SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Rasa yang mulai tumbuh


Ansel mendekatkan wajahnya sampai hembusan nafasnya yang hangat menerpa wajah Bella. Bella mundur namun Ansel malah mengukung badannya Bella dibawah tubuh kekarnya.


"Pak! lepaaas! saya sedang tidak melakukan kesalahan apapun kan? kenapa bapak melakukan ini?" Bella meronta dengan sekuat tenaga namun Ansel tak peduli.


Karna semakin Bella berontak, gadis itu malah semakin menggemaskan dimatanya. Entah rasa apa yang mulai merasuk jauh di relung hatinya. Ansel terlihat tenang padahal dadanya juga sangat berdebar-debar.


Dia tidak sanggup menahan dirinya sendiri.Melihat istrinya Bella tiba-tiba saja Ansel ingin sekali menyentuhnya.


Ansel mulai mengecup kening Bella lalu perlahan turun ke bibir gadis itu. Bella memalingkan wajahnya namun Ansel menahan dagunya dan mulai membungkam mulut Bella dengan bibirnya.


Bella mencengkram kemeja Ansel dan membuat kancing bajunya berserakan diatas lantai. Kini dada kekar pria itu malah dapat terlihat dengan jelas oleh mata Bella.


Ansel mencium bibirnya dengan penuh kehangatan. Bella sebenarnya mulai tergoda namun otaknya selalu menolak kenyataan itu, karna dia ingat kalau suaminya melakukan ini pasti hanya untuk balas dendam kepadanya karna kesalahpahaman soal Kevin.


Padahal tanpa mereka sadari sesuatu telah terjadi diantara mereka berdua. Ada satu rasa yang mulai muncul di hati mereka masing-masing. Namun karna ego yang begitu tinggi membuat semuanya tidak terbaca dengan jelas.


"Bella, maaf aku tidak bisa menahannya!" Satu bisikan kalimat itu yang membuat Bella ternganga.


'Maaf'? apa dia tidak salah dengar? Bella berdecak tak percaya. Barusan seorang psikopat ini mengucapkan maaf kepadanya. Luar biasa! sebenarnya apa yang sedang terjadi?


Bella belum bisa mencerna keadaan namun Ansel tak memberikannya ruang untuk berpikir.


Ansel melepas paksa pakaian yang dikenakan oleh Bella. Di telusuri nya leher Bella dengan memberikan beberapa tanda merah disana.


Bella mencengkram lengan Ansel dengan kuat, dia benar-benar tak bisa menahan dirinya sendiri. Ya Tuhan apa yang sedang terjadi padaku? apa aku sedang menikmati sentuhan suamiku kali ini?


Bella menggeleng keras! lalu mencoba melepaskan dirinya lagi tapi tenaganya selalu berakhir sia-sia. Ansel bukan lawan yang seimbang untuknya.


Namun ketika Ansel lengah dan tengah melonggarkan celananya Bella langsung memanfaatkan momen itu untuk lari ke arah pintu dengan menarik selimut dari kasur untuk menutup tubuh atasnya.


Bella mencoba membuka kunci pintu Namun dengan secepat kilat Ansel sudah berada persis dibelakangnya.


Bella mundur ke sisi dinding sampai akhirnya dia kehilangan keseimbangan dan jatuh tersungkur diatas karpet lantai. Hampir saja kepalanya membentur ujung sofa yang lancip kalau saja Ansel tidak buru buru menyanggahnya dengan tangannya.


DUGH!


terdengar suara benturan yang begitu keras antara ujung sofa dan telapak tangan Ansel. Walaupun tak mengatakan apa-apa namun mimik wajah Ansel menggambarkan rasa sakit karena dia terlihat meringis sambil mengelus tangannya.


Bella langsung bangkit dan meraih tangan Ansel.


"Apa tangan bapak terluka? coba saya lihat!"


Bella kaget ketika melihat memar dipunggung tangan pria itu. Refleks Bella langsung meniupnya berharap bisa mengurangi sedikit rasa sakitnya.


Ansel tersenyum samar. Bahkan dirinya sendiri kaget ketika menyadari seulas senyum itu kini telah hadir kembali diwajahnya setelah sekian tahun senyum itu hilang. Ansel takjub! Bella benar-benar gadis ajaib. Dia berhasil menggetarkan hati dingin seorang Ansel Wijaya.


