
Setelah melepaskan semua tawanan Chu Lian dan Qin Chen memutuskan untuk kembali, Cang Ren diminta untuk menjelaskan situasi semuanya kepada semua orang dan nama sang Raja dipuja oleh banyak orang.
Qin Chen turun kelapangan sendiri demi membantu Rakyatnya, tentunya ini mendapatkan pandangan positif dari semua orang dan membuat fondasi Kerajaan Langit menjadi lebih kokoh.
Qin Chen mengumpulkan semua orang dan memberikan pengaturan, Cang Ren akan menjadi Komandan Tertinggi dimana nantinya akan mengurus militer. Qin Chen juga mengangkat beberapa Menteri yang memiliki wawasan untuk mengatur Kerajaan Langit.
Penjagaan diperbatasan semuanya diperketat dan bahkan Suku Pedalaman ikut bergabung dengan Kerajaan Langit. Yun Shuang dan Chu Lian selalu menemani Qin Chen dan membantunya dalam pengaturan.
Mengurus sebuah Sekte itu masih terbilang sangat mudah, namun untuk membangun ulang Kerajaan dan struktur kekuatannya adalah sesuatu yang sulit.
Setelah dua bulan lamanya akhirnya semuanya dapat tersusun dengan benar, Qin Chen akhirnya bisa beristirahat dan terlihat lelah sambil duduk disinggasana.
Seorang Penjaga masuk dan berkata, "Yang Mulia... Ada tamu dari Sekte Api Pemurnian, Tuan Muda Fan Ping meminta ijin untuk bertemu !"
Qin Chen mengangguk dan berkata, "Suruh dia masuk !"
Penjaga itu segera keluar dan setelah beberapa waktu Fan Ping bersama dua Tetuanya menemui Qin Chen. Dua Tetua dibelakangnya memiliki basis Kultivasi Tahap Awal Tingkat Raja, sedangkan Fan Ping berada di Tahap Akhir Tingkat Virtual dan merupakan salah satu Jenius terbaik Sekte Api Pemurnian dan Penerus Master Sekte.
Qin Chen meminta Pelayan untuk menjamu tamu dan Fan Ping menerima dengan baik keramahan Qin Chen.
"Ada kepentingan apa sampai Tuan Muda Fan datang kemari secara langsung ?" Tanya Qin Chen dengan sopan.
"Ada beberapa hal Saudara Qin... tapi yang paling utama adalah pergerakan Sekte Iblis beberapa bulan yang lalu. Kami datang kemari untuk mencari tahu detailnya ?" Tanya Fan Ping dengan ramah.
Qin Chen tidak keberatan menjelaskannya dan menceritakan pertarungannya dengan Duan Wuya, tentunya hal ini membuat Fan Ping cukup terkejut mengingat nama Duan Wuya juga cukup terkenal dengan metode yang keji.
"Luar biasa... kau bisa bertarung sengit dengan Duan Wuya !" Kata Fan Ping dengan ekspresi yang terkejut.
"Orang itu sama sekali tidak serius dan memang kuat, aku dan Duan Wuya berjanji akan melanjutkan pertarungan di Medan Perang Kuno sampai salah satu dari kami ada yang mati." Kata Qin Chen dengan tegas.
Fan Ping harus mengakui kalau keberanian Qin Chen tidak sedikit, Tetua Agung sudah memberi tahu segalanya tentang Qin Chen dan memintanya untuk tidak memprovokasinya. Sekarang dia paham mengapa Tetua Agung mengatakan hal ini, takutnya kekuatan Qin Chen mungkin melebihi apa yang dia bayangkan.
Orang sekuat Duan Wuya dengan sifat yang tidak tahu malu mustahil kabur dari Qin Chen, pada dasarnya Duan Wuya kabur karena tidak yakin menang dan bukti Qin Chen masih hidup cukup untuk menunjukan kehebatannya.
"Paviliun Bunga bukan milikku tapi untuk berlatih disana tidak akan jadi masalah, Saudara Fan bisa membayar sedikit Batu Roh kepada Pemilik mereka dan selama tidak ada keributan maka aku akan membebaskannya dalam berbisnis." Qin Chen menyetujui semuanya.
