War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 4 - Pencarian Bubuk Peri.


Aku mengantongi beberapa pakaian ke dalam tas kecil, tak lupa juga memasukan barang-barang yang mungkin aku perlukan nantinya. Seruan Papa yang berdiri di ambang pintu tak aku pedulikan, kepalaku sama sekali tak menoleh padanya.


“Jane, apa kamu harus pergi dari rumah dengan cara seperti ini? Ayo kita bicarakan dulu baik-baik, kamu harus mendengarkan penjelasan Papa,” bujuknya, tapi tidak berani mendekat sebab sedari dulu seolah ada benteng yang membuat kami sulit untuk berinteraksi secara fisik.


“Aku hanya menginap di luar selama beberapa hari. Jangan pikir aku akan benar-benar pergi dari sini, bagaimanapun juga rumah ini memiliki banyak kenangan tentang Mama yang masih tersimpan rapih dalam ingatan. Terlepas apapun alasan Mama meninggalkan kita, aku akan tetap memandangnya sebagai perempuan hebat yang sudah melahirkanku,” jelasku membuat Papa langsung mengeluarkan nafas berat, dia tak lagi bicara.


“Tapi jika Papa ingin pergi dari rumah bersama wanita itu, aku tidak akan melarang. Jangan jadikan aku sebagai alasan untuk menghambat keinginan kalian yang ingin bercinta,” imbuhku, tas yang akan kubawa sudah penuh dengan barang bawaan, siap aku cangklong pada punggung.


Mungkin ini akan menjadi yang terakhir kalinya aku bisa beradu pandang dengan mata sayu tersebut, jadi aku mengizinkannya untuk saling bertatapan. Mata sayu yang tak pernah membuat pikiranku berkelana pada ingatan yang indah, segala tentang Papa tak pernah terukir membentuk kenangan apapun.


“Aku pergi,” pamitku sambil berjalan melewati tubuhnya yang masih setia mematung dengan tatapan yang menyiratkan banyak arti.


***


Dijemput oleh Lyman menggunakan sepeda motor, kami bergegas menuju rumah Ethan. Sementara Magani, dia memilih langsung ikut dengan Ethan tanpa mau pulang lebih dulu.


“Apa kamu yakin ini jalan menuju rumah Ethan?” Aku bertanya memastikan sebab sudah hampir satu jam lamanya kami menjauh dari hiruk-pikuk perkotaan, Lyman mengendarai motornya memasuki jalanan kosong yang hanya diisi oleh pepohonan tinggi di samping kanan dan kiri.


Lyman mengangguk tapi agaknya terlihat ragu. “Menurut g-maps yang diberikan oleh Ethan, kita memang harus melewati jalan ini. Tenang saja, kita tidak akan tersesat. Di depan sana mungkin sudah terlihat pemukiman warga, semoga saja sebelum langit menggelap kita sudah sampai.”


Aku hanya mengangguk tipis, mencoba tenang dan tetap berpikir positif. Alih-alih merasakan suasana horor dari hutan lebat yang entah dihuni oleh apa saja, pikiranku mengatakan bahwa di dalam hutan tersebut banyak para peri yang bersembunyi dan mereka hanya akan keluar untuk melakukan tugasnya.


“Jan,” panggil Lyman, seketika membuyarkan lamunanku.


Aku lantas menyahut, memajukan wajahku pada sebelah bahunya. Lalu menajamkan pendengaran untuk menangkap suara Lyman yang akan teredam kencangnya hembusan angin.


“Aku sangat penasaran dengan bubuk peri yang dimaksud Ethan. Jika memang benar bubuk peri itu bisa menyembuhkan luka ataupun penyakit, aku ingin meminta sedikit untuk Ibuku yang sedang sakit parah di rumah,” ungkap Lyman penuh harap.


“Kamu yakin? Ethan bilang bubuk peri itu ada efek sampingnya lho,” jawabku mengingatkan.