"Saya ambilkan kotak obat dulu ya! tunggu sebentar" Bella hendak buru-buru berdiri namun dengan cepat kedua tangannya dicegat oleh Ansel sehingga badan Bella terduduk kembali diatas karpet.


Bella sontak menoleh kaget.


"Bella.." Ucap Ansel dengan tatapan mata yang menyorotkan kehangatan. Bella terpaku ketika Ansel kembali mendaratkan satu ciuman di bibirnya.


Kali ini Ansel menggendong tubuh Bella ke atas sofa dan membaringkan gadis itu disana. Ansel memposisikan dirinya di atas Bella dengan membuka kedua kaki Bella sedikit lebar. Dipeluknya Bella sementara kedua tangannya membuka kaitan bra dibelakang punggung gadis itu dengan perlahan.


Ansel mencium Bella di dadanya yang membuat Bella hampir berteriak saking kagetnya. Ansel kembali memandang wajah Bella, ketika Bella sadar apa yang akan terjadi selanjutnya Bella menutup matanya.


"Aku akan pelan-pelan Bella. Bukalah matamu.."


Bella ragu namun akhirnya dengan jantung yang berdebar dia membuka kedua matanya perlahan.


Ansel telah ada dihadapannya memandangnya dengan tatapan yang berbeda dari biasanya. Ansel menggenggam kedua tangan Bella dengan erat.


Bella mulai merasakan sesuatu memasuki tubuh bawahnya, membelahnya dengan paksa, Ansel memberikannya perasaan sakit sekaligus nikmat yang bersamaan. Bella merasakan perih dan meringis.


"Arghh.." Bella mencengkram tangan Ansel dengan kuat.


Ansel memaju mundurkan tubuhnya dengan perlahan, sesekali Bella merintih dan menggigit bahu Ansel sampai bekas gigitannya meninggalkan jejak di kulit pria itu.


Ansel memeluk erat tubuh Bella dan mulai mempercepat pergerakannya sampai sampai Bella mengaduh tanpa henti. Nafas mereka saling bertemu pun dengan peluh keringat yang mulai bersatu.


Ansel sesekali meregang ketika dia merasakan dibawah sana Bella menjepitnya dan memberikan perlawanan atas serangannya.


"Ah, Bella aku akan sampai, bolehkah aku mengeluarkannya didalam sana?" Bisik Ansel ditelinga Bella.


Bella hanya mengangguk lemah. Akhirnya pergulatan itu sampai. Ansel menghantam keras rahim Bella dan mengeluarkan puncak surgawi nya disana. Bella merasakan sesuatu yang hangat telah memenuhi mahkotanya dibawah sana.


Bella memeluk Ansel dengan erat, begitupun dengan Ansel yang membalas pelukan itu dengan hangat.


Meski laki-laki itu tak mengatakan apapun namun Bella sadar, kali ini ada sesuatu yang berbeda dari suaminya. Sentuhannya yang biasanya kasar kali ini terasa lembut. Tatapan matanya yang biasanya dingin kali ini lebih terasa hangat. Meskipun masih dengan memaksa tapi kali ini pria itu melakukannya dengan lebih berperasaan.


Bella bingung karna jantungnya sendiripun dari tadi benar benar tidak bisa diajak berkompromi. Apa yang sebenarnya dia harapkan dari laki-laki dihadapannya? apa dia berharap Ansel mencintainya? atau berharap pria ini akan menyayanginya dengan tulus? jangan mimpi Bella! ayolah bangun dari tidurmu! jangan ketinggian kalau ngehayal!


Bella buru-buru menepis perasaan asing itu. Dia tidak mau sakit hati dan berharap lebih. Dia sadar, harus benar-benar sadar jika niat Ansel menikahinya hanya untuk balas dendam padanya atas hubungannya dulu dengan Kevin.


Walau tanpa Bella sadari, Pria itupun sebenarnya mulai merasakan perasaan itu. Seperti malam ini ketika dia tak bisa menahan dan mengontrol dirinya saat melihat Bella dihadapannya. Dia tak tahan untuk tak menyentuh gadis itu. Ansel tak mengerti mengapa dia tak bisa menahan perasaannya sendiri.


Ada apa dengan dirinya? perasaan ini.. ini perasaan yang dulu pernah ia rasakan saat dirinya sedang menyukai seorang gadis di masa lalunya. Namun perasaan ini jauh lebih hebat. Apa mungkin dia telah jatuh cinta pada Bella?


bersambung..