
"Apa? Kenapa lihat aku? Periksa semaumu," titah Justin tersenyum tipis kala Agny menatapnya.
"Kalau sampai terbukti ada sesuatu yang aneh di sini, HP-nya aku banting ya?"
"Hm, terserah kamu saja, tapi kalau sampai tidak ada kita lembur malam ini ya." Justin menatap lekat-lekat ke arah sang istri karena memang dia seyakin itu tidak melakukan kesalahan ataupun semacamnya.
Selingkuh? Yang benar saja. Selama ini, tidak ada satu wanita yang pernah merasakan tubuhnya berhak menghubungi Justin. Hanya ada beberapa nomor wanita di sana, itupun si merepotkan Sonya dan di menggemaskan Khayla. Ya, kedua istri sahabatnya itu yang bisa menghubungi Justin, itupun ketika dia belum menikah dan hanya dalam hal yang berkaitan dengan suaminya saja.
Diberikan izin untuk menggeledah ponsel suaminya, jiwa detektif Agny muncul seketika. Tidak hanya sebatas pesan singkat yang dia selidiki, melainkan file-file tersembunyi yang memang dia ketahui seluk beluknya Agny buka juga.
Tangannya yang cekatan membuat Justin yakin jika istrinya bukan tipe wanita yang bisa diperdaya. Beruntung saja dia merasa sama sekali tidak salah hingga tidak ketar-ketir seperti suami yang ada di luar sana.
"Ketemu?" tanya Justin mendekat dan sengaja melingkarkan tangan di pinggangnya, sudah tahu suasana istrinya sedang tidak baik-baik saja. Pria itu justru curi kesempatan secepatnya.
Masih dengan wajah cemberutnya, Agny mendengkus kesal lantaran tidak menemukan apapun di ponsel Justin. Hanya sebuah percakapan penting, sangat singkat dengan rekan kerja dan sisanya adalah percakapan dengan dirinya sendiri.
"Ketemu belum?" tanya Justin lagi dengan senyum yang kini terbit di wajahnya, dia akan menang malam ini sementara Agny yang sedikit menyesali keputusannya sudah kesal sendiri.
"Mau aku bantu?"
Justin berbaik hati dan mengambil alih ponselnya. Merasa dirinya sudah kalah dan hanya mmebuang waktu saja, Agny menyerahkan ponsel pria itu. Siapa tahu memang ada tempat tersembunyi yang Agny tidak ketahui.
"Aku tadi lihat ini, lucu, 'kan?"
Wajahnya yang tadi memerah seperrti hendak meledak, tiba-tiba berubah merah bak kepiting rebus kala menyadari potret dirinya dalam keadaan terlelap dan mulut terbuka di mobil. Itu jelas baru, foto yang Justin ambil beberapa saat lalu dan sukses membuat Agny malu.
"Puas? Apa yang kamu pikirkan memangnya? Selingkuh juga buat apa, istri satu juga tidak akan habis sekalipun di makan setiap hari," ucap Justin kemudian tertawa sumbang dan merasa pikiran Agny terlalu sempit. Sungguh dia sedikit sebal meski bahagia dengan kecemburuan yang mulai terang-terangan Agny tunjukkan.
"Siapa tahu, zaman sekarang tidak ada yang bisa dipercaya ... bahkan sudah nikah bertahun-tahun juga tetap bisa terjadi, apalagi baru."
Dia hanya takut, saat ini yang dia miliki hanya Justin. Bayangkan saja, beberapa tahun terakhir Agny merasakan kehilangan dan Tuhan merenggut malaikat penjaganya, jadi wajar saja ketika Tuhan mempertemukannya dengan Justin, ketakutan jika pria itu akan pergi dari sisinya muncul begitu saja.
"Kamu nontonnya apa sih? Sinetron ya? Jangan sering-sering, pikirannya jadi buruk semua, 'kan?"
Perbedaaan usia mereka mungkin menjadi alasan hal semacam ini terjadi. Bagi Justin, hubungan yang sudah dewasa harus disertai dengan kepercayaan. Ya, meskipun dia tidak menampik fakta bahwa perselingkuhan tetap menjadi masalah utama dalam hubungan, tapi jika selamanya akan berpikir begitu percuma juga.
