Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 52


Setelah tayangan Infotainment terus menyiarkan berita tentang perayaan penghargaan semalam. Keluarga Chandra diliputi dengan kegelisahan yang tidak penting, omongan tetangga dan juga saudara-saudara dekat terus berkomentar tentang kelangsungan rumah tangga jenderal itu dengan istri selebnya. Apalagi, mengingat bahwa Nadia menikah dengan Chandra setelah kegagalan pernikahannya dengan Vidi. Hal tersebut menimbulkan pemikiran negatif keluarga Chandra pada sosok Nadia yang mungkin saja memanfaatkan keadaan demi mengangkat kembali citranya yang sudah hancur.


'Masa sudah enam bulan menikah, belum ada tanda-tanda kalau menantunya hamil sih.'


'Wah, Jeng. Hati-hati loh, kasus artis kawin cerai sudah biasa.'


'Padahal anaknya Jeng ini, ganteng dan mapan. Bisa dapat yang lebih baik ketimbang menikah sama artis.'


'Anak saya juga sudah sertifikasi praktik bidan setahun yang lalu, pasti cocok kalau disandingkan dengan anaknya Jeng yang tentara.'


Ibu memijat pelipisnya yang terasa pening, ucapan para tetangga dan keluarga mulai menyerang kembali secara mental. Sebenarnya, dari awal niat Chandra untuk menikahi Nadia pun membuat ibu ragu untuk memberikan restu, tetapi apa boleh buat, nenek sangat menginginkan Nadia sebagai menantu keluarga dan Chandra pun kelihatannya menyukai Nadia saat mereka baru pertama kali bertemu. Ibu menghela napasnya dengan gusar, bersamaan dengan Joy yang baru saja keluar dari kamarnya.


"Ibu nggak usah nonton TV dulu atau keluar rumah." Beritahu Joy yang sudah menebak kalau sikap ibunya ini berhubungan dengan TV dan tetangga. Ibu tersenyum kecut. "Nadia itu serius tidak sih, dengan kakakmu?"


Joy mengerutkan dahinya.


"Kenapa belum ada kabar kalau dia sudah ngisi, ya. Kakak kamu juga, kenapa kesannya malah santai gitu."


Joy mengusap bahu ibunya dengan lembut dan tersenyum menenangkan. "Ibu tuh nggak usah pikirin omongan orang. Sebenarnya, kakak juga sudah selamat berkat menikah dengan Nadia. Pasti saat ini dia belum move on dan masih memikirkan mantan pacarnya itu."


"Sekarang, aku justru lihat kakak lebih santai. Kalau telepon juga sering ketawa terus dia juga sering kirim foto, dan kakak juga mau pakai WhatsApp setelah nikah."


"Ibu tahu dong, kalau kakak anti banget pakai aplikasi chatting itu dari dulu, dan sesulit apa kita bujuk dia tetap nggak mau. Memang cuma istrinya yang bisa bikin kakak berubah."


"Malahan, kakak juga jadi lebay dan sering kasih emoticon peluk setiap chatting. Itu juga istrinya yang ajarin. Emang sih, itu perubahan yang nggak kelihatan secara fisik, tetapi senggaknya kakak jadi lebih kayak manusia dibandingkan dulu. Dulu kakak kayak robot.


Jelas Joy panjang lebar, ibu tersenyum dibuatnya. Memang sih, ada perubahan besar yang terjadi pada diri anak sulungnya itu. Chandra tidak kaku seperti biasanya, dan itu membuat hubungan antara orang tua dan anak sedikit lebih berwarna.


"Tapi ibu itu mau cucu. Kamu aja Joy, yang nikah."


Joy memutar bola matanya malas. "Ih, kok jadi aku."


•••


Nadia sangat kelelahan setibanya mereka di Bandung, tepatnya di kediaman keluarga


Chandra yang kini menyambutnya dengan makan malam sederhana yang sudah disiapkan oleh Joy dan ibu. Karena tidak enak kalau langsung makan, Nadia pada akhirnya membantu sedikit pekerjaan untuk menyiapkan piring dan air minum yang ia tata di atas meja, nenek dan ibu melarang sih, Nadia melakukan itu, tetapi karena Nadia memaksa. Ya, mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain ikut senang dengan sikap Nadia yang tidak canggung sama sekali.


Saat waktu makan malam tiba, Nadia justru tidak berdaya dan tampak terlelap di tempat tidur. Chandra yang menyusulnya hanya dapat tersenyum manis ketika menemukan Nadia justru tidur dengan posisi tidak rapi.


"Nad, ayo makan dulu," panggil Chandra dengan lembut sembari menepuk pelan pundak istrinya.


Nadia sama sekali tidak bergeming, kedua mata kucingnya benar-benar terpejam rapat saat ini, membuat Chandra tak tega.


"Nad, nanti kamu lapar loh, bangun dulu sebentar."


"Hm ...." Nadia berdehem pelan, tetapi matanya tetap tertutup rapat. Chandra tertawa kecil melihatnya.


"Ayo makan dulu," ajak Chandra lagi tak menyerah.


"Hm, iya, nanti," ucap Nadia tanpa respons apa pun lagi setelahnya. Malah gadis itu justru menarik guling dan memeluknya. Chandra tak bisa berbuat apa pun selain membiarkan Nadia tidur.


