SUAMIKU SANG DOSEN KILLER

SUAMIKU SANG DOSEN KILLER
Ansel menyelamatkan Bella lagi


Ansel membopong tubuh istrinya dengan hati-hati. Ansel bisa merasakan tangan Bella yang masih gemetar menggelayut dilehernya Bella pasti masih takut tentang kejadian tadi.


Ditenggelamkannya kepala gadis itu di dadanya yang bidang. Bella terisak tapi merasa sangat lega karna Ansel datang tepat waktu. Entah apa yang akan terjadi pada dirinya tadi seandainya pria itu terlambat datang sedetik saja.


Ansel meletakan tubuh Bella ke dalam mobilnya.


Tak lama mobil mereka pun pergi melaju dengan cepat menuju rumah kediaman keluarga Wijaya.


Sesampainya didepan gerbang pak Ali langsung dengan sigap membukakan pintu gerbang untuk Tuan mudanya agar mobil fortunernya bisa masuk kedalam. Ansel melompat dari mobil dan segera bergegas menggendong Bella untuk masuk ke dalam rumah.


"Gak usah pak saya bisa jalan sendiri!" Tolak Bella yang tentu saja takkan mungkin di dengar oleh Ansel suaminya. Pria itu tanpa permisi lagi langsung menggendong Bella.


Bella pun hanya pasrah karna sejujurnya dia memang tidak yakin bisa jalan sendiri. Pergelangan kakinya yang terkilir tadi masih terasa senat senut.


Sesampainya dikamar mereka Ansel langsung merebahkan badan Bella dikasur dengan perlahan. Diambilnya kotak obat yang terletak dibawah laci meja disamping tempat tidurnya.


Kemudian Ansel meletakan kedua kaki bella diatas pahanya. Bella tersentak kaget dan berusaha menarik kembali kakinya namun dengan cepat Ansel menahannya.


"Bisa gak diem!" Bentak Ansel dengan wajah serius. Bella langsung diam otomatis bukan karna perintah dari Ansel melainkan karna Bella menyaksikan di detik kemudian Ansel berusaha menggulung ujung levis celananya. Ansel langsung memijat pergelangan kakinya dengan telaten.


Bella menjerit dan tanpa sadar mencengkram bahu Ansel saat pria itu menekan sedikit bagian kakinya yang terkilir.


"Ah,sakit Pak!" Pekiknya sambil meringis.


Anselpun langsung membalurkan salep pereda memar disekitar pergelangan kaki Bella.


Ansel meletakkan kaki Bella diatas Bantal agar aliran darah di sekitar kakinya menjadi lancar dan dia pun menyuruh gadis itu untuk merebahkan dirinya.


"Kenapa Pak Ansel menolong saya?" Tanya Bella ragu saat melihat pria itu begitu telaten mengurusinya. Padahal sebelumnya dia bilang dia sangat membenci dirinya.


"Saya hanya kebetulan lewat tadi, jangan pikir macam-macam. Jangan kepedean kamu!" Ansel menatap Bella dengan pandangan lurus. Mukanya seketika kembali acuh. Dia berjalan ke sisi sebrang ranjang yang lain memunggungi tubuh Bella.


Bella tahu pria itu sedang berbohong. Tidak mungkin dia bisa tahu kalau Bella sedang dalam bahaya kalau dia tidak membuntutinya dari Mall, karna jarak halte ke Mall memang lumayan jauh. Lagi pula mau apa pak Ansel malam-malam di daerah situ?


"Bagaimanapun bapak sudah menyelamatkan saya lagi. Terima kasih."


Hening, pria itu tak berkata apa-apa lagi.


Besoknya pukul 09.00 wib di dalam apartemen milik Zio.


Sasya perlahan membuka matanya yang terasa berat. Dia melihat sekeliling ruangan. Samar-samar semuanya perlahan mulai terlihat jelas. Sasya mengerutkan alisnya. Tunggu dulu ini dimana? yang jelas bukan kamarnya! karna tidak mungkin kanarnya yang bernuansa serba pink itu tiba-tiba saja berubah menjadi serba


Sasya semakin tercengang ketika mendapati sosok Zio tengah tertidur pulas diatas sofa yang letaknya tak jauh dari ranjangnya.


"Aaaakkkhhh!" Jerit Sasya membuat Zio langsung terbangun dari tidurnya.


"Kenapa? kenapa?"Tanyanya kaget sambil menatap ke arah Sasya.


"Saya dimana? anda? anda yang semalam ada di klub kan?" Sasya berteriak panik.


"Iya ini saya Zio. Tenang dulu saya bisa jelaskan semuanya, oke?" Zio melangkah perlahan mendekati Sasya dan mencoba menenangkan gadis itu.


