
yang memenangkan misi lawu mendapatkan 2 hari untuk libur, salah satunya team elang dari beberapa peraih bendera pemenang.
Terlihat seyum yang sumringah terpancar jelas dari raut wajah mona dan gendis saat berjalan melintasi koridor auditorium, sejauh mata memandang terlihat banyak wajah yang kelelahan akibat misi lawu kemarin,
"reta.....!!"suara panggilan dari mona yang menuju ke arahnya
wajah aretha terlihat murung sedari tadi waktu ketua komandan panitia memberikan pengumuman cuti 2 hari bagi pemenang.
"kenapa murung, dan ga bersemangat sih, kita menang coy jadi harus full seyumm dong" timpa mona lagi sembari merangkul aretha.
"libur 2 hari ga bisa kemana-mana, ga punya saudara di jogja, mau balik ke bandung capek di jalan, huuft" jawab aretha menghela nafas dalam-dalam.
"ikut aku aja ke rumah neneku di jogja,mau gaa ? Dari pada di asrama ga ngapa-ngapin." ajaknya mona
"eeemmm boleh juga, gendis juga ikut kan ya ?"mata mona yang melirik ke arah gendis di ikuti dengan tolehan mona .
"maav temen-temen, aku mau pulang ke ngawi"jawab gendis.
"yaah" timpa aretha.
suasana di kampus tampak sibuk dengan kesibukan masing-masing,
"akhirnya udara jogja terasa juga setelah sekian purnama kita ga bisa keluar asrama dan kampus".suara girang dari mona.
ketiga wanita itu berdiri di depan gerbang kampus dengan wajah yang penuh kegembiraan. Cuaca sangat cerah dan terik matahari dengan bangganya menyinari kota jogja.
"mbak naik becak ndak mbak panas-panas gini mending naik becak saya anterin keliling jogja"tanya abang-abang becak motor ke tiga wanita itu.
Sudah banyak terpakir becak-becak di samping trotoar depan kampus ini, apalagi waktu musim pendaftaran calon taruna taruni baru.
"boleh pak, saya anterin ke terminal bus ya pak" tanya gendis sambil menenteng tas yang di bawa.
"lo amung tiang setunggal maon ini"tanya bapak-bapak becak lagi.
"enjeh pak, kita beda tujuan"timpa gendis.
"ohh nggeh,silahkan mbak" mempersilahkan segera naik di kursi penumpang.
"areta, mona , aku duluan yaa, dada..."lambain tangan gendis ke mereka berdua.
"hati-hati gendiss, salam buat ibuk bapak di rumah"timpa mona yang semakin menjauh dari pandangan.
"iyaaaa, kalian juga hati-hati ya selamat minikmati masa liburan"teriakan gendis mulai samar-samar .
Sekarang tinggal mereka berdua mona dan aretha, yang saling melirik satu sama lain.
"kita naik bis trans jogja aja ya ta, sekalian nanti turun di malioboro dulu gimana?,"tanya mona ke aretha.
"boleh juga, ini kita berarti kalan kaki menuju halte trans dulu"tanya aretha.
"iya gpp kan, tuh liat tuh kita tinggal nyebrang jalan 5 menit nyampe halte"sambil menunjuk ke arah halte yang mau di tuju.
anggukan aretha menandai setuju ajakan mona.
lalu lalang kendaraan yang melintasi jalan raya sangat padat dan orang-orang terlihat sangat sibuk, ada yang terlihat ngamen di lampu merah untuk mencari rizeki, ada juga yang terlihat lagi telepon dengan nada tinggi berdiri di trotoar.
Jaket hitam dan biru tua menyelimuti tubuh dua wanita yang melindungi dari teriknya sinar mentari yang terang benderang, langkah kaki mona dan aretha sedang melintasi zebra cross menuju halte yang akan di singgahi.
Hanya beberapa orang yang menunggu Bus di halte ini, mona dan aretha duduk dan menghela nafas dalam.
"jogja sepadet ini ya tuh lihat mobil-mobil berentetan sampai panjang banget nungguin lampu hijau,"aretha mengeluh
"dimana-mana di jogja padat mbak,apalagi pas musim liburan sekolah"timpa ibu-ibuk yang di sampingnya sedari tadi.
"ehehe iya buk"jawab aretha dengan seyum tipis manisnya.
"mbak sampean taruni di situ nggeh?."tanya ibu itu lagi.
"Boten bu,"aretha mencoba menutupi.
"jangan bohong mbak, lawong aku lihat sampean bertiga tadi keluar dari kampus itu, dan potongan kalian pendek begitu," timpa ibu itu lagi.
