Terpaksa Transmigrasi

Terpaksa Transmigrasi
63 - Saintess Alam (4)


...⪻⪼...


Manik orchid Rayn menelisik ke arah lorong di depannya, saat ini keduanya sampai di persimpangan lorong. Dua jalan terbentang di depan mereka dan Rayn sedang menajamkan telinganya untuk mencari sumber suara yang mengarah ke jalan keluar.  


Ivew mengikuti dengan tenang di belakangnya sembari menghapus air mata yang masih tersisa. Manik emerald Ivew menatap punggung Rayn yang berada di depannya.


“Apa kamu menemukannya, Tuan Muda?” bisik Ivew mengintip dari punggung Rayn ke arah dua jalan di depan mereka.


Pemuda dengan mata orchid itu menggelengkan kepalanya dan kembali menatap ke depan. Ivew melirik telapak tangannya dan mulai menggerakkan tangannya untuk mencari keberadaan angin.


Jemari gadis itu bergerak lentik saat mulai terbentuk benang angin berwarna biru muda dari ujung jarinya mengarah pada satu lorong yang berada tepat di hadapan keduanya.


Gadis bermata emerald itu segera berjalan dan mengajak Rayn untuk mengikuti langkahnya. Keduanya berjalan dalam hening dan manik orchid Rayn menatap punggung Ivew yang berada di depannya. Rambut hitam legam gadis itu tampak berkilau terkena remangnya api merah yang mereka lewati.


Langkah keduanya terhenti saat mendengar suara tawa dari lorong di belakang mereka. Manik orchid Rayn berbalik menatap lorong di belakangnya saat mendengar suara itu semakin dekat.


Ivew segera menarik tangan sang pemuda menuju arah pintu keluar saat gadis itu mulai merasakan getaran angin dari benang angin yang dibuatnya.


“Sedikit lagi, Tuan Muda!”


Ivew berbisik pelan sembari mempercepat larinya saat menatap cahaya di ujung lorong. Rayn yang kini berlari di belakangnya mengangguk dan kembali melirik ke belakang saat mendengar seruan dari sosok-sosok di belakangnya.


“Sepertinya mereka baru menyadari kalau kita kabur,” ungkap Rayn kembali menatap Ivew yang menganggukkan kepalanya.


Sosok-sosok berjubah hitam itu semakin dekat dengan keduanya. Ivew yang mulai merasakan angin di sekitarnya segera membuat pelindung angin. Manik emerald gadis itu melirik sosok-sosok hitam di belakangnya yang mulai mengeluarkan sulur hitam dari jubah mereka.


Suara benturan dari sulur hitam dengan perisai angin Ivew terdengar, gadis itu menggigit bibirnya dan berlari semakin cepat saat merasakan tenaganya semakin terkuras.


Rayn melirik Ivew yang mulai tersengal, manik orchid pemuda itu menatap sosok-sosok hitam di belakangnya yang terus mengarahkan sulur hitam mereka ke arah perisai angin Ivew.


Rayn menatap perisai angin berwarna biru muda yang melindunginya. Pemuda itu mempercepat larinya dan menepuk bahu Ivew pelan membuat gadis itu menatapnya bingung.


Rayn hanya tersenyum lembut dan segera menggendong Ivew di kedua lengannya. Gadis dengan mata emerald itu berseru kaget dan memeluk leher Rayn dengan spontan.


Ivew melirik Rayn yang tersenyum dan mulai berlari lebih cepat menimbulkan jarak yang lebih besar dengan sosok-sosok berjubah hitam yang mengejar mereka. Sulur hitam itu mulai berhenti menyentuh perisai Ivew saat jarak mereka semakin jauh.


Rayn menatap seberkas cahaya di depannya dan pemuda itu menghela nafas saat merasakan angin berhembus menyentuh rambut abu-abu tuanya. Ivew yang berada di dalam gendongannya ikut menghela nafas lega saat mereka semakin dekat dengan lubang cahaya di depan mereka.


“Wah ... kalian berhasil kabur ya ....”


Keduanya tersentak saat mendengar gema suara yang berat dari lorong remang di belakangnya. Rayn berdecak kesal dan mempercepat larinya saat akhirnya keduanya keluar dari lorong remang itu.


