Terjerat Cinta Dosen Idiot

Terjerat Cinta Dosen Idiot
Yuk Kenalan!


Walaupun Dicky beberapa kali memanggil Morgan, tapi Morgan sama sekali tidak mempedulikan dirinya. Morgan hanya berjalan menuju ruangannya saja.


Ia melihat ke arah jam tangannya yang ada di tangan kirinya. Jam menunjukkan pukul 1 siang, sementara rapat akan dimulai dalam 1 jam ke depan. Morgan bergegas menuju ruangannya, untuk sekadar melepas penat dan melakukan persiapan untuk menghadiri rapat.


...***...


Jam istirahat pertama tiba. Ares bergegas menuju ke ruang kelas laki-laki yang sedang ia incar. Ia mengendap-endap mengintip dari jendela kelas, untuk melihat lebih jelas keberadaan dirinya.


"Aku punya sesuatu buat kamu," gumam laki-laki itu, membuat Ares penasaran dengan siapa ia berbicara.


Mata Ares mendelik, karena laki-laki yang ia incar, saat ini sedang berbicara dengan seorang gadis, yang pernah ia jumpai pada saat mengikuti turnamen bola voli antar sekolah.


'Bukannya cewek itu yang waktu itu jadi cheer leader ya?' batin Ares, yang sangat mengenal gadis yang kini sedang duduk di hadapan laki-laki yang ia incar.


Laki-laki itu mengeluarkan sebuah kotak kecil, yang isinya adalah kalung yang sangat cantik.


Gadis yang bersamanya itu segera melipat kedua tangannya, "maksud kamu apa ngasih aku benda ini?" tanyanya, membuat laki-laki itu merasa bingung.


'Kenapa dia malah kelihatan marah? Padahal aku kasih dia hadiah begini, harusnya dia senang, dong?' batin laki-laki bernama Lian.


Ya! Laki-laki yang Ares incar adalah Lian yang tak lain adalah adik dari Morgan dan juga Fla. Ares sengaja meminta Arash untuk memindahkan dirinya ke sekolah ini, supaya bisa lebih dekat dengan laki-laki yang ia jumpai pada saat pertandingan turnamen bola voli, pada waktu itu.


Gaya Lian yang sangat keren menurut Ares, membuatnya jadi jatuh hati pada Lian, saat pertama kali jumpa.


Tapi keadaan mereka, yang merupakan rival dari sekolah yang berbeda, membuat Ares merasa sangat kesal, karena sekolahnya selalu saja dikalahkan oleh sekolah Lian, yang saat ini juga merupakan sekolahnya.


"Apa kamu gak suka?" tanya Lian, membuat gadis itu menyunggingkan senyumnya.


"Duh ... jelas gak suka lah! Pasti kalung murahan! Kalung murah begini, pasti bisa bikin kulit gatal-gatal," ucap gadis itu secara sengaja, membuat hati Lian sedikit kesal padanya.


'Apa katanya? Murah? Apa kalung 24 karat dengan berat rantai 15 gram dan berat liontin 5 gram, dengan harga 16 jutaan ini, masih dibilang murah?' batin Lian yang missquen meronta, karena dirinya yang sama sekali tak sanggup untuk membelinya.


Kalau bukan karena Morgan meminjamkan kartu kreditnya padanya, ia juga tidak akan membelikan kalung yang sangat mahal itu.


"Udah ah, aku mau ke kantin. Bye Lian ...," ucap gadis itu, kemudian meninggalkan Lian seorang diri.


Ares yang menyadari kedatangan gadis itu, segera membenarkan sikapnya, dan berpura-pura berjalan, agar tidak terlalu mencolok saat berhadapan dengannya.


Lian meratapi kepergian gadis pujaan hatinya, "Dinda ...," pekik Lian, namun gadis bernama Dinda itu tidak menghiraukan ucapan Lian.


Dinda melewati Ares dengan tatapan sinis, tapi Ares hanya bersikap seolah-olah tidak terjadi apa pun pada mereka.


Ares dengan segera masuk ke dalam kelas Lian, dan melihat keadaan Lian saat ini.


Terlihat Lian yang sedang menyembunyikan wajahnya di lengannya. Hal itu membuat Ares menjadi iba dengannya.


