
Pagi itu, seperti biasa Ilham melakukan aktivitas untuk bekerja. Ia mempersiapkan semua keperluan untuk ia bekerja.
Ia berdiri di hadapan cermin, sembari memasang dasi di lehernya. Ara hanya bisa memandang Ilham dari belakang, tanpa bisa memakaikan dasi seperti yang biasa ia lakukan.
Mengetahui Ara yang sedang berdiri di belakangnya, Ilham pun menghentikan aktivitasnya, dan melihat ke arah Ara dari cermin.
Ara terlihat sangat sedih, bahkan Ara seperti ingin menangis. Melihat Hal itu membuat Ilham sama sekali tidak tega. Walaupun masih ada rasa kesal di hati Ilham, tetapi ia sangat menyayangi Ara.
"Huft ...."
Ilham menghela napas panjang, berusaha menekan egonya. Ia pun segera berbalik, dan memeluk Ara dengan lembut, membuat Ara memeluknya dengan erat dengan tangis yang pecah.
Mereka menyatu dalam sebuah pelukan hangat. Semalam tidak berbincang dengan Ilham, membuat Ara sangat galau. Ara tidak bisa seperti itu lebih lama.
Ilham memeluk Ara dengan sangat erat, merasa bersalah dengan yang ia lakukan pada istrinya itu. Padahal, Ilham sama sekali tidak marah pada Ara. Ilham hanya tidak mood mendengar ucapan Morgan kemarin. Hal itu yang membuat Ilham malas sekali berbicara.
"Maafin aku," gumam Ara dengan tangis yang sudah pecah, membuat Ilham mengecup puncak rambut Ara.
"Enggak sayang, kamu gak salah apa-apa, kok. Aku yang salah, karena udah diam sama kamu. Maafin aku, ya?" ujar Ilham, membuat Ara mengangguk kecil karenanya.
Sejenak mereka saling berpelukan, meleburkan segala rasa yang ada. Ilham merenggangkan pelukannya, lalu dengan lembut mengecup bibir Ara, membuat Ara menghentikan tangisannya seketika.
Ilham memandang Ara dengan sangat lekat, membuat Ara benar-benar menghentikan tangisannya.
"Udah ya, jangan nangis lagi," pinta Ilham yang lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Ara, "kalau kamu nangis, ketahuan jeleknya," tambah Ilham, membuat Ara refleks memukul dada Ilham dengan cukup keras.
"Aduh ...," gumam Ilham yang sedikit kesakitan dengan pukulan Ara.
Ilham tersenyum ke arah Ara yang sedang merajuk itu. Ilham menyentuh pipi Ara dengan lembut.
"Istri aku selalu cantik, kok," ujar Ilham, membuat Ara tersipu mendengarnya.
Ilham tak sengaja melihat kemeja yang ia pakai, yang ternyata sudah basah akibat air mata Ara. Selain air mata, di sana juga ternyata terdapat lendir dari hidung Ara, membuat Ilham memandang ke arah Ara.
Mengetahui baju Ilham yang terkena lendirnya, Ara hanya bisa menyeringai ke arahnya.
Ilham pun menggeleng, dengan segera melepas kemejanya dan mengganti dengan kemeja baru. Beruntung Ilham belum memakai jas, jadi ia tidak perlu mengganti jas baru.
Setelah selesai mengganti bajunya, Ilham pun segera memandangi wajah Ara.
"Aku berangkat kerja dulu, ya. Kalau ada dia, langsung telepon aku," ucap Ilham, membuat Ara mengangguk kecil.
Ilham mengelus lembut puncak kepala Ara, lalu segera meninggalkan Ara di sana.
...***...
Ilham sama sekali tidak bisa berhenti memikirkan masalah Morgan. Ia hanya bisa memikirkan di ruangannya. Dirinya sama sekali tidak mood, tidak seperti biasanya.
Ilham memandang kalung Ara yang ada di hadapannya, sembari meluapkan seluruh kekesalan hatinya.
"Anak itu memang anak saya!" gumam Ilham lirih, membuat dirinya semakin kesal jadinya bila mengingat ucapan Morgan dengan Ara kemarin.
"Apa ... saya harus bilang yang sebenarnya pada Morgan, agar dia tidak mengganggu saya dan Ara lagi?" gumam Ilham, bertanya-tanya dengan keadaan.
