
Ia menampar gadis malang itu. Terlihat dari jauh, gadis itu menangis akibat tamparan gadis laknat itu. Sayang sekali, Ara terlambat untuk datang.
“Maksud loe apa?” tanya Ara yang baru saja tiba di tempat kerumunan itu.
Seketika semua orang melihat ke arahnya. Ara tidak akan kalah kali ini.
“Siapa loe?” tanya ketua genk itu dengan sinis.
Nampaknya, dia adalah dalang dari semua kekacauan ini.
“Loe gak perlu tau siapa gue. Yang harusnya loe jawab tuh, kenapa loe lakuin ini ke orang lemah kayak dia!” bantah Ara menyanggah pertanyaannya.
“Ara!” pekik gadis malang itu.
“Ah.”
Mata Ara membulat seketika. Ternyata, gadis yang sedang di-bully adalah Fla, teman sekelasnya yang kemarin bermasalah dengan Ray dan Rafael.
“Oh ... nama loe Ara?” tanya sinis dari sang ketua genk.
Ara sama sekali tak menggubris ucapannya.
“Mending, loe gak usah jadi pahlawan kesiangan deh ya,” ucap gadis lainnya yang terdengar menyeleneh, membuat Ara menjadi geram.
“Haha, pahlawan kesorean kali. Udah ditampar baru dating,” sambung gadis lainnya.
Mereka benar-benar membuat Ara jengkel.
“Haha,” mereka tertawa sangat geli.
Ara tak menghiraukan, dan malah menerobos di antara kerumunan, dan menarik tangan Fla yang sudah menangis tak berdaya, tanpa menghiraukan mereka yang menghalangi jalannya. Ara membawanya pergi dari kerumunan.
“Eh woy!” pekik mereka terdengar samar, namun Ara tak menghiraukannya.
Ara mengajak Fla ke kelas. Kebetulan sekali mereka sedang tidak ada jadwal mata kuliah pagi. Hanya saja, Ara datang terlalu pagi karena harapannya bisa ikut pergi bersama kakaknya.
“Apa-apaan sih mereka? Kenapa loe sampe kayak gini sih, Fla?” tanya Ara.
Fla masih saja menangis. Sepertinya, masalahnya memang agak rumit.
“Hiks ... mereka nuduh gue, Ra!” jawabnya dengan penuh isak tangis.
“Nuduh kenapa? Apa yang salah dari loe?”
Fla hanya diam, sembari sesekali menahan tangisannya.
Ara menghela napas panjagn.
“Cerita aja, siapa tau gue bisa bantu?” ujar Ara dengan penuh rasa tulus.
Fla menatapnya dengan waktu yang sangat lama. Ara membiarkan itu semua, karena Fla pasti sedang berpikir, layak atau tidaknya Ara mendengar keluh kesahnya.
“Mereka ... nuduh gue ngerebut cowoknya,” ucapnya sambil terisak.
‘Hmm... udah gue duga, ini semua ada hubungannya sama laki-laki,’ batin Ara.
Ara membolakan mata di hadapannya.
“Emangnya, seganteng apa sih tuh cowok? Sampe loe semua pada ngeributin dia, hah?” tanyaku yang sedikit penasaran dengan laki-laki yang membuat mereka bertengkar.
Kalau setampan Shaheer Sheikh sih ... masih bisa dipertimbangkan lah, ya ....
“Hmm ... namanya Bisma.”
“Deg ....”
‘Bisma?’ batin Ara tiba-tiba saja bergejolak, ‘ada berapa banyak Bisma sih, di kampus ini? Semoga aja bukan Bisma yang sekarang pacar gue,’ sambungnya.
“Bisma anak mana?” tanya Ara yang masih penasaran dengan yang ingin Fla utarakan.
“Dia anak 02TPLP001. Anak basket, yang lagi ngehits itu.”
Ara semakin terkejut dengan ucapannya. Ara berusaha untuk tidak menunjukkan ekspresi kaget di hadapannya. Aku tidak ingin, kalau Fla mengetahui hubungannya dengan Bisma. Bisa-bisa, Ara juga dituduh yang macam-macam dengan genk laknat itu.
“Bisma itu, cowoknya dia?” tanya Ara berusaha mengorek informasi lebih dalam lagi.
Fla pun mengangguk, membuat Ara terkejut dengan jawabannya.
“Namanya Jessline. dia anak sekelas Bisma. Kemana-mana selalu bareng sama Bisma. Tapi akhir-akhir ini, hubungan mereka lagi kacau. Gue gak tau, kenapa Bisma sampe berusaha ngedeketin gue. Bikin bencana aja.”
Pernyataan Fla, lagi-lagi membuat Ara terkejut. Ternyata, dia bukan laki-laki yang baik, seperti yang Ara pikir.
