War Of Hearts

War Of Hearts
Chap 10 - Perjalanan Pertama.


Fred menatapku. “Soal itu, kamu bisa membicarakannya dengan Mooni. Dia yang akan menuntunmu dan memberitahumu apa yang harus kamu lakukan.”


Aku lantas mengerutkan kening, merasa asing dengan nama yang disebut Fred. “Mooni? Siapa itu?”


“Itu diriku!” Suara berat sedikit serak yang menggema berhasil membuat bahuku terangkat kaget.


Reflek bola mataku bergulir ke arah sumber suara. Tepatnya pada kapak yang berada dalam genggamanku.


Mataku mengerjap-ngerjap, tengkorak kepala manusia yang berukuran sekepalan tangan dewasa, yang sebelumnya kupikir hanya sebagai aksesoris pada kapak tersebut ternyata bernyawa dan bisa berbicara. Mulutnya megap-megap, bagian tulang mata yang tanpa bola mata tersebut mengeluarkan cahaya hitam keunguan, dan aku merasa sedang ditatap olehnya.


“Aku adalah Mooni. Raga dari kapak sihir ini. Dan aku telah memilihmu sebagai penggunanya. Kamu hanya bisa menggunakan kapak ini atas seizinku saja, dan hanya aku yang bisa menghendaki apa yang ingin kamu lakukan. Otomatis kamu akan berada di bawah kendaliku,” ujarnya menjelaskan, aku hanya bisa melongo sambil menyimak.


Sesudahnya, Fred baru berbicara, “Benar, Jane. Tidak mudah mengendalikannya. Tapi aku yakin kamu dengan Mooni dapat melakukan kerja sama yang baik. Dan ingat satu hal, jika kamu memaksa ingin melakukan apa yang tidak dihendaki olehnya, maka akan ada resiko berat yang akan kamu tanggung nantinya. Bisa membahayakan orang di sekitarmu atau bahkan dirimu sendiri.”


Aku menatap Mooni kembali. “Hm, oke. Aku akan melakukannya dengan baik. Mohon bantuannya!”


Mooni tidak mengatakan apa-apa. Perlahan cahaya yang keluar dari kedua bagian matanya tersebut melenyap. Kembali terlihat seperti tengkorak mainan yang tak pernah terpikir bisa hidup dan bergerak.


Fred bergerak mengambil sesuatu, tubuh tingginya itu menghampiri satu per satu lemari kayu untuk mengecek atau mungkin sedang mencari sesuatu. Sampai akhirnya, Fred datang pada kami sembari membawa sesuatu yang, — mataku menyipit, menerka-nerka benda apa itu. Aku pernah melihatnya, tapi aku lupa dengan namanya.


“Mendekatlah. Berbaris secara memanjang ke samping,” titah Fred sambil menggoyangkan benda yang mirip seperti botol kaca dengan cairan warna-warni yang bercampur namun tidak menyatu, begitu gemerlapan dan benderang.


Cantik sekali. Aku jadi penasaran cairan apa itu.


Aku, lalu Magani dan terakhir Lyman. Fred mulai membuka botol tersebut, langsung menguarkan wewangian yang begitu semerbak menusuk hidung. Secara bergantian, tubuh kami— dari ujung kepala sampai ujung kaki— semua diciprati dengan cairan itu.


“Ini adalah penyamar aroma. Setelah keluar dari hutan ini, kalian akan memasuki hutan kematian. Setidaknya dengan aroma ini, kalian tidak akan terendus oleh serangan bahaya yang mengincar kalian. Hanya tiga hari, jika kalian tidak keluar dari hutan kematian selama tiga hari maka berwaspada lah sebab bahaya pasti sedang mengintai kalian,” kata Fred memberitahu, kami semua manggut-manggut.


Sedetik setelahnya, Lyman menyahut untuk bertanya, “Apa tidak ada peta? Agar memudahkan kami semua untuk cepat-cepat keluar dari hutan kematian nantinya.”


Fred menggeleng, membuat kami menunjukkan ekspresi sedih bersamaan. “Sayangnya tidak ada. Kalian benar-benar diuji di dalam hutan kematian. Gunakan insting dan juga logika kalian. Jangan sampai sibuk berputar-putar di tempat yang sama selama berhari-hari. Dan jika kalian berhasil keluar, maka kalian orang pertama yang bisa selamat dan keluar hidup-hidup dari hutan itu.”


Kami semua mengangguk paham. Setelah mendapat arahan dari Fred, kami memutuskan untuk berangkat hari ini juga. Meski langit sudah mulai menggelap, kami tak berpikir untuk melakukan perjalanan esok hari.


“Aku tidak punya persediaan makanan. Kalian harus survive di hutan dengan mencari makanan sendiri. Aku hanya bisa membantu kalian sampai sini saja.” Fred mengantar kami sampai ke depan rumah.