Setelah mengobrol untuk beberapa waktu akhirnya mereka pergi, Fan Ping sendiri juga tidak butuh berlatih dan lebih baik untuk tetap di Sekte. Medan Perang Kuno akan segera dibuka, pada saat itu dia harus mempersiapkan dirinya untuk menerobos ke Tingkat Raja.
Qin Chen pergi ke Kediaman Ratu dan bersantai dengan kedua Istrinya, mereka bertiga menghabiskan waktu dengan hangat dan Chu Lian banyak mendapatkan saran latihan dari Yun Shuang.
"Ada sesuatu yang ingin aku bahas dengan kalian berdua, aku ingin pergi melakukan sesuatu di Dunia luar dan mungkin akan butuh waktu beberapa bulan untuk kembali !" Kata Qin Chen dengan serius.
"Aku tahu kalau kau ingin pergi sendiri tapi sayangnya itu tidak bisa. Yun Shuang akan ikut denganmu dan kau tidak boleh menolaknya, untuk tempat ini serahkan saja kepadaku." Chu Lian harus mengejar ketertinggalan dan tinggal untuk berlatih adalah pilihan yang tepat.
Yun Shuang setuju dengan apa yang Chu Lian sarankan, mereka sudah berdiskusi sebelumnya dan lebih baik untuk mengawasi Qin Chen. Jika tidak berapa banyak lagi wanita yang akan dia ambil nantinya, setidaknya mereka harus membatasi Qin Chen melakukan sesuatu yang aneh.
"Baiklah kalau begitu... jika kau menginginkan sesuatu maka ambil saja di Gudang Harta." Qin Chen tidak bisa menentang keinginan mereka berdua.
"Apakah ada persiapan khusus yang perlu kau bawa, aku akan menyiapkannya !" Kata Yun Shuang dengan penuh semangat.
"Bukan persiapan melainkan ritual khusus yang biasa dilakukan Suami Istri." Qin Chen meraih pinggang mereka berdua dan mencium bibir Yun Shuang.
Chu Lian terlihat panik dan wajahnya memerah karena malu, Yun Shuang mencoba melawan namun Qin Chen menahannya dengan kuat hingga Yun Shuang kehabisan tenaga. Tangan Qin Chen meremas dada mereka dan secara bergantian dia menciumnya. Qin Chen membawa mereka berdua masuk kedalam kamar.
"Jangan lakukan hal memalukan seperti ini, aku tidak masalah jika kau menginginkan kami tapi tidak untuk hal ini !" Kata Yun Shuang dengan malu dan Chu Lian juga sependapat.
"Semakin kalian menolaknya maka semakin membuatku bersemangat. Untuk apa merasa malu didepan Suami kalian sendiri, bahkan jika Xia Ning ada disini aku akan membuatnya bergabung dengan kalian. Ini adalah mimpi terliar yang dimiliki Pria." Qin Chen melepaskan pakaian mereka dan mendorong Yun Shuang untuk berbaring.
Qin Chen langsung bermain dengannya dan meminta Chu Lian mendekat, Chu Lian tidak memiliki pilihan lain untuk patuh dan mendekat kearah Qin Chen untuk bergabung. Qin Chen menciumnya dan secara bergantian memuaskan kedua Istrinya. Sensasi baru ini sangat menyenangkan dan jauh lebih hebat jika merasakannya langsung.
Semalaman penuh mereka bertiga bercinta dengan liar, aroma kamar sudah dipenuhi dengan keringat yang bercampur dan keduanya tertidur pulas dengan penuh kepuasan. Qin Chen memeluk mereka berdua dengan nyaman dan melihat kearah luar jendela.
"Aku harap saat di Medan Perang Kuno aku bisa bertemu denganmu lagi." Qin Chen cukup merindukan Xia Ning.
Dirinya belum memiliki kesempatan untuk pergi mencarinya, namun Qin Chen tidak akan menyerah membawanya kembali kepadanya. Apapun masalahnya Qin Chen bersedia membantunya dan berbagi kehidupan bersama-sama.