Tapi Lyman tetap mengangguk yakin, harapannya yang menginginkan sang Ibu sembuh begitu kuat. Jika mengingat latar belakang hidup Lyman, aku rasa dia lebih patut dikasihani dibanding aku.


Ibunya terbaring lemah sebab penyakit langka yang diderita, sehingga dokter tidak dapat membantu banyak. Namun atas kuasa Tuhan, Ibu Lyman masih hidup meski keadaannya begitu mengkhawatirkan.


“Setidaknya Ibuku bisa kembali sehat, Jan. Aku ingin melihatnya tersenyum lagi,” harap Lyman dengan tulus.


***


Langit sore hampir berganti dengan gulitanya malam, untungnya kami sudah sampai di rumah Ethan. Rumah mewah yang terpencil karena aku tidak melihat satu pun rumah yang berendeng, hanya rumah Ethan satu-satunya yang ada di sini.


Dari gerbang sebelum memasuki pekarangan rumah Ethan, aku dikejutkan dengan hembusan angin yang membuat mataku sedikit kelilipan sebab banyak debu dan daun kering yang bertebangan berhembus ke arah kami.


Rasa terkejutku kian bertambah karena kedatangan seseorang yang tiba-tiba saja sudah ada di depan gerbang, pria paruh baya yang tampak bugar dengan pakaian ala-ala pelayan bangsawan tersebut membukakan pintu gerbang untuk kami.


“Tamu undangan dari Tuan Muda Ethan?” tanyanya dengan sopan.


Kami mengangguk bersamaan, kemudian dia mempersilakan kami masuk. Lyman kembali menyalakan mesin motor, mulai memasuki pekarangan rumah Ethan yang amat luas.


“Tuan Muda Ethan, Jan. Sudah kubilang Ethan bukan orang sembarangan,” bisik Lyman padaku.


Aku hanya terkekeh pelan untuk menanggapi.


Setelah parkir dan turun dari motor, Ethan dan Magani menyambut kami dengan membuka pintu rumah lebar-lebar. Aku dan Lyman pun segera menghampiri, mereka berdua tampak keheranan saat melihat kami berdua mencangklong tas besar seperti akan pindahan.


“Wah, ternyata kalian benar-benar berniat untuk mengungkap misteri itu, ya?” tanya Ethan sambil memandu jalan, kami semua membuntuti dari belakang.


“Betul, aku berpikir kita semua bisa bertemu dengan pria berjubah itu lalu bisa terlempar ke dunia fantasi yang ada dibayangan kita,” sahut Lyman dengan antusias.


Aku dan Magani angguk-angguk saja.


“Bagaimana jika dunia yang didatangi nanti tidak seperti dalam bayangan kalian?” Ethan memberi pertanyaan yang masuk akal, seharusnya kita memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.


“Apapun itu, aku yakin bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan. Pasti selalu ada cara untuk kembali, kita bisa bekerja sama untuk melakukannya,” jawab Magani menimpali.


Aku pun ikut menyumbang jawaban, “Kalau aku pribadi, sekalipun tidak bisa kembali, aku akan sangat menerima hidup di dunia yang baru. Aku ingin merasakan sensasi yang lain sekalipun jika nantinya memang tidak sesuai ekspektasi.” Entah karena merasa dicampakkan oleh Papa, aku jadi tidak ragu ataupun takut lagi.


“Baiklah. Aku akan ikut saja bagaimana keinginan kalian,” pungkas Ethan sambil terus berjalan memandu kami, entah kemana dia mengajak kami.


Mendadak Magani mepet ke arahku, kemudian dia berbisik, “Aku sudah mengelilingi isi rumah mewah ini lebih dulu, kamu tahu? Rumah ini bagaikan kastil di dalam dunia dongeng! Ah, andai aku bisa tinggal selamanya di sini, pasti aku akan sangat bahagia.”


