Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
83 - Kisah Dua Dunia (2)


Hai, White Blossom disini ... 🌺


Sebelum kalian melanjutkan membaca perjalanan Ivew, aku mau kasih rekomendasi novel yang bagus nih! Jangan lupa mampir ya! Dijamin seru!



...⪻⪼...


Bumi, 2020


Manik coklat gadis itu terbuka dan memandang wajah seorang gadis dengan rambut hitam sebahu dan mata hitam bulat yang menatapnya khawatir.


"Daisy?" Suara yang terdengar sedikit serak itu memanggil nama dari wajah yang terpatri di dalam benaknya.


"Ya? Kenapa? Ada yang sakit? Apa kakimu sakit lagi?"


Gadis dengan rambut hitam sebahu itu memeriksa kaki Cona yang yang berada di atas kursi roda. Memijat kaki itu perlahan dengan raut khawatir di wajahnya.


Aku kembali sebagai Cona? Batin Ivew menatap jemari tangannya serta kakinya yang berada di atas kursi roda.


"Ah … aku baik-baik saja. Terima kasih, Daisy. Kamu bisa berdiri."


Daisy berdiri dan tetap menatap Cona dengan ekspresi khawatir. Langit di atas mereka mulai berubah senja dan anak-anak di sekitar taman tempat mereka bercengkerama itu sudah pulang bersama keluarga mereka.


Ivew yang kembali ke dalam tubuh Cona Renjana itu menatap Daisy yang berdiri di sampingnya. Senyum kecil hadir di wajah putihnya memunculkan lesung pipi yang tampak samar.


Waktu ini … pasti satu tahun sebelum Daisy meninggal. Batin Cona menatap pemandangan jalan di depannya.


Sadar waktu yang semakin larut Daisy mulai menuntun kursi roda Cona menuju rumah sang gadis. Keduanya larut dalam pembicaraan yang hangat. Daisy yang selalu tertawa lebar saat mendengar jawaban kesal dari Cona atas candaan anehnya.


“Aku harap kamu bisa membaca novelku itu, Cona. Kamu pasti sangat menyukainya,” ucap Daisy menatap lampu jalan menuju komplek perumahan mereka.


Lalu-lalang kendaraan mulai ramai di jalanan di sekitar keduanya seiring langit malam semakin pekat di atas kepala. Cona menoleh menatap Daisy yang tersenyum di belakangnya, gadis dengan mata coklat itu terdiam dan kembali menatap jalanan di depannya.


“Kalau begitu cepat selesaikan agar aku bisa membaca novel legendaris kamu itu.”


Cona berbalik dan menguntai senyum ke arah Daisy yang menganggukkan kepalanya. Gadis dengan rambut sebahu itu mengantarnya sampai di depan pintu rumahnya dan segera pamit menuju rumahnya yang berjarak sekitar tiga meter dari rumah Cona.


 Manik coklat Cona menatap punggung Daisy yang menjauh dari halaman rumahnya. Dua pikiran dalam satu tubuh itu mulai bertabrakan menghasilkan denyut sakit pada kepalanya.


Cona ingat kalimat yang diucapkannya itu adalah kalimat terakhir yang diucapkannya sebelum berpisah dengan Daisy.


Karena setelah hari ini dirinya tidak lagi bisa bertemu dengan Daisy. Gadis itu seolah menghindarinya dengan berbagai alasan yang menurut Cona tidak masuk akal.


“Apa yang terjadi sebenarnya?” gumam Cona menatap langit-langit ruang tamunya.


Suara kendaraan kembali terdengar oleh telinganya. Manik coklat Cona menatap sebuah mobil yang baru saja menerangi jalanan di depan rumahnya.


Gadis itu menutup tirai putih tipis yang mengarah ke arah jalan dan menggerakkan kursi rodanya menuju kamarnya.


Melewati bingkai-bingkai foto yang terpajang di dinding ruangan Cona tersenyum kecil dan membuka pintu kamarnya seraya masuk dengan kursi rodanya.


“Sudah lama aku tidak merasakan perasaan ini. Walaupun ini adalah hidupku sebelumnya … rasanya sangat berbeda. Apa perasaan inikah yang dimaksud Etwar?”


Dua hari berlalu manik coklat Cona memandang langit di atasnya. Rasa bosan menghampirinya saat Daisy yang seharusnya datang menghabiskan waktu dengannya tak kunjung datang.