"Dengarkan aku, kamu tahu pernikahanku berakhir karena apa?"
Agny menggeleng, dia tidak mengetahui hal itu secara jelas karena memang khawatir Justin tidak suka dia tanya-tanya.
"Orang ketiga."
Justin menatapya lekat-lekat, hendak menjelaskan jika dia adalah korban dan tidak mungkin menjadi pelaku. Justin memang kerap dijuluki pemain, tapi hal itu berlaku selama dia belum serius, berbeda dengan saat ini dan sejak dahulu Justin sudah menerapkan prinsip itu.
"Aku pernah merasakan sakitnya pengkhianatan, dan aku tidak mungkin melakukan hal yang sama. Kamu paham?"
Mata Agny terlihat tidak percaya. Namun, beberapa saat kemudian dia mengangguk hingga Justin memeluknya erat. Ini adalah permulaan, perasaan istrinya yang mudah berubah adalah tanggug jawab Justin ke depannya, mungkin akan melelahkan akan tetapi tidak mengapa.
.
.
.
Trauma istrinya terlalu berat, hingga ada hal yang mengganggu pikirannya Agny akan membayangkan hal sejauh itu. Padahal, Agny yang hendak menginjakkan kaki ke club saja tidak Justin izinkan, apalagi selebihnya.
"Tidak akan, aku tidak gila, Agny."
Justin kembali mengeratkan pelukannya, menghujani wajah sang istri dengan kecupan begitu lama. Tiada dia duga, jika gadis tengil yang waktu itu berani membentaknya di angkutan umum tersebut akan selemah ini.
"Apapun yang terjadi, kamu akan tetap bersamaku," ucap Justin sebelum kemudian mengangkat tubuhnya hingga Agny baru menyadari dia sudah berada di atas meja makan.
"Apapun?"
"Iya, apapun."
"Andai masa lalu kamu kembali bagaimana?" tanya Agny menatap lekat wajah Justin dengan harapan jawaban sang uami akan membuatnya lega.
"Aku tidak peduli, tidak ada istilahnya Justin menjilat ludahnya sendiri," ucap Justin kemudian mengecup bibir sang istri tanpa permisi, ini adaha hal biasa dan dia tidak perlu meminta izin sebenarnya.
"Oh iya? Terus biasanya jilat apa?" Agny yang tampaknya memahami kehendak suaminya ke arah mana, segera melontarkan pertanyaan yang membuat imajinasi Justin menggila seraya mengalungkan tangan di leher sang suami.
"Hahaha, kamu nanya? Kamu bertanya-tanya?"
"Ih, alay ... kenapa ikut-ikutan begitu," omel Agny yang sebal sendiri kala Justin mengucapkan sebuah kalimat yang membuatnya sebal luar biasa akhir-akhir ini. Bingung juga kenapa hal semacam itu bisa sampai pada orang sesibuk Jusin.
"Pertanyaanmu aneh, masih tanya biasanya jilat apa ... jilat kamu," jawab Justin kemudian kembali melanjutkan aksinya, kecupan manis yang perlahan kian memanas sementara Agny yang kini mulai berusaha mengimbangi berhasil membuat Justin berdesir.
"Lemburnya di-acc?"
"Iya, aku milikmu malam ini."
"Seluruh malam, Sayang ... tidak hanya malam ini," bisik Justin kemudian merengkuh tubuh sang istri seakan mereka kurang dekat saja. Nyatanya benar, apapun yang Justin mau selalu berhasil Justin dapakan bagaimanapun caranya.
.
.
.
- To Be Continue -
Hai-hai, sekali lagi maaf kalau alur Justin agak lambat dan ga rame. Aku hanya fokus ke mereka berdua dulu guys dan emang lagi ngefeel buat mereka rasain manis-manisnya🤧❤ Btw, jangan lupa mampir dengerin audio book Papa Mikhail ya, ini versi kak Sensen dan bisa dipastikan sampai end. Tolong ramaikan ya, Guys🤧❤ Biar kak Sensen seneng akupun begituh.
Oh iya, yang mau bonus Bab Mikhayla masih ada kah?