Magani benar, rumah Ethan sangatlah bagus dan sangat mencerminkan kastil yang selalu aku tonton dalam film fantasi. Dan alasan mengapa Ethan tidak tinggal berdekatan dengan warga lain, aku tidak tahu.


Sudah seperti cenayang saja, bisa-bisanya Ethan seperti sedang menjawab pertanyaan dalam isi kepalaku. Aku jadi agak merinding, tapi aku yakin itu hanya kebetulan.


“Ayo masuk.” Ethan membuka pintu sebuah ruangan, sebelumnya kami melewati lorong menuju ruangan bawah tanah yang akses jalannya hanya diterangi oleh obor kecil yang dipasang di sepanjang dinding.


Mataku langsung mengabsen ruangan yang hanya diterangi oleh secercah cahaya obor dari luar. Ruangan kecil yang agak sumpek dan dominan bau lembap ini dipenuhi oleh rak-rak buku yang kuyakini sudah berdebu.


“Kalian penasaran dengan bubuk peri bukan? Aku akan menjelaskannya sedikit, aku tidak bisa mengajak kalian berlama-lama di sini sebab ruangan ini termasuk ruangan rahasia milik keluargaku,” jelas Ethan yang mulai menjelajah ke setiap sudut ruangan, sedang menyalakan lilin sebagai penerangan.


Kami bertiga manggut-manggut saja, mengikuti arahan Ethan. Menunggu tanpa banyak bicara dan hanya mengamati Ethan yang entah sedang melakukan apa dengan botol yang bentuknya mirip dengan jam pasir.


Semerbak aroma manis dari tetumbuhan seperti bunga yang baru saja mekar mendadak menguar dari dalam ruangan ini, perlahan botol yang sebelumnya kupikir adalah pasir mendadak berkilauan ketika Ethan mulai membolak-balikan botol tersebut.


“Kalian lihat? Inilah bubuk peri yang aku maksud. Dan setelah berganti dari generasi ke generasi, bubuk peri yang tersisa hanya sedikit. Keluargaku memang memproduksi bubuk peri, tapi bubuk peri yang masih bisa diproduksi hanya bisa untuk perhiasan atau pernak-pernik, itu pun tidak diperjualbelikan. Sementara bubuk peri yang ada di tanganku ini, memang khusus untuk menyembuhkan segala macam luka dan juga bisa penyakit,” papar Ethan menjelaskan.


Aku terdiam beberapa saat karena masih terpana dengan indahnya bubuk peri yang berkilauan dan menguarkan wewangian yang harum. Melirik ke samping sebentar, aku mendapati Lyman dan Magani yang menelan ludah berkali-kali, mata mereka berbinar terang.


Lyman maju selangkah, dia terlihat sangat ingin memiliki bubuk peri tersebut. “Apa aku boleh meminta sedikit bubuk peri itu? Aku—”


“Tidak boleh,” potong Ethan cepat. Seketika suasana berubah menjadi canggung.


“Bubuk peri ini khusus untuk keluarga kami. Bukannya aku tidak ingin memberikan bubuk peri ini, tapi memang tidak bisa aku berikan sembarangan. Dan kalau memang kamu sangat menginginkannya, kita bisa nekat mencari dan memproduksi sendiri bubuk peri yang berbeda,” tambah Ethan, menjelaskan agar tidak salah paham.


“Apa bubuk peri itu bisa digunakan untuk membuat seseorang bisa berjalan kembali?” Kali ini Magani yang bertanya, aku baru sadar kalau Magani punya adik perempuan yang mengalami kelumpuhan.


Dan Ethan pun mengangguk sebagai jawaban. “Aku rasa iya. Apa salahnya mencoba? Yang terpenting sekarang kita perlu mencari bubuk peri tersebut lebih dulu.”


Aku pun bertanya tak sabaran, “Lalu di mana kita bisa mencari bubuk peri itu?”


