
"Ya ampun beneran loh, Kak."
"Ya Adek doakan saja ya ... Kakak keatas dulu, mau bilang Mas Fabian suruh makan malam, dia belum makan kan?"
"Hm belum, tapi Kaira nggak tau ... Biasanya di pondok makan bareng-bareng, tapi tanyain saja sama Kak Fabian nya." sahut Kaira.
"Ya sudah Kakak keatas dulu ya ..."
"Iya, Kak."
Adiba melangkahkan kakinya keluar dari dalam dapur.
Ceklek~
Pintu kamar dibuka, Adiba masuk, ia melihat Fabian yang sibuk dengan laptop pada pangkuannya, Adiba masuk pun hanya menjawab salam lalu tidak menoleh sedikit pun pada istrinya.
"Mas, em, makan dulu" ujar Adiba pelan, Fabian menghentikan kegiatannya lalu menatap istrinya.
"Apa? Kecil sekali suaramu, mana bisa di dengar." Fabian mendengus kesal.
"Makan" sahut Adiba sedikit mengeraskan suaranya.
"Nanti saja, masih banyak yang harus aku kerjakan dulu." jawab Fabian mengerti, lalu kembali fokus pada layar laptopnya.
Adiba memutar bola matanya malas, ia segera kembali turun ke bawah. Fabian yang melihat istrinya keluar kamar, membiarkannya karena ia pikir akan bermain bersama adiknya.
Beberapa menit kemudian Adiba masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman di atasnya.
"Makan dulu, nanti kalau kamu sakit di kira Umi sama Abi, aku yang nggak bener masaknya." ujar Adiba datar dan menaruh di depan meja sofa, tepat di depan Fabian.
"Makan dulu, Mas. Keburu dingin soup nya, aku keluar dulu, mau nemenin Kaira berkemas."
Baru saja Adiba berdiri, tiba-tiba saja tangan nya langsung di tahan oleh suaminya, tangan Adiba bergetar, Adiba mengernyit kan dahinya heran.
"Kamu nggak lihat aku repot? Kalau mau jadi istri yang sholehah, duduk disini dan suapi aku makan." ujar Fabian sambil menaik turunkan alis nya.
"Eh ... Sudah di tungguin Kaira di bawah, Mas. Nggak enak aku nya." ujar Adiba sambil berusaha melepaskan tangannya, tapi tak berhasil karena tenaga Fabian lebih kuat darinya.
"Biarkan saja, setelah aku selesai makan, kamu boleh temani Kaira." Fabian menarik Adiba hingga duduk di samping nya. "Cepatlah, aku lapar." imbuh Fabian.
Fabian berusaha berdamai dengan keadaan, bagaimana pun juga ia mengerti bahwa kehidupan yang sudah di takdirkan oleh Allah adalah hal terindah yang tak dapat orang lain rasakan.
Dengan cekatan, Adiba menyuapi suaminya bak anak kecil yang di suapi oleh ibunya. Fabian hanya bagian mengunyah dan menelan saja, Fabian juga terkekeh di dalam hatinya melihat wajah istrinya yang cemberut.
"Kenapa mukanya begitu, hm? Nggak ikhlas?" celetuk Fabian.
"Apanya? Ini cepetan sedikit lagi mau habis loh, Mas." Adiba melayangkan sendoknya di depan mulut Fabian.
"Iya-iya" Fabian menurut dan kembali mengunyah suapan dari istrinya.
"Cepetan di kunyah, Mas. Sudah malam kasihan Kaira nungguin aku di bawah." ujar Adiba, suaminya ini mengulur-ulur waktunya, sudah ada sekitar 15 menit makanannya belum habis.
"Hm" gumam Fabian lalu melebarkan mulutnya lagi.
Tak lama kemudian nasi di piring itu habis, Fabian segera meneguk minumnya yang masih tergeletak di depannya.
"Alhamdulillah." ucap Fabian lalu menutup laptopnya, sedangkan Adiba sudah keluar lebih dulu setelah melayangkan suapan terakhirnya.
"Enak juga ya di suapin, nggak repot. Bisa masak juga dia, enak lagi ..." batin Fabian terseyum.
***
Tok ... Tok ... Tok ...