"Ya sudah, nanti saya bawain makanannya ke sini."


"Loh, Nadianya mana?" tanya ayah saat melihat hanya Chandra yang datang ke ruang makan.


"Iya," jawab Chandra singkat. "Nadia yang minta. Kami juga belanja di Lotte Mart, dan Nadia itu ternyata perempuan yang tidak bisa diam," tambah Chandra.


"Dufan apa Dufan nih, hihi," timpal nenek dengan nada menggoda. Chandra hanya dapat menatap neneknya itu dengan serius dan datar, membuat candaan nenek sepertinya tidak mempan.


"Iya Dufan. Itu loh, Nek. Taman bermain yang di Ancol."


Nenek tersenyum, sementara yang lainnya hanya dapat merasakan kecanggungan setiap mereka mengobrol dengan Chandra.


"Kakak, kalau kayak robot terus kapan mau kasih aku keponakan sih," ujar Joy tibatiba disambut tatapan tajam oleh ibu dan ayah. Chandra hampir saja tersedak dengan ucapan adiknya itu.


"R-robot bagaimana?" tanya Chandra heran, tetapi tampak ada semburat merah yang menghiasi kedua pipinya.


"Joy, sudah. Apaan sih, kamu ini sama kakak sendiri," tegur ibu pada Joy, tetapi Joy malah tersenyum dan tidak memedulikan teguran itu sebagai hal serius.


Setelah makan malam setelah dua puluh menit bersama keluarga, Chandra kembali ke kamarnya sambil membawakan nampan berisi sepiring nasi dan lauk pauk yang sudah ia siapkan. Tidak lupa Chandra juga membawakan dessert berupa puding yang mereka beli di swalayan.


"Nad, ayo bangun ...." kalimat Chandra terputus saat melihat tempat tidur sudah melompong. Kedua mata pria itu pun melirik ke arah ruang baca yang masih bagian dalam kamarnya, pandangan Chandra seperti di arahkan oleh aroma harum yang lembut mengisi rongga pernapasannya.


Nadia tersenyum dengan tangan bersilang di depan dada, wajah sembabnya benarbenar sirna dan kini gadis itu tampak segar dengan helaian rambut panjangnya yang sedikit basah. Juga lihat apa yang Nadia kenakan, hampir saja bola mata Chandra copot dari tempatnya, ketika melihat Nadia mengenakan sebuah lingerie berwarna hitam yang panjangnya sebatas lutut. Gaun malam tanpa lengan itu memberikan pemandangan figur Nadia yang cantik yang selama ini selalu tertutup dengan pakaian santun.


Chandra menelan salivanya susah payah ketika Nadia mendekat ke arahnya. "Saya nggak lapar sih, tapi kayaknya pudingnya enak. Hehe." Nadia mencomot puding di atas nampan dan menyuapkannya sekaligus. Chandra masih mematung di tempatnya berdiri.


"Tumben kamu mandinya sebentar."


Nadia tersenyum. "Kenapa? Nggak boleh?"


"Em ... tidak juga sih, padahal ini di Bandung. Di sini banyak air, ada bathub dan shower. Semuanya peralatan mandi yang tidak ada di Flores."


Nadia tidak membalas pernyataan Chandra, gadis itu lebih memilih untuk menikmati pudingnya dan membiarkan Chandra untuk sibuk sendiri dengan pikirannya.


"Hari ini ... makasih banyak, ya."


Chandra terenyak dari tempatnya duduk ketika Nadia memeluk tubuhnya dari belakang, tangan gadis itu juga menyentuh dada bidangnya yang kini terasa sesak. Nadia menyampirkan dagunya pada bahu Chandra dan tersenyum.


"Hm. Kita berangkat ke Flores jam dua pagi," timpal Chandra dengan nada datar, tetapi Chandra tidak dapat menyembunyikan rasa senangnya ketika Nadia memeluknya dan bersikap sangat manja seperti sekarang ini.


"Terus, kalau berangkat jam dua pagi kenapa?"


"Kita harus segera tidur."


"Ih apaan sih, nggak seru," keluh Nadia seraya melepas rangkulannya dari tubuh Chandra. Chandra membalikkan badannya di kini berhadapan dengan Nadia.


Nadia tampak menekuk bibir kecilnya, dan Chandra sejak tadi melepaskan tidak bisa pandangannya dari wajah cantik itu, wajah mungil yang bisa ia tenggelamkan jika mereka berciuman lagi seperti kemarin malam.


Tiba-tiba tangan Chandra terangkat dan dengan lembut jatuh untuk meraba bahu terbuka Nadia, pria itu memainkan helaian rambut Nadia yang terurai. Nadia mendongak dan raut tegang tergambar pada wajah Nadia.


Srett.


Tali kecil gaun yang dikenakan Nadia, Chandra geser agar menuruni bahu mungil gadis itu. Telapak tangan Chandra mengelus lembut bahu Nadia dan terus turun hingga ke lengan. Bergesekan hangat dan mengirimkan sejuta sengatan yang tidak biasa. Nadia mengangkat wajahnya saat rasa geli dari sentuhan tangan suaminya itu semakin menjadi-jadi.


Bersambung ....


beri aku like dan votenya😁