
Setelah Bella menyuruhnya barulah Ansel mau menggendong tubuh Diandra dan meletakkannya ke atas ranjang.
Bella terlihat sangat khawatir. Bu renata lalu langsung memeriksa kondisi tubuh sahabatnya itu.
"Bagaimana keadaannya bu?" Tanya Bella saat melihat Bu Renata telah selesai memeriksa wanita itu.
"Bella..Ansel.., sepertinya kita harus segera membawa Diandra kerumah sakit, kondisinya kali ini gawat, harus segera mendapatkan penanganan lebih lanjut di rumah sakit karna disini gak ada alat-alatnya Sel.." Ucap Renata sambil membersihkan sisa darah yang keluar dari hidungnya Diandra. Wanita itu tampak pucat pasi.
"Yaudah, kita bawa sekarang aja pake mobil bapak ya?" Pinta Bella akhirnya karna melihat Ansel hanya diam saja tak memberi respon apapun.
"Ayo.. pak kumohon, kasihan bu Diandra!" Bella akhirnya memegang tangan Ansel dan memohon kepadanya.
Ansel menatap Bella tepat di manik matanya. Sebenarnya terbuat dari apa hati istrinya ini? apakah dia tidak merasa marah sedikitpun?
"Apa kau yakin kau mau aku membantunya?" Tanya Ansel.
Bella mengangguk perlahan. Sebenarnya kalau mau menurutkan kata hati dia tidak ingin Ansel berhubungan lagi dengan wanita itu, tapi jiwa kemanusiaannya lebih tinggi, dia tidak mungkin mengabaikan seseorang yang sedang butuh pertolongan hanya karna rasa cemburu.
Ansel pun kemudian menggendong Diandra.
"Ansel.. aku mencintaimu Sel.." Ucap Diandra lirih, matanya masih terpejam, dia sepertinya mengigau.
Jantung Bella serasa tertusuk nyeri mendengar ucapan itu.
Bu Renata menatap Bella yang terlihat menahan tangis dikedua bola matanya.
"Bell, kalau kau mau, aku bisa menyuruh staf lain untuk mengantarkan bu Diandra ke rumah sakit.."
"Tidak usah bu, biarkan pak Ansel saja.."
Ansel pun langsung bergegas keluar ruangan untuk membawa Diandra ke rumah sakit terdekat. Disepanjang lorong, mahasiswi dan mahasiswa yang melihat adegan itu kontan langsung kasak kusuk dengan heboh. Mereka mengira pak Ansel dan bu Diandra cinlok lagi.
"Eh, liat deh bu Diandra kenapa lagi tuh? pak Ansel perhatian banget ya, pasti deh mereka masih ada rasa satu sama lain!"
Ucap salah seorang mahasiswi kepada teman disampingnya.
Bella yang tak sengaja mendengar itu hanya menunduk saja. Rasanya dia ingin sekali meneriaki mereka untuk diam!
"Bella, aku akan menjemputmu disini, aku akan mengantarkan Diandra di Rs di dekat sini.." Ansel mengelus pipi Bella saat mereka sampai diparkiran.
Bella mengangguk pelan.
"Jangan khawatirkan aku pak, lagi pula aku masih ada satu kelas lagi, jika bapak tidak sempat aku akan naik taksi saja."
"Baiklah, aku pergi dulu." Ansel pun kemudian menjalankan mobilnya dan menghilang dari pandangan Bella.
Bella menghela nafas panjang, semoga bu Diandra baik-baik saja. Gumamnya dalam hati.
Bella kembali ke kelasnya dengan langkah gontai. Sasya dan Inyong langsung menghampirinya karna mereka sudah mendengar peristiwa yang barusan Bella alami dari desas desus mahasiswi yang tadi melihat pak Ansel menggendong bu Diandra di lorong.
"Lo gak apa-apa Bell?" Tanya Inyong sambil duduk disamping Bella dan menatap wajah sahabatnya yang terlihat agak muram.
"Gak apa-apa nyong." Jawab Bella sambil pura pura menyeringai.
huek huek huek
Bella tiba tiba merasa sangat mual. Dia memegangi perutnya yang juga terasa sangat kram.
"Bella, lo kenapa?" Tanya Sasya panik. Inyongpun langsung memberikan sapu tangannya kepada Bella.
"Lo masuk angin lagi nih pasti! gak makan lagi lo ya?"
huek huek huek
Bella seperti ingin muntah tapi tidak keluar apa apa dari mulutnya.
"Gue gak tau nih, tiba tiba aja perut gue kram.."
"Tuh kan pasti maag lo kambuh tuh! yaudah Inyong beliin teh anget dulu ke kantin, tunggu disini!" Inyong langsung berdiri dan bergegas lari ke arah kantin.
Namun kali ini Sasya punya dugaan lain.
"Bell, lo bulan ini udah haid belum?" Tanya Sasya pelan. Dia melihat sekitar dan syukurlah di kelas itu hanya ada mereka dan beberapa anak lain yang duduknya agak jauh dari mereka berdua.
"Belum Sya. Udah semingguan gue telat, tapi emang gue gak ngatur sih haidnya Sya."
