Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 3


Saat mobil Chandra melewati gerbang kantor pusat setempat untuk mengurus dokumen untuk dan pendaftaran pernikahan, setiap orang yang mengenakan seragam tentara tampak memberikan hormat kearah mobil yang dikemudian oleh Chandra. Chandra tersenyum menyapa orang-orang yang ada disana, lelaki itu juga menurunkan kaca jendela mobilnya. Nadia yang ada di sampingnya cukup terpukau dengan dengan pengaruh suaminya yang merupakan Jenderal bintang tiga. Sama sekali tidak ada wartawan atau reporter seperti yang sudah Nadia prediksikan tadi di jalan, yang ada hanyalah ucapan Chandra yang jadi kenyataan di sini.


Hampir semua orang yang Nadia lihat diluar itu bertubuh tinggi dan besar, mereka juga memasang persenjataan lengkap diseragamnya yang tampak begitu gagah. Sama seperti lelaki yang kini berada disisi Nadia, yang beda hanyalah fakta bahwa calon suaminya ini memiliki paras lembut dan terlihat tampan.


"Sudah siap?" tanya Chandra setelah mematikan mesin mobil.


Nadia menarik napas dalam-dalam, entah kenapa niat untuk menikah kini berkurang sepuluh persen.


"Sepulang dari sini ... kita langsung sah jadi pasangan suami dan istri?" tanya Nadia polos.


Chandra mengangguk. "Kamu resmi menjadi istri saya itu pun kalau tidak ada hambatan, biasanya proses kepengurusan berkas membutuhkan waktu 3 hari sampai satu minggu, tapi berdasarkan catatan KUA dan sipil kamu belum menjadi istri saya."


Nadia masih bingung, tapi neneknya menceritakan kalau menikah dengan seorang perwira itu sedikit ribet kalau dulu, kalau sekarang sih mungkin beda.


"Kamu mau mengubah pikiran kamu?" tanya Chandra, karena Nadia sepertinya berpikir keras menggunakan kegalauannya sekarang.


"Mengubah pikiran gimana maksudnya?" ucap Nadia ketus.


"Ya, mungkin kamu mau membatalkan niat kamu menikah dengan saya."


"Enggak ... saya sudah pernah gagal menikah, kali ini saya nggak mau gagal nikah lagi!"


Chandra tersenyum sangat tipis, sehingga Nadia tidak menangkap perubahan raut wajah calon suaminya yang selalu saja seperti robot.


"Baik kalau begitu, ini sudah pukul 10 pagi. Kita masuk ke dalam."


Dengan sopan Chandra menuntun Nadia untuk masuk ke dalam ruang administrasi pernikahan yang ada di kantor pusat. Kebanyakan petugas yang ada disana adalah wanita yang usianya yang berada pada rentang 25-40 tahun, mereka terkesiap saat melihat Nadia yang merupakan seorang aktris serta penyanyi papan atas berada disana dengan seorang pria perwira yang kini tengah menggandeng tangan kanannya.


Mereka mulanya saling berbisik kemudian menyalakan kamera HP masing-masing untuk mengabdikan gambar Nadia yang tengah bersama Chandra.


Nadia merasa berdebar sekaligus malu, dia tidak menyangka kalau dirinya juga terkenal dikalangan wanita-wanita hebat seperti perwira yang ada disini.


"Eh, itu Nadia ya ...."


"Benar, Nadia yang main film sama Hito ...."


"Betul, yang lagunya mantan terindah itu," ucap salah satu diantaranya.


Nadia mendengar bisikan-bisikan itu, sementara Chandra memperhatikan keadaan sekitar dengan dahi berkerut.


"Saya tidak menyangka kamu terkenal di kantor pusat," bisik Chandra tepat ditelinga Nadia.


Nadia terkikik. "Kamu harus bilang makasih sama saya. Karena nanti saya jadi istri kamu, kamu juga bakalan ikut terkenal," ucap Nadia percaya diri.


"Saya tidak mau terkenal," tolak Chandra dengan polos dan kaku.


"Ah. Kalau saya jadi istri kamu, nanti saya akan masuk organisasi perwira. Kamu pasti bangga, karena istri kamu adalah artis. Mungkin satu atau dua tahun, kamu bisa naik pangkat berkat eksistensi saya," ungkap Nadia dengan bangga, gadis itu bahkan tidak ragu untuk melambaikan tangan kepada siapa saja yang ada disana, Nadia juga menebar senyum terbaiknya seolah gadis itu tidak pernah mengalami kesedihan sebulan yang lalu.


"Sebenarnya, kamu sudah mengenal saya atau belum?"


Nadia menghentikan langkahnya, dia kemudian menoleh kearah Chandra yang tampaknya sedikit menekan Nadia saat ini.