Berdiri secara berendeng, kami membungkukan punggung sebagai salam hormat dan perpisahan. Fred yang memang bukan manusia seutuhnya, seketika langsung berubah menjadi burung hantu, dia kembali terbang, menjelajah hutan untuk menjalankan tugasnya.


“Untuk sementara waktu, kita ikuti arah mata angin saja dulu.” Lyman mengedarkan pandangan, menatap alam terbuka yang sunyi dan gulita, terkesan menyeramkan.


“Aku belum bisa membayangkan akan seseram apa hutan kematian yang akan kita datangi. Entah berapa ratus atau ribu nyawa yang bergelimpangan di sana karena tidak bisa keluar,” cicit Magani, lagi dan lagi dia selalu saja parno lebih dulu.


Baru saja kami akan melangkah dan Lyman sudah siap memandu jalan, mendadak niat kami urung sebab suara seseorang yang mengagetkan. Dari suaranya, kami sudah tahu siapa itu.


“Kalian masih nekat pergi hanya karena mendengar bualan siluman burung tadi? Kalian terlalu gegabah, ada baiknya kita semua cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi. Masih banyak pemicu atau faktor lain yang bisa membawa kalian pada kebenaran yang sebenarnya,” cerocos Melvin, mataku sedikit terbelalak saat menyadari dia bisa bicara sebanyak itu.


Aku yang sudah muak dan malas berdebat, memilih untuk membuang muka saja. Tapi Lyman dengan tegas tetap menanggapi;


“Tidak apa. Ini pilihan kami. Dan aku tidak tahu juga tidak mengerti kebenaran apa yang sebenarnya kamu cari. Dan silakan cari saja sendiri. Aku, Jane dan Magani akan berada di jalan ini,” pungkas Lyman, lalu kemudian merangkul pundakku dan Magani untuk segera melenggang pergi.


Di sepanjang jalan, aku sama sekali tidak menoleh ke belakang. Tapi Magani berbisik-bisik kepada kami, dia memberitahu bahwa Melvin ternyata membuntuti. Sudah kuduga, dia itu hanya ingin menghasut saja.


Dan karena kita semua tidak mau membuang waktu hanya untuk memperdebatkan hal yang tidak penting dan tidak berujung, kami sepakat untuk tidak menegur ataupun memedulikan Melvin. Jadi biarkan saja dia melakukan apa yang dia mau selagi tidak mengusik kami.


“Kira-kira berapa lama kita bisa keluar dari hutan ini?” Magani bertanya di sela-sela langkah kaki.


Lyman mengangkat bahu. “Jangan bertanya padaku seolah aku lebih dulu menjajaki tempat ini dibanding kamu, Magani. Cukup berjalan saja tanpa perlu banyak bertanya.”


Magani mendengus. Dia memilih diam dan tubuh pendeknya itu berlarian kecil untuk pindah tempat, memilih berjalan di sampingku. Sekarang tubuhku yang diapit oleh mereka berdua.


Memandang pepohonan yang menjulang tinggi, meskipun langit sudah berubah malam, dan tidak ada penerangan lain selain dari cahaya bulan, anehnya hutan ini tidak begitu gelap. Aku bahkan masih bisa melihat jarak antara pepohonan yang berjajar tidak rapih.


“Semangat!”


Seperkian detik jantungku berhenti memompa. Dibuat kaget oleh suara barusan yang ternyata milik pohon tinggi di samping kami. Pohon itu berbicara, lekuk senyum di batangnya yang tampak kusam dan rapuh itu membuat hati kami menghangat.


“Jika kalian berjalan lurus dari sini, saat fajar nanti kalian sudah bisa keluar dari hutan ini,” katanya menjelaskan, kami semua merasa bersyukur karena sudah diberi petunjuk.


“Apa di depan sana kami bisa menemukan sesuatu yang bisa dimakan? Atau setidaknya ada sungai yang bisa kami minum air nya?” tanya Magani sambil menyusut peluh, dia tampak kelelahan.


“Sayang sekali. Jika kalian mencari makanan dan sungai, di depan sana kalian tidak akan menemukannya. Berlawanan arah dari sini, barulah kalian bisa menemukannya,” jawabnya.


Atensi kami beralih pada Melvin yang tiba-tiba saja menyalip kami, dia berjalan duluan dengan santainya seraya meneguk air dan sepotong roti juga ada di tangannya. Apa maksudnya itu?


Dia seperti sengaja melakukan itu. Ingin membuat kami, terutama Magani yang sudah mengeluh kehausan ingin memaki-makinya. Tapi apa daya, laki-laki dengan pemilik setia ekspresi datar tersebut sudah dipastikan tidak memiliki hati, jelas dia tidak akan tersinggung.


“Aku harap dia menjadi mangsa atau tumbal di hutan kematian nanti. Jika sampai dia mati, aku akan berdiri di atas jasadnya sambil mengejeknya girang,” sinis Magani, pandangannya berapi-api ketika terus menatap punggung Melvin yang kian menjauh.


***