
"guyss kita sudah setengah jam berjalan kaki, coba baca itu kertasnya, "ujar mona ke Gendis yang sedari tadi menggenggam bendera yang di dapat dari bandit itu.
tiga gadis ini menepi dan berteduh di bawah pohon untuk beristirahat dan mengembalikan stamina yang terkuras banyak saat menghadapi bandit tadi,cuaca yang sangat cerah di tambah terik matahari yang semakin semringah dengan hembusan angin di atas ketinggian memberikan kesejukan, daun pepohononan seakan melambai lambai suara gesekan daun dan ranting memicu bunyi yang begitu indah.
Sepi tidak ada siapa-siapa di sini, lima team yang di kerahkan ke gunung lawu via jalur cadi cetho untuk pencapaian misi, sudah berpencar secara terpisah.
Kawasan pos 1 menuju pos 2 biasa di sebut dengan Pos Brak seng di dominasi oleh pohon damar dan pohon puspa, jalurnya yang sedikit menanjak dengan ketinggian kisaran 1.906 Mdpl,terdapat fasilitas shelter dan lahan yang cukup luas, sehingga bisa menampung 5 sampai 6 tenda.
"aku adalah bahan yang wajib di kenakan oleh manusia, orang menyebutku paru bumi, aku terletak serarah jarum jam, pilihlah arahku yg mana banyak terdapat pantai terkenal dengan legendanya, salam Pos Brakseng"tulisan di secarik kertas yang di kaitkan di bendera ini.
"wait wait, orang menyebutku paru bumi, berarti pohon dong"ujar gendis.
"nah bener banget, berarti pohon yang manfaatnya bisa di pakai manusia, emmmmm apaa ya," sambil meneguk air yang ada di botolnya.
"maybe Baju ?"jawab aretha agak ragu.
"nahh benerr baju, jadi pohon yang bisa di gunakan untuk bahan baju"timpa mona lagi
"pohon randu, atau pohon kapas yang biasanya kalau di kampungku, ibuk selalu memungut kapas-kapas yang berjatuhan,jadi kapas bisa di gunakan buat isian sarung bantal dan sebagian di jual ke pengepul yang akan di buat benang setelah itu proses akhirnya jadi kain"jawab gendis dengan pasti.
"nahh itu maksud aku dari tadi"celetuk mona sambil menyengir.
"dih apaan lu mon dari tadi cuma menambahi kata bener aja, wkkwkwkwk kita harus nyari pohon randu, tapi dimana"ujar aretha ,menoleh di sekilingnya.
"kalimat yang terakhir coba baca ndis"perintah mona.
"aku terletak searah jarum jam,pilihlah arahku yg mana banyak terdapat pantai terkenal dengan legendanya salam Pos brakseng"ucapnya gendis.
"arah jarum jam itu ada di utara dan selatan di mana hal tersebut terjadi adanya gaya tarik magnet bumi, kutub utara tertarik oleh kutub selatan magnet bumi, begitupun sebaliknya,nah untuk legendenya sendiri itu berada di pantai selatan karena banyak misteri dan cerita di pantai selatan seperti nyai rorokidul" jelas mona.
Di sertai anggukan dari aretha dan gendis.
"berarti ini pohon kapasnya terletak di selatan"tanya Gendis.
"yaapss, " timpa mona.
"yuk lanjut lagi,"pinta aretha sambil menggendong tas carrier.
mereka bertiga melanjutkan pendakian,langkah demi langkah mereka lalui, tidak terasa jam sudah mununjukan pukul 10:00 Wib siang, sudah sampai pos brekseng di sana baru keliatan pendaki lain yang lagi memasak dan beberapa mendirikan tenda.
"kita lansung istirahat atau melanjutkan misi?"tanya mona ke aretha.
"lansung cari bendera, HT kalian di aktifkan, lihat ini kompas arah selatan ke sana,"menujuk ke arah selatan.
"ga mau istirahat dulu bikin mie atau apa gitu kayak orang-orang yang disini"tanya mona.
"tujuan utama kita disini bukan untuk tamasya, jadi perlu di ingat, semakin kita cepat menyelesaikan misi semakin kita cepat untuk beristirahat, paham kan?" ujar aretha menuju ke selatan serta di ikuti langkah kaki gendis dan mona di belakangnya
"aku sih setuju, tadi kan kita di jalan sudah makan cemilan dan minum kan, tenang ya mona nanti kita makan mie okee"timpa Gendis sambil menepuk pundak mona.
mereka terus menyusuri semak-semak dan dataran yang menurun,hempasan angin mulai terasa, mereka bertiga sudah berada di lereng samping pos 2, dari sini pemadanganya keliatan begitu indah, di dukung dengan cuaca yang cerah,mata tak henti-hentinya terus memandang keindahan alam semesta ini.
"taa, mon itu pohonya menunjuk ke arah bawah"
"tapi sampingnya jurang guys,"tegas mona.
"udah ga papa kita kan ada peralatan"jawab aretha.
Mereka memutuskan untuk turun ke bawah menuju pohon kapas itu, setelah sampai di pohon kapas, ternyata pohon yang dari bawah keliatan kecil di luas ekspetasi mereka bertiga, dan pohon batang pohonnya sangat besar.
"itu putih-putih bendera kita gays, tapi gimana manjatya ?" celetuk mona menengok ke atas pohon.
