Wanita Malam

Wanita Malam
Sudah Selesai


Leon pulang larut malam, karena pekerjaannya yang banyak namun saat melihat Angel terbaring tidur di kasurnya membuat rasa lelahnya hilang, setelah membersihkan diri Leon ikut bergabung dengan Angel dan menelusupkan diri dalam selimut lalu menarik Angel ke pelukannya.


Angel masih terlelap di pelukan Leon, meski Leon sudah terbangun sejak tadi, dia hanya memandang wajah Angel dalam diam, sesekali bibirnya tersenyum mengingat wanita di depannya ini adalah miliknya.


"Kamu tak mau bangun?" Leon menjepit hidung Angel hingga Angel mengerang kehilangan nafas.


"Apa yang kau lakukan" Angel mengusap hidungnya.


"Ayo bangun, ini sudah siang, aku bahkan akan terlambat ke kantor"


Angel mendudukan dirinya dan melihat jam di nakas pukul 08:00 "Aku tidur nyenyak sekali"


"Ya, kamu bahkan mendengkur di pelukanku"


"Benarkah?" Angel menutup mulutnya, dengan wajah memerah malu, benarkah dia mendengkur.


Leon mengangguk "Mau mandi bersama" tanpa banyak kata Angel menggeleng, wajahnya yang sudah merah semakin merah.


"Tapi ini akan menghemat waktu dan akan cepat selesai... ayolah.." Leon tersenyum menggoda, lalu dengan cepat menelusupkan tangannya di kaki dan tengkuk Angel.


"Tidak mau, akhh.. turunkan aku..Leon aku akan jatuh"


"Jadi kamu harus berpegangan dengan erat padaku" Angel langsung mengeratkan tangannya di leher Leon.


"Aku mohon Leon, aku tidak bisa..aku sedang datang bulan.."


Leon terhenti sejenak lalu melanjutkan langkahnya "Kita akan mandi, memang kamu fikir kita akan apa.. hum?"


"Tetap saja tidak bisa Leon.. kau dengar ponselmu berbunyi.."


Leon menggeram "Kamu lihat harusnya aku matikan saja tadi, selalu saja begitu" degan pelan Leon mendudukan Angel kembali di atas ranjang, lalu mengangkat panggilannya, tanpa berbasa basi Leon langsung berteriak marah "Aku akan membunuhmu jika ini tidak penting!"


Angel bahkan sampai terjengit mendengar teriakan Leon, Seperti itukah jika dia sedang marah.


Angel melihat raut Leon mengkerut lalu tiba-tiba rahangnya mengeras dengan mata memerah "Sh it, bagaimana ini bisa terjadi..!"


Angel tak bisa mendengar orang di sebrang sana bicara apa, namun Angel tau sesuatu itu pasti karena ulahnya kemarin.


"Siapkan semuanya kita rapat satu jam lagi.." Leon meremas rambutnya "Siapkan saja semuanya bodoh, breng sek!" Leon mematikan ponselnya lalu melemparnya keatas ranjang.


Angel berteriak tertahan saat melihat Leon melempar ponselnya yang hampir mengenainya, saat mendengar suara Angel, barulah dia menyadari jika dia tak sendiri.


Angel bergetar takut lalu mendongak kearah Leon yang menatapnya penuh penyesalan dan dengan segera menangkup pipi Angel "Apa aku melukaimu" Leon melihat ponselnya tergeletak di dekat Angel, dasar bodoh bagaimana jika Angel terkena lemparannya.


Angel menggeleng, rautnya sudah pucat dia hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat se menyeramkan itu jika Leon marah. "Ak..u tidak apa apa"


"Maaf membuatmu takut"


"Apa yang terjadi?" Angel bertanya meski suaranya masih sedikit terbata.


"Tidak ada, hanya masalah pekerjaan"


"Apa sangat buruk?"


"Ya, sedikit buruk.. aku harus segera pergi, hari ini kamu akan pergi kesana lagi?"


"Ya.. lukisanku belum selesai, sepertinya akan selesai hari ini"


"Hum, pergilah dengan Bertha.. jangan sendiri, aku tak mau kamu bertemu dengan bocah ingusan itu lagi"


Angel hanya mengangguk tak tau harus bicara apa, Leon pergi ke arah kamar mandi tak berapa lama sudah kembali dengan handuk yang melingkar di pinggang nya, namun Angel masih terpaku disana.


Leon sudah rapi dengan stelan jasnya dan masih melihat Angel terdiam di tempatnya "Apa yang kamu fikirkan?" Leon mengelus pipi Angel.


"Tidak ada.. kamu sudah selesai, pergilah.. kamu pasti sibuk"


"Ya, aku sangat sibuk, maafkan aku tak punya waktu untuk mu" Leon mengecup bibir Angel lalu pergi.