"Jujur, sebelumnya sebelum rencana pernikahan itu muncul dari mulut nenek. Saya sudah diminta oleh adik saya Joy dan nenek saya untuk mencari semua informasi tentang kamu. Agar saya bisa mengenal kamu terlebih dahulu sebelum benar-benar menyetujui rencana pernikahan."


"Tapi kalau seperti ini caranya. Maka, saya juga mau kamu mengenal saya, sebaik saya mengenal kamu," tambah Chandra tegas.


Nadia seperti mendengarkan seorang Komandan yang memberikannya tugas penting. Nadia semakin terdiam, wajahnya yang cantik kini menjadi kaku.


"Makanan favorit saya?" ucap Nadia tiba-tiba. Mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat Chandra sedikit berpikir.


"Sop buntut, dessert-nya kamu suka Redvelved cake, minumannya kamu suka jus jeruk dan ice lemon tea," jawab Chandra tegas dengan wajah datarnya.


Nadia membulatkan kedua matanya dan terkesan dengan jawaban Chandra yang sangat tepat dan akurat.


"Kamu curang!" bantah Nadia tak terima, hal itu tentu saja membuat Chandra tersenyum tipis. Chandra tersenyum entah karena dirinya yang merasa menang atau karena raut wajah Nadia yang menggemaskan. Hanya dia yang tahu.


"Kenapa saya curang? Pasti jawaban saya betul, 'kan?" sanggah Chandra membuat Nadia gugup.


Nadia melipat kedua lengannya didepan dada dan menatap Chandra serius. "Kamu pasti dapetin jawaban-jawaban itu dari biodata saya yang ada di-internet. Asal kamu tahu ya, jawaban itu enggak semuanya benar. Beberapa ada yang dibuat sembarangan oleh manajer saya."


"Saya dapat jawaban itu dari nenek kamu."


Nadia mendengus dalam hati, ternyata neneknya tukang jual info selama ini.


"Sekarang, apa kamu tahu apa hobby saya?" tanya Chandra kemudian.


Nadia berdehem kecil. "Eh, udah jam 10 lewat. Nanti keburu telat makan siang." Nadia memang jago ngeles, gadis itu berjalan lebih dulu menuju ruangan administrasi untuk menyerahkan berkas. Sementara Chandra sedikit cemberut karena merasa diabaikan.


Penyerahan dokumen dan pemeriksaan data membutuhkan waktu satu jam. Selagi menyerahkan dokumen, Nadia juga mengobrol dengan petugas yang mengurusi pendaftarannya. Sementara Chandra bertemu dengan teman-teman semasa dirinya masih menjadi anggota tamtama ketika ditugaskan di wilayah Bandung.


"Setelah ini, saya langsung test yang ada diurutan itu?" tanya Nadia gugup. Meskipun dia berpengalaman, tapi kalau dihadapkan dengan situasi begini Nadia menjadi sedikit tertekan juga, mengingat dirinya adalah seorang publik figure.


Petugas wanita itu tersenyum. "Tidak, test-nya akan dilakukan 3 hari lagi. Untuk saat ini, hanya diperlukan pengambilan foto bersama calon suami yang sudah disediakan disini."


"Oh, bukannya diurutan seharusnya test langsung, ya?"


"Karena Mbak Nadia ini adalah cucu dari seorang marinir, maka test yang ada di dokumen tidak diperlukan. Mbak Nadia hanya perlu melakukan test kesehatan saja."


Nadia manggut-manggut. "Loh, berarti menurut pernikahan kantor, bersamaan dengan penyerahan dokumen ini. Saya sudah resmi jadi istrinya Chandra, dong?"


"Betul Mbak, ada beberapa ketentuan prosedur sesuai pembaharuan. Mbak tinggal menyerahkan dokumen yang sudah ditandatangani ini ke pihak KUA dan melakukan prosesi pernikahan sesuai kepercayaan Mbak, secara sipil anda dengan Jenderal Chandra Loey Abdinegara telah resmi menjadi suami istri."


"Ah, iya ... saya ngerti," jawab Nadia pelan, padahal sebenarnya Nadia masih memutar otaknya untuk memahami prosesi pernikahan dengan seorang perwira.


Setelah dokumen diserahkan pada Nadia, Chandra memasuki ruang pendaftaran dan membubuhkan tandatangan disamping tandatangan milik Nadia. Surat itu berupa akta pernikahan yang secara resmi diakui oleh kesatuan tentara Republik Indonesia.


•••


Sebelum melakukan foto pasangan, Nadia pamit ke kamar mandi untuk melakukan touch up, namun Chandra mengekori gadis itu dengan pandangan was-was membuat Nadia sedikit tidak nyaman dengan sikap suaminya. Eh?


