Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
72 - Dua Elemen Alam


...⪻⪼...


Ivew menatap sekitar saat penglihatannya semakin kabur saat gadis itu mendengar teriakan panik Laveron samar-samar. Gadis itu mengangkat kedua tangannya yang basah oleh cairan merah dengan gemetar.


"Darah! Ivew ada darah!"


"Aku akan membantumu mengendalikan apinya! Aku minta maaf … dan tenangkan dirimu!"


Ivew mengangguk saat mendengar suara lembut angin dan suara bersemangat api di kepalanya. Api hijau di sekitar gadis itu mulai bergerak memutar mengikuti gerak angin yang mengalir di sekitar mereka.


Perlahan-lahan api hijau itu menghilang dan masuk ke dalam tangan Ivew yang masih basah oleh cairan merah. Laveron yang berada di depan Ivew tersentak saat melihat adiknya kembali berlumuran cairan merah.


Gadis itu terbatuk dan memuntahkan  cairan merah bercampur hitam dari mulutnya. Veister yang melihat itu segera berlari ke arahnya. Tubuh Ivew segera limbung ke belakang dan Laveron segera menangkap tubuh sang adik sebelum menyentuh tanah.


Jemari pemuda dengan mata navy itu bergerak menghapus jejak darah di sudut bibir Ivew. Manik emerald Ivew tampak redup memandang wajah khawatir Laveron di atasnya.


"Maaf ya, Bang. Abang jadi terluka," bisik Ivew pelan dan tersenyum saat melihat Veister yang berlari dan duduk di dekatnya.


Manik dua warna Veister menatap luka di dada kiri Ivew. Pemuda itu segera menggerakkan tangannya untuk melakukan sihir penyembuhan. Ivew kembali terbatuk dan mengeluarkan cairan merah bercampur hitam.


Pandangan mata gadis itu semakin kabur saat telinganya samar-samar mendengar suara Laveron yang memanggil namanya panik. Ivew menatap Rayn, Leister dan Ramound yang mendekat ke arahnya.


Ketiganya berdiri dengan wajah khawatir di belakang Laveron yang terus memanggil namanya. Hal terakhir yang dilihat Ivew sebelum kegelapan merenggut kesadarannya adalah air mata yang jatuh dari wajah Laveron dan suara lembut seseorang yang menunggunya.


"Kami sudah menunggu mu, Saintess selanjutnya."


Ivew kembali membuka matanya dan menatap ladang penuh bunga di depannya. Tempat yang biasa digunakan dirinya untuk bertemu Iletta. Pohon besar di tengah ladang itu semakin besar dari yang terakhir Ivew lihat.


Manik emerald-nya menatap sekitar saat menemukan bunga dandelion yang terbang dibawa angin. Ivew tersenyum dan jemarinya meraih salah satu kelopak bunga yang terbang ke arahnya.


"Kenapa aku bisa di sini?"


Ivew bergumam dan menatap sekitarnya yang hening tanpa kehadiran siapa pun. Kaki Ivew terus melangkah dan membawa nya ke bawah pohon besar di tengah ladang. Ivew duduk dan bersandarpada batang pohon di  belakangnya sembari menikmati angin yang mengalir menggerakkan rambutnya.


"Rambutku jadi hitam lagi."


Ivew memegang ujung rambutnya yang kini kembali hitam. Suara pijakan rumput datang dari arah depannya. Manik emerald Ivew menatap sosok Iletta yang tersenyum tipis ke arahnya. Rambut putih gadis itu bergerak mengikuti arah angin.


Di tangan gadis berambut putih terdapat bunga mawar orange yang berkilau terkena cahaya. Ivew berdiri dan mendekat ke arah Iletta. Jemari gadis itu menepuk puncak kepala Ivew dan menyerahkan bunga mawar orange di tangannya.


Iletta menarik tangan Ivew dan kembali berjalan menuju bagian lain dari ladang bunga. Dandelion ikut beterbangan saat tubuh mereka menyentuh kelopaknya. Manik emerald Ivew tersenyum saat menatap kelopak dandelion yang terbang di sekitarnya. Tempat ini selalu memberikan ketenangan baginya saat hatinya sedang kacau.


"Kamu tau arti bunga mawar orange, Ivew?"


Ivew menggelengkan kepalanya saat Iletta meliriknya dan menunggu jawaban yang diberikannya. Gadis dengan mata navy dan rambut putih itu tersenyum menatap langit biru di atasnya.


"Bunga itu merupakan simbol semangat dan kehangatan cinta untuk orang yang menerimanya. Harapan agar orang tersebut semangat menjalani hidupnya."


Iletta berbalik dan melepaskan pegangan tangannya kepada Ivew. Menatap manik emerald sang gadis yang menatapnya bingung. Iletta tersenyum dan mengajak Ivew untuk melihat pemandangan di depannya.


