
Siang itu, tim pengacara berangkat ke kantor klien untuk menjalankan rencana mereka yang sudah didiskusikan. Ghazi duduk kembali di kursinya dan memperhatikan hal yang telah tertunda. Dia segera mengeluarkan amplop tersebut tanpa ragu.
Keluarlah foto lagi, tetapi kali ini foto tersebut bukan Gayatri melainkan foto Adhisty saat berada di sebuah toko buku.
“Sialan!” umpatnya kasar. “Siapa lagi yang mempermainkanku!”
Dia segera mengambil ponselnya dan menelepon Adhisty untuk memastikan bahwa foto itu benar tanpa rekayasa.
“Halo, Mas?” tanya Adhisty yang heran karena jarang sekali Ghazi menelepon.
“Dhis, amplop yang tadi pagi itu berisi gambarmu yang berada di toko buku,” ucap Ghazi.
“Jadi, orang itu sekarang menargetkanku?” Adhisty terdengar khawatir di sana.
“Bukan, dia menargetkanku karena sebelumnya adalah Gayatri. Apa dia mengetahui jika kamu istriku lalu sekarang berbalik mengambil fotomu?” ucap Ghazi sembari berpikir tujuan orang itu. “Tolong untuk sementara jika kamu keluar, harus bersama dengan seseorang. Jangan sendirian.”
“Tapi-”
“Tidak ada tapi-tapian, Dhis!” bentak Ghazi dari seberang sana.
Hal tersebut membuat Adhisty langsung menutup sambungan itu. Ghazi merasa bersalah setelah menaikkan nada suaranya kepada istrinya karena dia terlalu emosi. Dia marah karena seorang itu berhasil memancing amarahnya kali ini. Sudah beberapa kiriman foto ini dia abaikan. Dia mencoba menghubungi istrinya lagi, tetapi panggilannya ditolak dan selanjutnya nomornya tidak aktif.
“Sial!” rutuknya.
Dia menghubungi Rizal kembali karena dia tidak bisa memecahkan sendiri lawannya kali ini. Karena masalah kantor sudah tinggal penyelesaian saja. Ingin rasanya dia menikmati waktu dulu, tetapi masalah terus datang.
“Zal, kamu di mana?” tanya Ghazi.
“Ada apa, Zi?” Rizal yang masih belum sadar sepenuhnya menjawab panggilan Ghazi.
“Bisa kita bertemu satu jam lagi?” Ghazi sudah tidak sabar ingin menyelesaikan semua masalahnya.
“Masalah apa lagi?” tanya Rizal heran. Dia langsung membuka matanya mendengar keluhan sahabatnya.
“Aku ada di apartemenku, akan kushare nanti,” ucap Rizal.
“Oke, satu jam lagi aku ke sana,” putus Ghazi setelah Rizal mengirimkan lokasinya.
oOo
Sementara di kamar Ghazi, Adhisty sedang menatap sebal ponselnya yang dia matikan. Karena setelah menutup panggilannya tadi, suaminya beberapa kali menghubunginya. Mungkin untuk meminta maaf, tetapi dia tidak ingin mendengarkan dulu. Karena pasti dia akan luluh setelah mendapat penjelasan dari suaminya. Dia masih ingin menikmati rasanya merajuk dan melihat usaha apa yang akan dilakukan sang suami untuk merayunya.
Tak lama, si kecil bangun dan meminta untuk digendong padahal beratnya melebihi normal untuk seumurannya. Sepertinya efek sufor juga membuatnya gembul, tetapi menurut dokter itu masih dalam taraf normal dan tidak berlebihan. Saat imunisasi nanti, dia akan memeriksakan lagi berat dan kesehatan si kecil.
Adhisty mengajak si kecil keluar dari kamar dan duduk di balkon untuk menikmati udara dan cuaca yang sudah tidak panas lagi. Beberapa hari terakhir cuaca di Ibu kota sangat panas dan malam terkadang hujan deras. Sangat tidak bagus untuk kesehatan si kecil apalagi saat ini cuaca sedang ekstrem. Dia menikmati sore itu dan berusaha menghilangkan kekesalannya pada suaminya.
oOo
“Masuk, bro,” sapa Rizal.
