Wanita Malam

Wanita Malam
Amarah Axel


Axel menggenggam ponselnya dengan erat seolah ingin melampiaskan kemarahannya.


"Siapa dia?"


"Dia asisten Mery tuan" Dion baru saja menerima laporan dari seseorang yang mengawasi Baby, bahwa Baby kedatangan seorang pria, difoto tersebut terlihat Baby dan Alfredo sedang berpelukan.


"Mereka punya hubungan lebih..?"


"Saya rasa.." Dion terlihat berfikir sejenak sebenarnya belum menyelidiki lebih jauh, hanya saja melihat kedekatan mereka, Dion tak bisa berkata mereka tak ada hubungan apalagi posisi mereka kini sedang berpelukan. "Saya akan menyelidikinya.."


"Kau tau aku tak suka milikku di sentuh oleh orang lain.."


"Perlukah saya.."


Perkataan Dion terhenti saat tiba tiba Axel bangun dan menyampirkan jasnya lalu keluar dari ruang kerjanya, dengan cepat Dion mengejar dan mempersiapkan segala kebutuhan Axel, termasuk mobil yang akan Axel kendarai.


Disepanjang jalan Axel terus mengumpat seraya mengenggam setir dengan erat dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.. amarahnya meledak ledak.."Sial bagaimana bisa aku semarah ini, bukankah dia memang ja lang sudah terbiasa disentuh oleh orang lain.. mengapa membayangkannya membuatku semakin ingin membunuhnya,, membunuh mereka yang berani menyentuh milikku. "


Tak sampai dua puluh menit Axel sudah tiba di parkiran rumah sakit dan menuju dimana ruang rawat ibu Baby berada.


Tanpa mengetuk Axel membuka pintu dengan kasar, sontak saja Baby pun berjengit kaget dan berdiri dari duduknya "Tuan..?" Baby melihat raut Axel yang merah juga sorot mata yang tajam melihat kearahnya, membuatnya sedikit meremang "Ada.. apa?" Baby melihat kearah ranjang, lalu menghembuskan nafasnya Angel masih tidur.


Axel berjalan mendekat masih dengan tatapan tajamnya "Apa kau sudah membaca kontraknya?"


"Su..sudah tuan" Baby berjalan mundur saat Axel terus berjalan mendekat, melihat mata merah Axel membuat Baby semakin gugup dan takut.


"Jika begitu seharusnya kau tau bukan, apa saja yang boleh dan tak boleh kau langgar" mengapa Axel jadi terlihat menyeramkan ada apa? Baby membeliak kaget saat rahangnya dicengkeram oleh Axel "Aku tak suka milikku disentuh orang lain.." nafas Axel menderu tepat di depan wajah Baby, suara Axel pelan tapi juga menusuk ,membuat Baby semakin menciut "Bukankah aku sudah membeli mu dengan harga mahal, harusnya kau tau diri.. tapi apa yang bisa ku harapkan saat yang ku beli memang seorang ja lang,.*** *** tetap saja ja lang, tak cukup dengan satu pria.." nafas Baby terasa tercekat dan sesak bukan karna cengkraman tangan Axel di rahangnya tapi karna perkataan Axel yang sungguh menyakitinya. ya dirinya memang Ja lang, sejak dulu, tapi mengapa sampai sekarang ia tak bisa menerima kenyataan itu.


Baby mengerjap beberapa kali mencoba menghalau air mata yang hendak keluar ia tidak boleh menangis "Apa.. ma..ksudmu tuan..?" Baby bicara terbata rahangnya yang di tekan membuatnya sulit bicara.


Axel semakin menekan Baby seolah menyalurkan emosinya "Selama kau masih milikku tak ada yang boleh menyentuhmu, termasuk kekasihmu" Baby mengeryit kekasih..? dari mana ia punya kekasih lagi pula siapa yang mau menjadikan nya kekasih, dirinya hanya wanita malam, ya setidaknya mungkin orang itu hanya ingin menjadikan dirinya pemuas nafsu belaka bukan kekasih sesungguhnya, seperti yang dilakukan Niko sialan itu di masa lalu. tidak ada kekasih, lalu siapa yang Axel bilang kekasih?


Baby mencoba memutar ingatannya sejak pagi hingga sekarang dan ia baru ingat jika tadi ada Alfredo dan mereka berpelukan,lalu Baby teringat pada seorang pria bertubuh besar yang sejak tadi berdiri di depan pintu. ah, ia diawasi..


Baby memberontak dan berhasil melepaskan diri "Baiklah aku mengerti tuan, lalu mengapa kau harus kasar, rahangku sakit.." nafas Baby terengah rahangnya sungguh kebas.


