
Pangeran Ji Won dan Hyun saat ini memang berada di desa mati. Disebut desa mati karena tidak ada penduduk yang tinggal di desa tersebut . Sehingga tidak ada aktifitas seperti desa lainya.
Rumah yang ada di desa tersebut tidak lebih dari tiga puluh rumah. Entah apa yang menyebabkan mereka meninggalkan desa tersebut.
"What!! Desa mati?" pekik Hyun dengan wajah terkejut.
"Hemm...."
"Kok bisa dinamakan desa mati?" tanya Hyun penasaran.
Tidak mungkin bukan jika sebuah desa tiba-tiba saja menjadi desa mati. Pasti ada sesuatu yang menjadi penyebabnya.
"Seperti yang kamu lihat. Tidak ada seorangpun yang berada di desa ini."
"Memangnya di desa ini pernah ada kejadian apa?"
"Aku tidak begitu faham. Hal itu sudah terjadi sejak bertahun-tahun lamanya."
Hyun mengernyitkan dahinya. Ada yang aneh dengan cerita pangeran Ji Won. Dia memperhatikan beberapa rumah yang tidak jauh darinya.
"Kok ada yang aneh..."
"Aneh?"
"Benar. Lihat rumah-rumah itu. Bukankah jika rumah itu tidak berpenghuni maka rumahnya akan kotor dan tumbuh semak belukar disekitarnya?"
Pangeran Ji Won menatap kearah rumah-rumah tersebut. Benar yang dikatakan Hyun. Rumah-rumah itu nampak terawat seolah ada orang yang membersihkannya.
Apa benar ini desa mati?
"Mungkin aku salah. Ini bukan desa mati,"ucap pangeran Ji Won dengan tak yakin.
Tiba-tiba Hyun mencium bau yang sangat busuk. Baunya sangat menyengat, sehingga orang yang menciumnya ingin muntah.
"Huek..."
"Huek..."
"Kamu kenapa?" tanya pangeran Ji Won dengan panik.
Hyun tidak merespon kekhawatiran pangeran Ji Won. Dia masih terus memuntahkan isi perutnya.
Hyun segera berlari menjauh dari tempat itu. Jika tidak, dia akan terus memuntahkan isi perutnya. Pangeran Ji Won mengikutinya dari belakang.
"Akhirnya..." kata Hyun dengan lega.
"Kenapa?"
"Memangnya kak Ji Won tidak mencium bau busuk?"
"Bau busuk?"
"Kakak tidak menciumnya?"
"Tidak."
"Kok bisa?"
"Semacam bau bangkai. Mungkin ada bangkai binatang disitu."
"Kok aku tidak mencium bau busuk sama sekali?"
"Beneran?"
Hyun menatap pangeran Ji Won dengan tanda tanya besar dikepalanya. Kenapa pangeran Ji Won tidak mencium bau tersebut.
Pandangan Hyun tiba-tiba melihat sesuatu yang melintas. Perasaan Hyun tiba-tiba tidak enak.
Belum sempat Hyun bereaksi, tubuhnya tiba-tiba lemas. Begitupun dengan tubuh pangeran Ji Won.
Saat sadar Hyun sudah berada di tempat yang berbeda. Tubuhnya diikat dengan seutas tali. Tidak ada siapapun di ruangan tersebut.
"Sial...siapa sih yang berbuat curang seperti tadi," gumam Hyun dengan kesal.
Pangeran Ji Won juga mendapatkan perlakuan yang sama seperti Hyun. Hanya saja tempatnya lebih bersih.
Keduanya terperangkap di tempat yang tidak mereka bayangkan sebelumnya.
Desa mati sebelumnya merupakan desa yang terisolir dari desa lainya. Tempatnya yang cukup tersembunyi membuat pemerintah sering melupakan desa tersebut.
Meskipun tempatnya terisolir namun tidak membuat desa tersebut kekurangan. Semua kebutuhan penduduk dapat terpenuhi tanpa pergi ke desa lainya.
Hingga suatu hari muncul sesosok siluman lintah . Siluman itu haus akan darah. Untuk tetap hidup siluman itu harus menyerap darah manusia setiap bulan purnama.
Bukan hanya siluman lintah saja yang datang kedesa itu. Berbagai jenis siluman lain juga tinggal disekitarnya. Seperti siluman ular, serigala, buaya dan rubah.
Satu persatu penduduk mulai hilang setiap purnama datang. Tidak ada penduduk yang bisa keluar dari itu untuk meminta pertolongan.
Setiap penduduk yang akan keluar dari desa langsung tewas oleh siluman. Tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan kecuali menunggu kematian. Hingga akhirnya tidak ada satupun penduduk yang tersisa.
Desa lain tidak ada yang mengetahuinya. Begitupun dengan pihak pemerintah. Hingga suatu hari ada utusan istana yang datang ke desa tersebut.
Betapa terkejutnya utusan istana tersebut melihat kondisi desa. Tidak satupun warga yang tersisa. Semua rumah menjadi terbengkalai.
Hingga suatu hari ada seorang yang datang untuk menyegel tempat tersebut karena dianggap berbahaya.
Setelah desa itu tersegel, siluman yang berada di desa itu tidak bisa keluar. Mereka hanya bisa tinggal disana untuk melanjutkan kehidupan mereka.
Kekuatan siluman lintah makin lama makin berkurang. Hingga kini ia bertapa di sebuah gua yang terdapat di tengah tebing.
"Akhirnya setelah sekian lama menunggu kesempatan itu datang juga. Aku sudah tidak sabar menyantap tubuh mereka."
"Jangan gegabah. Aku merasa ada yang aneh dengan tubuh wanita itu."
"Apa maksud kakak?"
"Entahlah. Aku merasa ada suatu kekuatan besar yang tersembunyi ditubuh kecil itu."
"Huuu aku jadi tidak sabar untuk menyantapnya."
Sang kakak merasa frustasi dengan kelakuan sang adik. Adiknya itu sering membuat ulah. Berkali-kali ia memberikan peringatan namun tidak pernah ia dengarkan.
Keduanya merupakan keturunan dari siluman rubah. Orang tua mereka mati dibunuh oleh siluman serigala.