“Yo, makasih.” Ghazi masuk apartemen Rizal dan menjatuhkan dirinya di sofa.
“Masalahmu berat banget?” tanya Rizal.
“Masalahnya yang sekarang ini aku tidak mengerti motif karena terjadi sekitar 3 minggu lalu.” Ghazi mengingat-ingat dia menerima teror foto pertama kali.
“Ya udah, alkoh*l?” tanya Rizal.
“Gak, aku kapok minum itu. Aku tinggalin anakku sampe hampir dehidrasi,” sesal Ghazi mengenang.
“Kok bisa!” Rizal membelalakkan mata.
“Ya, namanya juga masih bersedih atas kehilangan istri. Beruntung istriku yang sekarang memaafkan aku,” ucap Ghazi.
“Enak banget kamu, adik kakak diembat,” goda Rizal.
Setelah Ghazi merasa tenang, dia menceritakan semua dari awal kejadian pertama hingga kejadian yang dialami oleh Adhisty. Meski dia tidak membawa foto yang diterima istrinya. Dia memberikan foto yang saat ini diterimanya.
“Jadi, ada yang terobsesi dengan keluarga barumu?” tanya Rizal. “Melihat dia mengawasi Adhisty sampai ke toko buku berarti dia mengenal istrimu.”
“Atau dia mengenal Gayatri sehingga dia juga mengenal Adhis. Karena foto pertama itu semua tentang Ge. Foto semasa kuliah mungkin karena perubahan riasan dan tubuhnya sedikit berisi saat menikah denganku.” Ghazi mencoba mengingat sebisanya.
“Foto-foto yang diberikan kepada Adhisty boleh kulihat?” tanya Rizal.
“Adhisty hanya mengirimkan beberapa. Jika yang diterimanya terakhir aku tidak tahu dan ini yang terakhir,” ucap Ghazi sembari menyerahkan amplop yang dia terima hari ini.
“Jadi, ada yang dendam denganmu karena Gayatri?” tebak Rizal.
“Maksudmu?” Ghazi berpikir dengan keras.
“Maksudku adalah karena Gayatri menjadi istrimu, mungkin ada mantannya yang kecewa dengan keputusan Gayatri. Lalu, ketika tahu dia meninggal maka dia ingin kamu tanggung jawab.” Rizal memikirkan semua kemungkinan penyebab.
“Sial!” umpat Ghazi yang baru terpikirkan akan hal itu.
Sepulang dari apartemen Rizal, dia mampir ke toko bunga untuk membeli sebuket mawar. Dia akan gunakan untuk meminta maaf kepada istrinya. Dipikir-pikir baru kali ini dia membelikan mawar atau memberikan hadiah. Cincin nikahnya yang dia berikan kepada Adhisty adalah hasil pilihan sang ibu. Dia sama sekali tidak menyiapkan apa pun. Dia pun mampir ke toko yang menjual spesialis cake. Di sana dia membeli red velvet cake dan coklat cake untuk Adhisty dan ibunya. Untuk ayahnya sudah tidak diperbolehkan karena kandungan gula yang tinggi.
Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi selagi jalanan tidak terlalu macet. Dia melihat ke arloji yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 07.00 malam. Tak lama, dia memasuki area perumahan orang tuanya. Barulah dia mengurangi kecepatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Satpam yang dia pekerjakan membukakan pagar dan dia memasukkan mobilnya ke garasi.
Tak memperhatikan sekeliling, dia langsung naik menuju kamarnya dan ketika pintu itu terbuka terlihatlah kamarnya dalam keadaan kosong dan gelap. Dia kembali turun menuju kamar orang tuanya, di sana juga kosong. Lalu, dia kembali ke dapur untuk melihat apakah memang orang-orang sengaja bersembunyi. Nyatanya tidak, dia sendirian di rumah yang besar itu. Tak terlihat putra, istri, dan orang tuanya.
“Ke mana semua orang?”