"Kamu mau kemana?" tanya Nadia ketika Chandra mengikutinya ke lorong kamar mandi wanita.


Chandra menghela napasnya. "Saya antar kamu ke toilet," beritahu Chandra dengan ketus.


"Maksud kamu? Oh nggak nyangka, ternyata kamu udah nggak sabaran ya mau ke-mana-mana bareng saya?" jawab Nadia tak kalah ketus sembari mengibaskan rambutnya yang dibiarkan tergerai ke belakang.


Chandra membulatkan kedua matanya tak terima. "Apa maksud kamu? Saya mengantar kamu karena saya tidak mau menunggu kamu terlalu lama di toilet. Saya sudah tahu, kalau kamu berada di kamar mandi itu tidak cukup 1 jam."


"Kenapa kamu tertawa?"


"Enggak ... haha ... saya minta maaf. Kamu tenang saja, saya cuma mau pakai bedak dan sedikit lipstik, sekalian rapihin rambut. Kan kita mau foto," jelas Nadia pada calon suaminya.


Chandra memperhatikan wajah Nadia dengan seksama. "Kenapa kamu harus dandan lagi? Kamu kelihatan cantik kok. Bahkan, saya merasa kamu lebih cantik saat bangun tidur pagi tadi," ucap Chandra dengan ekspresi datar, namun berhasil membuat kedua pipi Nadia memerah padam.


"Uhuk uhuk!" Nadia sedikit terbatuk-batuk saat hendak menyela ucapan Chandra, gadis itu tidak bisa berkata apapun bahkan dia urung untuk masuk ke dalam toilet setelah mendapatkan pujian dari Chandra.


•••


Nadia memejamkan matanya dengan tenang setelah dirinya menyelesaikan semua persiapan pernikahan ke KUA setempat, sore tadi juga Nadia baru pulang setelah dijemput papanya sehingga Chandra tidak perlu mengantarkan gadis itu ke rumahnya.


Nadia adalah gadis yang baik, ramah, sopan dan sangat mudah beradaptasi dengan keluarga Chandra. Mungkin karena gadis itu seorang selebriti jadinya tidak sulit untuk Nadia mendapatkan hati di tengah-tengah keluarga Chandra. Terutama Joy dan sang nenek yang merupakan fans Nadia di rumah.


Menyadari hal tersebut membuat Chandra menjadi cukup tenang, mungkin pernikahan ini tidak pernah direncanakan tapi justru berhasil dengan baik. Saat di kantor tadi, banyak sekali rekan Chandra mengucapkan selamat atas pendaftaran pernikahan, diantara mereka bahkan ada yang ingin berfoto dengan Nadia dan meminta berkenalan. Nadia mau melakukan semua itu tanpa terlihat keberatan sama sekali, tadi saat berkunjung pun Nadia bahkan membuat kue bersama Joy, padahal itu adalah hari pertama Nadia bertemu dengan seluruh anggota keluarga.


Ya, sesuatu yang tidak pernah direncanakan justru selalu terlaksana.


Drrt drrt


Chandra terperanjat, HP-nya mendapatkan panggilan suara, tertulis nama Nadia dilayar. Nadia menelpon malam ini, mungkin ada yang ingin ditanyakan oleh gadis itu.


"Ada apa?" tanya Chandra pelan.


"Kamu, nggak pake whatsapp?" tanya Nadia balik membuat Chandra mendesah pelan.


"Tidak, memang perlu? Kamu masih bisa menghubungi saya dengan telepon, 'kan?"


"Ck, tapi whatsapp penting. Kamu bisa video call, bisa kirim dokumen segala macam. Kamu juga bisa update status," beritahu Nadia dengan jengkel.


"Kalau saya punya perihal seperti itu, bagaimana saya bekerja?"


"Ih kenapa kamu susah banget dibilangin? Kamu tinggal install aplikasinya. Apa susahnya, sih? Kamu bisa pakai whatsapp biar kita lebih gampang komunikasi."


"Kamu telpon hanya mau nyuruh saya pakai whatsapp?" ujar Chandra tak mau kalah.


Nadia menghela napasnya. "Enggak ... tadinya, saya mau kasih tahu kamu kalau foto syarat pernikahan kita lumayan bagus, rencananya saya mau share foto itu ke-sosmed saya. Kamu keberatan?"


Chandra terdiam. Sosmed? Sosial media?


"Tidak, share saja ... selagi bagus."


"Oke ... awas ya, kamu harus pakai whatsapp. gamau tau!" beritahu Nadia dengan nada gemas. Chandra tertawa kecil, namun Nadia tidak mendengarnya karena gadis itu langsung menutup panggilan.