Ara sudah tahu semua kebenarannya dari Fla. ia harus banyak berterimakasih padan Fla. Meskipun mungkin, nantinya Fla akan kebingungan.
“Tapi, ada satu rahasia yang sebenernya gak pengen gua kasih tau ke siapa pun. Ini tentang Jess,” ucap Fla, membuat Ara merasa penasaran.
Jangan sampai, Fla merasa risih dengannya, agar ia bisa mengetahui semua permasalahan ini dengan jelas. Biar bagaimana pun juga, Ara juga butuh informasi.
“Loe bisa ngomong, kalo loe percaya sama gue Fla,” jawab Ara yang tak ingin membuat Fla merasa terbebani.
“Jaga rahasia, ya?” tanya Fla memastikan.
Ara yang sudah penasaran dan tidak sabar, pun mengangguk dengan cepat.
“Gue sama Jess itu ... sebenarnya saudara,” gumamnya dengan nada yang sangat ragu.
Ara selalu dibuat kaget oleh setiap perkataan Fla.
“Tapi kenapa, dia benci banget sama loe?”
Ya, itu tidak sesuai dengan logika.
“Itu karena gue, sama dia cuma saudara tiri aja. Bokap lebih sayang sama gue dibandingkan dia dan nyokap tiri gue.”
Oh, i see.
‘Oh jadi gitu. Pantesan aja mereka gak akur,’ batin Ara merasa sangat puas, karena sudah tahu kebenarannya.
“Berarti, dengan kata lain, loe itu ... adiknya Jess?” tanya Ara.
“Sebenarnya usia kami sama. Cuma, gue terlambat masuk kampus, karena waktu itu bentrok biaya. Habis, barengan sih. Jess masuk, Liam masuk,” jelasnya.
Siapa lagi itu, Liam? Pikir Ara.
Sudahlah, itu tidak terlalu penting bagi Ara. Yang Ara perlukan hanyalah informasi tentang Jessline saja. Ara juga harus menghargai privasi Fla.
“Selamat siang, semua,” ucap seseorang tiba-tiba, yang datang dari balik pintu.
Ara terkejut, dan membenarkan posisi duduknya. Ternyata, jam pelajaran ke-2 sudah dimulai.
***
Jam pelajaran pun telah usai. Ara dan Fla sekarang menjadi lebih dekat dari sebelumnya. Tak disangka, Ara mendapatkan seorang teman, hanya karena ia menolongnya.
Ya, berteman dengan orang lain, ternyata tidak buruk juga.
Ara mulai menikmati kebersamaan dengan Fla.
Jam istirahat pun tiba.
“Mau ke kantin, gak?” tanya Fla tiba-tiba, membuat Ara terkejut.
“Duluan aja. Gue nitip kopi aja, ya?” pinta Ara, Fla tersenyum hangat padanya.
“Oke.”
“Kalau ada yang gangguin loe lagi, jangan diem aja. Lawan!” suruh Ara, berusaha memberikannya sebuah kekuatan.
Jangan sampai ia tertindas lagi oleh orang-orang idiot itu.
Ara lebih memilih tinggal di dalam kelas daripada ke kantin. Fla meninggalkannya sendiri di kelas, atas permintaannya. Kini hanya tinggal Ara sendiri di kelas.
Seseorang terlihat mengintip dari balik jendela kelasnya. Ara tak menghiraukan dan malah fokus dengan buku catatan yang sedang ia pegang.
“Ckrek ....” Suara pintu dibuka.
Ara sudah tahu siapa yang datang, dan lebih memilih untuk diam, tidak menghiraukannya.
“Bruk ....”
Ia menutup kembali pintunya. Perlahan, ia mencoba mendekati Ara. Ia pun duduk di hadapan Ara.
“Hai, sayang,” sapa Bisma.
Ara tak menggubris sapaannya, membuat Bisma bingung dengan sikapnya itu.
“Lho ... kenapa?” tanya Bisma.
Ara masih saja diam, dan berpura-pura tak mendengarnya.
“Ra, loe kenapa? Baik-baik aja, kan?”
Cih ....
Dia masih saja bisa bertanya tentang keadaan Ara. Padahal sudah melakukan semua ini pada Fla.
Ara masih diam membisu dan tak ingin mendengarkan atau berbicara apa pun. Tampaknya, itu membuat Bisma menjadi kesal.
“Ra, jawab gue dong, Ra! Loe baik-baik aja, kan?” pekik Bisma dengan sinis, membuatnya tidak tahan lagi dengan tingkah Bisma.
Ara mendelik ke arahnya.
“Gue gak apa-apa. Loe tuh yang kenapa?” balas Ara dengan kasar.
Bisma mungkin merasa kaget mendengarnya. Terlihat jelas dengan ekspresi wajah seperti itu.
“Ra ....”