkan.
“Veivei, siamo konte.” Bagian Magani sudah diucapkan, aku mulai ancang-ancang untuk berbicara.
“Opriamo koste korpo.” Akhirnya kalimat itu terucap, meski sebelumnya pikiranku sempat menghitam takut lidahku keseleo saat mengucapkan kalimat aneh itu.
“Koste repiro e perte,” tutup Melvin, mantra berantai yang entah apa artinya sudah kami lakukan bersama-sama.
Sebelum Lyman memberi aba-aba melalui suara jentikan jari, maka kami semua dilarang membuka mata. Entah apa yang terjadi, tapi angin yang berhembus lebih kencang dua kali lipat dari sebelumnya.
Mataku gatal ingin melihat apa yang terjadi, tapi Lyman lebih dulu mengingatkan tentang larangan. Dia mewanti-wanti agar apapun yang terjadi jangan sampai membuka mata, biar saja diam di tempat hingga waktunya tiba membuka mata nanti.
Suara dari gerbang tua yang berkarat karena digerakkan oleh angin, begitu nyaring di telinga. Jika tidak ingat larangan Lyman, aku ingin sekali menghalau suara tersebut dengan menyumpal lubang telinga.
Dan tiba-tiba...
BOOM!
Suara ledakan amat dahsyat sungguh menggelegar, entah berasal dari mana suara ledakan tersebut, aku hanya khawatir para penjaga sekolah dapat mendengarnya. Tak lama, Lyman mulai memberi aba-aba untuk berjalan ke depan sambil merentangkan kedua tangan tapi tetap dengan mata yang terpejam.
Aku bisa merasakan tanganku menyentuh tangan lain, dan itu pasti tangan Lyman dan Melvin. Jarak antar tubuh kami sudah saling berdekatan, dan kami mulai berpegangan satu sama lain.
Dalam kegelapan yang menyelimuti, aku berusaha untuk terus menahan kedua kakiku agar tetap bisa menapak dan menginjak tanah. Dorongan angin yang kuat, seperti ingin melayangkan tubuh ini dan membawanya pada sesuatu yang berusaha menarik sejak tadi.
“Pelan-pelan, ayo kita membuka mata!” suruh Lyman, suaranya sengaja ia tinggikan sebab angin yang berhembus nyaris meredam semua suara yang masuk ke dalam telinga.
Dan ketika mataku sudah membuka sempurna, alangkah terkejutnya ketika yang pertama kali kulihat adalah sesosok pria dengan tubuh super tinggi kira-kira dua meter lebih tengah berdiri di tengah-tengah kami. Saat kepalaku mendongak, pria dengan jubah berwarna biru gelap tersebut tidak memiliki wajah, alias kosong.
Tudung yang menutup kepalanya sekaligus menyembunyikan wajahnya, hanya memperlihatkan rupa datar yang hitam pekat tanpa ada bentuk muka yang terpampang. Aku mengerjap-ngerjap, sedikit merinding.
Apakah ritual pemanggilan yang kami lakukan berhasil? Dan pria yang berada di tengah-tengah kami adalah wujud asli dari pria berjubah yang sangat ingin kami temui?
“Pemanggilan dan penyerahan diri diterima.” Dia berbicara, suaranya bagaikan raksasa yang entah dimana aku pernah mendengar suaranya. Menggema-gema layaknya gemuruh di kala hujan.
Kami semua memandangi sosoknya tanpa berkedip, tidak begitu memedulikan apa yang ia katakan. Ketika tubuhnya bergerak, bergeser untuk memperlihatkan apa yang sedang ia belakangi sejak tadi, pandangan kami semua langsung berpindah untuk melihat.
Melotot. Mulutku terbuka lebar seiring dengan detak jantung yang meningkat. Ternyata angin kencang yang berusaha untuk menerbangkan berasal dari lubang hitam yang bisa menyedot apapun.
Dan mendadak kekuatan angin untuk menarik tubuh kami terasa lebih kuat, sehingga pertahanan kami nyaris rubuh. Hanya bisa terus berpegangan satu sama lain, berusaha menghalau arus angin yang terus mencoba menarik kami.
“Tidak perlu ditahan. Lubang hitam itu akan membawa kalian ke dunia baru. Dunia yang perlu kalian jelajah dan cari tahu sendiri bagaimana caranya bertahan hidup. Pemanggilan tidak bisa dibatalkan, maka segala yang sudah menunggu kalian di sana harus dihadapi,” ujarnya menjelaskan.
Karena arus angin semakin tak tertahankan, satu per satu pegangan kami terlepas. Magani yang sudah menjerit-jerit harus terbang lebih dulu memasuki lubang hitam tersebut.
Yang kutakutkan hanya satu. Apa yang akan kami rasakan saat memasuki lubang hitam itu? Apakah sama seperti yang ada di film-film; bahwa tubuh akan hancur tak bersisa? Maka mungkin maksud dari pria berjubah tersebut kami akan mati dan terlahir kembali di dunia baru.
***