Axel menyeringai "Aku akan lakukan lebih dari ini jika kau melanggar isi kontraknya.."


"Ternyata kau sangat kasar tuan.." Baby mendongak saat Axel kini menjambak rambutnya, seharusnya Baby ingat saat Axel mengacungkan pistol kearahnya, Axel memang seorang penjahat.


"Kau bahkan terlalu cepat menilaiku,.." Axel melepas kasar jambakannya hingga kepala Baby tertoleh kesamping.


Baby menormalkan rautnya lalu tersenyum


"Baiklah.." setidaknya Baby bisa membentengi dirinya jika sikap Axel kasar padanya ia tak akan mudah jatuh cinta, dan tetap menjaga kewarasannya. satu hal yang Baby takutkan jika sikap Axel melembut.. yaitu jatuh cinta "Dan maafkan aku, mulai hari ini aku tidak akan menemui kekasihku.. dan juga menjaga batasanku seperti katamu aku milikmu sampai kamu sendiri yang membuangku"


Axel semakin terbakar saat Baby sama sekali tak menyangkal bahwa dirinya memang mempunyai kekasih.. sial Axel semakin tersulut dan apa katanya miliknya hingga Axel membuangnya, itu memang benar, tapi jangan harap Axel akan melepaskan Baby dengan mudah "Bagus.. setidaknya kau sadar siapa kau sekarang.. ingatlah posisimu"


Baby mengangguk lalu tersenyum, melihat Baby yang masih tersenyum saat Axel menyakitinya, membuat ego Axel sedikit tersentil, sial.. apa menggunakan ancaman adalah kesalahan tapi Axel ingin Baby takut padanya hingga Baby tak bisa berbuat macam macam dan meremehkannya.


Axel mendengus lalu berucap "Dua hari lagi Dion akan menjemputmu, siap atau tidak kau harus ikut" Baby hanya mengangguk, dan membiarkan Axel pergi begitu saja, hingga saat pintu sudah tertutup baru Baby jatuh terduduk.


..


.


"Mom..?" Baby berjengit saat suara Angel memanggilnya, apa Angel mendengar perkataannya dan Axel tadi..


"Ya sayang.."


"Apa nenek sudah bangun?" Baby menggeleng, sambil menghela nafasnya, mungkin Angel tak mendengar baguslah.. dan Axel tadi tak terlalu lantang berbicara, semoga Angel tak mendengar.


"Angel sejak kapan bangun?" Baby menghampiri Angel dan menurunkannya dari ranjang


"Baru saja mom" Angel mengucek matanya,yang sedikit perih karna baru saja bangun tidur.


"Baiklah.. Cuci muka mu sayang, kita akan makan malam" Angel mangangguk lalu pergi kearah kamar mandi.


Baby menyiapkan makanan yang sudah dibeli Alfredo sebelum pulang tadi, untuk dirinya dan Angel, Alfredo memang perhatian dan Baby harus mengucapkan selamat tinggal pada perhatian Alfredo untuk sementara waktu agar Axel tak marah.


Setelah selesai makan Baby dan Angel duduk berdua di sofa, dengan Angel yang bermain dengan ponsel sedangkan Baby menatap ranjang dimana ibunya masih terbaring entah kapan ibunya akan bangun sedangkan ia juga harus terpisah dengan Angel beberapa waktu, Axel memang mengizinkan Baby untuk menjenguk Angel namun tak bisa pergi semaunya, Axel benar benar mengikat Baby.


Baby memang bisa sedikit bernafas lega, saat perawatan Ibunya terjamin dan hutangnya pada para rentenir terbayar lunas, Baby juga tak perlu takut tentang keadaan Angel, Axel memberikan pengasuh yang akan menjaga Angel 24 jam, dan memastikan Angel aman.. tapi ketakutan terbesar Baby adalah, Angel akan semakin merasa kesepian setiap harinya.


Baby melihat Angel yang masih bermain ponselnya "Angel..?"


Angel mendongak dan melihat ka arah Baby "Ya mom?"


Baby menarik nafas "Ada yang harus mom bicarakan dengan Angel.." Angel masih diam dan menatap Baby dengan mata bulatnya.


"Mulai besok mom harus bekerja sedikit jauh, jadi.. mom tidak bisa pulang setiap hari.. mom harap Angel mengerti, dan akan ada pengasuh yang akan menemani Angel nanti.. setiap akhir pekan mom akan usahakan pulang.." saat Baby masih bicara Angel tiba tiba menyela


"Angel tau mom"


Baby mengatupkan bibirnya


"Mom bekerja untuk Om tuan bukan?"


.


.


.


.