Ethan menundukkan kepala, botol di tangannya ia taruh ke atas meja. “Ini cukup sulit sebenarnya. Sebab alasan keluargaku sulit memproduksi bubuk peri khusus untuk menyembuhkan segala macam penyakit, itu karena kami tidak bisa memasuki dunia yang di dalamnya bisa ditemui para peri. Singkatnya, portal menuju ke sana sudah hilang.”


Ekspresi sedih kehilangan harapan terukir di wajah Lyman dan Magani, aku paham bagaimana rasanya. Sebagai teman yang seharusnya bisa diandalkan, aku tidak dapat membantu banyak.


“Tapi tenang. Setelah mendengar ada misteri di sekolah tentang pria berjubah yang katanya bisa membawa kita ke dunia lain, aku merasa itu bisa dijadikan kesempatan. Bisa saja di dunia itu kita menemukan peri yang bisa menghasilkan bubuk ajaib?” Ethan memberi solusi, membangkitkan harap yang semula layu.


“Kalau memang begitu keadaannya, mengapa kita tidak langsung bergegas pergi ke sekolah malam ini? Kita menyelinap masuk, diam-diam mendatangi tempat yang diduga pria berjubah itu berkeliaran mencari korban,” usul Lyman, dia begitu bersemangat.


“Benar, lebih cepat lebih baik,” timpal Magani.


Ethan mengangguk setuju. “Ayo, kita pergi ke sekolah menggunakan mobilku. Sebelumnya kita juga perlu menyiapkan beberapa perlengkapan yang akan digunakan di sana, bisa kalian membantuku?”


“Tentu!” kompak kami untuk menjawab.


***


Sekitar jam delapan malam kami meninggalkan rumah Ethan menuju sekolah. Sebelumnya kami juga dijamu makan malam mewah dan lezat oleh keluarga Ethan. Sayangnya, orang tuanya tidak ada di rumah, hanya ada Kakak tertua saja yang ikut bergabung dengan kami.


Di malam hari yang gelap gulita, jalanan yang memang tidak memiliki penerangan sama sekali membuat suasana begitu mencekam. Hanya mengandalkan penerangan dari sorot lampu mobil, dan hanya keheningan yang mengiringi selama perjalanan kami.


Menempuh waktu kurang lebih satu jam, akhirnya kami sampai di sekolah. Tidak berhenti tepat di depan gerbang, berjaga-jaga takutnya kehadiran kami langsung diketahui dan malah diusir oleh satpam yang tengah bertugas.


“Bagaimana jika memanjat dinding belakang sekolah? Lalu untuk sampai ke taman kosong yang terbengkalai kita mengendap-endap melewati lorong samping gudang kosong,” usul Lyman memberi arahan.


Aku mengangguk, langsung membalikan badan, berjalan mendahului. “Ayo, kita tidak punya waktu banyak. Sebelum fajar tiba, kita harus bertemu dengan pria berjubah itu.”


Mereka bertiga mengekor di belakang, masing-masing menggendong ransel berukuran besar untuk membawa perlengkapan yang dibutuhkan nantinya. Seperti senter, beberapa senjata kecil untuk melakukan perlawanan diri, dan juga beberapa camilan makanan.


“Kamu bisa memanjatnya?” Ethan bertanya padaku seolah tidak percaya.


“Jangan meremehkan. Meskipun aku perempuan, jika hanya memanjat dinding pendek seperti ini bukan masalah bagiku,” sahutku dengan angkuh, mulai meraba-raba dahan pohon dekat dinding untuk menjadi pijakan nantinya.


Tapi...


“Boleh aku ikut?”


Aku terperanjat kaget. Benar-benar kaget sampai jantungku berhenti seperkian detik. Bagaimana bisa Melvin tiba-tiba sudah bersandar pada dinding dibalik pohon yang akan kupanjat? Padahal sebelumnya kehadirannya tidak terendus olehku.


***