Kejadian yang sama seperti yang terakhir diingatnya dan Ivew yang saat ini kembali menjadi Cona tak punya pilihan selain mengikuti kejadian di dalam memorinya.


Suara derit pagar besi yang terbuka menyadarkan Cona yang sedang melamun menatap langit. Manik mata coklat gadis itu menatap seorang wanita paruh baya yang datang dengan senyum di wajahnya.


Cona mengepalkan tangannya saat menyadari tujuan kedatangan wanita di depannya ini.


“Apa bibi mengganggumu, Cona?” tanya wanita paruh baya itu berdiri di depan kursi roda Cona.


“Tentu saja tidak, Bibi. Apa Bibi datang kesini dengan maksud yang sama seperti bulan lalu?” tanya Cona  mendongak menatap wanita paruh baya di depannya.


Bau parfum wanita itu terasa menyengat memasuki indra penciumannya dan Cona tersenyum tipis saat melihat raut wajah wanita paruh baya di depannya berubah.


Gadis berusia lima belas tahun itu sudah paham dengan tamak wanita di depannya. Bertahun-tahun dirinya hidup sebatang kara dengan keterbatasan yang dimilikinya.


Cona akhirnya tahu siapa yang disebut keluarga. Kemalangan itu membuka sifat-sifat yang dimiliki keluarganya, termasuk wanita paruh baya di depannya ini.


“Kalau kamu tahu kenapa masih bertanya, Cona? Kamu pasti tahu keadaan Bibi sedang susah, kan? Berikan kami sedikit uang peninggalan orang tuamu itu!”


Wanita paruh baya itu mendekat ke arah Cona dan mencengkeram erat kedua bahu Cona membuat gadis yang duduk di atas kursi roda itu sedikit meringis.


Susah? Tapi lihat dia masih bisa membeli tas dan sepatu mahal itu? Rutuk Cona menatap barang-barang mahal yang dipakai sang bibi.


Cona menepis tangan sang bibi yang berada di bahunya dan menatap tajam sang bibi. Wanita paruh baya itu tersentak dengan tatapan yang diberikan keponakannya dan menggigit bibirnya yang dilapisi lipstik merah itu sambil berpikir cara untuk membujuk gadis muda di depannya.


“Ha? Lihat bocah ini! Apa kamu melupakan semua kebaikan yang sudah kami berikan kepadamu ha? Dasar anak tidak tahu diuntung! Begini caramu membalas jasa kami!”


Sang bibi menghamburkan kemarahannya kepada Cona yang menatapnya datar dari atas kursi rodanya.


Kebaikan? Jasa? Gadis itu tertawa miris di dalam hatinya. Masih lekat dalam ingatannya perlakuan baik yang diterimanya menurut keluarga bibinya itu.


“Apa baik menurut Bibi itu mendorong kursi rodaku di jalan menurun? Atau mendorong kursi rodaku ke arah danau? Apa itu baik? Bukankah itu membunuh, Bibi?”


Cona tersenyum kecil dengan kedua tangan menggenggam erat roda kursi rodanya, sedangkan sang bibi yang berada di depannya terdiam dengan mata terbelalak.


Bagaimana anak isi bisa tahu semua itu? Kami menyewa orang lain untuk melakukannya. Seharusnya tidak ada jejak yang tertinggal. Batin sang Bibi dengan wajah sedikit pucat menatap wajah keponakannya yang masih tersenyum.


“Kamu menuduh kami?! Kamu menuduh keluargamu yang sudah menjagamu yang cacat selama ini! Tidak sopan sekali kamu! Apa ini ajaran orang tuamu?”


Sang bibi murka dan tangannya bergerak hendak menampar pipi Cona. Untunglah gadis itu dengan cepat bisa menahan tangan sang bibi yang hampir menyentuh pipinya.


“Tidak perlu mengelak, Bibi. Aku tahu itu semua pekerjaan kalian karena kalian ingin mati dan menguasai harta orang tuaku yang masih ada. Aku tidak sebaik yang Bibi kira sampai melupakan semua kejahatan yang kalian lakukan kepadaku.”


Cona sedikit mencengkram tangan sang bibi membuat wanita paruh baya mengernyit dan segera menarik tangannya dari cengkraman Cona. Gadis di atas kursi roda itu kembali tersenyum tipis dan menatap wajah sang bibi yang mulai pucat.


“Jadi, pergilah Bibi! Aku tidak akan pernah membagikan harta peninggalan orang tuaku kepada kalian, bahkan hingga kematian datang menjemput ku.”


...⪻⪼...


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya! ✨