"Jelasin apa? anda sudah ngapain saya Pak?"Sasya melempar segala benda yang bisa dijangkaunya ke ara Zio. Entah itu bantal, guling.


"Tenang dulu dong biar saya jelasin semuanya!"


Bentak Zio saat melihat gadis itu kalap dan histeris. Dipukulnya lagi dada Zio dengan kedua tangannya dengan membabi buta. Sasya benar-benar kalap.


"ST! HEH SAYA BILANG DIAM!" Zio berhasil menarik kedua lengan Sasya dan segera mengunci kedua tangannya didepan dada Zio.


"Dengerin saya baik-baik, kamu gak inget kamu yang semalem yang memaksa merebut minuman ditangan saya, kamu meminumnya sampai mau habis, dan selanjutkan kamu bisa menebak sendiri kan apa yang terjadi sama diri kamu? kamu.." Seru Zio tertahan sambil menatap mata Sasya dengan kilatan tajam. Dipererat cengkraman tangannya agar Sasya tak histeris lagi.


"Kamu itu semalem MA-BOK!" Zio mempertegas ucapannya agar Sasya mengerti.


Sasya terdiam sesaat. Dia mencoba mengingat kejadian semalam dengan sekuat tenaga. Terlintas dibenaknya saat dia merampas paksa sebotol Vodka dari tangan Zio dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.


"Gimana? udah inget?" Tanya Zio sambil menatap gadis itu lurus-lurus. Sasya tertunduk tak berani menatap laki-laki didepannya. Keberaniannya yang tadi lepas kontrol mendadak ciut seketika. Sasya menggigit bibir bawahnya. Bodoh! benar benar bodoh! dia mengutuk dirinya sendiri.


Zio tersenyum geli saat menyadari Sasya yang mulai salting. Gemas juga dia lama-lama. Zio mulai mendekatkan wajahnya ke hadapan Sasya. Zio mengangkat dagu Sasya dan menatap wajah Sasya yang terlihat malu karna ulahnya sendiri.


"Kenapa? kamu pikir saya udah ngapain kamu?"


"Saya pikir bapak.. bapak sudah macam-macam sama saya!" Tandas Sasya tanpa berani menatap kedua bola mata Zio.


"Iya memang sudah macam-macam tapi bukan saya melainkan kamu!" Telak Zio yang sontak membuat Sasya ternganga.


"Maksud bapak?"


"Kamu gak inget semalem kamu agresif banget sama saya, saya sampai kewalahan loh?"


"Agresif ? agresif gimana maksudnya? bapak jangan becanda ya!" Sasya kembali panik. Zio malah tertawa terbahak-bahak melihat reaksinya yang berlebihan. Menggemaskan! kalau saja dia tidak segan rasanya ingin sekali Zio mencubit pipi gadis dihadapannya yang kini tengah kebakaran jenggot.


Zio mengacak-ngacak pucuk rambut Sasya dan bergegas ke kamar mandi meninggalkannya dalam tanda tanya besar.


Pukul 10.00 wib di kampus brawijaya


PANAS. Matahari begitu terik sampai-sampai cucian yang dijemur pun bisa dengan cepat kering. Namun Bella tetap mengiyakan ajakan Inyong untuk menunggu Sasya didepan gerbang karna tak biasanya anak itu tidak masuk kuliah tanpa mengabari mereka lebih dulu.


"Lu coba telpon lagi deh Nyong!" Seru Bella yang mulai kegerahan. Inyong kembali menekan panggilan keluar namun nomor Sasya tetap tak bisa dihubungi.


"Gak aktif Bell gimana dong? semalem lo beneran gak tahu dia kemana?"


"Engga nyong. Pas gue balik lagi ke meja dia udah gak ada. Gue kira dia udah balik nyong makanya gue ikutan balik."


"Kemana ya tuh anak, soalnya nyokapnya nelponin gue aja nih nanyain dia. Katanya dia gak balik semalem!" Inyong dan Bella terlihat gusar. Mereka terus melihat ke arah jalan berharap Sasya muncul walau sebenarnya mustahil.


"Yaudah lah yuk Bell masuk aja, kita tungguin didalem aja!" Inyong mulai ikut merasa kepanasan. Keringat mengucur dipelipisnya. Bella mengangguk dan merekapun masuk kedalam bangunan kampus.


Bella berjalan dengan kaki yang sedikit pincang. Dia berpegangan pada Inyong.


"Bell, sebenernya kaki lo kenapa? semalem perasaan masih baik-baik aja!"


"Iya semalem gue abis dikejar-kejar sama kawanan babon!"


"Hah babon?" Inyong ternganga.


"Iya babon!" Tukas Bella.


Inyong hanya garuk-garuk kepala. Apa iya jakarta sekarang sudah menjadi kebon sampai-sampa ada babon yang berkeliaran disini?


bersambung..