•••


Pukul 11 malam, Liza selaku manager Nadia berkunjung ke rumah, gadis yang berpenghasilan banyak berkat popularitas Nadia itu cukup terkejut dengan berita pernikahan Nadia dengan seorang anggota TNI AD. Padahal baru sebulan kemarin Nadia dikabarkan dengan Vidi karena skandal narkoba yang menimpa lelaki itu.


Liza kini duduk di tempat tidur Nadia sejak dua jam lalu, waktu pun sudah pukul 1 pagi dan gadis itu masih enggan pulang, mungkin Liza akan menginap dan memaksa Nadia untuk menceritakan semua unek-uneknya dan alasan Nadia mengapa harus menikah dengan seorang TNI secara tiba-tiba.


Kini nama Nadia menjadi trending topik di setiap kota bahkan di seluruh Indonesia, dan mungkin saja Vidi bisa mendapatkan kabar pernikahan kekasihnya itu dibalik sel.


"Serius Jen? Nikah sama Abdinegara?"


Nadia mengangguk, Liza masih menggelengkan kepalanya untuk kesekian kali.


"Bagaimana dengan karir lo kalau begini?"


"Ya, gue mau hold dulu bentar Liz. Kalau kondisi udah stabil antara gue sama suami, ya gue balik lagi deh nyanyi. Gue juga sekarang kan lagi nulis lagu ... hehe."


Liza mencium sesuatu yang tidak beres. Nadia sangat tenang, dan ketenangan itu justru di saat situasi seperti ini.


"Ini, nikah loh. Nggak main-main Nad, apalagi sama. TNI ... lo kalau minta cerai bisa-bisa ditembak."


Nadia tertawa ngakak di tempat tidurnya, membuat Liza memasang tampang jengkel.


"Apaan sih, Liz. Calon suami gue nggak seperti yang lo bayangkan. Lo kalau lihat dia bakalan naksir."


"Meskipun kaku, ngomongnya EYD banget. Ekspresi mukanya datar. Tapi gue yakin kok dia orang yang baik."


"Jauh lebih baik dibandingkan Vidi, dan mantan-mantan gue yang lain."


Jelas Nadia dengan tenang. Liza pada akhirnya mengangguk, dia tutup mulutnya untuk tidak menyinggung Vidi pada Nadia.


"Lo, nggak usah khawatir," ucap Nadia dengan senyuman. Liza ikut tersenyum, namun dengan terpaksa.


"Jadi, kapan ijab kabulnya?"


"Hehehe ... seminggu lagi. Calon suami gue harus balik dinas. Dia ambil cuti 1 bulan, dan itu cuti dia yang nggak pernah diambil dalam 5 tahun. Sisa cutinya tinggal 1 minggu setelah ijab kabul, Liz."


"Kenapa kalian nikah buru-buru. Segitu gantengnya Nad sampe lo nggak mau nunggu?"


Nadia tersenyum tipis tidak ada jawaban dari bibir ranumnya untuk Liza.


"Gue nggak akan resepsi Liz, jadi gue cuma bakal share foto cincin kawin saja lewat sosmed. Soalnya, dia juga harus balik ke Flores. Nanti, kalau ada pers yang mau wawancara, lo yang wakilin gue, ya?"


Liza mengangguk. "Hm, selamat ya Nad ...."


•••


Hari ke lima kenal, H-2 pernikahan.


Sore-sore Chandra datang berkunjung bersama dengan ayah dan ibunya untuk menemui Nadia dan menyerahkan seserahan. Karena pernikahan mereka tidak akan dipadu dengan resepsi, maka seserahan terlebih dahulu diberikan oleh pihak keluarga mempelai pria. Meskipun tidak resepsi, rumah Nadia sudah didekor sederhana, berupa bunga-bunga segar yang menghiasi setiap sudut ruangan. Ada kamar pengantin juga, dan teratas belakang rumah sudah didekor sebagai tempat untuk siraman besok. Chandra duduk di teras belakang, menikmati aroma sejuk tempat yang dipenuhi bunga dan tanaman hijau itu dengan kedua matanya.


Nadia muncul, membawa dua cangkir teh hangat dan menyimpannya diatas meja. Chandra menoleh kearah Nadia yang kini duduk di sampingnya.


"Hm, Nadia ... saya mau tanya sesuatu," ujar Chandra datar.


"Hm, bilang saja ...." Nadia justru fokus pada HP-nya, sama sekali tidak memperhatikan Chandra. Gadis itu sedang chat dengan Liza yang akan mengantarkan gaun pengantin ke rumahnya nanti malam.


"Kamu ... mau saya seperti apa, kalau saya jadi suami kamu nanti?"


Nadia mendongak, lalu tersenyum kearah Chandra, dan entah mengapa Chandra merasakan detak jantungnya berdebar kencang karena senyuman itu.