Sugar Baby Sang Cassanova

Sugar Baby Sang Cassanova
BAB 75 - Jalan Tengah.


Justin terdiam sesaat, ucapan Keyvan benar. Untuk menerobos masuk menuju kediaman Winarto tidak semudah itu. CCTV, para ajudan dan tentu keamanan di sana tidak akan mampu Justin manipulasi tanpa persiapan begini. Terlebih lagi, hukum tentu akan berpihak pada orang-orang seperti Winarto dibandingkan dia yang sejak dulu sudah bertentangan dengan aturan.


"Kau dengar aku, 'kan? Boleh marah, tapi pikirkan baik-baik karena saat ini kau tidak send_"


Tuuuut


Justin sontak mematikan ponselnya kala pintu kamar mandi terbuka, dia menoleh dan berdehem begitu istrinya mendekat. Aroma khas dari tubuh agny membius indera penciuman Justin, tapi untuk malam ini hassratnya seakan hilang karena pikirannya terlalu kacau.


"Katanya tidak mau kemana-kemana, terus kenapa pakai jaket segala?" tanya Agny menatap curiga sang suami dari atas hingga bawah, rasanya tidak mungkin Justin tidak memiliki rencana, pikirnya.


"Ehm ... tiba-tiba aku ingin es krim, makanya siap-siap pergi. Kamu mau?"


Justin gugup setengah mati, kali ini dia setakut itu tujuannya diketahui sang istri. Agny yang mendengar hal itu hanya menatap datar Justin karena di matanya, Justin bukan pria yang suka jajan seperti dia.


"Aneh, di kulkas ada."


"Di kulkas hanya ada rasa vanila, aku tiak suka,' jawab Justin yang justru berlanjut padahal sebelumnya dia asal jawab.


"Besok-besok kan bisa, sekarang sudah malam."


"Iya, besok saja."


Justin melepas jaketnya segera, kepergiannya malam ini tampaknya memang tidak direstui. Tidak hanya Keyvan, melainkan juga istrinya. Justin duduk di tepian ranjang seraya memandangi kegiatan sang istri.


Matanya menatap ke arah Agny, tapi pikirannya kemana-mana. Tidak pernah dia duga jika pria yang dianggap hama, ternyata sempat menginginkan istrinya juga. Jika hanya bersaing dengan pria biasa, Justin sama sekali tidak menggubrisnya. Akan tetapi, jika pria itu adalah Winarto dia tidak bisa diam saja.


"Agny."


"Iya, kenapa?"


"Kita pindah saja bagaimana?" tanya Justin tiba-tiba hingga membuat Agny yang tengah mengeringkan rambutnya bingung seketika.


"Pin-pindah? Kemana? Rumah baru berarti?"


"Iya, Italia."


Mata Agny membulat sempurna, telinganya tidak salah dengar? Segera wanita itu meninggalkan meja rias dan menghampiri Justin, duduk di sisi pria itu untuk kembali memastikan tempat yang Justin maksud.


"Nusa Tenggara?"


"Italia, Sayang ... telingamu kemasukan air atau bagaimana?" Kesabaran Justin memang seluas itu, istrinya yang begini sedikit membuat Justin gemas bahkan ingin menggigit bibirnya.


"Italia? Tapi kenapa jauh sekali," tutur Agny menelan salivanya pahit.


"Kita akan lebih baik di sana, aku tidak akan jadi bawahan Evan dan kamu tidak perlu takut tua bangka itu akan mengganggu. Tidak ada Arga, tidak ada masa laluku, masa lalumu atau siapapun yang akan merusak rumah tangga kita di sana."


Justin bukan ingin lari dari masalah. Akan tetapi, setelah dia berpikir tampaknya menghilangkan nyawa seseorang hanya demi membuat istrinya aman bukan hal yang baik. Terlebih lagi, masih ada Arga dan juga Edward yang ternyata masih berteman semakin membuat tekad Justin bulat untuk pergi membawa Agny.


"Mau?"


Hanya Justin yang dia punya, itu adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Sekalipun di sini ada sahabat dan orang-orang terdekatnya, yang bisa melindungi Agny ialah Justin seorang.


"Tidurlah, matamu sudah sekecil itu."


"Kita tidak kerja malam ini? Katanya harus setiap hari kalau mau cepat punya baby?" tanya Agny serius dan itu adalah kesepakatan mereka sejak bulan madu, Justin sendiri yang membuat peraturan dan Agny dengan patuhnya mengiyakan.


"Tidur, besok saja."


"Yaah ... padahal aku sudah wangi begini, cukur juga sudah."


Kemana rasa malu Agny yang kemarin-kemarin. Sepertinya sudah hilang tertiup angin, buktinya kini justru Justin kerap dibuat melongo dengan ucapan dan tindakan asalnya.


"Pakai cukuranku lagi?"


"No, aku pakai punyaku sendiri ... yang hitam tumpul soalnya," ucap Agny mengayunkan kaki santai sekali, padahal beberapa saat llau dia hampir diterkam Winarto. Akan tetapi, saat ini yang ketar-ketir adalah suaminya.


"Jelas saja tumpul, kamu pakai ke seluruh tubuh ... cukuran kumis dipakai untuk kaki, sopan santunnya mana?" tanya Justin terkekeh dan sejenak dia melupakan kemarahannya yang menggunung itu.


"Ih lupa ya, kalau segala sesuatu milik suami itu milik istri juga."


Ada saja jawabannya, Justin yang sedikit lelah malam ini segera menariknya naik ke tempat tidur agar istirahat segera. Agny menatap Justin dengan mata tajam dan bibir yang tersenyum lebar.


"Yakin malam ini kita cuti? Aku sudah pelajari gaya baru loh."


"Tidur!! Bibirmu aku jahit mau?"


Sudah Justin paksa berbaring tetap saja dia memancing. Bahkan tubuhnya sudah Justin rengkuh hingga wajah sang istri tenggelam di dadanya tetap saja. "Lampunya, aku silau."


Justin meraih remote di atas nakas dan seketika suasana kamar berubah temaram. Wajah Justin masih begitu tampan meski hanya remang-remang, Agny memang diam kali ini. Akan tetapi, matanya justru tidak berhenti menatap suaminya.


"Kenapa? Baru sadar suamimu ini tampan atau bagaimana?"


"Bukan, aku sedang berpikir memikirkan sesuatu."


"Apa yang kamu pikirkan, Sayang?"


"Kalau kita pindah ke Italia ... apa masih ada bubur ayam di sana? Terus porsinya sebanyak apa? Ayamnya digoreng atau cuma diungkep," ucap Agny pelan sembari menelusuri dada bidang Justin.


"Menyesal aku bertanya." Pria itu menghela napas kasar dan memilih terpejam meski Agny masih memaksanya untuk terjaga, jika dahulu dia yang kerap mengganggu Agny tidur, akhir-akhir ini istrinya sedikit berbeda. Entah karena hormon seperti kata Keyvan, atau memang itu sifat asli dan baru dia keluarkan di mata sang suami.


.


.


.


- To Be Continue -