Ilham berpikir sejenak, karena sangat bingung dengan keadaan. Terlalu banyak pertimbangan di pikiran Ilham, membuatnya sangat bingung dengan jalan yang akan ia ambil nantinya.
Ilham nyimpan kalung itu, kemudian mengambil handphone-nya, dan dengan segera menelepon seseorang. Ia menunggu telepon terhubung.
Telepon terhubung.
"Halo."
"Ini saya, Ilham. Bisa ketemu di jam makan siang nanti?"
...***...
Ilham sudah pulang ke rumahnya, memarkirkan mobil dengan rapi, kemudian segera menutup pintu pagar rumahnya.
Ilham melangkah dengan sangat senang ke arah kamar, untuk bertemu dengan istrinya di kamarnya.
Ilham berjalan cepat, karena sudah terlalu rindu dengan istrinya. Ilham pun membuka pintu kamar.
"Sayang--"
Langkah Ilham terhenti, karena ia memandang Ara yang sedang berada di meja kerjanya. Di tangan Ara, ia memegang plastik berisi obat-obatan yang selalu Ilham minum, membuat Ilham mendelik karenanya.
Ara memandang Ilham dengan air mata yang sudah mengucur dari pelupuk, membuat Ilham terkejut setengah mati tentang Ara yang sudah mengetahui obat yang selalu ia konsumsi.
"Ra ...," panggil Ilham lirih, yang langsung berhamburan memeluk Ara.
Karena sudah mengetahui rahasia Ilham, Ara pun enggan untuk dipeluk oleh Ilham.
"Lepasin!!" teriak Ara sekuat yang ia mampu, sembari mencoba melepaskan pelukan erat Ilham.
Ilham tak mendengarkan Ara, dan malah semakin mempererat pelukannya pada Ara.
"Sayang, kamu--"
"Kenapa Kakak tega sembunyiin ini semua dari aku? Kenapa, Kak?" teriak Ara dengan histeris, sembari berusaha melepaskan diri dari Ilham.
Namun, usaha Ara sia-sia belaka. Perutnya yang sudah semakin membuncit, membuatnya kesulitan bergerak, dan hanya bisa menggerakkan sedikit dari tubuhnya.
Ilham tak kuasa menahan sedihnya, karena dia merasa sudah berbuat salah pada Ara.
"Maafin ak--"
"Kenapa Kakak gak bilang dari awal, sih?" pangkas Ara, membuat Ilham semakin sendu dibuatnya.
Tangis Ara pecah, karena selama ini ia merasa Ilham sudah menyembunyikan sesuatu hal yang sangat penting, menyangkut tentang dirinya. Ara merasa sudah sangat dibohongi, membuat dirinya tidak bisa menerima dengan apa yang Ilham lakukan padanya.
"Kakak sakit apa?" tanya Ara dengan sinis, membuat Ilham terdiam mendengarnya.
Ilham semakin memeluk Ara dengan erat, membuat Ara menjadi sangat kesal dengannya.
"Kenapa sih, selalu aja ditutupin, selalu aja bohong!" bentak Ara dengan tangisan yang sangat keras, membuat Ilham menjadi bingung harus seperti apa.
"Sayang, maafin aku. Aku gak bermaksud untuk--"
"Apa kamu mau punya nasib sama seperti Reza?" pangkas Ara, membuat Ilham terdiam mendelik mendengarnya.
Ilham tidak berpikir sampai ke sana, padahal ia tahu masalah mengenai Reza dan Ara.
"Jantung koroner dan sudah ganas," gumam Ilham, membuat Ara mendelik kaget mendengar ucapan Ilham yang tiba-tiba.
Tangisannya pecah seketika, membuat Ilham tak kuasa menahan rasa sedihnya juga. Sebagai suami, Ilham sudah gagal berbicara terus-terang dengan sang istri. Penyakit yang selama ini Ilham pendam, dan selalu membuat dadanya terasa sakit dan juga kesulitan bernapas.
Semua itu ia pendam, semata-mata hanya supaya mereka yang ia sayangi tidak akan terlalu mengasihaninya. Ilham sangat tidak suka dikasihani. Ia menyimpan semuanya dengan rapat, sampai tidak ada satu orang pun yang mengetahui itu, bahkan ayahnya sekalipun.
Ilham memeluk Ara dengan sangat erat, "Maafin aku," gumam Ilham, tetapi Ara tidak bisa berkata apa-apa.
...***...