"Assalamualaikum Dek Kaira? Ini Kakak,"
"Masuk saja kak," seru Kaira dari dalam kamar. Adiba membuka pintunya, baru pertama kali ini ia masuk ke dalam kamar adik iparnya. Kamar bernuansa hijau matcha dan hiasan-hiasan seperti quotes-quotes islami, pot bunga kecil, dan beberapa menik-manik lainnya membuat suasana semakin tambah sejuk saja.
"Sini biar Kakak bantu gosokin baju kamu," ujar Adiba yang melihat Kaira sudah lemas dengan tangan-tangan yang menempel pada setrikaan.
"Nggak usah, Kak. Biar Kaira saja, ini cuman tujuh baju lagi kayaknya." tolak Kaira halus.
"Ya sudah nggak apa-apa, sini biar Kakak bantuin, kamu kemas barang yang lain saja." Adiba mengambil setrikaan dari tangan Kaira, Kaira menggarukkan kepalanya yang tidak gatal.
"Hm, Kaira kemas yang lain saja ya, Kak. Terimakasih Kak" ujar Kaira, Adiba yang sedang melanjutkan pekerjaan Kaira hanya mengangguk.
Semua baju sudah selesai di masukkan ke dalam koper, Adiba masih membantu Kaira membersihkan kamarnya yang mungkin jarang di huni jika Kaira tidak ada di rumah.
Pukul 22.00 malam, Adiba dan Kaira baru saja selesai membersihkan kamar milik Kaira. Tentu saja Kaira amat senang karena pekerjaannya di bantu oleh kakak iparnya.
"Kak terimakasih ya sudah membantu Kaira, maaf merepotkan." ujar Kaira lalu memeluk Adiba.
"Sudah ... Nggak apa-apa, kamu sekarang istirahat yang cukup. Kakak keatas ya? Nanti besok kakak ikut anter kamu ke bandara, kalau sama Mas Fabian bolehin ..."
"Bolehlah, Kakak harus ikut. Umi sama Abi nggak ikut ... Umi masih harus banyak-banyak istirahat." ujar Kaira menjelaskan.
"Iya, nanti Kakak ikut."
"Sudah sana Kak Adiba ke kamar gih, nanti Kak Fabian marah-marah lagi," kata Kaira "Nanti aku di salahin, hmm" tambah Kaira cemberut.
Adiba masuk, keadaan kamar sudah tidak seperti tadi lagi, kini Fabian sudah terlelap di atas kasurnya, Adiba masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci wajahnya lalu menggosok gigi yang sudah menjadi kegiatan biasanya sebelum tidur.
"Eum, lebih baik aku tidur di sofa saja." gumam Adiba, kemudian wanita itu mengambil bantal dan mulai menyusunnya di sofa.
Sebelum tidur, Adiba mematikan lampu kamarnya, dan kembali ke sofa, langsung saja Adiba merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk. Tak lama kemudian Adiba terlelap di dalam tidurnya.
***
"Eughhh" Fabian menggeliatkan badannya ke kanan dan ke kiri. Melihat jam yang ada di dinding ternyata sudah pukul 3 dini, Fabian duduk lalu teringat Adiba, ia melebarkan matanya melirik kasur yang ternyata hanya ada dirinya saja.
Mata nya menyorot seseorang yang sedang tidur di atas sofa, Fabian menggeleng kepalanya pelan lalu beranjak dari kasur.
Fabian mengangkat tubuh kecil istrinya dan meletakkannya di atas kasur, lalu Fabian menyelimutinya, membiarkan istrinya tertidur. Adiba tidak terusik sama sekali, ia bahkan semakin terlelap mengarungi mimpi nya.
Seperti biasa, Fabian harus bersiap untuk berangkat ke pondok. Fabian terlebih dahulu mengambil air wudhu lalu sholat tahajud, berdzikir dan melafalkan doa-doa yang lainnya.
Setelah selesai, Fabian mengambil pakaian di dalam lemarinya dan bersiap untuk mandi.
Adiba perlahan membuka matanya, ia kaget karena tiba-tiba saja dirinya sudah berada di atas kasur, padahal ia teringat semalam tertidur di sofa.
"Apa Mas Fabian yang memindahkan ku? Ishh" Adiba jengkel "Berarti ia juga menyentuh badan ku? Aaaaa nggak, nggak" sambung Adiba sedikit berteriak.