Manik emerald gadis itu melebar menatap batu permata dengan lima warna yang berbeda bersatu membentuk lingkaran permata besar di depannya.


Gadis dengan mata navy dan rambut putih itu mengangguk. Jemari tangannya bergerak dan menyentuh bola batu permata di depannya. Dua elemen alam dari batu itu bersinar dan menghadirkan sosok makhluk yang berbeda di depan Ivew.


Batu warna biru muda memunculkan kupu-kupi berwarna putih yang terbang mendekat ke arah Iletta. Batu dengan warna merah bata terang memunculkan sebuah rubah berekor sepuluh dengan warna yang sama dengan warna batu. Ivew menatap dua makhluk yang mendekat ke arah Iletta.


Kupu-kupu putih itu terbang ke arah Ivew dan hinggap di atas rambut hitamnya, sedangkan rubah merah bata itu meminta Iletta untuk menggendongnya dan mendekat ke arah Ivew yang memandang bingung.


"Apa mereka ini … perwakilan roh alam, Kak Iletta?"


Iletta kembali menguntai senyum dan mengangguk saat gadis bermata emerald di depannya bisa menebak semua hal tanpa harus dirinya jelaskan.


"Kamu sangat pintar! Perkenalkan namaku Windy!"


Kupu-kupu putih di atas kepala Ivew berbicara lembut membuat Ivew sedikit mendongak menatap sayap putih di atas kepalanya.


"Dan aku Efir! Salam kenal ya! Haha …."


Sosok rubah dalam pelukan Iletta berteriak heboh sembari memperkenalkan dirinya. Salah satu ekor merah dengan ujung sedikit berwarna coklat itu melambai kesana kemari. Ivew melirik Iletta yang tersenyum dan menatap matanya.


"Mereka adalah suara-suara yang membantumu selama ini, Ivew. Mereka baru bisa menunjukkan wujud mereka di depanmu karena keterbatasan kekuatanmu. Namun, saat ini karena kekuatanku berkembang dengan cepat mereka bisa lebih cepat menunjukkan wujud asli mereka."


Ivew mengangguk saat Iletta menjelaskan sembari mengelus pelan bulu Efir di pelukannya. Gadis bermata emerald itu memandang bunga dandelion yang terus terbang di sekitarnya.


Gadis itu menguntai senyum saat merasakan perasaan hangat hadir di hatinya. Merentangkan kedua tangannya Ivew menarik nafas dalam seraya menutup mata saat merasakan angin membelai lembut tubuhnya.


Iletta tersenyum di belakang Ivew saat merasakan perasaan tenang memenuhi hati gadis di depannya. Efir yang berada di dalam pelukan Iletta mencolek tangan gadis itu pelan membuar perhatian Iletta teralih ke rubah di dalam pelukanya.


"Ivew … apa kamu sudah merasa tenang?" tanya Iletta berdiri di samping Ivew.


Gadis dengan mata emerald itu mengangguk dan menatap Iletta dengan senyum di wajahnya.


"Dalam pertarungan sebelumnya kamu berhasil mengendalikan dua elemen kami dengan baik. Hanya saja kemarahan dan dendam membuatmu kesulitan mengendalikan kekuatan kami, bukan?"


Ivew terdiam dan menganggukkan kepalanya saat mendengar penuturan dari Efir. Ekor itu bergerak ke sana kemari, sedangkan Windy terbang dan hinggap di atas rambut Iletta.


"Api melambangkan semangat dan kekuatan yang membara. Secara umum warna apiku adalah merah bata, tetapi kamu berhasil menghasilkan api hijau dengan campuran kekuatan dan tekadmu sendiri."


Efir mengibaskan ekornya dan menatap Ivew dengan mata merah batanya. Rubah itu memajukan kakinya dan menunjuk Ivew dengan tangan berbulu lembutnya.


"Kemarahan menguasai mu dalam mengendalikan elemen api. Kamu harus bisa mengendalikan emosimu!"


Iletta mengangguk dan membenarkan pernyataan dari Efir. Manik navy gadis berambut putih itu menatap Ivew yang menundukkan kepalanya. Memori Ivew kembali memutar kejadian sebelumya, saat dirinya kehilangan kendali dengan kekuatan api hijaunya dan malah berakhir melukai Laveron dan yang lainnya.


Ivew teringat dengan rambutnya yang sebelumnya berwarna putih dan kini kembali berwarna hitam. Gadis itu teringat perkataan Veister tentang rambut putih merupakan perwujudan mereka yang berikatan dengan alam.


"Kak Iletta aku ingin bertanya, apa kakak adalah saintess alam yang sebelumnya?"


...⪻⪼...


Happy reading guys ... jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya, biar makin semangat melanjutkan cerita ini ✨