Wanita Malam

Wanita Malam
Berakhir


"Hentikan!" teriakan Axel menghentikan Ami, Ami pun bangkit dan menatap Axel lalu menangis.


"Beraninya kamu berselingkuh di belakangku..hiks.. hiks.. kau kejam Ax, bukan kah kita berencana bulan madu, tapi kenapa kau melakukan ini, apa semua hanya kebohongan.." Ami terduduk dilantai, sedangkan Axel mengepalkan tangannya, matanya melihat Baby yang babak belur menunduk dengan tubuh bergetar, Axel ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ia akan baik baik saja,namun Axel tak bisa gegabah, jika memilih Baby sekarang maka rencananya akan berantakan.


Maka Axel memberi isyarat pada Dion untuk membawa Baby pergi "Mari nona" Dion memapah Baby untuk keluar dari ruangan Axel, Baby menurut dan berjalan dengan berpegangan pada Dion, kakinya terasa berat seolah seluruh jiwanya ikut pergi seiring harga dirinya yang hancur, saat pintu sudah terbuka Baby memberanikan diri melihat kearah Axel, namun Axel membuang mukanya dan membawa Ami untuk berdiri.


Axel tak sanggup melihat Baby, ia ingin membunuh Ami karna sudah menyakiti Baby, tapi ia harus menahannya.


Baby merasakan sakit yang teramat saat menyadari sesuatu.. dirinya berharap lebih..


Berharap Axel akan memilih nya,dan membawanya pergi, namun nyatanya Axel mengabaikannya dan memilih istrinya. hati Baby terasa sakit lebih sakit dari badannya yang remuk redam.


Namun Baby harus menerimanya bukankah ini konsekuensi yang harus ia terima hidup sebagai selingkuhan, Baby ingin menangis tapi juga ingin tertawa lucu sekali.. harusnya Baby senang bukan, perjanjiannya saat istri Axel tau maka Baby terbebas, dan ini berarti Baby sudah bebas sekarang, tapi mengapa rasanya begitu sakit.


"Nona kau baik baik saja?" Dion melihat Baby yang terus diam, mereka sedang berada di dalam lif, beruntung Axel punya lif pribadi hingga Baby tak perlu merasa malu bertemu dengan orang lain, dan Dion langsung mengarahkan lift ke parkiran hingga tak ada orang yang melihat Baby yang berpenampilan mengerikan,wajahnya penuh lebam dan ada darah dikedua sudut bibirnya, rambutnya berantakan ada beberapa sobekan di dresnya yang tertutup oleh jas milik Dion.


"Hm.."


Dion memapah Baby hingga memasuki mobilnya lalu menutup pintu, saat sudah setengah jalan Baby yang sejak tadi diam pun angkat bicara "Dion aku tak bisa pulang seperti ini" Baby teringat Angel dia pasti akan bertanya tentang kondisi Baby yang mengerikan "Bisakah ke tempat lain dahulu, setidaknya sampai lukaku sembuh" Dion mengangguk mengerti, lalu memutuskan untuk pergi ke sebuah apartemen tak jauh dari kantor Axel.


Baby tak bicara lagi hanya mengikuti kemana Dion membawanya setidaknya Dion cukup mengerti dan hanya diam saat mengantarnya.


"Ini apartemen tuan, tapi tenang saja tak ada yang tau, hanya saya dan tuan yang tau tempat ini" seolah tau isi kepala Baby, Dion bicara meski Baby tak bertanya.


Baby mengangguk, dia sungguh lelah dan ingin segera mengurung diri menangis sepuasnya.


"Saya akan meminta dokter untuk mengobati nona.." Dion membuka poselnya, namun Baby segera menahannya.


"Tidak perlu, aku bisa obati sendiri aku minta kotak P3K saja.."


"Tapi nona.."


"Tolong aku ingin sendiri dulu"


Dion merasa dilema disisi lain ada tuan Axel yang mengatakan lewat pesan bahwa ia harus memastikan Baby baik baik saja dan diobati dengan benar, tapi nona Baby bilang ia ingin sendiri, lalu apa yang harus Dion lakukan?


