
Paginya, mereka semua berkumpul karena memang harus berbelanja seserahan karena waktunya yang sudah mulai mepet yakni 6 hari lagi.
Sedangkan Fabian tidak ikut karena ia sedang memilih konsep pernikahan serta lainnya, dia hanya memberikan kartu Black card nya kepada Umi nya untuk membayar semua nya.
Mereka sudah sampai di depan Mall, Adiba yang first time masuk ke dalam Mall melihat banyak nya lampu membuatnya senang.
"MasyaAllah ..." ujar Bu Amirah.
"Bagus ya Bu tempat nya ..." sahut Adiba sambil memegang tangan Bu Amirah.
"Kamu mau beli apa Adiba?" tanya Bu Aisyi kepada Adiba.
"Terserah Bu Aisyi saja, Adiba pengen ibu yang memilih saja."
"Jangan sayang, ibu dapat amanah dari Fabian kalau seserahannya sesuai keinginan kamu, cepat kamu mau apa?" tanya Bu Aisyi,
"Adiba mau baju saja bu hehe ..." Adiba tersenyum malu.
"Oke nak, mari kita ke toko baju." ujar Bu Aisyi.
Setelah memilih baju yang cocok dan pas dengan badan Adiba, mereka lanjut memilih tas, mukenah, sepatu dan yang lainnya.
"Kak! Ini nya nggak sekalian? Iya kan Umi?" tanya Kaira meneteng baju tipis seperti jaring dengan motif berenda di depannya.
"Heh!" Adiba menggeleng pelan, membayangkannya saja membuat dirinya geli.
"Mau? Boleh deh ... biar Fabian suka." Bu Aisyi ikut memilih baju haram dengan Kaira.
"Beli saja Dib, satu saja buat berjaga-jaga, barang kali Fabian menginginkannya," sahut Pak Alzam.
"Pak ..."
"Tidak papa, santay saja Diba, jangan malu seperti itu." imbuh Pak Alzam.
Adiba sedikit melirik Bu Aisyi yang sedang bertanya-tanya kepada pelayan "Ahh- Ibu ... Tidak usah, nanti Adiba beli sendiri saja dengan mas Fabian." cegah Adiba sambil memegang tangan Bu Aisyi.
"Nanti kalian tidak ada waktu, kamu pasti ikut Fabian ke Kairo setelah menikah nanti, sudah tidak papa jangan malu, menyenangkan suami dapat panyak pahala loh, iya kan Bu Am?"
"Iya Bu Aisyi, sudah nanti simpan saja baju nya kalau Diba belum siap." sahut Bu Amirah terkekeh melihat anak polos nya ternyata sudah tahu begituan.
"Nah betul, pentung aja kepalanya kalau Kak Fabian nyosor terus hahaha ..." sambung Kaira.
"Iya Adiba, Ibu hanya membelikan saja, kalau yang memakai terserah Adiba saja kapan memakainya." Bu Aisyi mengambil baju haram dengan dua warna, warna merah dan hitam.
Adiba malu di buatnya, entahlah dia harus menurut keinginan kedua orang tuanya.
Dari Sepatu & sandal, baju, jilbab, alat make up, dan lainnya di beli dari toko branded dengan harga yang cukup fantastis, Bu Aisyi tidak memikirkan harganya karena sudah ada ATM milikik Fabian, tinggal gesek saja di bagian kasir.
"Terimakasih Pak, Bu, atas semuanya ..." ujar Adiba ketika telah sampai di depan rumah nya.
"Sayang! Jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit." seru Bu Aisyi.
"Iya Ibu ..."
"Saya pamit dulu Am!"
"Hati-hati Bu Aisyi, Pak Alzam ..." Kaira hanya melambaikan tangannya saja dari dalam mobil karena mulutnya sudah penuh dengan kebab yang dia beli tadi sebelum pulang.
***
"Assalamualaikum ...."
"Waalaikumsalam" ujar Fabian yang masih duduk di kursi di temani rokok serta kopinya.
"Rokok terus Kak!" ancam Pak Alzam.
"Pahit Bi lidahnya, hanya satu batang saja kok."
"Kakak sedang apa?" tanya Kaira sambil melepas jaketnya.
"Kerja lah Dek, terus apalagi." jawab Fabian memainkan laptop di pangkuannya.
"Kak masa iya nanti Adek lihat kakak menikah cuman ijab kabul nya doang! Adek disuruh berangkat siangnya sama atasan Adek."
"Ya Gapapa, Kakak juga paling nanti langsung ke Kairo. Boleh kan Bi?"
"Ya boleh, ingat Kak, Abi percaya kamu bisa menjadi imam yang baik buat Adiba, jangan kasar sama perempuan." ujar Pak Alzam.
"Iya Bi, tapi mungkin Kakak dan Adiba beradaptasi dulu, lihat saja Adiba sangat polos sekali seperti itu bagaimana bisa langsung mengimbangi Kakak,"
"Ya Abi mengerti, tolong jangan sakiti dia."
"Iya Bi ..."
"Kak! Jangan lupa pulang, enak saja Adiba dibawa kesana, Umi juga pengen ngerasain punya menantu." sahut Bu Aisyi.
"Iya Mi tenang saja." Fabian terkekeh. Ada-ada saja Umi nya ini.
Entahlah saat ini Fabian sudah pasrah, tinggal menghitung hari saja ia sudah menjadi suami dari perempuan yang sama sekali ia tidak kenal sifat dan wataknya, Fabian berharap istrinya nanti bisa saling memahami dengannya.