
Ghazi hanya menatap Rizal heran karena dia tidak tahu siapa yang bersama dengan lelaki itu. Dia hanya mengamati dari dalam sebelum mempersilakan kedua lelaki itu masuk.
“Silakan duduk,” ucap Ghazi. “Kamu bawa siapa, Zal?”
Mereka berdua duduk di sofa yang ditunjuk oleh Ghazi dan dia menyajikan air mineral karena memang tidak ada simpanan. Dia menunggu Rizal untuk memperkenalkan teman laki-laki yang dibawanya.
“Jadi, ini adalah mas Ibnu, yang kemarin kutemukan di rumahnya. Namun, aku harus melaporkan dia kabur untuk mengelabui orang yang mengawasi perusahaanmu,” ucap Rizal.
“Lalu, kenapa harus sampai menyembunyikan mas Ibnu?” tanya Ghazi melirik ke arah Rizal lalu ke arah Ibnu.
“Silakan dijelaskan mas Ibnu,” pinta Rizal.
“Jadi, maafkan saya, Pak Ghazi. Sehabis saya pulang bekerja di hari Senin itu, saya pulang ke rumah dan keluar untuk menginap di tempat kekasih saya. Ketika kembali di hari Senin, rumah saya sudah berantakan. Maka dari itu, saya tidak masuk di hari Selasa. Ketika pak Rizal datang ke rumah saya kemarin sore dan menceritakan permasalahan. Barulah saya tahu kenapa rumah saya digeledah.” Ibnu menjelaskan kronologi kemarin.
“Sekarang silakan ceritakan kejadian hari Senin mulai dari mengapa menyarankan bekerja pisah lantai dengan mas Ahmad,” ucap Ghazi.
“Sesaat sebelum saya dan Ahmad mulai bekerja di lantai bawah. Saya mendapat pesan dari nomor asing yang menyatakan dia adalah kepala divisi yang baru. Dia meminta saya untuk bekerja secara terpisah dengan Ahmad,” ucap Ibnu sembari menunjukkan pesan asing tersebut.
“Karena saya tidak ingin terlihat jelek, makanya saya menyarankan ke Ahmad seperti itu. Setelah 30 menit, ternyata bahan pembersih milik saya habis sehingga saya turun ke bawah untuk meminta pada Ahmad. Saat itulah saya melihat di toilet seorang wanita sedang merobek bajunya saat dia membelakangi Ahmad. Saya curiga dan merekam kejadian tersebut.” Ibnu memberikan video rekaman yang dapat mereka jadikan bukti.
“Terima kasih, Mas Ibnu. Kita bisa menyelamatkan mas Ahmad sekarang. Mungkin karena itu mereka menggeledah rumahmu. Lalu, Zal, siapa di balik nomor asing itu?” tanya Ghazi.
“Orang itu adalah pak Heru,” ucap Rizal. Yang tentunya sudah mencari tahu lebih dulu.
“Oh, Pak Heru, lalu, apa motifnya melakukan ini terhadap perusahaanku?” tanya Ghazi.
Seketika dia teringat laporan yang kemarin dia periksa dan terdapat nama Heru di beberapa dokumen pembayaran yang dipalsukan.
“Jadi, mereka saat ini bersekongkol untuk mendapatkan keringanan dan malah semakin mengambil keuntungan dengan hal ini. Baiklah, mas Ibnu, saya berterima kasih untuk bukti yang anda simpan. Tolong juga dikirim ke nomor pribadi saya untuk file tersebut. Untuk sementara, mas Ibnu lebih baik tinggal di tempat teman yang lain daripada nanti terjadi apa-apa lagi.” Ghazi mengusulkan kepadanya.
“Terima kasih, Pak.” Ibnu izin pamit untuk pulang terlebih dahulu karena Rizal masih ada urusan dengan dirinya.
“Jadi, kemarin yang tidak diceritakan oleh Ahmad adalah dia tahu ada yang merekam perbuatan wanita itu?” tanya Ghazi.
