Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Rasa Strawberry


Alif membawa setumpuk belanjaan yang sudah Nadia beli dengan uang pribadinya sendiri sembari berjalan di sisi istri jenderalnya itu, sementara tangan Chandra juga sudah sama penuhnya dengan Alif, malah bawaan Chandra jauh lebih banyak karena pria itu diminta Nadia untuk mengangkut buku tulis dan buku bacaan untuk anak-anak di sekolah. Sementara Nadia sendiri hanya membawa tas ranselnya dan jinjingan kecil yang isinya pulpen dan pensil.


Mereka keluar dari toko serba ada yang menyediakan berbagai keperluan, mulai dari alat tulis dan sembako.


"Ih, ada es krim. Alif, kamu mau?" Nadia menghentikan langkahnya saat melihat sebuah box es krim yang ada di depan toko. Sudah beberapa kali ke pasar, tetapi baru kali ini Nadia melihat ada es krim. Dia kangen rasa es krim. Bahkan Nadia tidak peduli jika suaminya sudah hampir kena kram tangan.


Alif yang mendengar tawaran Nadia mengangguk cepat. "Hm, Alif mau, Kak!" seru Alif dengan wajah kekanakannya yang ceria. Nadia tertawa kecil, dan Chandra di belakangnya menelan ludah kasar karena tidak ditawari oleh Nadia.


"Ya sudah, Alif. Kamu simpan aja dulu bukunya ke mobil. Nanti aku beliin es krimnya."


Alif langsung saja pergi ke arah mobil yang diparkir tidak jauh dari sana, diikuti Chandra yang tidak bicara sama sekali.


Karena sudah lama tidak makan es krim, bahkan melihatnya pun tidak, akhirnya Nadia membeli hampir semua es krim yang ada di dalam box itu, sekarang dia sudah punya kulkas dan bisa menyimpan es krimnya di dalam sana tanpa takut meleleh. Dengan senyum lebar dan ceria Nadia membayar belanjaannya dan langsung berlari kecil menuju mobilnya.


Mobil jeep milik Chandra yang digunakan sebagai satu-satunya alat transportasi di sana kini sudah penuh dengan barang-barang dan juga Alif yang menumpang pada mobil tersebut. Seperti bocah, Alif duduk di antara Nadia dan Chandra sambil memakan es krim miliknya.


"Sudah lama banget nggak makan es krim. Kok enak banget ya sekarang, rasanya!" seru Nadia sambil menjilat es krimnya, Alif menyambut dengan anggukan kecil sambil senyum.


"Betul, Kak. Ini es krim paling enak. Jadi kangen rumah, mama aku 'kan punya warung dan beliau jual es krim." kekeh Alif pada Nadia.


Nadia membulatkan kedua matanya dengan antusias. "Wah, beneran? Hihi, dulu aku selalu pengeng kalau nenek sama papa buka warung, aku 'kan suka banget jajan. Kayaknya senang aja gitu kalau punya warung. Wah, kamu beruntung loh, Alif!"


Alif tertawa kecil. "Ternyata artis suka jajan juga, ya? Eh, ngomong-ngomong Kak Nadia beli es krim berapa banyak? Sampai dikasih box gitu," tanya Alif sembari melirik box di atas pangkuan Nadia yang ukurannya lumayan besar.


"Hm, semua totalnya 200 pcs hehe." Nadia tersenyum polos, dia melirik Chandra yang sejak tadi terus menyetir dengan wajah datar dan tak banyak bicara.


"Ya ampun, suamiku ... aku lupa." Nadia yang baru sadar kalau dari tadi Chandra tidak ia beri es krim sama sekali. Segera Nadia membuka box di atas pangkuannya dan mengambil satu es krim rasa cokelat. Chandra menyembunyikan senyumnya dan pandangannya masih fokus ke jalanan.


Alif menutup mulutnya dan tertawa tanpa suara di sana.


"Ini, kamu mau es krim? Pasti haus ya, dari tadi angkut-angkut," ucap Nadia sambil menyodorkan es krim cokelat itu pada suaminya. Chandra menoleh sedikit, lalu fokus kembali pada jalan.


"Tidak, saya ... tidak suka yang manis-manis," jawab Chandra sekenanya.


Nadia cemberut menghela napasnya. "Ngambek, ya?" tanya Nadia dengan nada menggoda, Alif yang ada di sana semakin ingin tertawa dengan tingkah Nadia pada Chandra. "T-tidak, tuh!" elak Chandra gugup, Nadia mengulum senyumnya.


Nadia menaruh kembali es krim cokelat ke dalam box, dan Chandra kembali meliriknya sambil menelan ludah, rasa haus tiba-tiba muncul semakin besar saat Nadia tidak menawarkan es krim padanya lagi.