"tenang, ini gendis kamu yang akan naik,"memberikan peralatan manjat.
"oke, tapi ini peralatan manjat tebing ..? Tapi gpp ada gunanya juga kita hanya butuh pisau buat penopang kaki saat memanjat dan juga tali dan beberapa carabiner, ascender dan hardness,"jelas gendis.
Carabiner, yaitu cincin kait yang menghubungkan alat satu dengan yang lain seperti tali memanjat yang di gunakan untuk manjat tebing.
Ascender biasanya di gunakan untuk membantu pemanjat menaiki lintasan tali.
Sedangkan Hardness alat penopang tubuh yang terikat di pinggang sebagai pengamanan yang nantinya di hubungkan dengan tali.
"aku bisa manjat tapi susah buat turun"jawab Gendis.
" nanti mona bantu kamu pas turun, oke?"perintah aretha.
Aretha mulai memasangkan perlengkapan yang di butuhkan oleh gendis di badan gendis, mona juga sekalian di pasangkan oleh aretha.
mereka mulai beraksi gendis mulai mengikis batang pohon untuk pijakan kaki,karena batang pohon yang sangat besar sehingga tidak ada cara lain selain menggunakan cara gendis ini.
Tak terasa sudah sampai atas dahan pohon kapas, tangan gendis mulai meraih bendera itu dengan sangat pelan-pelan.
"yesss akhirnya,"gumam gendis,meraih benderanya.
gendis mulai mengikat tali ke dahan dengan kuat-kuat dan mengaitkan tali ke carabiner di lanjutkan dengan ascender setelah itu mengaitkan tali ke tubuhnya yang sudah terpasang hardnes pas waktu di bawah tadi.
Sangat pelan-pelan gendis siap siap untuk turun dengan pijakan kaki kanan untuk menopang tubuh gendis, siapa sangka gendis tidak bisa menjaga keseimbangan dan tergelincir sehingga terperosok jatuh ke bawah.
"srrooooooott, buuk"bunyi suara tubuh gendis terperosok dan ke tahan dengan ranting dahan pohon.
"gendiissss...!!!!"terikan mona sama aretha.
Terlihat gendis bergelantungan dan tidak sadarkan diri
"tes satu nyala, gendis, mohon untuk di jawab, ndis,gendis, gendis lu harus bangun"kekhawatiran terlihat dari raut wajah aretha saat suara HT areta tidak ada jawabpan dari gendis.
"Gua yang akan manjat,lo mun jaga jaga disini"perintah aretha.
"taaa jangan di paksain, aku tau punggungmu terluka,saat kamu kena pukul salah satu bandit tadi" dengan mengelus punggung aretha.
saat aretha melindungi mona dari bandit yang menyerang dari belakang.
"biar aku saja yang naik,"ujar mona.
"yakin kamu bisa, ?" tanya aretha memastikan lagi.
aretha yang sebenarnya menahan rasa sakit sedari tadi, tapi kalau mau menolong gendis dia sebetulnya ragu dengan dirinya sendiri karena kedaan punggung aretha yang masih memar dan perlu di obati terlebih dulu.
"yakin, tenang aku pasti bisa,"mona mulai memanjat secara berlahan dan menuju ke arah gendis.
"njir lihat bawah berasa dekat dengan pelukan tuhan"celetuk mona sambil melirik ke bawah yang sudah berada jauh dari atas tanah.
mona menginjakan kaki ke dahan, dan mengikatkan tali ke dahan yang sangat kuat, tangan mona meraih tubuh gendis.
"tes 2 nyala, aretha gendis pingsan deyut nadi sangat lamban,"suara HT dari mona.
"tes 3 nyala, tolong lakukan CPR agar gendis bisa segera sadar"jawab aretha.
"tes 2 nyala, tidak ada tempat buat melakukan CPR, aku bawa lansung turun"balas mona.
mona mengingkat badan gendis dengan mengaitkan ke badan mona,secara perlahan mulai turun dan sampailah ke dasar tanah.
"cepat cepat tidurkan" perintah aretha.
"satu ,dua, tiga" CPR di lakukan oleh aretha.
"bangun ndiss, ayo dong misi kita masih panjang,"teriakan aretha
"satu, dua,tiga,huufffftt."areta memberi nafas buatan.
"uhuk uhukk."suara batuknya gendis,
mata gendis pelan-pelan mulai membuka matanya,terlihat jelas raut mona dan aretha terlihat sangat lega melihat keadaan gendis yang mulai perlahan sadar, mereka akhirnya memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon randu atau kapas, dengan memasak mie instan serta membuat teh hangat untuk gendis, karena tidak memungkinkan saat ini untuk segera melanjutkan perjalanan.
"gendis maav ya, gara-gara akuu kamu"areta miminta maav tapi terpotong dengan ucapan gendis
"hussstt udah gapapa ini di luar kendali kita, musibah ga ada yang tau, jangan nyalahin diri kamu sendiri,kita satu team yang masih punya banyak misi,dan terimakasih mona, reta kalian menyelamatkan hidup aku,"timpa gendis yang sudah duduk bersandar di bahu mona.
"aaawwwww "mereka bertiga berpelelukan.
sendau gurauan terasa hangat dan menghilangkan penat sesaat,menikmati makanan yang telah mereka buat di sertai pemandangan yang sangat indah.