“Iya, maka dari itu, lebih aman jika sedikit saja yang tahu. Sepertinya pak Heru juga melakukan hal ini karena ada paksaan.” Rizal mengatakan lebih lanjut. “Tetapi-”
“Tidak perlu ada tapi, jika memang dia loyal terhadap perusahaan dia seharusnya melaporkan sejak awal. Namun, dia bertindak sudah sejauh ini. Lebih baik kita tunggu kabar dari tim pengacara perusahaan karena hari ini dari pihak lawan belum memberikan jawaban. Semua bukti kita simpan dan akan kita keluarkan terakhir.” Ghazi memutuskan untuk tegas dan akan memecat pak Heru.
“Boleh juga, sudah lama tidak bertemu dengan om dan tante,” jawab Rizal.
Ghazi tanpa mengabari orang rumah jika dia membawa tamu. Mereka tiba di rumah orang tuanya melebihi jam makan malam sehingga art harus menyiapkan ulang makan malam untuk mereka berdua saja. Tentu dengan ditemani Adhisty duduk di meja makan. Ganesha sudah tidur karena sedari tadi siang, bayi itu sangat aktif dan tidak gampang lelah.
“Kenalin, Dhis, ini Rizal, temanku dari SMA hingga kuliah,” ucap Ghazi. Mereka berkenalan dan Rizal mengamati kecantikan Adhisty.
“Wah, cantik juga bro istrimu,” puji Rizal.
“Lho, jangan kurang ajar kamu. Makanya kamu segera nikah sana, pilih yang cantik juga.” Ghazi menggoda temannya.
Mereka bercanda hingga tidak terasa sudah pukul 10.00 malam dan Rizal berpamitan karena dia pun lelah setelah dari kemarin berputar-putar untuk penyelidikan. Dia menawari temannya itu untuk menginap, tetapi ditolak karena tidak ingin mengganggu momen pengantin baru. Setelah Rizal pergi, Ghazi dan Adhisty kembali ke kamar untuk beristirahat.
oOo
“Mas,” panggil Adhisty dengan menggoyangkan tubuh Ghazi. “Masih ngantuk?”
Ghazi hanya berdehem merespon pertanyaan istrinya. Dia masih mengantuk karena mereka kemarin begadang. Dia menceritakan semua permasalahan kantor pada istrinya dan sesekali Adhisty memberikan solusi untuk lebih melakukan pemeriksaan latar belakang jika menerima karyawan baru.
Istrinya juga bercerita tentang bagaimana aktifnya si kecil yang sekarang masih tertidur seperti ayahnya.
“Baiklah, nanti kubangunkan setengah jam lagi, aku keluar dulu.” Adhisty turun dari ranjang. Dia ke kamar mandi untuk membasuh muka dan menggosok giginya.
Adhisty berencana hari ini ingin mencoba mempraktikkan sarapan sehat yang ditontonnya secara streaming. Dia tertarik karena sangat mudah cara membuatnya. Menunya adalah omelet sayur, sosis panggang dan roti panggang. Memang terkesan sedikit, tetapi kandungan protein yang disajikan sangat baik.
Dia sudah meminta izin kepada Leila untuk memakai dapur. Art di sana pun hanya membantu menyiapkan alat dan bahan serta membantu membersihkan alat jika sudah tidak dipakai. Dalam setengah jam lebih dia sudah selesai menyiapkan sarapan untuk semua orang. Dia pun kembali ke kamar dan membangunkan kedua lelaki di hidupnya itu.
“Mas, ayo bangun, sudah pukul 07.00 pagi. Nanti telat lagi kayak kemarin,” ucap Adhisty.
“Iya, ini sudah melek,” balas Ghazi yang berdiri berjalan ke kamar mandi.
Sementara sang ayah mandi, sang anak masih nyaman dengan mimpinya. Meski sudah beberapa kali dibangunkan oleh ibunya, tetap saja bayi gembul itu tidak bergeming. Akhirnya Adhisty memaksa bangun si bayi dengan menggendong dan diajaknya turun ke depan. Biasanya jika dia mendengar kicauan burung liar yang melintas di atas halaman akan terbangun.
Baru saja lima menit berada di luar, ada kurir yang datang berpakaian serba hitam. Dia memakai helm full face dan tidak dibuka. Dia membunyikan bel di dinding pagar Ghazi sehingga menarik perhatian sang ibu dan anak.
Setelah dihampiri oleh Adhisty, dia menyerahkan sebuah amplop tanpa nama pengirim. Dia hendak bertanya siapa pengirimnya, tetapi sang kurir sudah kabur membawa pergi sepeda motornya.