"Jangan jangan lo hamil!" Tandas Sasya dengan wajah serius.
Sepasang mata Bella kontan melotot bulat bulat, lalu tak lama Bella langsung terkekeh sendiri.
"Ih, serius gue!" Desis Sasya kesal karna Bella malah mengira dia sedang menggodanya.
"Coba deh lo tespek Bell!" Ucapan Sasya kali ini membuat Bella terdiam. Ada benarnya juga ucapan Sasya. Mungkin dia harus tespek untuk memastikan. Karna sejujurnya Bella juga deg degan saat mendengar dugaan Sasya tadi.
Tak lama Inyong kembali dengan membawa secangkir teh manis hangat ditangannya.
"Nih Bell, minum biar enakan perut lo."
"Thanks Nyong.." Bella menerima teh itu dari tangan Inyong lalu meneguknya sedikit.
"Kok lo jadi sering banget mual mual gini sih Bell? jangan jangan lo lagi hamil!" Bisik Inyong di telinga Bella.
Bella menoleh kaget.
"Kalian ini kenapa sih? kok ngira gue hamil?"
"Ya, emang kenapa? lagian lo udah punya suami, wajar aja lo hamil Bell, kecuali si toni yang hamil baru gak wajar!" Inyong menunjuk Toni yang sedang sibuk memainkan hp ditangannya. Laki laki itu tak sadar sedang jadi lawakan oleh Inyong.
Bella dan Sasya tertawa geli mendengarnya.
Jam pelajaran terakhir pun telah usai. Bella berjalan ke depan gerbang, dia ingat ucapan Ansel untuk menunggunya disana.
Mata Bella menyapu sekitar ruangan namun dia tak juga melihat suaminya itu.
'Mungkin pak Ansel masih dirumah sakit'
Gumam Bella dalam hatinya.
Sementara itu dirumah sakit. Ansel terlihat sedang mengurus administrasinya Diandra.
Setelah selesai diapun kembali sebentar ke kamar rawat inap Diandra untuk mengecek kondisinya.
Saat dia hampir sampai di ruangan itu, Dokter terlihat keluar bersama seorang suster, sepertinya mereka habis memeriksa kondisi Diandra.
"Dok, bagaimana kondisinya?"
Ansel menghampiri dokter.
Dokter itu terlihat menghela nafas panjang sebelum menjawab Ansel.
"Kankernya sudah membuat sistem imunnya melemah dan kondisi bu Diandra harus bed rest total disini agar kita bisa pantau perkembangan kesehatannya, dari pengecekkan kami, kami melihat kerusakan pada hatinya yang sudah lumayan parah pak.."
Ansel tampak kaget mendengarnya, dia tak menyangka jika kondisi Diandra sudah separah itu.
"Apa masih ada kemungkinan untuk sembuh dok?"
"Kemungkinan selalu ada dan itu datangnya dari Tuhan pak, kita sebagai manusia hanya bisa berusaha semampunya, saya permisi dulu ya pak." Dokter menepuk bahu Ansel dan kemudian dia pergi meninggalkan Ansel.
Ansel berdiri mematung di depan ruangan. Dia bingung harus bersikap seperti apa pada Diandra saat dia siuman. Meskipun wanita itu pernah menjadi orang yang paling berharga baginya namun itu hanya bagian dari masalalu.
Namun jika dia acuh, rasanya tidak bisa karna semua melihat kondisi Diandra saat ini yang begitu memprihatinkan.
KLEK
Ansel akhirnya membuka gagang pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan. Dia melihat Diandra masih belum sadar. Wajah wanita itu tampak sangat pucat, beberapa kabel medis terlihat menempel disekujur tubuhnya.
Ansel kembali teringat kenangan saat masih bersama Diandra dulu, hubungan mereka berjalan dengan lancar sampai akhirnya Diandra pergi meninggalkannya secara tiba tiba tanpa kabar. Dunianya saat itu seakan hancur seketika.
Bertahun tahun dia mencoba untuk bangkit dari keterpurukan karna kehilangan orang yang paling disayanginya. Kehadiran Bella sudah mengubah segalanya belakangan ini, hatinya mulai pulih, dia bisa merasakan cinta lagi karena gadis yang awalnya hanya dia jadikan sebagai tawanan balas dendam.
Bella dengan segala kebaikannya membuat Ansel percaya lagi untuk menjatuhkan hatinya dan memulai hubungan baru. Namun kenapa tiba-tiba Diandra malah datang lagi ke dalam hidupnya disaat dia sudah bahagia bersama cinta barunya? Terlambat, jelas sudah sangat terlambat.
Tapi wanita ini terlihat begitu malang, dia kembali dengan membawa kabar tentang penyakit yang begitu ganas. Jika benar yang dia ucapkan bahwa dia pergi meninggalkannya dulu karna untuk menjalani operasi besar di luar negri berarti Diandra pasti sudah melewati hari hari yang sangat sulit.
Ansel menarik nafas berat.
"Takdir memang selalu becanda disaat yang tidak tepat!" Ucapnya perlahan.
bersambung.