"seng tenang mbak, kita lo wes biasa lihat taruna taruni keluar,masuk kampus, cuma nk wes penyamaran kita yo ndak iso bedakne endi intel endi wong biasa".celetuk seorang kakek yang berdiri di antara dua sisi pintu jalur masuk keluar penumpang bus.
"iya mbak kita orang baik-baik, malah kita bangga tugasnya intel kan menangkap orang jahat to."balas ibu-ibu tadi.
"ehehe iya buk" seyum tipis aretha.
"busnya sudah datang, ayo reta". ajakan mona sembari tarik tangan aretha.
"buk mari berdiri busnya sudah datang,"ajak aretha.
"mari buu, kita duluan ya" sapa aretha.
"enggeh monggo"jawab ibu itu terseyum hangat.
aretha dan mona memasuki bus yang di tunggunya sedari tadi,mereka berdiri karena tidak dapat tempat duduk banyak orang-orang yang menuju ke arah malioboro.
Bus pun mulai berjalan menyusuri kota,
orang-orang terlihat antusias menikmati pemandangan sepanjang perjalanan,tak terasa sudah tiba di pemberhentian halte malioboro.
musik angklung mengiringi pejalan kaki di kawasan malioboro yang di bawakan oleh pengamen,ada beberapa pengamen yang menggunakan instrumen dan alat musik tradisional jawa. Seperti seruling, angklung, gendang dan masih banyak lagi.
"kita makan dulu yuk, kamu mau makan gudeg mau ga reta?."tanya mona ke aretha.
"mau, dimana belinya kita jalan kaki di sepanjang jalan malioboro sedari tadi tidak menemukan gudeg tuh mon" tanya areta ke mona,sambil bertedu bawah pohon.
"ada kawasan sentra gudeg yuk kita naik becak aja,"ajakan mona sambil gandeng aretha.
"pak, anterin ke jalan wijilan ya pak."pintaya mona ke bapak-bapak becak yang abis menurunkan penumpang.
"enggeh mbak, mau makan gudeg to mbak"tanya pak becak.
"enggeh pak,"jawab mona
"mari naik, mbak"ajaknya.
mona dan aretha mengikuti arahan bapak becak untuk naik ke becaknya.
Becak motor melaju dengan santai agar penumpang sembari menikmati suasana kota jogjakarta.
"mbak milih kedai gudeg yang mana"tanya bapak becak untuk memastikan penumpangnya.
"yang gudeg mbak lies aja pak,"timpa mona.
"oke siapp mbakk"balasnya tukang becak.
Setelah sampai ke di depan gudeg mbak lies, tampak dari depan sudah sangat ramai dan berdesakan untuk mengantri pesanan makanan.
"mbak mendingan di sebelah aja, soal rasa juga ndak kalah enak sama masakanya mbak lies."saran dari tukang becak itu sembari nunggu tarif yang belum di kasihkan.
meliriklah aretha ke sebelah keday mbak lies,dan terlihat ramai tapi tidak seramai tempatnya mbak lies, masih ada ruang meja kursi yang beberapa kosong.
"mona di situ aja gimana."tanya mona bertanda aretha menyetujui saran dari tukang becak.
"okelah, di situ aja, pak niki artonya, terimakasih ya pak."uluran tangan mona ke tukang becak.
"nggeh mbak,matursuwun"ucapan terimakasih dari tukang becak itu, dan bergegas meninggalkan kedua wanita yang masih berdiri di depan kedai itu.
"gudeg wijilan,"celetuk aretha membaca papan nama yang ada di depan pintu masuk kedai ini sembari menggandeng tangan mona memasuki kedai wijilan.
Ketika gudeg sudah di hidangkan di depan meja mereka, tampak enak dan menggugah selera,
"om, anugraha amrtardi sanjiwani ya namah swaha," lantunan do'a mona.
"yang artinya, mon."lirikan mata aretha sambil menengadah,
"om hyang widhi, semoga makanan ini dapat memberikan kehidupan lahir dan batin yang suci pada hamba"
"aamiin, mari makan",timpa aretha.
Mereka berdua memakan makanan dengan lahap yang telah di sajikan para pelayan kedai ini.
cuaca mendung, sinar matahari tampaknya kalah saing dengan awan gelap, suasana asri masih terjaga di desa ini.
"tok tok tok",ketukan pintu dari luar pintu.
"assallamu'alaikum buk".salam gendis di balik depan pintu.
"wallaikum salam, sekedap njeh"timpa suara di dalam rumah.
"kreeaaak "suara pintu
"ya allah, nduk gendis"perasaan haru karena anak sematawayangnya sudah beberapa taun tidak pulang akhirnya kembali juga.
"ibuuu.."peluk erat gendis ke ibunya.
Suasana pedesaan sangat sepi,orang orang pada sibuk ke kebun, sawah ataupun ladang.