
Setelah memberi perawatan pada petugas gerbang yang tak lain menteri pertahanan, Hyun mengajak Yin dan Yun ke dapur. Dia mengajak keduanya untuk membersihkan dapur.
Setelah bersih, Hyun mengambil semua peralatan dapur dan bahan belanjaan dari cincin ruang. Kemudian meletakkannya dengan rapi.
Yun mengisi gentong dengan air yang ada disumur. Untungnya sumurnya masih dalam kondisi baik. Begitupun dengan air yang ada didalamnya.
Yin bertugas untuk bersih-bersih. Dia membersihkan rumah dimulai dari ruang tamu.
Lion masih berada di kamarnya. Ternyata dia kembali tidur saat Hyun dan yang lain keluar.
Hyun mengambil daging yang ia beli dan memotongnya menjadi beberapa bagian. Setelah itu membersihkannya hingga bersih.
Yun yang sudah mengisi gentong, lanjut mengambil kayu bakar dan membawanya kedalam. Setelah itu menyalakan api untuk memasak.
Setelah lah dagingnya bersih, Hyun lanjut membuat bumbu yang akan dipakai untuk membakar daging. Setelah selesai ia memberikan daging serta bumbunya kepada Yun agar dibakar.
"Sekarang giliran kamu yang membakar," ucap Hyun dengan santai.
"Oke!"
Yun menerimanya tanpa banyak protes. Kemudian membakarnya sesuai yang sudah pernah Hyun ajarkan.
Kini Hyun berencana membuat bubur ayam . Bubur itu nantinya dimakan oleh menteri pertahanan. Hyun yakin jika tak lama lagi ia akan bangun.
Selain membuat daging bakar dan bubur ayam , Hyun juga membuat ayam goreng dan kentang goreng. Tidak lupa dengan saosnya.
Harum daging bakar ternyata membuat Lion yang sedang tidur terbangun. Dengan muka bantal Lion berjalan kedapur.
Penampilan Lion nampak imut dan juga lucu. Siapapun yang melihatnya pasti gemas.
"Wah...benar-benar ada daging bakar!" seru Lion dengan heboh.
Lion berlari menghampiri Yin yang masih fokus membakar. Dia hanya menoleh sekilas kearahnya. Hyun terkekeh geli melihatnya.
"Cuci dulu muka kamu!"ucapnya dengan tegas.
"Nanti saja. Bolehkan aku minta dagingnya satu saja," pinta Lion dengan melas. Perutnya sudah tidak tahan untuk segera melahap daging yang sudah dibakar.
"Jangan harap. Kita makan bersama nanti. Lebih baik sekarang kamu mandi agar lebih segar."
Mendengar kata mandi membuat tubuh Lion begidik. Kalau boleh dia tidak usah mandi sekalian. Namun ia yakin Hyun tidak akan memberinya makan.
Mau tidak mau Lion berjalan ke kamar mandi. Ternyata bak air sudah terisi penuh. Jadi dia tidak harus mengisinya kembali. Apalagi dengan tubuh sekecil itu bagaimana ia akan mengambilnya.
Hyun lupa jika ia belum meletakkan sabun mandi. Namun keburu Lion mandi. Jadi dia membiarkan Lion mandi tanpa sabun.
Akhirnya masakannya semua matang. Hyun dan Yun membawanya ke ruang makan. Untungnya Yin sudah selesai membersihkannya.
Lion duduk dengan tenaga di kursi. Sebenarnya dia juga ingin membantu, namun Hyun melarangnya.
"Mari makan!" seru Lion dengan semangat. Dia sudah tidak sabar untuk menyantap daging bakar didepannya.
"Pelan-pelan...semua sudah ada bagianya masing-masing,"ucap Hyun begitu melihat Lion buru-buru mengisi piringnya dengan daging bakar
Lion tidak menghiraukan ucapan Hyun. Dia langsung menggigit daging yang sedari tadi menggodanya.
"Dasar singa rakus!" sindir Yin sambil mengisi piringnya.
Tak ada tanggapan dari Lion. Bagi Lion daging ditangannya lebih menggiurkan.
Hyun geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka. Dia juga mengisi piringnya dengan kentang goreng dan daging bakar.