.


.


.


Angel memejamkan matanya lalu menarik nafas dalam- dalam, Bertha memperhatikan Angel dia tahu jika Angel melakukan itu berulang kali itu artinya Nonanya sedang gundah dan mencoba menenangkan dirinya.


"Nona apa yang kau lakukan sebenarnya?"


Angel tersenyum pedih "Sesuatu yang akan membuatnya marah" lalu Angel melangkahkan kakinya untuk masuk ke rumah Jonathan.


Bertha menegang, dia benar-benar harus segera memberitahu tuan Axel.


Sepanjang Angel menggoreskan kuasnya Bertha terus memperhatikan Angel, sketsanya sudah sempurna dan hanya perlu beberapa coretan agar lukisan terlihat nyata, sepanjang Bertha menemani Angel, Bertha tahu ini hal mudah dan tak membutuhkan waktu lama, namun Angel seolah menunda waktunya.


Lily berada di sisinya dan melihat dengan mata berbinar lukisannya sudah hampir jadi "Angel kamu luar biasa.." pujinya.


"Sebentar lagi akan selesai Aunti" raut Angel terlihat datar dan dingin meski terlihat senyum di bibirnya.


Lily akan bicara namun sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya, wajah Lily menegang dan berubah pucat, dia menggulir layar yang menunjukan beberapa foto, tak berapa lama air matanya menetes begitu saja.


"Angel maafkan aku bisakah ini dilanjutkan lain kali" Suaranya bergetar.


Angel mengangguk lalu merapikan peralatannya, Lily bahkan sudah pergi sebelum Angel selesai, namun Angel bisa mendengar suara Lily terisak dan berbicara..


"Kamu melakukannya lagi Jo, kamu mengkhianati ku lagi.. aku pikir kamu sudah berubah, tidak kah cukup hanya aku saja!" suaranya lirih bercampur tangisan.


hening beberapa saat lalu Lily kembali bicara "Tidak, aku tidak mau lagi,.. Jo ceraikan aku..."


Tangan Angel yang memegang kuas terhenti, dia meremasnya sebelum memasukan nya kedalam kotak.


Bertha menelan ludahnya dia juga mendengar suara Lily, dan melihat raut Angel dia tau itu karena ulah Nonanya "Nona..?"


Dengan tenang Angel melihat kearah Bertha "Kita akan pulang besok Bertha.. Aku sudah selesai"


.


.


.


Di sebrang sana Jonathan yang sedang mengadakan rapat dengan Leon, suasana begitu tegang dengan permasalahan yang mereka hadapi "Kau tahu aku bahkan mengirim langsung berkas itu keperusahaanmu, bukankah hal aneh jika ini bocor, atau aku harus mencurigai Asistenmu, bukankah dia yang mengantarnya kembali setelah kau menandatanganinya" Asisten Jonathan tercengang dia tak mungkin mengkhianati tuannya.


"Aku tidak melakukan itu tuan, setelah aku mendapatkannya darimu aku langsung kerumah tuan Michael dan setelah mendapat tanda tangan aku kembali untuk memberikannya kembali padamu" Jonathan meremas tangannya, bagaimana bisa ini terjadi satu satunya yang bisa melakukan itu hanya asistennya, sedangkan dia yakin asistennya setia padanya.


Berkas itu hanya menggunakan empat tangan dirinya, Leon dan kedua asistennya "Jika kau mencurigai Asistenku mungkinkah jika kita juga mencurigai Asistenmu tuan Leon.. ini bukan masalah kecil, kita berdua sama-sama dirugikan, kerugianku bahkan juga sama besarnya, sebelum saling menuduh, mari kita mencari bersama sama siapa yang sudah berkhianat".


Jeda beberapa saat ponsel Jonathan berbunyi "Maaf aku harus mengangkat ini" dia tak bisa mengabaikan istrinya, dia selalu tahu jadwal kerja Jonathan dan tak akan mengganggu jika tak ada yang penting.


Belum dia bicara terdengar suara tangisan di sebrang sana.


"Kamu melakukannya lagi Jo, kamu mengkhianati ku lagi.. aku pikir kamu sudah berubah, tidak kah cukup hanya aku saja!"


"Sayang apa maksudmu, berkhianat apa, aku tak mengerti" isak tangis tak berhenti dari mulut Lily, membuatnya khawatir dan Jonathan kembali bicara.."Dengar sayang, tenanglah aku akan kembali sekarang kita bicara dirumah.."


"Tidak, aku tidak mau lagi" terdengar helaan nafas dari Lily lalu dia kembali bicara "Jo ceraikan aku..." Jonathan menegang, saat itu barulah dia menyadari ini benar benar masalah serius.


.


.


🌹🌹🌹🌹🌹


Like..


Komen..


Vote..