"Saya, suka rasa strawberry," gumam Chandra pelan, dia menghilangkan rasa gengsinya untuk kemudian membuat Nadia sedikit peka pada keinginannya.


Nadia tertawa kecil dan Chandra memperhatikannya dengan pipi agak merona, Alif yang menjadi saksi pun tidak menyangka kalau Jenderal yang dikenalnya tegas dan kaku bisa meleleh di hadapan seorang perempuan seperti Nadia.


Chandra dengan lihai mengemudikan mobil menggunakan sebelah tangannya, sementara di tangan kanan ia menggenggam es krim sambil menikmatinya dengan senyum kecil yang terlihat menggemaskan. Rasa es krim mungkin terasa manis, tapi hari ini sikap Nadia terasa lebih manis dari es krim apa pun bagi Chandra.


***


"Dokter Nellienya, ada?" tanya Nadia pada seorang bidan yang berjaga di puskesmas. Sepulang dari pasar, ia segera berkunjung ke puskesmas untuk memberikan es krim yang dibelinya tadi. Nellie pasti senang kalau dikunjungi sambil dibawakan es krim.


Bidan yang mengenakan pakaian dinas itu tersenyum menyambut Nadia, bidan itu tahu betul siapa Nadia yang profesinya sebagai artis.


"Oh, dokter Nellie ada di belakang. Ada di rumahnya, tapi sekarang keadaannya sedang tidak sehat. Sejak dua hari yang lalu, dokter Nellie terkena demam," jelas bidan tersebut dengan raut prihatin.


Nadia cemberut, gadis itu tidak menyerah. "Tapi ... apa boleh saya, jenguk?"


"Tentu, mari saya antar."


Tubuh Nellie yang memang sudah sejak kepulangannya dari Palestina tidak berubah, kulitnya yang putih tampak semakin pucat ketika demam menyerangnya sejak dua hari lalu. Akibatnya, Nellie tidak bisa melakukan aktivitasnya dengan stabil saat ini. Dia terpaksa harus diam di rumah dengan obat-obatan yang ia resepkan sendiri, sementara tugas di puskesmas untuk sementara diambil alih dulu oleh bidan perawat.


Nadia yang datang menjenguknya cukup untuk membuat Nellie merasa terhibur siang


itu.


"Kenapa kamu bisa sakit begini sih, Nell? Terakhir kita ketemu, kamu sehat banget," ujar Nadia khawatir.


Nellie memaksakan senyumnya, air mukanya yang sedih tampak semakin sedih saat Nadia memulai percakapan di antara mereka.


"Dia sudah menikah ...," gumam Nellie pelan, tatapannya nanar dan mengarah pada Nadia dengan pedih. Nadia merasakan hal yang sama seperti Nellie, Nadia seperti merasakan peristiwa beberapa bulan lalu kembali terulang dalam ingatannya. Saat Vidi ditangkap polisi betapa runtuhnya dunia Nadia saat itu, dan kini hal itu tercermin pada Nellie.


"Saya sangat mencintainya. Dulu, hubungan kami sangat baik-baik saja. Meskipun kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing, dia selalu berusaha untuk memperhatikan saya dengan hal-hal kecil. Semua perilaku dia selalu berlandaskan kasih sayang. Saya sangat menyesal!" Nellie menunduk dengan menutup wajah dengan kedua tangannya. Nadia mendekatkan posisi duduknya ke arah Nellie dan mengusap punggung panas gadis itu dengan lembut.


Nadia tidak berani bicara apa pun, sebab tidak akan ada gunanya jika Nadia memberikan nasihat. Keadaan Nellie sangat rapuh dan butuh semangat agar bisa bangkit dan segera sembuh.


Nellie terisak dan Nadia setia berada di sisinya. "Saya tidak mengira, jika dia akan menemukan orang lain dengan cepat, dan menikah tanpa mengatakan apa pun pada saya ... hiks."


"Nell, sabar. Saya yakin, kamu tidak akan pernah hilang dari pikiran lelaki itu. Mendengar semua cerita kamu saat kalian pacaran, pasti akan sangat sulit buat dia melupakan kamu," ucap Nadia lembut, bermaksud memberikan semangat pada teman barunya itu.


Nellie tersenyum getir dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, dia sudah melupakan saya. Dengan tegas, dia mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta lagi."


Nadia mengepalkan tinjunya dengan keras. "Saya yakin! Wanita itu tidak jauh lebih baik dari kamu. Mantan kamu pasti menyesal karena sudah menikah. Ini semua hanya masalah waktu Nell, kalau kalian jodoh, pasti kalian dipertemukan kembali."


BERSAMBUNG ....