"Hey," pekik Ares, membuat Lian mendongakkan kepalanya.


Ekspresi wajah Lian langsung berubah menjadi sinis, ketika melihat Ares yang saat ini sudah berada di hadapannya.


"Kamu?" pekik Lian yang terkejut melihat keberadaan Ares yang sudah ada di hadapannya.


Lian mengerenyitkan dahinya, "kamu yang kenapa? Kenapa kamu bisa ada di sekolah ini?" tanya Lian yang langsung memperhatikan penampilan Ares dari ujung kepala sampai ujung kakinya, "terus kenapa kamu pakai baju seragam sekolah ini?" tanya Lian, membuat Ares membolakan matanya, mencari alasan untuk diberikan kepada Lian.


Sejujurnya, Ares tidak mungkin mengatakan kepada Lian, kalau dirinya saat ini bisa berada di sekolah ini, karena memang berniat untuk lebih dekat lagi dengan Lian. Pertemuan pertama mereka kala itu, membuat Ares penasaran dengan sosok sang ketua tim basket, yang mewakili sekolahnya kala itu.


"Emm ... aku di sini belajar," jawab Ares dengan ragu, membuat Liam merasa sedikit kesal dengan jawabannya.


"Ya aku tahu kamu di sini buat belajar, tapi kenapa kamu bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Lian, membuat Ares menyeringai.


"Panggilan alam aja," jawab Ares dengan singkat dengan sikapnya yang slengean, membuat Lian tak bisa menahan tawanya.


"Apa sih," gumam Lian sembari menafikan pandangannya dari Ares.


Ares memandangnya dengan tatapan heran, "cewek itu bukannya yang waktu itu jadi tim sorak, pas turnamen kemarin?" tanya Ares, membuat Lian menjadi teringat kembali dengan sosok Dinda.


Lian merenung sembari memangku dagunya di atas kedua lengannya yang disilangkan, "ya, namanya Dinda. Aku udah lama suka sama dia, tapi dia sepertinya acuh," jawab Lian, membuat Ares menjadi sedih mendengarnya.


"Tabah ya," ucap Ares, membuat Lian mendelik kaget.


"Biasanya orang-orang pasti bilangnya sabar," ucap Lian, membuat Ares menyeringai.


"Sudah mainstream," jawab Ares asal, yang lagi-lagi membuat Lian tak bisa menahan tawanya.


"Gak jelas," gumam Lian, membuat Ares tersenyum kecil.


"Eh ngomong-ngomong, Dinda bukannya seumuran sama aku ya?" tanya Ares, membuat Lian mengangguk kecil.


"Ya memang," jawab Ares.


"Kok dia ada di kelas ini, sih?" tanya Ares lagi.


"Tadi dia balikin handuk aku yang ketinggalan, saat latihan kemarin," jawab Lian, membuat Ares menganggukkan kepalanya.


Ares menatapnya dengan heran, "kamu sendirian aja di kelas? Memang gak ke kantin, atau main sama teman?" tanya Ares.


Sepertinya malah Ares yang lebih aktif dibandingkan Lian, yang usianya jauh di atasnya.


"Teman aku gak masuk sekolah karena sakit. Rencananya, nanti sepulang sekolah aku mau jenguk dia," jawab Lian dengan sendu, membuat Ares mendadak sendu karenanya.


Mata Ares mendelik seketika, "gimana kalau aku temenin menjenguknya?" tanya Ares, membuat Lian mendelik kaget mendengarnya.


"Ih ... enggak, ah! Aku kan ... gak kenal sama kamu, ngapain kamu ikut-ikutan jenguk teman aku?" tolak Lian dengan sinis, membuat Ares melongok kaget.


"Kamu gak kenal sama aku?" tanya Ares, yang langsung menyodorkan tangannya ke arah Lian, "yuk kenalan!" seru Ares, membuat Lian menatapnya dengan heran.


'Kok ada ya orang yang begini?' batin Lian yang melihat keanehan dari sosok Ares yang baginya terlalu sok akrab.


"Nama aku Ares," gumam Ares, dengan satu senyuman yang mengembang di pipinya.


...***...