Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 87 - Dramatis


Justin terlihat frustasi, dia mengacak rambutnya kasar dan matanya kini memerah. Pria itu mengepalkan tangan kemudian menatap tajam istrinya. "Kamu bahkan memikirkan anak itu, susah payah aku menjaga hatimu ... pura-pura seakan tidak ada masalah, padahal kepalaku rasanya mau pecah. Tolonglah, kamu peduli padanya, padaku tidak? Fitnah seburuk itu menimpaku, setidaknya kamu percaya dan mendukungku."


Entahlah, Kenapa Agny justru terfokus pada Renaga semata. Padahal hinaan dan segala caci maki justru menyerah dirinya dan Justin. Apa mungkin karena hati Agny terlalu sensitif jika berkaitan dengan anak kecil hingga dia seolah tidak peduli sekalipun dunia menganggap mereka seperti sampah.


Keadaan belum baik-baik saja, Agny masih bingung dengan semuanya. Dia kasihan, percaya dan sangat peduli pada Justin. Akan tetapi, kekecewaan itu lebih besar, padahal sama sekali belum jelas jika anak itu memang darah daging Justin.


Karena keduanya berdebat di trotoar, jelas saja kemungkinan orang yang melewati tempat itu. Justin terlalu fokus sehingga dia tidak menyadari seseorang tengah berlari dari arah kiri, tidak hanya satu melainkan beberapa orang sembari berteriak keras.


"Minggir!!"


"Woey copet!!"


"Bang tahan dia, Bang!!"


"Ck, Awas lo!!


BRUGH


Justin yang mengganggu dijalanan tidak bisa menghindar ketika pria gondrong berjaket denim itu mendorongnya ke semak-semak. Sontak sejuta kata mutiara keluar dari mulutnya, Agny yang panik melihat nasib Justin segera menarik sang suami.


"Makanya jangan dijalan, udah dibilangin minggir."


"Kamu bisa nolong tanpa ngomel-ngomel begitu? Kakiku sakit."


Rasanya baru saja beberapa saat lalu mereka berdebar serius. Kini, berkah seorang copet yang dikejar itu situasi berubah. Justin memasang wajah masam, dia cemberut lantaran tidak terima Agny mengomel padahal Justin tidak salah.


"Kenapa marah padaku? Salahku apa memangnya? Salah sendiri planga plongo."


"Jawab saja terus."


Seperti biasa, Justin tidak suka dibantah sementara Agny selalu punya jawaban untuk membuat Justin kesal sendiri. Meski tampak tidak akur, Agny masih membantunya berjalan untuk duduk bawah pohon beringin itu.


"Aaaaawww ...."


Tadi tampaknya Justin baik-baik saja, entah kenapa dia jadi dramatis ketika sudah duduk di sana. Merasa curiga, Agny memeriksa kaki Justin. Tampaknya memang ada yang salah karena ekspresi ketika dia kesakitan sedikit berbeda.


"Entahlah, tapi sepertinya sejak tadi. Kenapa memangnya?"


"Luka, jarinya hampir putus," jawab Agny tampak serius, Justin yang sejak tadi meringis kini membola bahkan meneguk salivanya pahit.


"What? Serius?"


"Tidak, aku bercanda. Tunggu di sini," ucap Agny kemudian melihat sekelilingnya, luka Justin harus segera dicuci. Setelah dia lihat memang sepertinya sudah lama karena sudah sedikit kotor, Justin hanya menggunakan sendal yang seharusnya dia pakai di dalam kamar.


Kebetulan sekali dia terjerambab ke semak-semak akibat ulah brutal tukang copet yang melewati mereka. Luka itu nyatanya tertusuk dahan hingga kina menyakitkan baginya.


"Kamu mau kemana?"


"Tetap tunggu di situ, lukanya perlu ditangani."


Tanpa menunggu Justin mengizinkannya, Agny berlalu begitu saja. Pria itu mendadak persis gelandangan yang tengah meratapi nasibnya. Wajah tak karuan, rambut acak-acakan, piyama di siang hari dan sendalnya bahkan robek.


Kebetulan, Justin yang sejak pagi tidak mandi dan imbas dari perdebatannya bersama sang istri membuat raut wajah Justin sesuram itu hingga dia hanya bisa pasrah dan bersandar di pohon tersebut.


33 tahun dia hidup, baru kali ini seakan manusia tak berguna yang memandang sibuknya lalu lalang pinggiran ibu kota. Dia yang panik ketika hendak mencari Agny jelas saja tidak berpikir untuk membawa dompet. Ya, saat ini lengkap sudah penderitaan Justin.


Justin menghela napas lega, istrinya masih peduli setelah semua yang terjadi. Tidak mengapa, setidaknya dia masih punya haraan rumah tangganya akan baik-baik saja.


"Ck, kenapa dia lama sekali? Atau jangan-jangan pergi lagi?"


Justin sudah seperti orang putus asa, hendak berdiri dia tidak bisa karena kakinya memang sakit. Terpaksa, dia pasrah mesti takut benar-benar Agny tinggalkan untuk selama-lamanya.


"Tidak mungkin, 'kan? Dia tidak sejahat itu, Just ... calmdown."


.


.


- To Be Continue -