"Hey Adiba, berhenti berteriak. Pergi mandi dan cepat bersiap ikut aku ke pondok, Ambu ingin bertemu dengan mu." ujar Fabian yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Adiba menutup matanya karena Fabian masih menggunakan kaus pendeknya.
"Pakai bajunya dulu, lalu keluar. Jangan seperti itu, aku nggak terbiasa." seru Adiba, Fabian hanya terkekeh.
"Ya, maafkan aku. Sudah-sudah, bukalah matanya ..."
Adiba membuka tangannya yang menempel pada wajahnya.
"Mandi jam segini dingin, Mas."
"Segar ... cepat mandi aku tunggu di sofa. Jangan lama-lama nanti kita telat." ucap Fabian lalu duduk di sofa sambil membaca beberapa buku kitab.
Adiba menurut saja, dan pergi ke dalam kamar mandi. Memang air pagi sangat dingin tetapi lebih banyak manfaat jika mandi pada jam tersebut bahkan bisa membuat kalori terbakar lebih banyak, meningkatkan sistem daya tahan tubuh, melancarkan sirkulasi darah, dan dapat mengurangi tingkat stres pada pikiran.
Adiba sudah selesai dengan ritual mandi pagi nya yang menjadi perdana baginya, sangat dingin tetapi benar apa yang di katakan suaminya tadi membuatnya terasa segar.
"Sudah, Mas." Adiba berdiri di depan suaminya menenteng tas yang berisi mukenah.
Fabian yang sedang membaca buku kitab pun mendongak menatap istrinya yang sudah rapih, dengan di balut baju muslim nya membuat istrinya semakin tambah cantik saja.
"Ayo ..." Fabian berjalan lebih dulu, mengambil kunci mobilnya di atas laci dan berjalan keluar kamar, diikuti Adiba dari belakang.
Bu Aisyi yang sedang duduk di depan, melihat Adiba sudah rapih ia tersenyum karena Adiba menghampirinya.
"Adiba? Kamu mau ikut ke pondok?"
"Iya, Mi." Adiba mencium tangan Bu Aisyi. "Umi sudah sehat?"
"Alhamdulillah, Umi sudah sehat. Sudah cepat sana keluar, nanti keburu telat subuh nya ..." Bu Aisyi mengelus lengan Adiba lembut.
"Iya, Mi. Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam."
***
Di dalam mobil, Adiba hanya terdiam saja, Fabian pun begitu, masih terasa sangat canggung.
"Mas, nanti boleh nggak pulang nya mampir dulu ke rumah Ibu?" ujar Adiba pelan, tak berani menatap mata suaminya.
"Hm boleh, nanti aku bilang ke Umi supaya nggak nunggu kita sarapan." jawab Fabian.
"Terimakasih, Mas." sahut Adiba.
Tak ada lagi pembicaraan yang mereka ucapkan lagi, hingga Fabian memakirkan mobilnya di depan area pondok yang lumayan luas itu.
Fabian turun, Adiba lantas turun mengikuti suaminya.
"Kamu sholat di sana, setelah sholat mampir dulu ke rumah Ambu Anin yang itu rumahnya, kamu tunggu saja di sana nanti aku kesana." ucap Fabian menunjuk rumah Ambu Anin. Adiba melihat arah tangan yang di tunjukkan oleh suaminya dan mengangguk paham
Adiba berjalan di barisan para santriwati yang sudah ramai, mereka semua berbondong-bondong membawa al-qur'an serta mukenahnya ke dalam masjid, ada juga yang sudah menggelar sajadahnya tetapi tidak ada orangnya.
"Permisi ... Permisi ..." Adiba berjalan sambil mendunduk, mencari tempat yang kosong.
Setelah dilihat ada bagian yang kosong, Adiba duduk dan menggelar sajadahnya.
"Ini tempat biasanya Ustadzah Nanad, Mbak." ujar salah satu santri, Adiba yang sudah duduk pun kembali berdiri lagi.
"Sudah-sudah, nggak apa-apa, sini Mbak sholat dekat saya." ujar Ustadzah Nanad yang ternyata Nadhifa.
"Terimakasih, maaf Mbak." ujar Adiba menunduk.