Dion sudah memberikan pesan pada Axel, bahwa dia membawa Baby ke apartemen Axel, dan Axel menyerahkan semuanya pada Dion dan memastikan Baby baik baik saja.


"Baiklah nona,jika terjadi sesuatu tolong hubungi saya.." Dion pun pergi setelah menyiapkan kotak obat dan air hangat di baskom lengkap dengan handuk kecil untuk mengompres luka Baby.


Baby melihat kotak obat di atas meja namun ia berjalan melewatinya dan memasuki kamar mandi terdengar suara air mengalir lalu tangisan Baby samar terdengar,tangisan nya sangat lirih dan menyesakkan sejak tadi Baby mencoba menahan rasa sesak dihatinya sesuatu yang ia hindari sejak dulu pun akhirnya terjadi harga dirinya sudah habis sekarang dan tak bersisa meski nyatanya ia memang sudah tak memilikinya sejak menjadi wanita malam,lalu menjadi budak Axel demi uang.


Baby merebahkan tubuhnya di atas kasur, setelah membalut tubuhnya dengan kemeja Axel yang tergantung di lemari, Baby bergumam "Semuanya baik baik saja Baby, baik baik saja, setidaknya semuanya sudah berakhir, ini sudah berakhir" tanpa mengobati lukanya Baby tertidur.


.


.


"Harusnya aku yang bertanya apa yang kau lakukan, mengapa kamu berselingkuh Axel.. hiks.."


Axel mendengus jijik, dikira Axel tak tau apa yang Ami lakukan diluar sana, Axel yakin Ami bahkan tak tau ia sedang mengandung anak siapa saking banyaknya pria yang ia tiduri.


"Kau yakin aku berselingkuh?" Axel menghela nafasnya "Kau tau dia itu asistenku?" Axel harus berpura pura biasa saja sedangkan ia ingin sekali membalas sakit yang di terima Baby, semua Michael memang brengsek maki Axel dalam hati.


"Aku tau kakak yang bilang kalau kamu punya asisten baru, dan aku kesini untuk melihatnya apa itu benar"


Sialan kau Jonathan.


"Tapi aku malah melihat dia keluar dari kamar mu yang aku sendiri tak boleh memasukinya..hiks" Ami terus menangis, entah itu air mata tulus atau modus.


"Lalu mengapa kau tak bertanya apa yang aku dan dia lakukan di dalam sana, tapi malah langsung menghajarnya begitu saja.."


"Apa maksudmu?" Ami menatap Axel dengan tatapan bingung.


"Aku memintanya membersihkan kamarku, dan kami tak bersama aku hanya masuk saat dia sudah selesai, karna aku akan mandi"


Ami melotot tak percaya "Ap..a tapi aku melihat rambutnya bahkan basah"


Axel menghela nafasnya jika saja ia tak terpaksa ia memilih berkata jujur dan mengatakan "Ya, dia Baby wanita yang aku cintai" namun Axel harus menahannya karna rencananya menjatuhkan Ami bisa berantakan, Axel ingin Michael hancur perlahan di awali dengan kejatuhan Mich corp lalu sekandal Ami segera menyusul, namun Axel tak tau Ami kembali ke kantornya dan mengapa ia lupa mengunci pintu, lebih sialnya lagi sekertaris bodohnya mengapa tak ada di kursinya. sial.


"Kau tau dia bisa melaporkan mu kepolisi, karna kelakuanmu ini, jika itu terjadi aku tak bisa membantumu" Axel melipat tangannya di dada.


Ami bergetar rasa takut mendekam di penjara menghantuinya.


"Tidak.."


"Dia bahkan sampai babak belur Ami, dia bisa melakukan visum untuk menutut mu, atau mungkin dia sedang melakukannya sekarang" Axel semakin tertawa dalam hati saat melihat Ami bergetar ketakutan. Rasakan.


"Tidak mau, Axel kamu harus membantuku, aku tak mau di penjara.." Ami mencengkram tangan Axel.


"Untuk apa aku membantumu, sedangkan kau sendiri tak percaya padaku Ami.. bahkan menuduhku selingkuh cih.."


Ami menggeleng "Tidak Axel, aku percaya padamu.. tapi tolong kamu harus melindungiku"


"Baiklah.."