Rayn mempercepat larinya saat mereka berhasil keluar sepenuhnya, pemuda itu berbalik ke belakang menatap mulut gua yang gelap dengan gunung batu di atasnya. Rayn berdecih saat melihat jubah hitam dari sosok yang mengejar mereka keluar dari mulut gua.


Itu gunung batu. Apa ini di daerah Angena? Bagaimana mungkin aku tidak mengetahui daerah ini? Apa mereka menyembunyikannya dengan sihir? Batin Rayn melirik Ivew yang terus menatap ke arah belakang mereka.


Ivew menggerakkan jemarinya untuk menggerakkan angin di sekitar mereka. Gadis itu tersenyum kecil saat anginnya berhasil mendorong beberapa sosok berjubah hitam yang hendak mengejar mereka.


Sosok hitam yang menggunakan sulur hitam mulai mengeluarkan sulurnya untuk membantunya bergerak lebih cepat. Ivew kembali mengeluarkan anginnya membentuk pusaran angin dan mengurung sosok-sosok berjubah itu dalam pusarannya.


“Itu ide yang hebat,” gumam Rayn melirik pusaran angin di belakangnya dan kembali berlari.


Pemuda dengan mata orchid mulai merasakan rasa kebas pada kakinya yang terus berlari. Nafasnya sedikit berat dengan keringat yang terus mengalir di sekujur tubuhnya. Rayn menatap hamparan pepohonan yang tak jauh darinya dengan binar lega di mata orchid-nya.


Namun, kesenangan pemuda itu sedikit terusik saat mendengar decakan kecil dari Ivew di gendongannya dan gadis itu yang menggerakkan tangannya untuk membentuk perisai yang lebih kuat. Rayn ikut melirik ke belakang dan manik orchid sang pemuda melebar saat menemukan dua bola hitam raksasa datang ke arah mereka.


“Tidak semudah itu bagi kalian untuk lari.”


Suara sosok berjubah itu bergema di belakang mereka. Keduanya tersentak saat salah satu bola hitam itu menyentuh perisai angin Ivew. Gadis dengan mata emerald berseru tertahan saat melihat perisai anginnya mulai retak. Dengan kedua tangan yang gemetar Ivew terus mempertahankan kepadatan anginnya untuk membentuk perisai.


Rayn mendengar deru nafas Ivew semakin berat, keduanya saat ini hampir memasuki area pepohonan di lereng gunung batu. Manik orchid Rayn melirik bola hitam raksasa lainnya yang hampir mendekatinya.


Rayn yang terus memaksakan kakinya untuk berlari tersentak menatap kakinya yang tak lagi menapak tanah. Manik orchid pemuda itu menatap ke belakang menemukan bola hitam raksasa yang menghancurkan perisai angin yang dibuat Ivew.


Pemuda itu berdecak kesal dan memeluk Ivew dalam gendongannya bersiap untuk menghadapi tubrukan tubuh mereka dengan pepohonan dan tanah batu di hadapan mereka. Tangan Ivew terkulai lemah saat perisai anginnya benar-benar hancur.


Manik emerald gadis itu sedikit menyipit menatap batu-batu di tanah yang siap menyambut tubuh mereka. Jemari tangan Ivew menepuk bahu Rayn yang tampak panik.


Sinar biru muda yang samar dan tipis mengelilingi tubuh mereka sesaat sebelum keduanya menghantam tanah dan terlempar menuju pepohonan yang membentang rapat.


Rayn sedikit mengerang saat merasakan tubuhnya terus menghantam benda di depannya. Pemuda dengan mata orchid itu berseru tertahan saat Ivew terlepas dari gendongannya.


Manik orchid Rayn menatap Ivew yang berakhir di salah satu pohon yang remuk saat menghantam tubuhnya. Rambut hitam legam gadis itu terjulur menutupi wajahnya, manik emerald-nya sedikit terbuka dengan tangan yang berusaha menggapai Rayn yang sedikit jauh darinya.


Pemuda itu bangkit berdiri dengan tubuh yang terhuyung. Rayn meringis saat merasakan kebas serta panas pada punggungnya, kepalanya yang berputar-putar dengan telinga yang berdengung. Pandangan matanya sedikit kabur, tetapi Rayn tetap berusaha mencapai Ivew yang tak mampu bergerak.


 “Ha ... kalian masih belum mati?”


...⪻⪼...


Happy reading dan jangan lupa tinggalkan like dan komentar ya .... ✨