Dagingnya matang secara sempurna. Begitu digigit bumbunya langsung terasa. Dagingnya juga tidak alot. Keempatnya makan dengan lahap.
Menteri pertahanan ternyata sudah bangun. Karena kondisinya masih lemah, dia tetap berbaring di atas ranjang.
Ceklek!
Muncullah Hyun sambil membawa nampan yang berisi bubur ayam dan minuman. Hyun sudah menduga jika menteri Li sudah bangun. Untuk itulah setelah makanannya habis, dia langsung membawa bubur untuknya.
"Nyeri dan juga agak pusing. Terimakasih sudah menolong Paman. Paman tidak menyangka jika kamu pandai bertarung."
"Aku memang sudah berlatih sejak kecil Paman. Paman tahu sendiri kondisi di desa ku."
Menteri Li mengangguk. Jika yang diucapkan Hyun benar melihat kondisi desa Karo saat ini. memang sangat penting baginya untuk berlatih.
"Kenapa tubuhku rasanya lemas sekali. Bahkan untuk duduk saja rasanya sulit."
"Tadi paman terkena sayatan pedang beracun. Meskipun saat ini racunnya sudah saya keluarkan namun paman masih butuh untuk kembali pulih. Dan jangan lupa untuk mengisi perutnya."
Dari sekian banyak kata yang diucapkan Hyun, namun dia hanya mengingat, "Racunya sudah saya keluarkan".
"Jadi kamu yang mengobatiku?"tanya menteri Li kaget.
"Tentu saja. Memangnya siapa lagi yang akan mengobati paman? ketiga saudaraku juga tidak mengetahui tentang pengobatan."
"Saya pikir kalian memanggil tabib."
"Rumah tabib saja kami tidak tahu. Sedangkan racun yang ada di tubuh paman harus segera dikeluarkan. Kalau tidak mungkin saat ini paman sudah meregang nyawa."
Deg!
"Apa kamu mengerti berbagai racun?"tanya menteri Li dengan mata berbinar. Jika benar maka keponakannya bisa sembuh.
"Bisa dibilang begitu. Tapi tidak bisa semua racun, saya bisa mengobatinya."
"Maksudnya?"
"Bukankah di dunia ini ada berbagai macam racun. Tidak mungkin kan saya bisa menyembuhkan semuanya."
Mendengar hal itu mata yang tadi berbinar kini kembaki redup. Hyun yang sedari tadi memperhatikan menyadarinya.
"Kenapa paman?"
"Keponakan saya juga mengalami nasib yang sama sepertiku. Aku bersyukur bisa langsung sembuh seperti ini. Namun keponakanku sudah lebih dari setahun namun beku juga sadar.
"Waduh...sepertinya racun itu sangat ganas. Memangnya tidak ada tabib yang memeriksanya?"
"Sudah banyak tabib yang berusaha untuk mengobatinya.Namun hingga saat ini kondisinya masih tetap sama. Kalau kamu memang yang sudah menyembuhkan Ku, apakah kamu mau mengobatinya?"
"Urusan itu bisa kita bicarakan nanti. Sekarang lebih baik paman segera mengisi perut dulu."
Karena menteri Li masih lemas, mau tidak mau dia harus menyuapinya. Menteri Li juga tidak menolak.
Begitu bubur itu masuk kedalam mulut, Menteri Li tertegun. Dia tidak menyangka jika rasa bubur itu sangat enak. Dia pun memakannya dengan lahap.
Setelah makanan habis, Hyun memberi menteri Li sebutir obat untuk diminum. Menteri Li meminumnya tanpa banyak tanya.
"Sekarang bagaimana?"
"Tunggu sampai keadaan paman membaik. Nanti aku akan ikut ketempat keponakan paman dirawat."
"Betulkah?"
"Tentu saja. Pantang bagiku untuk berbohong."
"Syukurlah kalau begitu."
"Sekarang paman istirahat saja dulu. Aku akan kembali ke dapur."
Setelah mengatakan hal itu, Hyun langsung membawa piring yang sudah kosong keluar dari kamar. Lalu membawanya kedapur.
Sedangkan menteri Li kembali tertidur. Hal itu dikarenakan obat yang tadi ia minum mengandung obat tidur.
Untuk sementara menteri Li akan tinggal di rumah itu.